HILANGNYA KERIS LAMBA TELLU
Cerita rakyat kali ini merilis misteri hilangnya keris bertuah Lamba Tellu di pusaran Kerajaan Bolagalung. Jejaknyapun tidak terlacak disebabkan kondisi Kerajaan Bolagalung saat La Parissengi bertahta sebagai raja, mengalami perubahan signifikan karena munculnya orang asing yang turut campur dalam pemerintahan kerajaan. Keberadaan orang asing yang datangnya dari seberang lautan tersebut, menjadi mimpi buruk bagi kelangsungan hidup anggota masyarakat kerajaan. Kehadirannya yang sungguh arogan, apalagi dilengkapi senjata pembunuh massal modern yang jauh melebihi keris dan badik, membuat berbagai kerajaan di nusantara mampu ditaklukkan dan dijajahnya. Kelicikannya yang dibarengi ancaman kudeta dan ambil alih kekuasaan, menjadikan banyak raja tidak berdaya menghadapinya, bahkan terpaksa memilih bekerjasama dengannya. Dalam episode kerjasama dengan penjajah inilah bermula tidak terlacaknya keberadaan Keris Lamba Tellu.
Campur tangan penjajah yang terlalu jauh dalam urusan pemerintahan Kerajaan Bolagalung, membuat La Parissengi tampil sebagai raja yang hanya didudukkan sebagai boneka guna melegitimasi keseluruhan perbuatan dan tindakan penjajah yang sering merugikan bahkan merampas hak- hak masyarakat
Hingga akhirnya penguasaan penjajah yang sedemikian kejamnya telah memicu pemberontakan sebagian anggota masyarakat, karena tidak tahan lagi menerima perlakukan yang tidak manusiawi. Namun segala bentuk perlawanan masih saja dapat dipatahkan penjajah dengan eksekusi tembak ditempat tanpa proses introgasi.
Sepeninggal Raja La Parissengi, dinobatkanlah putranya bernama La Sanrewali sebagai Raja Bolagalung menggantikan ayahandanya. Walaupun melanjutkan pemerintahan kerajaan yang sudah terjajah, tapi dirinya tidak rela diperlakukan seenaknya oleh bangsa asing tersebut. Oleh karena itu La Sanrewali diam-diam menyusun rencana perlawanan kepada penjajah dengan menyusun pasukan perang yang dipimpin oleh La Coppo sebagai Panglima Perang Bolagalung.
Selang beberapa waktu melakukan perlawanan bawah tanah, ketahuan juga oleh pihak penjajah pemberontakan La Coppo tersebut. Kepada Raja La Sanrewali pihak penjajah mengultimatum meminta agar segera menghentikan gerakan perlawanan Panglima Perang La Coppo yang telah menelan korban pada pihak penjajah pada penghadangan mobil patroli.
Raja La Sanrewali menjadi kesal mendapat ultimatum penjajah tersebut, maka iapun menghubungi La Coppo dan mengisyaratkan kiranya lebih berhati-hati melakukan pergerakan. Pada saat itu pula La Coppo memperingatkan kepada Raja La Sanrewali agar supaya tidak bekerjasama lagi dengan penjajah. Kasihan rakyat yang semakin melarat. "Kalau raja masih mau bekerja sams dengan penjajah yang membuat kita tak lagi punya harga diri, maka biarlah saya saja yang melawannya. Saya lebih baik berkalang tanah dari pada dijajah", ucap La Coppo tegas. Mendemgarkan sikap tegas La Coppo, membuat Raja La Sanrewali sangat memaklumi sikap panglima perangnya, namun tak menginginkan terjadinya korban sia-sia pada rakyat.
Dalam suasana penuh kebingungan memikirkan sikap La Coppo dan ultimatum penjajah, tiba-tiba datang pengawal kerajaan menyampaikan kepada Raja La Sanrewali bila pasukan penjajah telah menyerang markas La Coppo dan menyebabkan beberapa pasukan kerajaan tewas di tempat. Sedangkan Panglima Perang La Coppo dapat selamat dan telah mengosongkan markas.
Penyerangan markas pasukan kerajaan tersebut, membuat hati La Sanrewali sangat sedih dan risau memikirkan keberadaan La Coppo dan pasukannya. Iapun mencoba memperingatkan komandan penjajah agar tidak gegabah bertindak terhadap La Coppo, supaya tidak memakan korban terlalu banyak.
Tapi peringatan Raja La Sanrewali tidak dihiraukan pihak penjajah, karena menganggap La Copo sebagai duri dalam daging atau penghalang baginya untuk berkuasa sepenuhnya di Kerajaan Bolagalung. Oleh sebab itu, bagi penjajah tidak ada alasan untuk membiarkan La Coppo bergerak melakukan perlawanan. Untuk itu pihak penjajah menyewa seorang mata-mata guna mencari tahu di mana posisi pangkalan La Coppo.
Setelah mengetahui pangkalan La Coppo dari mata-mata, maka pasukan penjajah menyusun rencana penyerangan ke pangkalan La Coppo, yang mana rencana itu sampai pula kepada La Coppo. Sehingga dengan gagah berani La Coppo dapat menghadang pasukan penjajah dan menyebabkan perang terbuka antara pasukan Kerajaan Bolagalung dengan tentara penjajah.
Disebabkan persenjataan yang tidak berimbang, maka setelah berlangsung berapa hari peperangan tersebut, tentara penjajah dapat mendominasi pertempuran, dan dalam situasi terjepit La Coppo masih tetap bertahan habis-habisan, namun satu peluru berhasil bersarang di dadanya dan membuatnya terjatuh. Melihat pimpinannya terjatuh, para pasukan La Coppo bergerak cepat memboyong tubuh La Coppo dan melarikannya pergi dengan menunggang kuda La Coppo yang terkenal kecepatan larinya bagai lemparan tombak.
Pihak tentara penjajah begitu geram karena tidak dapat menghabisi nyawa La Coppo disebabkan masih terhalang perlawanan sebagian pasukan La Coppo yang berusaha bertahan sambil memberi kesempatan penyelamatan La Coppo yang telah dibawa pergi. Iapun melampiaskan kemarahannya dengan mengepung dan menghujankan peluru kepada pasukan La Coppo yang masih bertahan sehingga tidak ada lagi seorangpun tersisa.
Di tempat persembunyian La Coppo mendapatkan perawatan dari para pengawalnya, namun karena lukahnya begitu parah dan banyak mengeluarkan darah, akhirnya nyawa La Coppo tidak dapat diselamatkan. Mayatnyapun dimakamkan di tempat persembunyian itu dan kematiannyapun dirahasiakan agar pihak penjajah tetap penasaran dan menganggap kalau La Coppo masih hidup.
Kekalahan La Coppo berakibat langsung pada melemahnya posisi dan kedudukan Raja La Sanrewali, hingga akhirnya bersedia menandatangani surat penyerahan pemerintahan Kerajaan Bolagalung kepada penjajah.
Tapi entah dimana Keris Lamba Tellu, yang telah digunakan Raja La Temmassenge menghalau pasukan Lompotasi yang hendak menyerang Bolagalung. Karena cerita inipun tidak pernah menyebutnya.
Mungkin tak perlu mencarinya, karena ditulisan ini memang hanya cerita.(AdeEm)
Komentar
Posting Komentar