Refleksi : CITA RASA KULINER KHAS SIDRAP (Palekko Itik & Belibis)



 

Alumni SMA 157 Rappang lagi asyik menikmati Nasu Palekko
     
   Cuwiwi atau Burung Belibis dikenal sebagai makanan khas Kabupaten Sidrap yang dikangeni banyak orang. Rasa dagingnya yang renyah, enak dan lezat membuat orang yang pernah mencobanya, selalu merindukan untuk bisa memakannya lagi. Penomena kepengin makan lagi ini, menggoda pemilik warung membandrol harga persatuporsinya menduduki peringkat teratas dari semua daftar menu yang tersedia diwarung tersebut. Disamping disebabkan stocknya selalu terbatas pada setiap harinya, terlebih lagi cara mendapatkannya hanya dengan cara majjango atau jaring jala pikat.

Anggota Sanggar Senam YOSS selfian usai makan Nasu Palekko

         Sebagai menu andalan daerah berjuluk Lumbung Beras ini, keberadaan Cuwiwi termasuk aneh dan unik. Anehnya karena Burung Belibis ini tidak diternakkan di Sidrap, dalam artian tidak termasuk jenis  burung atau unggas peliharaan masyarakat setempat. Dan uniknya karena Belibis termasuk jenis unggas liar berasal dari luar Sidrap, tapi menjadikan Sidrap sebagai tempat utama mendapatkan makanan. Itulah sebabnya penangkapan belibis dengan cara majjango kebanyakan dilakukan di Sidrap, yang dilakoni biasanya pada malam hari.
         Unreng merupakan jenis unggas yang bentuknya menyerupai itik, hanya saja bisa terbang seperti Cuwiwi. Rasa daging Unreng empuk dan enak, namun kurang populer dikalangan orang luar daerah, dikarenakan jarang warung makan menyajikannya. Dan sama halnya dengan Cuwiwi yang menjadikan Sidrap tempat persinggahan, Unreng juga termasuk jenis unggas liar dan tidak diternakkan oleh masyarakat Sidrap, namun bisa diketemukan di saat-saat tertentu paska musim panen. Sama dengan Cuwiwi, cara menangkap Unreng juga dilakoni dengan menggunakan jaring jala pikat atau orang Sidrap menyebutnya majjango.
         Itik merupakan jenis unggas yang dipelihara oleh banyak anggota masyarakat Sidrap walaupun dengan jumlah ekor yang masih terbatas bila dibandingkan dengan ayam terutama ayam petelur dan ayam potong, sehingga secara keseluruhan populasinya dibawah populasi ayam peliharaan tersebut.
         Kegandrungan orang makan itik, khususnya sajian Palekko Itik, nampak semakin meningkat akhir-akhir ini, baik dari kalangan anggota masyarakat Sidrap sendiri begitupula dari daerah tetangga, bahkan dari kota besar. Oleh karena itu semakin menjamur pula warung itik yang mengandalkan menu Palekko Itik. Bahkan warung Palekko Itik sudah banyak diketemukan di Kota Makassar.

                                                       Hidangan PALEKKO ITIK

         Lain Cuwiwi lain Unreng dan lain Unreng lain itik. Slogan ini merupakan candaan promosi ketiga menu andalan Sidrap tersebut bagi penggemarnya masing-masing dengan tetap memberikan porsi penilaian yang sama enaknya. Dan ketiganya mempunyai penggemar yang sama panatiknya, karena mereka menganggap unggas kegemarannya yang paling enak dan paling banyak diminati dengan indikator jumlah warung yang tersebar di mana-mana.
          Cerita adu promosi penggemar menu Itik dan Unreng diatas tidak hanya sebatas candaan, tapi sering menjadi tema sengketa anggota kelompok pertemanan ketika bermaksud makan  di warung dan harus menyepakati hanya satu jenis masakan dari kedua unggas tersebut. 

                                                    Foto Cuwiwi atau Burung Belibis

         Cerita kelompok pertemanan beradu argumen untuk memilih Itik atau Unreng diatas, seakan merefleksikan mitos persahabatan Itik dan Unreng sampai bisa ada di Sidrap. Tapi cerita ini sekedar ilustrasi saja. Konon dahulu kala persahabatan Itik dan Unreng itu sangat akrab bahkan mirip saudara kembar. Keduanya terbang dari suatu daerah nun jauh disana dan bersepakat singgah di Sidrap bermalam sambil beristirahat melepas lelah setelah menempuh perjalanan jauh, sekaligus hendak makan dan berenang-renang di persawahan yang begitu luasnya. 
         Pada saat tengah malam, berbaringlah kedua sahabat itu di pematangan sawah sambil menikmati indahnya purnama yang sinarnya menerpa keduanya. Sebelum tertidur bertanyalah si Unreng kepada si Itik dalam bahasa bugis yang cukup kental; "Iyako napueloi Puangnge kobajai, jajikikka luttu rewe ri kampotta silessureng, iyarega melomopi monro mabbenni-benni perasai nyamenna anrewe okko ri kampongngewe". Ditanya seperti itu si Itik bangkit dari pembaringannya lalu mengepak-ngepakkan sayapnya seraya menjawab dengan arogannya; "Tetteni  to rewena kobajai silessureng, nauragaki matu pakkampongnge, jaji napueloi Puangnge tenna pueloi Puangnge tolluttu baja ri ele-kele'e sibawa silessuretta Cuwiwie narekko engkani lalo mangolli. (Artinya; "Sekiranya Tuhan menghendaki, apakah  jadi kita terbang untuk kembali pulang ke kampung halaman besok pagi, saudaraku". Dijawab si Itik dengan sombongnya; "Pasti jadi kita terbang pulang saudaraku, orang kampung nanti menangkap kita, olehnya itu Tuhan menghendakinya atau Tuhan tidak menghendakinya tetap kita pulang saudaraku, disaat pagi tiba bersama teman kita si Cuwiwi saat lewat dan memanggil kita)". Lalu kedua sahabat itupun tertidur pulas dalam belaian semilir angin malam.
         Alhasil bedug subuh sudah diperdengarkan diiringi kokok ayam bersahutan menyambut datangnya waktu pagi yang berhias cahaya mentari yang membias di ufuk timur, membangunkan dua sahabat tersebut dari buaian tidurnya dengan mimpi yang indah. Lalu keduanya bergegas untuk segera terbang meninggalkan Sidrap.
         Tak lama kemudian dari jauh sayup-sayup terdengar lengkingan suara si Cuwiwi memberi isyarat bila waktunya berangkat. Dan begitu si Cuwiwi tepat berada diatasnya, maka kedua sahabat itu mengepakkan sayapnya untuk terbang bersama si Cuwiwi. Namun malang bagi si Itik tiba-tiba merasakan kekakuan pada sayapnya sehingga tak mampu terbang tinggi menyusul si Unreng dan si Cuwiwi yang sudah jauh meninggalkan kampung Sidrap. Meranalah si Itik sendirian hanya mampu mengepak-ngepakkan sayapnya tanpa bisa terbang, sampai akhirnya ia ditemukan seorang petani dan dijadikannya sebagai unggas peliharaan secara turun temurun. 
        Seiring berjalannya waktu, musimpum berganti musim, datanglah kembali si Unreng dan si Cuwiwi ke Sidrap guna mendapatkan makan sekaligus mencari tahu keberadaan si Itik. Betapa haru hati ketiganya ketika bertemu. Namun takdir telah memisahkan mereka. Sebelum berpisah si Itik berpesan kepada saudaranya agar tidak pernah bersifat angkuh dan senantiasa menyandarkan semua harapan pada Tuhan yang maha berkendak. Selanjutnya mengajak kedua sahabatnya supaya sering-sering datang ke Sidrap menemuinya, untuk tetap menjalin persahabatan, sambil menikmati enaknya makanan di kampung lumbung pangan tersebut.
         Demikian ceritanya dan sudah tentu memang hanya cerita, sebagai imajinasi pengarangnya. Namun kenyataannya ketiga unggas ini, telah menjadi pesona kuliner andalan Kabupaten Sidrap, khusunya gorengan daging atau Wette Cuwiwi dan Unreng serta Nasu Palekko Itik yang begitu digemari banyak orang sampai di luar Sulawesi.
         Sebagai daerah penghasil beras dan penyaggah stock pangan nasional, dengan hamparan persawahan bagaikan permadani hijau, Kabupaten Sidenreng Rappang atau lebih populer disebut Sidrap begitu banyak memiki potensi alam dan pesona budaya masyarakat yang beragam. Penomena ayam ketawa dan cita rasa sajian khas nasu Palekko itik begitu juga Cuwiwi dan Unreng, hanyalah salah satu tampiian keunggulan daerah dari sekian banyak yang belum terkelola secara profesional.
         Semoga kedepannya Sidrap lebih berbenah untuk mampu mengekspos potensi daerah secara maksimal dan tidak menjebak diri pada zona nyaman sebagai lumbung pangan saja. Wallahu A'lam Bishawab. (Andi Damis) 

Menikmati Nasi Palekko di Pinggir Sawah 

Kekawanan Itik peliharaan di persawahan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka