KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM KAJIAN FEMINISME



          Hingga zaman mileniea ini, kepemimpinan perempuan, masih saja jadi topik yang paling menarik didiskusikan. Walaupun persoalan gender, boleh jadi bukan lagi berita hangat.  Karena semakin hari, semakin banyak perempuan yang tampil menjadi pemimpin, dan berhasil. Menjadi Perdana Menteri sekelas Benasir Buto, Indira Ghandi, Margaret Thatcher, Simavo Bandaranaike dan Golda Meir.  Menjadi Presiden sehebat Corazon Aquiono, Mary Robinson, Violeta Chamoro, Isabel Martinez de Peron. Lalu  di Tanah Air ada Megawati Soekarno Putri,  Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, Retno Lestari, Yohana Susana Yembesi, Puan Maharani, Khofifah Indar Parawansa, Tri Rismaharini, dan sederet nama lainnya pada tempat yang berbeda.
Foto Benasir Buto (Pakistan)
          Mereka adalah perempuan yang hebat, dan berprestasi. Perempuan yang mampu menembus batas-batas kelasiman, dan merebut mahkota kepantasan. Perempuan yang luar biasa, dan menginspirasi. Perempuan yang berjaya di puncak pemerintahan, dan bertahta di singgasana kepemimpinan. 
Foto Megawati Soekarnoputri
          Banyak studi telah membandingkan para pemimpin pria dan perempuan, terkait dengan prilaku kepemimpinan mereka. Menurut Gary Yukl, kontroversi yang lebih baru dipicu oleh pernyataan bahwa perempuan lebih mungkin memiliki nilai dan keterampilan yang diperlukan untuk kepemimpinan efektif dalam organisasi modern dibandingkan dengan pria. Perbedaan itu adalah hasil dari pengalaman masa kecil, interaksi anak-orangtua, dan praktik sosialisasi yang merefleksikan stereotif peran jenis kelamin dan keyakinan tentang perbedaan gender dan posisi yang tepat bagi laki-laki  dan bagi perempuan. Pengalaman ini mendukung nilai “feminim”, seperti kebaikan hati, empati, pengasuhan, dan sikap untuk berbagi.
Foto Corazon Aquino (Filipina)
         Pada dasarnya, menurut Antropolog Dr.Helen Fisher, perempuan memiliki sifat-sifat dasar untuk sukses sebagai pemimpin. Mereka cenderung lebih sabar, memiliki empati, dan multitasking atau mampu mengerjakan beberapa hal sekaligus. Perempuan juga memiliki bakat untuk menjalin networking dan melakukan negosiasi. Kemampuan-kemampuan itu tentu saja tidak eksklusif hanya ada pada perempuan. Namun ketimbang laki-laki, kaum perempuan yang cenderung lebih sering menunjukkan sifat-sifat tersebut.
Shoya Zichy  mengungkap 8 tipe perempuan, dalam bukunya “Women and The Leadership” yaitu; tipe trustees atau kepercayaan,  tipe conservator atau yang memelihara, tipe tactisian  atau yang mengutamakan taktik, tipe realistic atau yang mengutamakan kenyataan yang realistis di lapangan, tipe strategic atau yang mengutamakan langkah-langkah rasional untuk menguasai keadaan,  tipe inovator atau yang mengutamakan inovasi-inovasi dalam pemecahan masalah, tipe mentor atu yang memberikan tekanan pada motivasi yang diberikan kepada pengikutnya, dan  tipe advocator atau yang memfokuskan pada upaya memotivasi para pengikutnya dengan ide-ide atau petunjuk yang cemerlang.
Foto Puan Maharani
          Penelitian Rosener, menemukan pria cenderung memandang pekerjaannya dari sudut transaksi, yakni transaksi antara dia dengan bawahannya. Sedangkan perempuan lebih suka menggunakan pendekatan partisipasi dimana para bawahan didorong untuk memberikan sumbangsih demi kepentingan organisasi. 
Foto Tri Rismaharini
          Kajian Sharpe berdalih,  bahwa perempuan selalu lebih mementingkan hubungan interpersonal, komunikasi, motivasi pekerja, berorientasi tugas, dan bersikap lebih demokratis dibandingkan dengan pria yang lebih mementingkan aspek perancangan strategik dan analisa.
Bahwa sebagian besar perempuan memiliki dimensi perilaku yang cenderung memikirkan kesejahteraan bawahan dan lebih menekankan interaksi dan memfasilitasi bawahan, sedangkan kaum pria lebih cenderung memiliki dimensi yang mana didalam dimensi perilaku ini bersifat tegas, berorientasi pada tujuan dan cenderung bersifat menguasai.    Berdasarkan karakteristik yang dapat digolongkan menjadi maskulin dan feminim, maka variable gaya kepemimpinan yang relevan untuk digunakan adalah gaya kepemimpinan otokratis untuk pria dan gaya kepemimpinan demokratis untuk perempuan, tutur Gibson.
Foto Retno Lestari Priansari Marsudi
          Dari dimensi definisi tersebut, setidaknya ada tujuh sifat menonjol yang dimiliki perempun mencirikan karakter feminim yaitu;  lembut, berempati, multitasking, responsif, partisipatif, komunikasi interpersonal dan domokratis. Dimana sifat-sifat tersebut disebut Gery Yulk sebagai karakter kepemimpinan yang  diperlukan untuk kepemimpinan efektif dalam organisasi modern sekarang ini. Namun bukan berarti pada pria tidak ditemukan karakter feminim tersebut, tapi dibanding kaum pria, maka kaum perempuan yang cenderung lebih sering menunjukkan sifat-sifat tersebut. 
Lembut, maksudnya bersifat lemah atau halus dan bersikap lunak serta mengedepankan perasaan. Empati, artinya bersifat haru atau bersimpatik dan bersikap belas kasihan serta bisa merasakan atau menempatkan dirinya secara emosional, perasaan dan pemikiran tentang apa yang terjadi pada orang lain. Multitasking, merupakan suatu sifat yang mampu melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu bersamaan. Partisipatif, adalah sifat keikutsertaan dan bersikap senangnya terlibat atau ikut serta dalam kegiatan tersebut. Responsif, dimaksudkan sifat peduli dan bersikap memberikan tanggapan dan perhatian penuh terhadap masalah tersebut. Komunikasi interpersonal,  yaitu sifat mendekatkan diri dan bersikap melakukan komunikasi dari hati ke hati. Demokratis, biasanya ditunjukkan dengan sifat berpihak kebawah dalam artian memperhatikan hak-hak bawahan/anggota dan bersikap memberikan dorongan untuk kemajuan bersama.
Foto Sri Mulyani
          Pendukung teori keunggulan feminim, ungkap Gary Yukl dalam bukunya “Kepemimpinan Dalam Organisasi”, menegaskan bahwa perempuan lebih peduli dengan pembangunan konsesus, keikutsertaan, dan hubungan antar pribadi. Perempuanpun lebih bersedia mengembangkan dan memelihara bawahan serta berbagi kekuasaan dengan mereka. Perempuan dipercaya memilki lebih banyak empati, lebih mengandalkan pada intuisi, dan peka terhadap perasaan serta kualitas hubungan.
Foto Indira Ghandi  (India)
          Hasil studi Jirasinghe dan Lyons, mendeskripsikan tentang kepribadian pemimpin perempuan sebagai sosok  yang lebih supel, demokratis, perhatian, artistik, bersikap baik, cermat dan teliti, berperasaan dan berhati-hati. Selain itu, mereka cenderung menjadi sosok pekerja tim, lengkap dan sempurna. Mereka juga mengidentifikasi diri dan mempersepsi dirinya sebagai sosok yang lebih rasional, relaks, keras hati, aktif dan kompetitif.
Dalam bukunya “Leadership Quotient :    Perempuan Pemimpin Indonesia”, Martha Tilaar menuturkan hasil pengalaman pengamatannya selama 30 tahun tentang kepemimpinan perempuan Indonesia. Bahwa perempuan Indonesia juga memiliki spirit, kemampuan dan kualitas yang tidak kalah dibandingkan dengan para perempuan manca negara. 
Martha Tilaar lalu mengkatagorikan karakter perempuan pemimpin Indonesia beberapa kelompok, setelah mengidentifikasi  garis besar sifat dan ciri dari masing-masing pemimpin yang diamati. Pengelompokan karakter perempuan pemimpin Indonesia, dibuat indah karena disebut dengan  nama bunga yang tumbuh dan dikenal baik di Indonesia, yaitu; Tipe mawar (rosace) yaitu  pemimpin yang memilki rasa percaya diri yang besar dan juga tampil sebagai sosok yang mampu menyemarakkan suasana sekitarnya, sangat komunikatif dan populer. Tipe anggrek, yaitu pemimpin yang ulet, intensif, tekun, liat dan giat dalam menghadapi berbagai tantangan serta sangat menghargai team work. Tipe melati, yaitu pemimpin yang sederhana, tidak menonjolkan diri, sangat jujur dan bijaksana. Tipe teratai, yaitu pemimpin yang jujur dan independen. Tipe cempaka, yaitu pemimpin yang penuh tanggung jawab, mengayomi dan memberi suri teladan
         Presiden Jokowi dalam salah satu pidatonya, sempat memuji ketangguhan para petugas perempuan yang dimiliki oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi Republik Indonesia (Polri), khususnya yang terlibat dalam satuan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres); “Dalam berbagai kesempatan, saya melihat sendiri bahwa korps wanita TNI dan Polwan benar-benar terampil di lapangan, benar-benar bisa membuat situasi yang sulit dapat menjadi tenang dan terkendali”.
          “Itulah kelebihan perempuan, lembut tapi tegas, itulah yang dibutuhkan bangsa ini”, ujar Jokowi.(AdeEm) Tabe, foto atau gambar dipinjam dari google.
Foto Margaret Thatcher.(Inggris)
            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka