Refleksi : INDAHNYA KATA "IYEE...."
Kata iye atau iyee merupakan satu diantara banyak sahutan yang paling indah dan sopan dalam budaya masyarakat Bugis. Disamping memberikan respon spontan atas panggilan atau sapaan orang lain, sekaligus pula menyiratkan penghargaan kepada orang tersebut.
Kata iyee dalam pergaulan sehari-hari dikalangan orang Bugis, dikatagorikan sebagai sahutan dengan tingkat kehalusan bahasa cukup tinggi. Begitupula penilaian pada orang yang mengatakannya, disebutkan sebagai orang sopan.
Keluhuran budi seseorang juga biasa terindikasi dari pilihan kata yang diucapkannya, termasuk kebiasaannya mengatakan iye bila menyahuti sapaan atau panggilan.
Dalam kondisi tertentu, kata iyee bisa juga merupakan refleksi dari keengganan mengomentari suatu hal yang tidak berkenan dihatinya atau karena menghindari kesalahpahaman orang yang mendengarnya. Oleh sebab itu pada banyak kesempatan perbincangan dilingkungan pergaulan orang Bugis, sering tersaksikan ada orang yang mampunya bilang "iyee" saja sambil menunduk atau tersenyum dikulum. Tapi lebih sering dikarenakan malu-malu, sehingga tahunya bilang "iyee" saja, utamanya kaum perempuan.
Seperti halnya kata "tabe" yang mengandung makna penghargaan dan penghormatan pada orang lain, maka kata "iyee" demikian pula halnya, bahkan lebih menunjukkan pada kepatuhan dan kesediaan menjalankan suatu suruhan atau ajakan.
Untuk kata sahutan dalam budaya masyarakat Bugis yang level kehalusannya dibawah "iyee" yaitu "iya" dan "Iyo". Keduanya merupakan sahutan yang hanya layak dan pantasnya diucapkan oleh mereka yang lebih tua umurnya dari yang menyapa atau mengajak. Tidak termasuk dalam kategori memanggil, karena dalam budaya masyarakat bugis, kurang diperkenankan seorang yang lebih muda usianya memanggil orang yang lebih tua usianya, terlebih lagi bila dilakukan dengan berteriak, karena dianggap melanggar tatakrama atau adab sopan santun.
Kata Iyo, biasanya lebih sering didengar dari pergaulan bermain anak-anak atau tingkat remaja yang tengah bercandaan. Biasa juga didengar dalam pergaulan orang tua yang seumuran dan punya hubungan persahabatan yang akrab. Namun dalam percakapan "resmi" atau serius lebih banyak sahutan "iye" yang dipergunakan, hal mana menunjukkan bila dalam budaya masyarakat Bugis ditemukan pula berbagai bentuk interaksi sosial dengan penggunaan bahasa sahutan yang mengontrol penggunaan kata "iye" dan "Iyo".
Udstaz Nur Maulana cukup punya andil mempopulerkan kata iyee, melalui berbagai tabliq akbar, terutama pada sesi acara "Islam Itu Indah" yang ditayangkan salah satu stasiun televisi. Sehingga hampir senusantara orang yang mengikuti acara tersebut, setidaknya memahami bila sahutan iye itu asalnya dari suku bugis dengan merepresentasi Udstaz Maulana sebagai keturunan Bugis. Selanjutnya dari acara itu pula kata iyee, dipermaklumkan sebagai sahutan orang Bugis dengan tatakrama pengucapan yang amat halus, setidaknya amat elok kedengaran sahutan berjamaah dari kalangan ibu-ibu ketika menjawab atau membalas sapaan khas Udstaz Maulana; "Jamaaah....". "Iyee....".
Akhirnya selain kata "tabe" dan "iyee", masih begitu banyak perbendaharaan bahasa bugis, yang cukup elegan diadaptasikan dalam pergaulan nasional, yang mana pada gilirannya akan semakin memperkaya khazanah Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan Nusantara. (Andi Damis)
Komentar
Posting Komentar