GAJANG RITAPPI (Tragedi Berdarah Keris Lamba Tellunna Sidenreng)



 Oleh Andi Damis

         Gajang ritappi dalam kosa kata bahasa bugis dapat diartikan secara harfiah sebagai badik yang terselip atau disematkan di pinggang, yang senantiasa dibawa pergi keluar rumah. Tujuannya macam-macam sesuai dengan obsesi pemiliknya. Ada yang membawa badik  untuk dijadikan alat pelindung atau  membela diri. Sebagian lagi membawanya sebagai jimat karena dipercaya memiliki kekuatan gaib yang bisa mempengaruhi suatu keadaan. Sedangkan lainnya menjadikan badik sebagai kesenangan dengan asumsi sebagai simbol kejantanan.  Dan ada juga membawanya untuk mencirikan dirinya sebagai lelaki bugis, yang biasanya banyak dilakoni keturunan bugis di rantauan.
          Adapun secara sosiologis, dulu gajang ritappi dimaksudkan sebagai  bentuk dari suatu hubungan keakraban dua orang bersahabat dalam ikatan persaudaraan yang amat erat bahkan ditorehkan dengan ikrar sehidup semati atau sitelli. Model persahabatan semacam ini banyak dilakukan para leluhur, khususnya para petinggi kerajaan dengan tujuan menghindari perseteruan  antara dua kerajaan yang bisa berakibat terjadinya pertumpahan darah nantinya di tengah-tengah masyarakat.
          Namun substansi  dari pemaknaan gajang ritappi, pada prinsipnya dimaksudkan sebagai pelindung atau teman penolong utama ketika harus menghadapi tantangan  yang berbentuk perkelahian atau pertarungan. Sehingga tatkala seseorang lelaki bugis membawa badik dipinggangnya lalu mendapatkan tantangan ditengah perjalanannya, maka badik itulah menemaninya bertarung sebagai pelindung atau penolongnya.  
          Begitupula maksud orang dulu, bila seseorang memiliki teman karib atau disebutnya teman sejati, maka teman itulah  disebut gajang ritappi yang senantiasa menyertainya atuu sering mengiringi perjalanannya, serta mendampinginya bila menemui kesulitan, terlebih jikalau menghadapi tantangan bertarung. Bahkan seorang teman sejati tidak hanya sekedar mendampingi, tapi justru menjadi perisai (pallapi aro) yang berada didepan menghadang lawan atau musuh guna melindungi temannya dari setiap serangan musuh. Malahan teman sejati ini  begitu nekadnya mengorbankan dirinya demi menjaga keselamatan temannya, tanpa memperdulikan keselamatan dirinya sendiri dan hidupnya. 
          Tidak sedikit cerita leluhur yang menuturkan tragedi berdarah disebabkan keakraban persahabatan.
          Konon tempo dulu, ada dua orang raja yang memiliki hubungan persahabatan yang sedemikian akrabnya, sebutlah La Tenriampa di Kerajaan Lompotasi dan La Mappesona di Kerajaan Bolagalung, sehingga hanya ada satu yang tidak dimilikinya secara bersama begitu sitellina, yaitu isterinya. Dikerenakan hubungan dekat kedua raja tersebut, terpengaruh pula hubungan persaudaraan kedua anggota masyarakat kerajaannya.    Oleh sebab itu terwujudlah hubungan bilateral kedua kerajaan yang harmonis, aman dan damai serta diliputi rasa saling membantu, bahu-membahu dan bergotong-royong menyelesaikan  setiap permasalahan sosial yang dihadapi kedua kerajaan.
          Tapi waktu pula yang menguji kesetiaan dan merubah keadaan. Salah satu kerajaan tersebut, yaitu Kerajaan  Lompotasi mendapat serangan dari kerajaan lain yakni  Kerajaan Tanabulu dengan rajanya bernama Karassang, sebagaii aksi balas dendam lanjutan dari permusuhan mereka yang telah berlangsung lama. Peperanganpun tak dapat dielakkan dan berlangsung begitu sengitnya serta memakan korban dari kedua belah pihak yang begitu banyak, hingga akhirnya panglima perang  Kerajaan Lompotasi yang bernama La Mallawa terkena tombak dan gugur seketika dimedan pertempuran. 
          Kematian La Mallawa, membuat hati Raja La Tenriampa menjadi gundah-gulana, risau dan gelisa serta merana, disebabkan tidak mudah baginya menemukan sosok pengganti yang dapat menyamai kemampuan bertarung La Mallawa di wilayah kerajaan Lompotasi. Maka tidak ada pilihan lain bagi Raja La Tenriampa, kecuali  menggunakan gajang ritappi dengan cara meminta pertolongan kepada teman akrabnya  yaitu Raja La Mappesona, yang selama ini dikenal sangat pemberani dan belum pernah dikalahkan dalam pertarungan atau diatas pentas assigajangeng.

Foto Contoh Badik (gajang ritappi)
          
            Alhasil diundanglah Raja La Mappesona ke kerajaan Lompotasi, untuk diharapkan bantuannya melawan kerajaan Tanabulu yang kini telah menganeksasi kerajaan Lompotasi.  Selanjutnya setelah mendengar dan memahami permasalahannya, serta merasakan kepedihan hati Raja La Tenriampa sekaligus sahabat karibnya tersebut, maka La Mappesona dengan senang hati bersedia membantu dan berkenaan pula menggantikan posisi La Mallawa sebagai Panglima Perang. “Kalau di kerajaan ini tidak ada lagi yang dapat  menyamai keberanian La Mallawa, maka saya ayam yang tidak bertaji dari seberang, akan menyamainya, bahkan akan melebihinya”. Narekko de’ nariulle pappadai ipacauriwi.
         Betapa haru dan bangga  Raja La Tenriampa mendengar pernyataan sikap saudaranya, iapun menobatkannya menjadi Panglima Perang Kerajaan Lompotasi yang ditandai penyerahan keris bertuah Lamba Tellu yang menjadi pusaka utama Kerajaan Lompotasi. Kemudian  mempercayakan sepenuhnya Raja La Mappesona mengatur pasukan dan strategi perlawanan guna menghadang pasukan kerajaan Tanabulu yang sudah menduduki sebagian wilayah  kerajaan Lompotasi. 
         Selesai acara penobatan, maka dihadapan para pasukan perang Kerajaan Lompotasi dan masyarakat yang hadir, La Mappesona mengumandangkan pesan sambil menggenggam mengacungkan Keris Lamba Tellu;  "Pada akkalingani Iko to Lompotasi'e, nigi-nigi pasisala akkata madeceng na tumpa' pangeloreng, laupaggangka kancingngi Lamba Tellu (Wahai para orang Lompotasi, ketahuilah bahwa siapa saja diantara kalian yang menentang dan tidak mematuhi perintah raja, maka keris ini yang akan menghukumnya)". Kemudian gederang perangpun ditalu La Mappesona sebagai isyarat kalau pasukan Lompotasi siap melanjutkan perang terbuka melawan Kerajaan Tanabulu. Peperanganpun berlanjut dengan semakin seru dan dahsyatnya. Tombak baradu tombak. Keris beradu keris. Anak pana saling menyambar menghujani medan laga. Pekikan kuda meraung-raung memekakkan telinga. Mayat bergelimpangan bersimbah darah. Tiba-tiba setelah sekian hari berlangsung perang terbuka yang begitu mencekam tersebut, La Mappesona mendapat kesempatan berduet dengan panglima perang kerajaan Tanabulu yang terkenal kekebalannya bernama Uragae, sehingga terjadilah  pertarungan dua panglima perang yang amat hebat dengan penggunaan ilmu kanuragan yang sangat tinggi. Namun beberapa kali Uragae mencoba menancapkan kerisnya di tubuh La Mappesona, selalu saja terpeleset kesamping dan sama sekali tidak pernah menyentuh kulit La Mappesona. Sebaliknya keris Lamba Tellu La Mappesona selalu menancap di tubuh Uragae, hanya saja belum dapat melukahinya, tapi cukup membuatnya babak belur. 
            Hingga akhirnya Uragae menjadi putusasa menyerang La Mappesona dan membuatnya panik, emosi dan bernafsu segera menghabisi La Mappesona sebagaimana telah dilakukannya pada La Mallawa. Namun apa daya seketika itupula satu tusukan keris Lamba Tellu La Mappesona lolos menancap persis di dada kiri Uragae sehingga menghamburkan darah serta merobohkannya mencium tanah. Para pasukan Kerajaan Tanabulupun jadi berhamburan dan segera mengambil langkah mundur begitu mengatahui panglima perang Urugae telah tewas ditangan La Mappesona, dan peperanganpun berakhir  dengan kemenangan pasukan Lompotasi dibawa kendali La Mappesona selaku Panglima Perang. Dan setelah peperangan ini, tidak pernah lagi  Kerajaan Tanabulu menyerang Kerajaan Lompotasi, bahkan kemudian dapat berdampingan secara damai.

Foto Contoh Keris Lamba Tellu

          Sungguh gembira dan bahagia Raja La Tenriampa mendengar kemenangan pasukannya di medan perang terbuka melawan Kerajaan Tanabulu, dan saking riang hatinya iapun menyerahkan sepenuhnya Keris Lamba Tellu kepada La Mappesona untuk menjadi miliknya.    Selanjutnya, Raja La Tenriampa mempersembahkan juga satu isterinya dari empat puluh orang untuk dipilih langsung La Mappesona, dengan pengecualian satu orang isterinya yang bernama I Mintasari.
          Hanya saja La Mappesona tidak tertarik dengan persembahan isteri  La Tenriampa tersebut, karena pantang baginya koti'i orinna tauwe atau menjamah isteri orang lain  apalagi isteri sahabat yang telah dianggapnya saudara, lagi pula perempuan seperti I Mintasari cukup banyak  juga di Kerajaan Bolagalung. Maka dengan penuh tatakrama La Mappesona menolak  secara halus persembahan tersebut, dan hanya bersedia menerima pemberian Keris Lamba Tellu dari sahabatnya.  Kemudian La Mapessona memohon diri untuk segera kembali ke Bolagalung.
          Ternyata penolakan La Mappesona atas persembahan La Tenriampa, dimanfaatkan oleh  La  Pendeki seorang pejabat kerajaan yang mana tadinya berambisi menggantikan posisi panglima perang La Mallawa, tapi La Tenriampa mengabaikannya dan lebih memilih La Mappesona yang notabene orang dari luar Kerajaan Lompotasi. Maka pada bekas tempat duduk La Mappesona di Sorajae ditulislah kalimat fitnahan yang maksudnya kalau La Mappesona menolak persembahan isteri  dari La Tenriampa disebabkan hanya I Mintasari yang disenanginya.
          Bukan main kecewanya hati La Tenriampa mendengar laporan dari La Pendeki tentang perbuatan La Mapessona tersebut. Ia merasa telah dihina dan dikhianati sahabat sejatinya.  Seketika itu pula diperintahkanlah La Pandeki untuk segera menemui La Mappesona dan memintanya kembali ke Lompotasi mempertanggungjawabkan penghinaannya kepada Raja La Tenriampa. Maka dengan membawa pasukan secukupnya, La Pandeki menyusul kepulangan La Mappesona menuju Bolagalung. Tujuannya bukan lagi menemui La Mappesono, melainkan untuk membunuhnya agar panglima perang dan keris Lamba Tellu bisa berpindah kepadanya..
          Sangat kaget La Mappesona begitu sampai di Bolagalung, disebabkan tiba-tiba ada serangan dari belakang dengan berbagai senjata tajam yang diarahkan kepadanya.  Ternyata pasukan kerajaan Lompotasi dipimpin La Pendeki  mencoba membunuhnya. Secepat kilat La Mappesona membalikkan badan dan membalas serangan dari pasukan La Pendeki, hingga semuanya tewas kecuali La Pendeki yang selamat karena langsung menjatuhkan diri dari kuda  dan bersimpuh di tanah sambil mappale meminta pengampunan kepada La Mappesona. “Apa yang membuatmu menyerangku dan ingin membunuhku”, tanya La Mappesona penuh selidik. Dengan penuh gemetaran ketakutan La Pendeki lagi-lagi merekayasa fitnah, dengan menyampaikan kepada La Mappesona, jikalau mereka diperintahkan oleh Raja La Tenriampa untuk membunuh Raja La Mappesona dikarenakan telah menghinanya dengan menuliskan kata penolakan atas persembahan seorang isteri La Tenriampa dan menyebutkan lewat tulisan bila hanya I Mintasari yang disenanginya.
          Sungguh kaget dan terkejut La Mappesona mendengar penyampaian La Pendeki, sekaligus membuatnya amat kecewa atas  ketidakbijaksanaan La Tenriampa yang selama ini dianggapnya sebagai saudara dalam menyikapi berita yang sampai kepadanya, tanpa menyaringnya secara rasional terlebih dahulu. Sebegitu mudahnya La Tenriampa mempercayai laporan pengawalnya, tanpa menyelidiki atau mempertimbangkannya secara matang. Betapa gampangnya mendengar hasutan dan mengabaikan nilai-nilai persahabatan, tanpa mengingat pertolongan yang nyaris menginjak-injak harga dirinya dan kehormatan serta wibawa kerajaannya.
          “Baiklah”, ucap La Mappesona lirih kepada La Pendeki, “kalau itu kehendaknya  La Tenriampa, saya sendiri akan memberikan kepalaku kepadanya sebagai bukti kesetiaanku. Karena kalau hanya kamu dan pasukan Lompotasi, tidak akan pernah mampu membunuhku. Sampaikan itu kepada saudaraku La Tenriampa dan katakan juga padanya, dimanalagi arti pertemanan sejati atau assitellireng selama ini yang dirawat dengan baik, sampai-sampai saya rela mempertaruhkan nyawa di perang terbuka melawan Kerajaan Tanabulu demi menjaga kehormatan dan harga dirinya dan rakyatnya. Sampai hati mereka memfitnah aku. Cobanna tennia wennang temmarota'na Bolagalung massolasolangngi ale'na ritengngana sukkara'e, majeppu ipallimbangengngi tanah to Lompotasi'e". Ingat La Pendeki, sampaikan semua pesanku ini ketika kamu perhadapkan kepalaku kepadanya, karena kalau tidak, kau akan binasa mattonrangeng.
          Selesai mengucapkan pesannya kepada La Pendeki, maka La Mappesona memotong sendiri kepalanya dengan sekali tebas, selanjutnya La Pendeki menyimpannya diatas baki lalu di bawanya kembali ke Kerajaan Lompotasi guna diperhadapkan kepada Raja La Tenriampa.   
          Setibanya di depan Istana Kerajaan Lompotasi, dengan hati berdebar tak karuan La Pendeki memperhadapkan kepala La Mappesona kepada La Tenriampa, tanpa menyampaikan pesan La Mappesona, justru dengan membanggakan dirinya telah berhasil membunuh pemberani dari Bolagalung yang juga Panglima Perang Lompotasi.
          Keajaibanpun terjadi, ketika La Pendeki menghadapkan kepala La Mappesona kepada La Tenriampa, kepala itu membalikkan diri membelakangi Raja La Tenriampa. Ketika dicoba lagi menghadapkan kepada  raja sertamerta kepala itu membalikkan diri lagi kebelakang. Demikian seterusnya, lalu setelah berulang kali dicoba, barulah raja La Tenriampa tersadar jikalau boleh jadi ada pesan dari sahabatnya itu yang tidak disampaikan kepadanya oleh La Pendeki, sehingga kepala itu samasekali tak mau menghadap pada dirinya. "Engkaga paseng napatarimakko  sialapadaroneku La Mappesona na de' mupalettukengnga (Apakah ada pesan dari sahabatku La Mappesona untukku yang dititipkan kepadamu, tapi kau menyembunyikannya)", bentak Raja La Tenriampa kepada La Pandeki. Maka dengan gemetaran sejadi-jadinya La Pendeki pun menyampaikan pesan La Mappesona kepada La Tenriampa, yang mebuatnya langsung murkah karena  baru menyadari bila sahabat sejatinya telah termakan fitnah La Pendeki. Maka spontan ia memerintahkan kepada pengawal kerajaan agar segera menangkap La Pendeki beserta anak isterinya dan seluruh keluarganya tujuh susun turunannya kebawah dan tujuh susun keatas untuk diberi hukuman mati. “Karena pembuat dan penyebar fitnah seperti La Pendeki tidak bisa hidup di bumi Lompotasi, termasuk seluruh keluarganya”, titah Raja La Tenriampa dalam tangis penuh penyesalan telah membuat saudaranya harus mengorbankan dirinya sendiri demi membuktikan kesetiannya sebagai sahabat sejati. 
          Penggalan cerita diatas, terasa cukup memberikan gambaran akan arti dari gajang ritappi masa lalu, sebagai teman sejati yang menjadi pelindung dan penolong ketika menemui kesulitan, kesukaran, terutama tantangan pertarungan. Seperti itu pulalah peran sebilah badik yang disematkan dipinggang bagi seorang lelaki bugis, untuk digunakan menjadi pelindung dan penolong seketika mendapat tantangan perkelahian. Karena lari didepan lawan sigajang menjadi pantangan bagi keturunan bugis. 
          Namun dari cerita diatas, memberikan pula pelajaran sekaligus peringatan, betapa berbahayanya perbuatan fitnah, termasuk politik adu domba dan profokasi,  dalam kehidupan bermasyarakat, karena berpotensi merusak hubungan baik antara sesama saudara atau sahabat, bahkan dapat memicu terjadinya perselisihan dan pertengkaran, yang mana tidak sedikit berujung adu fisik dan jatuhnya korban.    Selain itu, cerita tersebut memberi wejangan agar senantiasa arif dan bijaksana dalam menyikapi setiap informasi yang diterima. Amat penting melakukan cek and  ricek   guna menfilteri diri dari berita bohong atau mengada-ada. 
         Sekaligus cerita diatas mempermaklumkan kebenaran ungkapan Khalil Gibran bahwa tidak ada yang namanya sahabat sejati, yang ada hanyalah kepentingan. 
         Tidak ada musuh yang abadi dan tidak adateman yang kekal, kata orang bijak.
          Semua berubah. Tidak ada yang kekal, kata penyair-politisi dan filsuf Pakistan asal Punyab India, Muhammad Iqbal,  selain perubahan itu sendiri.
          Alitutui balimmu siseng, namalitutui sibawammu ekka seppulo, nasaba sibawangngemitu marepe mancaci bali. Pesan laluhur ini mengingatkan, kiranya sekali-kali perlu mewaspadai lawan atau musuh kita, namun terhadap teman harus selalu waspada. Karena temanlah yang biasa menjadi lawan. Artinya perlu tetap berhati-hati pada orang yang membenci  atau memusuhi kita, dan lebih berhati-hati lagi terhadap orang yang  menyenangi kita atau pada teman kita. Karena biasa hanya hal sepele saja membuat teman membenci kita. 
          Akhirnya ungkapan gajang ritappi memang sebijaksananya cukup dipahami secara harfiah saja  sebagai badik yang disematkan di pinggang. Karena waktu juga sudah berubah sekaligus merubah model pertemanan atau persabatan. 
            Selanjutnya untuk pesona keris lamba tellu, menurut cerita leluhur, Kabupaten Sidenreng Rappang atau sebut saja Sidrap, mempunyai warisan arajang berupa Keris Lamba Tellu milik La Sonni Kareng Maseppe, yang hidup segenerasi dengan Arung Palakka di Bone. Bahkan konon keduanya tersebut dalam lontara' sebagai teman sejati dalam bungkusan persahabatan gajang ritappi, dan sayangnya berlanjut dalam  kisah akhir persahabatan yang kelam  karena disulut api cemburu yang mengorbarkan fitnah. 
            Tapi keberadaan keris Lamba Tellunna Sidenreng, yang dulu menjadi simbol kegagahberanian orang Sidrap itu, tidak pernah terungkap secara jelas kepemilikannya sampai sekarang. Terlebih lagi dari pihak pemerintah daerah, nampak tidak juga  terusik dengan hilangnya pusaka kebanggaan masyarakat bekas dua kerajaan kembar yaitu Kerajaan Sidenreng yang dipimpin seorang raja bergelar Addatuang dan Kerajaan Rappang dengan raja bergelar Arung tersebut.
            Dan kitapun bersaksi jikalau memang daerah berjuluk lumbung pangan ini, telah kehilangan banyak pusaka leluhur, begitupula budaya masa silam yang tidak dilestarikan secara konsisten dan utuh, sehingga generasi saat akan kehilangan jejak dalam menelusuri tradisi nenek moyangnya. Karena Sidrap tidak hanya punya Nene' Mallomo yang kesohor cerita kepintarannya, tapi daerah agraris ini juga punya La So'ni Karaeng Massepe yang keberaniaannya melagenda dan terdokumentasi dalam lontara sebagai sumber rujukan resmi  dari cerita daerah masa lalu. Ada juga Arungnge La Noni, panglima perang Kerajaan Sidenreng Rappang di masa penjajahan, yang memilih mati berkalang tanah dari pada harus diperintah la bellang mata atau Belanda. 
            Selanjutnya daerah Sidrap, menjadi daerah penggagas acara Tudang Sipulung, dan punya tradisi Pesta Panen yang begitu menawan yang biasanya dengan menggelar ritual mampadendang, makkacaping, mattojang, makkelong-kelong  dan maccera arajang serta manre sipulung, dan sebagainya, yang kesemuanya menjadi khasanah budaya yang cukup dibengkalaikan saat ini. Termasuk pesona ayam ketawa, yang semestinya terupayakan agar secara legitimated dikenal dunia sebagai ayam yang asalnya dari Sidrap.
            Namun masa lalu leluhur dan tradisi Sidrap yang sedemikian indah dan mempesona, hanya tinggal kenangan segelintir orang. Dan kebanggaan itupun tenggelam di tengah hiruk-pikuk perlombaan mengejar prestasi kemapaman kehidupan materialitis dalam bingkai pembangunan daerah secara modern.
            Akhirnya, Keris Lamba Tellunna Sidenreng pun akan tetap saja menjadi misteri. Lalu kitapun bersepakat membuatnya  jadi misteri.
            

(Andi Damis, adalah pemerhati budaya leluhur) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka