INDAHNYA MANRE SIPULUNG (memupuk budaya kebersamaan leluhur melalui reunian)
Sipulung dalam tradisi masyarakat Sidenreng Rappang, dimaksudkan berkumpul bersama, biasanya dengan keluarga, kerabat (sumpung lolo) atau sahabat dalam suasana harmonis penuh canda. Kebiasaan ketemu-ketemu bersama ini, menjadi pola hidup sosial yang diwarisi dari leluhurnya, dan menjadi corak budaya masyarakat hingga sekarang dalam era milenial.
Memotret tradisi sipulung masyarakat Bugis Sidrap, mengabarkan kepada kita akan nilai-nilai persaudaraan yang telah dibina dan dipelihara dengan penuh kasih sayang para leluhur dan dijadikan sebagai warisan paling berharga kepada anak cucunya. Setidaknya pesan moral “rebba sipatokkong, mali siparappe, malilu sipakainge, maingeppi napaja”, telah menapasi warisan persaudaraan yang begitu mulia tersebut.
Tradisi sipulung ini juga, seakan menceritakan kepada kita betapa luhur budi pekerti para moyang orang Bugis dalam menjalani hidup bermasyarakat dengan senantiasa menjaga kelestarian hubungan persaudaraan dalam bingkai kehidupan “sipatuo sipatokkong” atau bersimbiosis mutualistik.
Menghayati tradisi sipulung dengan menapak tilas sejarah asal mula terbentuknya daerah berjuluk lumpung pangan ini, membuat kita dapat membayangkan “derita pengusiran” yang dialami mereka dari kampung halamannya di Sangalla (Tana Toraja), sehingga harus membuang dan mengasingkan diri dirantauan yang tak bertuan (silahkan baca Lagenda Bumi Nene’ Mallomo di Blog ini). Oleh karena itu kedelepan bersaudara “penemu Sidrap” ini, membatinkan pada dirinya untuk tidak pernah mengulang cerita kelam tersebut, terlebih bagi anak cucuknya. Sehingga mereka senantiasa memelihara kehidupan sosialnya, agar tetap rukun dan damai dalam bahagia dan derita. Kebersamaan senantiasa mereka kedepankan, pada setiap menghadapi permasalahan kehidupan. Untuk itu mereka membudayakan selalu berkumpul atau bertemu, agar hubungan kekeluargaan selalu terjalin dengan penuh senda gurau. Dan sebagai penyemangat dan pemanis acara kumpul-kumpul tersebut, maka dipilihlah alasan makan bersama (manre sipulung) sebagai tema ketemu-ketemuan itu, sebagai kata ganti acara sekedar kumpul-kumpul biasa saja.
Dalam konteks keberagamaan, tradisi sipulung menggambarkan perawatan hubungan sulaturrahim dan senantiasa memupuk sikap kepedulian serta keikhlasan tolong-menolong sebagai saudara sesama makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Begitupula dalam konsep kemasyarakatan, tradisi sipulung mengajarkan pentingnya membiasakan interaksi sosial guna menjaga kesenjangan hubungan yang akan berdampak pada terbentuknya pola kehidupan individualistik. Selanjutnya yang paling pokok adalah merajut kesepahaman untuk menemukan solusi pemecahan masalah yang senantiasa menguntungkan semua pihak.
Memaknai budaya sipulung orang bugis, khususnya bagi masyarakat Sidrap, dalam pemerintahan modern saat ini, setidaknya masih ada tiga acara yang menjadi momentum sipulung yang sering kita dengarkan atau selenggarakan, yaitu pertama Tudang Sipulung untuk musyawarah masalah persawahan. Kedua pesta rakyat, seperti pesta panen, maccera arajang, mappadendang, mappakkacaping dan sebagainya. Ketiga manre sipulung, seperti acara reunian, arisan keluarga, halal bi lalal, marralloka, massurabeng, mattunu bale, marrang tello, serta yang cukup mentereng ngopi bareng di cafe yang lagi ngetrend sekarang ini dan sebagainya.
Tudang Sipulung
Tudang sipulung dalam tradisi keseharian masyarakat Sidenreng Rappang biasanya dimaksudkan sebagai bentuk pertemuan beberapa orang dalam suasana kekeluargaan atau persahabatan yang cukup santai untuk suatu maksud tertentu. Biasanya untuk membicarakan rencana kegiatan seperti pesta, perlombaan, perayaan, kunjungan dan sebagainya, yang melibatkan banyak orang.
Secara etimologi Tudang Sipulung berarti duduk berkumpul, kemudian diterjemahkan menjadi duduk bersama, temu bareng, reuni atau musyawara. Sehingga secara harfiah Tudang Sipulung dimaksudkan sebagai pertemuan berbagai kalangan dalam kelompok tertentu untuk memusyawarakan sesuatu tujuan guna memenuhi kepentingan atau kebutuhan bersama. Dulunya momentum tudang sipulung pada waktu luang atau liburan, yang memungkinkan dapat dihadiri banyak orang dari berbagai kalangan.
Tudang sipulung dicirikan dengan bentuknya yang independen dan lebih mengedepankan nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan, sehingga kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkannya lebih bersifat pengharapan atau himbauan.
Tudang sipulung kemudian menjadi bentuk pertemuan resmi sebagai musyawara yang mempertemukan segenap stakeholder pertanian daerah, mulai dari petani, penyuluh, pallontara’, penyuluh, akademisi, dinas terkait, wakil rakyat, pemerintah dan sebagainya, dalam rangka membahas permasalahan pertanian dan merumuskan pola tanam kedepannya yang lebih baik. Acara ini pertama kalinya digagas Bupati Sidrap H.Arifin Nu’mang periode 1966-1978, guna memadukan pengetahuan pengolahan pertanian modern yang dimiliki para akademisi atau Sarjana Pertanian asal Sidrap dan pengetahuan pengolahan pertanian tradisionil yang dimiliki para pallontarak, sehingga dapat dihasilkan rumusan pengolahan pertanian di Sidrap yang lebih komprehensif.
Sekarang ini Musyawarah Tudang Sipulung yang disingkat MTS telah dijadikan agenda tahunan sebagai wahana komunikasi dan informasi serta evaluasi pengelolaan pertanian pada setiap tahunnya di Kabupaten Sidrap. Lebih jauh melalui pertemuan lintas kemasyarakatan ini memang diharapkan akan menemukan solusi dari setiap permasalahan sosial yang tengah dialami masyarakat, begitupula dimaksudkan guna mengantisipasi segala bentuk pengaruh dari luar yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarkat. Dan tak kalah pentingnya keberadaan acara ini senantiasa dikondisikan menjadi media pengerat tali persaudaraan sebagai sesama warga Sidrap dalam menata kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.
Perkembangan acara Tudang Sipulung, saat ini, di hampir setiap daerah di Sulawesi Selatan telah menjadi tradisi baru untuk menyebut acara kumpul-kumpul secara resmi dengan tema bervariasi untuk membicarakan pembangunan daerah masing-masing dengan melibatkan partipasi dari keseluruhan stakeholder.
Secara khusus acara tudang sipulung yang diselenggarakan sebagai media pembahasan masalah pertanian, yang dihadiri segenap stakeholder, biasanya menghasilkan butir-butir kesepahaman seperti; Jadwal turun sawah, Jenis benih yang dihambur, Jadwal tanam padi, Pemanfaatan alsintan, Penggunaan jenis pestisida, Tata cara pengolahan sawah dan pemeliharaan tanaman padi terbarukan, dan pemecahan masalah yang dialami petani pada musim tanam sebelumnya.
Hasil rumusan Musyawarah Tudang Sipulung tersebut, sudah tentu diharapkan menjadi pedoman dalam pelaksanaan usaha tani pada musim tanam yang akan datang, sehingga dapat lebih ditingkatkan produktifitas hasil penen.
Sipulung-pulung
Tradisi sipulung-pulung merupakan penomena berkumpul orang bugis yang masih sangat mewarnai kehidupan generasi milenial saat ini, terutama dengan semakin maraknya acara reunian atau temu kangen dan kumpul bareng.
Dulunya tradisi sipulung-pulung hanya sekedar menyemangati suatu acara keluarga, seperti pengantinan, haqiqah, naik rumah baru, maulidan atau pembacaan barazanji, ulang tahun, sunatan, arisan, pengajian, syukuran, dan lainnya. Namun perkembangannya nampaknya menjadi pertemuan biasa yang tidak lagi terikat waktu dan ruang, sehingga dimana dan kapan saja biasa dilakukan, hal mana sangat dipengaruhi dengan semakin gencarnya penggunaan aplikasi pertemanan di media sosial.
Perkembangan teknologi yang sedemikian canggih sekarang ini, yang ditandai pesatnya produksi sarana komunikasi dan informasi, nampaknya menuntun pola hidup yang serba praktis dalam konteks pergaulan modern yang lebih majemuk dan berwarna. Maksudnya, ditengah serbuan alat komunikasi yang sedemikian canggih, saat ini, seperti Heand Phone dengan aneka ragam pitur dan aplikasi didalamnya seakan membuat dunia ini semakin sempit, dimana jarak antar negara dan antar benua dibuat sedemikian dekatnya, sehingga orang dapat saling kenal mengenal, berpandangan dan berteman antar negara atau benua tersebut.
Selanjutnya perkembangan teknologi informasi tersebut memberikan pengaruh juga pada model pertemanan melalui media sosial yang sering digairahkan dengan acara kumpul bareng atau sipulung-pulung yang diromantisasi dengan pesona selfi-selfian dan postingan.
Tradisi sipulung yang mengakar dari nilai-nilai silaturrahim dengan maksud tetap menguatkan ikatan persaudaraan, tak pelak lagi telah menjadi penomena baru dalam budaya pertemanan zaman milenial yang dipengaruhi bentuk interaksi sosial dalam media sosial akibat pesatnya pemanfaatan fasilitas komunikasi dan publikasi dalam era global yang semakin canggih.
MANRE SIPULUNG
Manre sipulung adalah tradisi makan bersama beramai-ramai, sebagai puncak dari semua acara sipulung, seperti Tudang Sipulung, Sipulung-pulung (pesta panen, perkawinan, haqikah, maulidan, ulang tahun dan sebagainya), Ada aneka ragam jenis makanan khas bugis yang biasanya disiapkan begitu juga beragam macam kue disediakan. Namun biasanya tetap nasi jadi hidangan pokok acara sipulung dengan lauk-pauk utamanya yaitu daging atau ikan. Pengecualian untuk acara reunian yang mempaforitkan hidangan nasu palekko itik atau ikan bakar dan lawa bale.
Alhasil, manre sipulung selalu merupakan agenda terakhir atau penutup dari penyelenggaran semua acara sipulung diatas, sekaligus menjadi puncak kegembiraan bagi segenap peserta. Karena nuansa manre sipulung selalu berhias canda dan tawa, kegembiraan, kebersamaan, kedekatan dan kelucuan. Terutama bila acara sipulung itu reunian alumni SMP atau SMA maka waktupun seakan-akan tertelan luapan canda dengan aneka senda-gurau yang berwarna-warni tanpa tema yang jelas. De’gaga melo sipalabe nataro rio. Hal itu bisa dimaklumi mengingat masa sekolah di SMP terutama di SMA, menjadi peralihan karakter dan pengalihan perhatian pada arti pertemanan, yang sering diselingi dengan romantisasi cinta monyet. Sehingga boleh jadi karena alasan untuk menapaktilas nostalgia masa-masa indah itu pulalah, sehingga acara reunian menjadi agenda tahunan yang senantiasa menjadi prioritas perhatian, sebagaimana indahnya manre sipulung yang selalu menyisakan kenangan dan membuat orang selalu merindukannya. Nasaba de'gaga assipulung-pulungeng de nasibawai rio sibawa anre. (Goresan pena Andi Damis)
Komentar
Posting Komentar