LEGENDA BUMI NENE' MALLOMO (Sejarah Terbentuknya Kabupaten Sidrap - Provinsi Sulawesi Selatan)
Oleh : Andi Damis
Bumi Nene’ Mallomo merupakan julukan historis yang biasa ditujukan untuk menyebut Kabupaten Sidenreng Rappang.
Daerah yang terletak sekitar 180 kilo meter sebelah utara Kota Makassar Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan ini, mempunyai luas wilayah administrasi 1.883,25 km2 yang terbagi pada 11 Kecamatan dan 106 Desa/Kelurahan dengan proyeksi penduduk Tahun 2018 sebanyak 300 juta jiwa, terdiri dari 155.000 perempuan dan 145.00 laki-laki.
Kabupaten Sidenreng Rappang yang dulunya merupakan dua “kerajan kembar” yakni Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang, terletak pada posisi 30043” - 40009” Lintang Selatan dan 1190041” -1200010” Bujur Timur, serta berada pada ketinggian antara 10 meter – 3.000 meter dari permukaan laut (mdpl) dengan puncak tertinggi pada gunung Botto Tallu (3.086 mdpl).
Daerah yang berpenduduk suku bugis ini berbatasan dengan Kabupaten Enrekang dan Pinrang pada sebelah Utara. Pada sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu dan Wajo. Sedangkan di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Soppeng dan Barru, serta di sebelah Barat berbatasan dengan Kota Parepare dan Kabupaten Pinrang.
Adapun kondisi topografi wilayah daerah yang lebih populer dengan sebutan singkat Kabupaten Sidrap ini, bervariasi diantara hamparan dataran seluas 879.85 km2 (46.72%) pada bagian Selatan dan Barat, perbukitan seluas 290.17 km2 (15.43%) dan pegunungan seluas 879.85 km2 (37.85%) pada bagian Utara dan Timur.
Pada hamparan daratan bagian Selatan kelihatan indah oleh karena panorama alamnya diapit dua danau yaitu Danau Tempe dan Danau Sidenreng, dimana kedua danau ini menjadi simbol episentrum atau titik pusat dari legenda kelahiran Kabupaten Sidenreng Rappang.
Mata pencaharian penduduk daerah yang dikenal sebagai lumbung pangan ini, mayoritas melakoni sektor pertanian yang didukung luas persawahan sekitar 46.991 ha dengan pola tanam lima kali dalam dua tahun. Intensifikasi pertanian senantiasa digalakkan pada setiap periode pemerintahan dengan mengadopsi sistim pengelolaan berbasis teknologi modern, guna meningkatkan produksi pertanian secara berlipat dalam rangka tetap menyangga kebutuhan pangan nasional.
Memiliki etos kerja yang tinggi, sebagai warisan dari leluhurnya, menjadikan orang Sidrap dikenal sebagai pekerja keras, dan berpantang menyerah dalam menghadapi setiap permasalahan, karena keyakinan atas kasih sayang Tuhan. Maka dapat dimaklumi bila semboyan daerah penghasil beras dan telur ini, mengabadikan prinsip hidup Nene’ Mallomo, yaitu; “Resopa Temmangingngi Malomo Naletei Pammase Dewata” (Artinya; Hanya dengan bekerja keras yang tak mengenal lelah akan mudah memperoleh rahmat berkah keberhasilan dari Yang Maha Kuasa).
Ciri-ciri orang Sidrap, menurut Menteri Pertanian RI dan mantan Gubernur Sulsel Dua Periode (2008-2018) Syahrul Yasin Limpo, adalah ketaatannya pada agama, menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral dalam pergaulan, mewarisi kecerdasan dan kepemimpinan dari leluhurnya, serta memiliki etos kerja yang kuat.
Historiografi Sidrap
Dari penelusuran cerita leluhur dalam lontara’ (sebagai salah satu khasanah kebudayaan daerah yang memperkaya kebudayaan nasional), dituturkan bahwa pada zaman dahulu di Sangalla tersebutlah jika seorang raja keturunan dari Pajung di Ware (Luwu) dengan Arung Toraja mempunyai 9 orang putra, yang sulung bernama Lamaddaremmeng, disusul putra berikutnya; Lawewangriu, Latongeng Lipu, Lapasompai, Lapakolongi, Lapababbari, Lapanaungi, Lamappasessu, serta putra bungsu Lamappatunru.
Sebelum mangkatnya, yang mulia raja telah menunjuk Lamaddaremmeng sebagai Putra Mahkota untuk menggantikannya kelak, sedangkan kepada kedelapan putranya yang lain masing-masing diberi wilayah kekuasaan otonom (kerajaan kecil/dalam bentuk distrik), dimana mereka didalamnya ditunjuk menjadi raja atau kepala pemerintahan.
Disaat tiba waktu penobatan Lamaddaremmeng menjadi raja, menggantikan ayahandanya yang telah mangkat, tak disangka bila ternyata akan menjadi mimpi buruk bagi kedelapan saudaranya. Sifatnya yang pemberani dan keras kepala, serta sepak-terjang kepemimpinannya yang otokratis, membuat Lamaddaremmeng berambisi menguasai keseluruhan wilayah kerajaan yang ada disekitarnya, termasuk merebut wilayah kerajaan kecil kedelapan saudaranya.
Genderang perangpun ditalu Lamaddaremmeng tanpa mendapat perlawanan berarti, dan berhasil menaklukkan semua kerajaan disekitarnya.
Tidak kuasa menerima perlakuan saudara sulungnya yang telah merampas wilayah kerajaannya, maka kedelapan saudara Lamaddaremmeng bersepakat untuk pergi meninggalkan Sangalla (Tanah Toraja) guna mencari tempat kediaman yang baru. Maka setelah semua perbekalan disiapkan, berangkatlah kedelapan adik Lamaddaremmeng bersama para pengikutnya ke arah selatan menelusuri waktu dan hari-hari dengan mendaki pegunungan, menuruni lembah, menembus hutan belantara, tanpa hirau pada gelap dan dinginnya malam, panas terik matahari serta tanpa tujuan perjalanan yang pasti.
Berselang beberapa hari mengembara membawa kesedihan, tiba-tiba dari atas bukit melandai mereka melihat dibagian selatan ada terbentang dataran luas yang diapit dua buah danau. Maka merekapun terpukau dan memutuskan untuk meneruskan perjalanan ketempat tersebut, sekaligus untuk melepas dahaga karena kelelahan setelah berjalan begitu jauh, apalagi bekal air minum juga sudah habis. Lalu merekapun menuruni bukit dengan lunglai sambil beriring-bergadengan-tangan (sidenreng/bahasa bugis, pen) mendekati danau itu.
Betapa gembira penuh suka cita, ketika mereka tiba di pinggir danau yang tadi dilihatnya dari jauh diatas bukit. Merekapun melepas lelah dengan meminum air danau itu sepuas-puasnya. Tak disangkanya jika ternyata banyak pula ikan di danau itu, maka merekapun menangkap ikan dengan peralatan yang memang sengaja dibawah dari Sangalla. Selain itu merekapun juga mandi, lalu beristirahat di pinggir danau sambil menikmati ikan bakar hasil tangkapan mereka.
Sungguh bahagia mereka dapat menemukan tempat yang dapat menghilangkan rasa haus dan lapar mereka setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh dan sangat melelahkan tersebut. Suasana hati mereka juga terpesona dengan hamparan daratan yang begitu luas dan subur di sekitar danau.
Oleh karena itu setelah bermusyawarah kedelapan bersaudara, akhirnya mereka bermufakat mengakhiri pengembaraannya dan memutuskan untuk menetap di tempat itu untuk membuka perkampungan. Sebagai kampung halaman mereka yang baru.
Keputusan itu diperkuat dengan meyakini bila perjalanan yang telah ditempuhnya sudah sangat jauh dari kampung kelahirannya Sangalla, apalagi mereka merasa amat tertarik dan sangat menikmmati tempat yang ditemukannya berupa hamparan luas serta memiliki sumber air berupa danau yang berisi ikan begitu banyak. Mereka juga memperhatikan tanam-tanaman pada hamparan tanah sekitar danau itu sangat subur, dan nampaknya belum pernah dijamah oleh manusia.
Tempat itulah kemudian mereka beri nama Sidenreng, guna mengabadikan episode akhir pengembaraan mereka yang amat melelahkan dan mengharukan, sehingga untuk dapat mencapai danau itu --guna melepaskan dahaga-- mereka saling bergandengan tangan beriringan (Sidenreng).
Selanjutnya dalam lontara’ disebutkan, bahwa hanya dalam waktu bebrapa tahun mendiami tempat itu, mereka telah merubah keadaannya menjadi sebuah perkampungan, dengan tata ruang yang tentu saja masih sederhana. Disebutkan bila tanam-tanaman bertumbuh subur, hewan piaraan berkembang biak, begitupula sistem kemasyarakatan ditata menurut adat yang dibawanya dari Sangalla dengan memposisikan kakak tertua mereka sebagai pemimpin masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, berita kemakmuran kampung baru Sidenreng ini, sampai juga kepada Lamaddaremmeng di Sangalla, kebetulan pada saat itu prilaku dan sifatnya sudah jauh berubah menjadi baik, bahkan sudah menyadari kejahatan yang telah diperbuat kepada kedelapan adiknya. Akibatnya Lamaddaremmeng selalu dilanda kegelisahan, kerinduan dan rasa penyesalan yang menyayat hatinya, mengingat perbuatannya yang begitu kejam merampas hak-milik para adik-adiknya, sehingga membuat mereka terpaksa meninggalkan kampung halamannya. Ia bahkan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri atas kesalahan yang telah diperbuat kepada saudara-saudaranya.
Begitu besar rasa penyesalan yang melanda hati Lamaddaremmeng, ditambah kerinduan yang menggerogoti jiwanya, sehingga memutuskan akan meninggalkan Sangalla untuk pergi menemui saudara-saudaranya, guna memohon maaf atas tindakannya yang tidak patut itu. Akhirnya setelah mempersiapkan bekal secukupnya, iapun berangkat bersama beberapa pengawalnya menuju Sidenreng.
Sangat kaget penuh haru kedelapan saudaranya, ketika tiba-tiba tanpa diduga sebelumnya rombongan Lamaddaremmeng muncul di kampung Sidenreng, terlebih-lebih Lamaddaremmeng yang tak kuasa lagi menahan tangis penyesalannya ketika memeluk adik-adiknya. Lamadaremmeng lalu menyampaikan permohonan maaf dan penyesalannya, dan mengutarakan maksudnya untuk mengajak kedelapan adiknya kembali ke Sangalla guna mendapatkan hak-milik yang tempo hari dirampasnya.
Akan tetapi ajakan Lamaddaremmeng tidak lagi menarik hati saudara-saudaranya. Mereka sudah merelakan kesemua harta-bendanya di Sangalla dimiliki Lamaddaremmeng. Mereka sudah bertekad memulai hidup baru di kampung yang baru mereka temukan. Apalagi perkebunan dan pertanian mereka sudah berhasil, begitupula ternak-ternak mereka sudah berkembang biak, serta ikan di danau begitu banyak, yang semakin membuat kehidupan masyarakatnya dapat hidup berkecukupan dalam kesejahteraan dan kedamaian.
Mendengar jawaban saudaranya yang menolak ajakannya kembali ke Sangalla membuat hati Lamaddaremmeng sangat sedih. Iapun memohon kepada saudaranya untuk diperkenalkan juga menetap di Sidenreng agar bisa tinggal sehidup-semati dengan adik-adiknya di kampung halaman yang baru itu. Karena ia juga sudah bertekad tidak mau berpisah lagi dengan saudaranya.
Melihat perubahan sifat Lamaddaremmeng yang sudah menjadi baik dan sikapnya yang sangat bijaksana, sungguh membuat hati mereka menjadi luluh, terharu dan senang sekali, sehingga mereka sangat bergembira jikalau Lamaddaremmeng bisa menetap di Sidenreng dan bersepakat mengangkatnya menjadi pemimpin masyarakat yang baru mereka bentuk.
Pada mulanya Lamaddaremmeng menolak tawaran itu, karena memang maksud kedatangannya hanya untuk meminta maaf kepada saudaranya dan mengajaknya kembali ke Sangalla, serta ingin menebus kesalahan besar yang telah diperbuatnya, sehingga bersedia bekerja apa saja untuk mambantu mereka. Namun setelah dibujuk dengan penuh harapan, akhirnya Lamaddaremmeng mengabulkan permohonan adik-adiknya dengan suatu persyaratan bahwa segala keputusan yang akan dijalankannya harus bersumber dari kemufakatan kedelapan saudaranya.
Episode kepemimpinan Lamaddaremmeng inilah menjadi starting point pembentukan Kabupaten Sidrap, sebagaimana disebutkan dalam lontara’ sebagai fase perkembangan wilayah yang cukup fundamental, karena upaya-upaya yang dilakukannya, seperti; perluasan wilayah mengikuti pertambahan jumlah penduduk, pembuatan hukum adat untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, dan perumusan kebijakan untuk menjadi acuan dan program pembangunan, menuju terwujudnya negeri Sidenreng dalam bentuk kerajaan.
Dalam buku “Sejarah Kabupaten Daerah Tk.II Sidenreng Rappang”, yang disusun Mukhlis Paeni dkk, disebutkan bahwa setelah meninggalnya Lamaddaremmeng beserta kedelapan saudaranya, maka anak sulung Lamaddaremmeng yang bernama Bolopatinna dengan suaminya (Datu Pantilang) berangkat menuju Sidenreng. Dalam perjalanannya itu, mereka singgah disebuah tempat sebelah utara Sidenreng, yaitu Rappang. Oleh orang Rappang Bolopatinna diangkat menjadi Arung Rappang.
Hanya saja dari penelusuran referensi kesejarahan keberadaan Rappang belum ditemukan keterangan terkait penemuan tempat ini secara otentik. Cuma diceritakan bila kata Rappang bersumber dari kata Rappeng atau dalam kosa kata bahasa Bugis disebut juga Rappe dan diartikan sebagai kayu yang hanyut tersangkut. Konon pada zaman dahulu bentuk daerah aliran sungai Rappang itu sangat besar, sedangkan pada bagian hulunya terdapat banyak tumbuh pepohonan menjadi hutan belukar yang lebat dan luas, sehingga bila terjadi musim penghujan sebagian dahan dan ranting pohon-pohon tersebut terbawah arus sungai, lalu tersangkut disuatu tempat yang lama-kelamaan menumpuk dan berperoses secara alami atau berserimentasi membentuk suatu daratan.
Hamparan daratan itulah yang kemudian dihuni manusia menjadi perkampungan lalu disebut Rappang. Oleh karena memang topografi Kota Rappang saat ini berupa hamparan daratan dikelilingi sungai yang memanjang pada bagian timur, bagian selatan dan bagian barat berbentuk bulan sabit.
Selanjutnya dalam lontara’ disebutkan jikalau sejak berdirinya, Kerajaan Rappang sudah berotonomi, sebagaimana ungkapan “Napoade’-ade’na, tenri cellengi bicaranna”, yang berarti adatnya yang berlaku dan tidak diintervensi keputusannya.
Anregurutta K.H.Abdul Muin Yusuf atau biasa disebut Kali Sidenreng menggambarkan sifat orang Rappang dalam pemaknaan otonomi itu dengan ungkapan yang dikutifnya dari lontara’; “mallekku tenripakkedde, joppa tenripatutu”, yang berarti tidak dapat dipaksakan melaksanakan sesuatu bila bukan aturan yang pernah dibuatnya sendiri yang menghendaki.
Bolopatinna mempunyai tiga orang anak, yang sulung seorang perempuan bernama We’Tepu Uleng yang mana kemudian dikirim ke Sidenreng sebagai putra mahkota untuk menggantikan neneknya yaitu Lamaddaremmeng. Sedangkan anak lelakinya yang bernama Lamallibureng tetap tinggal di Rappang menggantikan ibunya. Tetapi oleh karena Sidenreng pada mulanya menganut sistim keputramahkotaan laki-laki, maka keduanya dipertukarkan, sehingga Lamallibureng dinobatkan menjadi Raja di Kerajaan Sidenreng, bergelar Addaowang Sidenreng (sekaligus secara resmi sebagai raja pertama di Kerajaan Sidenreng), dan We’Tepu Uleng dinobatkan menjadi Ratu di Kerajaan Rappang, bergelar Arung Rappeng (sekaligus secara resmi sebagai raja pertama di Kerajaan Rappang).
Daripada kejadian pertukaran posisi We’Tepu Uleng dan Lammalibureng, ini pulalah kemudian menampakkan dimensi perbedaan sistem pemerintahan yang dianut kedua kerajaan kembar ini, khususnya dalam hal memilih pemimpin. Dimana Kerajaan Sidenreng menganut sistim yang disebut “massorong pawo”, diartikan sebagai sistim pemerintahan yang berdasarkan jalur keputramahkotaan (monarkis), sedangkan Kerajaan Rappang menganut sistim yang disebut “mangella pasang”, diartikan sebagai sistim pemerintahan yang berdasarkan aspirasi masyarakat dalam konteks pemerintahan demokratis.
Menanggapi perbedaan tersebut, Anregurutta K.H.Abdul Muin Yusuf menyebutkan dalam bahasa Bugis; “Mappada pada memeng mua ade’e ri Sidenreng sibawa ri Rappeng, tapi denapada pangolo tanana” (Artinya; Memang sama saja budaya atau adat istiadat di Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang, akan tetapi berbeda sistim pemerintahannya).
Tetapi walaupun sistim pemerintahan Kerajaan Sidenreng berbentuk monarkis, bukan berarti memberlakukan kediktatoran, karena ada dewan adat menjadi lembaga kontrol penyelenggaraan pemerintahan. Hal itu disebutkan dalam lontara’ sebagaimana rumusan “Assijancianna Arungge Nenniya Pabbanuwa’e ri Sidenreng, iyanaritu;
Adanna Arungnge; E…sininna pabbanuawa’e issengngi, sininna attarong pura ripattantu’e temmakke’ana’i-temmake’amma’i, mappenigi-nigi temmappeniga-niga, adakku nenniya eloku tongeng, iyapa nade natongeng narekko denapoinesai ade’e.
Adanna Ade’e; Malilu sipakainge, rebba sipatokkong, malisiparappe, tosiakkolik kolingeng, mauni massorong paowo nakkasolang ripabbanuawa’e mappagilingngi ade’e.
Adanna Pabbanuwa’e; Tenricacca mupoji’e tenripoji mucacca’e, angikko kiraukaju, solokko nakibatang, lompo-lompo mutettongi lompo-lompo kilewo, bulu-bulu mutettongi bulu-bulu kilewo, makkadako mutenribali, metteko mutenrisumpala.
Secara sederhana bunyi kesepakatan berdasarkan asas pacta sun servada (janji itu mengikat) antara raja dan rakyatnya tersebut diatas, dapat digambarkan bila pihak raja dapat berbuat atau melakukan apa saja, sejauh segala tindakannya tersebut tidak mengakibatkan kerusakan atau kerugian terhadap rakyatnya. Karena telah berlaku aturan adat, bahwa walaupun pemerintahan kerajaan menganut sistem keputramahkotaan tapi disebabkan perbuatan telah merusak nilai-nilai kemasyarakatan, harus diturunkan dari tahtahnya atas nama adat atau demi hukum yang berlaku.
Selanjutnya, demi untuk mengutuhkan keeratan hubungan kedua negeri yang sudah memiki legalitas formal pemerintahan dalam bentuk kerajaan itu, maka kedua raja yang baru saja dinobatkan tersebut berikrar untuk hidup berdampingan secara damai dan sehidup-semati serta saling membantu dan mendukung dalam suka dan duka. Adapun ikrar yang sangat monumental dan melagenda itu berbunyi; “Mate ele’i Sidenreng, mate arawengngi Rappeng” (Artinya; kalau Sidenreng mati pada pagi hari, maka Rappang juga mati pada sore).
Jalinan persaudaraan dua kerajaan berdaulat inipun terpelihara dari periode ke periode berikutnya, bahkan semakin dikuatkan dan terproyeksi sebagaimana layaknya “kerajaan kembar”. Sehingga dalam lontara’ dengan elok diilustrasikan jalinan kekerabatan masyarakat dan pemerintahan Sidenreng dan Rappang yang erat itu: “bahwa tidak ada batas yang nyata antara Sidenreng dan Rappang. Hanya dapat diketahui pada musim panen. Yang mengangkut padinya ke utara itulah rakyat atau orang Rappang, dan yang mengangkut padinya ke selatan itulah rakyat atau orang Sidenreng.
Demikian pula ikrar kesepakatan sehidup-semati, dalam lontara’ ditegaskan bila kemudian terimplementasi pada komitmen persaudaraan, yang sangat heroik yaitu; “Apabila Rappang menghadapi bahaya pada pagi hari, maka selambat-lambatnya Sidenreng memberikan bantuan pada sore hari. Dan apabila Rappang menghadapi bahaya di sore hari, maka selambat-lambatnya Sidenreng memberikan bantuan pada esok paginya. Begitupula sebaliknya”.
Adapun urutan-turunan (silsilah) raja-raja Sidenreng, yang mana awalnya bergelar Addaowang Sidenreng lalu kemudian berganti dengan Addatuang Sidenreng atau lasimnya disapah Addituatta dapat disebutkan sebagai berikut:
1. La Mallibureng, Addaowang I anak dari Bolopatinna dengan suaminya Datu Pantilang.
2. La Pawawoi, Addaowang II anak dari La Mallibureng.
3. La Makkaraka, Addaowang III anak dari La Pawawoi, kawin dengan Pajungnge’ Luwu, lahirlah I Tepulinge.
4. I Tepulinge, Addaowang IV kawin dengan Cellamatae’ La Bangenge manurungnge ri Bacukiki lahirlah I Pawawoi.
5. I Pawawoi, Addaowang V merangkap Arung Rappang II, kawin dengan Songko Pulawengnge anak dari menurungnge’ ri Bulu Lowa lahirlah La Batara.
6. Songko Pulawengnge, Addaowang VI menggantikan isterinya I Pawawoi.
7. La Batara, Addaowang VII kawin dengan I Cinadio arung Bulu Cenrana lahirlah La Pasompai.
8. La Pasompai, Addaowang VII kawin dengan I Tappatana lahirlah La Pateddungi. I Tappatana kawin lagi dengan La Pute Bulu Datu Suppa III lahirlah La Makkarawi Datu Suppa IV merangkap Arung Rappang III.
9. La Pateddungi, Addaowang VIII kawin dengan I Gempung Masaolie’ lahirlah La Patiroi.
10 La Patiroi, Addaowang IX kawin dengan Tosapa’e isteri “hadiah” dari Raja Gowa Tuminang ri Pallangga lahirlah I Abeng Pattepuangnge’, kemudiaan kawin dengan saudara kandung Raja Gowa lahirlah La Makkaraka. Sesudah itu kawin lagi dengan I Dangkau anak dari La Pakolongi arung Rappang ke VIII lahirlah La Tone Datu Walie.
Pada masa pemerintahan La Patiroi inilah dalam Tahun 1018 H./1608M Agama Islam memasuki Kerajaan Sidenreng yang dibawah oleh Raja Gowa Sultan Alauddin, yang didahului dengan peperangan. Dan La Patiroi menjadi Raja Sidenreng pertama memeluk Agama Islam.
Pada masa pemerintahan La Patiroi ini pula munculnya Nene’ Mallomo dan diangkat selaku “Pabbicara” atau Penasehat Kerajaan Sidenreng, yang hingga sekarang ini melagenda dengan julukan “To Accana Sidenreng”.
Dikarenakan kepintaran Nene’ Mallomo mengelola pemerintahan, sehingga sebagian pemerhati sejarah menyebutkan jikalau Kerajaan Sidenreng mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan La Patiroi.
11. I Abeng, Addaowang X menggantikan ayahnya dengan gelar Tellulatte I di Sidenreng dan berkedudukan di Bulu Bangi. Tidak lama kemudian beliau menyerahkan jabatannya kepada saudaranya yang bernama La Makkaraka.
12. La Makkaraka, Addatuang I pada Tahun 1634 M/1044H. Beliau meninggal pada Tahun 1671 M/1081 M. Beliau kawin dengan cucu Raja Gowa Tuminang ri Pallangga, melahirkan seorang putra bernama La So’ni Karaeng Massepe.
13. La So’ni Karaeng Massepe, Addatuang II dilantik pada Tahun 1671 M/1981 H.
Addatuang amat pemberani ini, berhubungan akrab dengan Raja Bone La Tenritatta Towappatunru atau yang digelar Petta Torisompa’e, dan biasa juga disebut Petta Malampe’e Gemme’na, serta umum mengenalnya Arung Palakka (dilantik pada Tahun 1672 dan meninggal pada Tahun 1696 M di Tallo serta dimakamkan di Bontobiraeng).
14. La Todani, Addatuang III juga bergelar Arung Ajattappareng I, meninggal di Salemo pada Tanggal 11 Pebruari 1681 M. Todani adalah adik sepupu sekali La So’ni Karaeng Massepe, merupakan cucu La Patiroi dari isterinya yang bernama I Dangkau anak dari La Pakolongi Arung Rappang VIII.
15. La Tenritippe Towalenna’e, Addatuang IV matinroe ri Pamattingan, anak dari I Pappanyinri dengan suaminya Taranatie Datue Pammana, cucu dari I Abeng Pettapuangnge Tellulatte I di Sidenreng. La Tenritippe kawin lagi dengan I Lipa Arung Barru lahirlah La Mallewai.
16. La Mallewai, Addatuang V matinroe ri Tanamaridie Barru, kawin dengan I Saburo anak dari Karaeng Karunrung Karaeng Tallo Pabbicara Butta di Gowa tuminang ri Pallangga, lahirlah Karaeng Kanjenne Bau Rakkaiya.
17 Karaeng Kanjenne Bau Rakkaiya, Addatuang VI kawin dengan Towagamette cucu La So’ni Karaeng Massepe Addatuang II, lahirlah La Taranatie dan La Towappo.
18. La Taranatie, Addatuang VII tidak mempunyai keturunan, ia digantikan saudaranya La Towappo.
19. La Towappo, Addatuang VIII matinroe ri Sumpangbinangae Barru. Kawin dengan I Tungke Arung Tempe lahirlah La Wawo.
Diceritakan bila Towappo sempat berperang dengan La Maddukelleng Arung Peneki Arung Sengkang Arung Matowa Wajo (1736-1754) yang mana pada waktu itu Towappo dibantu oleh iparnya (saudara kandung I Tungke Arung Tempe) selaku Pilla Wajo. Hubungan antara bangsawan tinggi dalam Kerajaan Wajo menjadi retak disebabkan Datu Pammana melawan Arung Matowa dalam peperangan yang berlangsung bertahun-tahun, yang mana kemudian mengakibatkan La Maddukelleng meletakkan jabatannya selaku Arung Matowa Wajo.
Disebutkan bila perang itu terjadi, karena Towappo menolak ajakan La Maddukelleng untuk memerangi Bone, hal mana disebabkan Towappo masih mempertahankan persekutuan dengan Raja Bone sebagaimana yang diwariskan dari neneknya La So’ni Karaeng Massepe.
20. La Wawo, Addatuang IX kawin dengan I Nubeng Karaengnge Pabineang lahirlah La Muhammad Arsyad Petta Cambangnge Arung Malolo ri Sidenreng, I Ninnong Arung Tempe, La Pallawagau. Kemudian kawin dengan I Sompa Datu Pammana lahirlah La Maddaremmeng.
Pada masa Pemerintahan La Wawo inilah Sidenreng memutuskan hubungan persekutuan dengan Kerajaan Bone serta melepaskan komitmen “gajang ritappi” yang telah dibina oleh pendahulunya yaitu La So’ni Karaeng Massepe dengan Arung Palakka, sehingga membuat Raja Bone La Tenritappu marah kepadanya, dan bermaksud menyerang Sidenreng guna menghukumnya. Tapi Addituatta La Wawo tidak takut, bahkan dia mempersiapkan perlawanan kepada Raja Bone, termasuk menemui La Tenrisessu Karaeng Sigeri saudara La Maddusila Karaeng Tanete, untuk meminta jasa baiknya agar dapat menghalangi maksud Raja Bone menyerang Sidenreng.
Menurut lontara’ perang perlawanan La Wawo terhadap Raja Bone Latenritappu merupakan perang antara Sidenreng dengan Bone terbsar dan memakan waktu selama tiga tahun, dimulai tanggal 20 Oktober 1795 hingga tanggal 19 Agustus 1798. Diceritakan bila Pasukan Bone kewalahan melakukan penyerangan karena tidak dapat melewati sungai Sigeri dan akhirnya kembali tanpa membawa hasil dalam ekspansinya.
La Muhammad Arsyad Petta Cambang(nge) disebut sebagai Arung Malolo Sidenreng atau Putra Mahkota, walaupun tidak sempat menduduki Tahta Addatuang (Raja Sidenreng) akan tetapi melahirkan anak-cucu yang menjadi raja.
La Muhammad Arsyad Petta Cambang kawin dengan I Muddariyah Petta Mappalakka’e lahirlah La Patongai Datu’e ri Lompulle, yang punya anak bernama La Passamula Datu Lompulle menjadi Arung Matowa Wajo ke 42 (1892-1897).
La Muhammad Arsyad Petta Cambangnge kawin dengan I Nomba Datu’e Lagosi lahirlah; La Panguriseng Addatuang Sidenreng X (1837-1889), La Cincing Akil Ali Karaeng Katangka yang menjadi Arung Matowa Wajo ke 40 (1859-1885), La Manunjengi Pilla ri Wajo, Towacalo Arung Maiwa, dan Towapatunru Karaeng Baroanging yang punya anak bernama Ishak Manggabarani Karaeng Mangepe menjadi Arung Matowa Wajo ke 43 (1900-1916) menggantikan sepupu satu kalinya La Passamula Datu Lompulle setelah jabatan AMW lowong selama 3 tahun.
La Muhammad Arsyad Petta Cambang kawin dengan I Mappanynyiwi Datu’e Pammana lahirlah La Tabbusassa.
Karena La Muhammad Arsyad Petta Cambangnge gugur sewaktu ikut memerangi Sawitto bersama ayahandanya La Wawo, maka putra mahkota diserahkan kepada anaknya bernama La Patongai, tapi Belanda menolaknya, sehingga diangkatlah La Panguriseng sebagai putra mahkota. Karena pada masa pemerintahan La Wawo inilah penjajah sudah masuk di Sulawesi Selatan dan melakukan tekanan di daerah-daerah sambil menjalankan politik memecah-belah (devide et impera).
21. La Panguriseng, Addatuang X merangkap Arung Rappang XIX dilantik dalam Tahun 1837 M/1247 H. Pengangkatan La Panguriseng oleh pihak Belanda, namun tidak disetujui La Patongai, mengakibatkan terjadinya perang saudara selama sebelas tahun mulai Tahun 1833 M sampai dengan Tahun 1844 M.
Perang saudara ini disebutkan sebagai perang terbesar dalam sejarah Kerajaan Sidenreng.
La Panguriseng kawin dengan I Bangki putri dari I Madditana Arung Rappang dengan suaminya La Makkulawu Arung Gilireng, melahirkan anak lima belas orang (delapan laki-laki dan tujuh perempuan,), dua diantaranya yaitu; La Sumangerukka dan La Sadapotto menjadi Addatuang Sidenreng.
La Panguriseng Wafat dalam Tahun 1889 M. matinroe ri Allakkuang.
Adapun salah seorang putri La Panguriseng yang bernama I Dala Wettoeng Karaeng Kanjenne kawin dengan sepupu satu kalinya yaitu Ishak Manggabarani Karaeng Mangepe Arung Matowa Wajo ke 43 (putra Towapatunru atau saudara kandung La Panguriseng) lahirlah La Parenrengi Karaeng Tinggimai Datu Suppa bersama isterinya I Bangki dan mempunyai putra bernama Andi Mappangile atau merupakan ayahanda H.Andi Sapada Mappangile yang menjadi Bupati Sidrap pertama (1960-1966).
Andi Sapada sebelum menjad Bupati Sidrap ikut berjuang dalam rangka membela Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 dan termasuk dalam misi pendaratan bersama dengan Kapten Andi Sarifin (1947).
22 La Sumangerukka, Addatuang XI dilantik dalam Tahun 1889 M/1299 H. kawin dengan I Samatana Tellulatte II Sidenreng, tapi tidak dikaruniai anak. Wafat dalam Tahun 1904 matinroe ri Lumpu’e.
23. La Sadapotto, Addatuang XII dilantik dalam Tahun 1904 M/1322 H. merangkap Arung Rappang XX. Kawin dengan I Baeda lahirlah I Tenri (Arung Rappang XXI merangkap Addatuang Sawitto), La Cibu (Addatuang Sidenreng XIII), Towacalo (Arung Mallusetasi), Besse Bulo yang kawin dengan Andi Mappanyukki Datu Lolo ri Suppa melahirkan Andi Abdullah Bau Massepe Datu Suppa (yang gugur mempertahankan Proklamsi Kemerdekaan Republik Indonesia)
Andi Abdullah Bau Massepe yang dilahirkan di Massepe Kabupaten Sidrap dalam tahun 1918, merupakan pejuang heroik wilayah Sulawesi Selatan dan menjadi Panglima TRI Divisi Hasanuddin pertama dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Karena jasa-jasanya dalam perjuangan, Andi Abdullah Bau Masepe dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 9 Nopember 2005. Meninggal di Parepare ditembak oleh W pada tanggal 2 Pebruari 1947 pada umur 29 tahun).
La Sadapotto kawin dengan I Sikati (saudara kandung La Danto yang menjadi nenek Andi Cammi) lahirlah La Makkasau, La Oddang dan I Cicu yang kawin dengan La Enggeng Arung Benteng.
La Sadapotto kawin dengan I Poca lahirlah La Sidda, La Undu, La Mendo dan I Ondong.
La Sadapotto adalah raja yang menentang penjajahan dan berupaya melawan Balanda, akan tetapi terpaksa harus menerima kekalahan dalam peperangan melawan penjajah Belanda, setelah gugurnya panglima perang yang gagah berani La Noni (Arungnge La Noni), dalam Tahun 1906 M., Akibatnya terpaksa La Sadapotto menandatangani pernyataan pendek (Korte Verklaring) yang menandai penyerahan Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang kepada Pemerintah Hindia Belanda.
La Sadapotto wafat dalam Tahun 1909 M/1327 H. matinroe ri Massepe.
24. La Cibu, Addatuang XIII dilantik dalam Tahun 1909 M/1327 H.
Pada masa pemerintahan Addatuang La Cibu inilah Andi Cammi dilahirkan di Carawali yang mana kemudian tampil berjuang dengan gagah berani melawan penjajahan Belanda dan membela Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada Tahun 1945
Addatuang La Cibu sebagai Raja terakhir dalam Kerajaan Sidenreng, tapi pemerintahannya dikendalikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, karena Pada Tahun 1917, berdasarkan Staatblad 1917 No.249, wilayah Kerajaan Sidenreng digabungkan dengan wilayah Kerajaan Rappang menjadi satu Onderafdeling Sidenreng Rappang. Kebijakan penggabungan dua wilayah kerajaan ini, tidak lagi mengalami perubahan dan berlangsung terus hingga Pemerintah Hindia Belanda dan Jepang menyerah dan diproklamsikannya Kemerdekaan Rebublik Indonesia oleh Sukarno-Hatta pada Tanggal 17 Agustus 1945, selanjutnya penyerahan kedaulatan pada Tanggal 27 Desember 1949 yang juga menandai berakhirnya Pemerintahan Kerajaan di Sidenreng dan Rappang, untuk kemudian melebur dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menjadi
bagian dari kebhinekaan nusantara.
Selanjutnya, adapun urutan turunan (silsilah) raja-raja Rappang, yang bergelar Arung Rappang atau lasimnya disapah Petta’e Rappeng dapat disebutkan sebagai berikut:
1. I Tepu Uleng, Arung Rappang I saudara La Mallibureng Addaowang I di Sidenreng (cucu La Maddaremmeng), anak dari Bolopatinna dengan suaminya Datu Pantilang.
2. I Pawawoi, Arung Rappang II (anak dari I Tipulinge Adaowang Sidenreng IV) kawin dengan Songko Pulawengnge anak menurungnge ri Bulo Lowa.
3. La Makkarawi, Arung Rappang III merangkap Datu Suppa IV, anak La Putebulu Datu Suppa III merangkap Addatuang Sawitto IV dengan isterinya I Tappatana (anak La Bottinglangi Arung Mario Riwawo).
4. Songko Pulawengnge, Arung Rappang IV merangkap Addaowang Sidenreng VI, kawin dengan I Pawawoi Arung Rappang II.
5. I Cinadio, Arung Rappang V cucu dari menurungnge ri Batu Matewe Bulucenrana. Kawin dengan La Batara Addaowang Sidenreng VII.
6.:La Pasompai, arung Rappang VI, kawin dengan I Tappatana lahirlah La Pateddungi Addaowang Sidenreng VIII.
7. La Pancaitana, Arung Rappang VII merangkap Datu Suppa VII (anak Lampe Welua Datu Suppa VI).
8. La Pakolongi, Arung Rappang VIII anak dari La Pancaitana Arung Rappang VII.
Pada masa pemerintahan La Pakolongi inilah dalam Tahun 1017 M/1607M Agama Islam memasuki Kerajaan Rappang yang dibawah oleh Raja Gowa Sultan Alauddin, yang didahului dengan peperangan. Dan La Pakolongi menjadi Raja Rappang pertama memeluk Agama Islam.
Konon Raja Gowa Sultan Alauddin pernah menetap dan menjadikan Rappang sebagai basis penyebaran Agama Islam ke seluruh kerajaan tetangga sekitarnya, termasuk Sidenreng yang diislamkan dalam Tahun 1608 M/1018 H.
9. I Dangkau, Arung Rappang IX anak dari La Pakolongi. Kawin dengan La Patiroi Addaowang Sidenreng IX (Raja Sidenreng yang pertama memeluk Agama Islam) lahirlah La Tone Datu Walie.
Sebagian pemerhati sejarah menyebutkan bahwa Kerajaan Rappang mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahan Arung I Dangkau. Hal ini tentu tidak terlepas dari campur tangan suaminya yaitu Addaowang La Patiroi yang juga disebutkan bila Kerajaan Sidenreng mencapai masa keemasannya pada masa pemerintahannya.
Adapun benang merah masa keemasan kedua kerajaan ini, adalah peran sentral Nene’ Mallomo selaku “Pabbicara” atau Penasehat Kerajaan, pada dua kerajaan yang dipimpin sepasang suami-isteri tersebut, dalam kapasitasnya sebagai “to acca” yang memiliki kecerdasan dan keahlian dalam pengelolaan pemerintahan. Logika sederhananya bahwa sudah tentu apa saja yang diperbuat Nene’ Mallomo untuk kemajuan Kerajaan Sidenreng, akan diperbuat pula hal yang sama untuk kemajuan Kerajaan Rappang.
10. La Tone Datu Walie, arung Rappang X, kawin dengan I Tenrilakke Arung Alitta (anak dari La Pasulle Daeng Bulaeng Datu Suppa VIII) lahirlah I Tasi.
11. I Tasi, Arung Rappang XI merangkap Datu Suppa XI, kawin dengan La Pabbila Datu Citta lahirlah La Todani.
12.La Todani, Arung Rappang XII merangkap Addatuang Sidenreng III dan Datu Suppa XIII.
Todani juga bergelar Arung Ajattapareng I dan meninggal di Salemo pada Tanggal 11 Pebruari 1681 M. Anaknya yang bernama I Dauttu Arung Arateng diperisterikan oleh La Tenritatta Daeng Tomaming Datu Suppa XII, yang mana kemudian menggantikan mertuanya sebagai Arung Rappang.
13. La Tenritatta Daeng Tomaming, Arung Rappang XIII merangkap Datu Suppa XIV. Kawin dengan I Jora anak La Mallewai (Addatuang Sidenreng V) lahirlah La Toware.
14. La Toware, Arung Rappang XIV merangkap Datu Suppa XV. Kawin dengan I Galitto Arung Alitta.
15.:I Tenri Paonang, Arung Rappang XV. Ia diperisterikan oleh La Kasi (anak La Temmassonge Karaeng Katangka Sultan Abdul Razak Zainuddin Raja Bone ke-22 [1749-1775] dan Raja Gowa ke-28 [1769-1776] serta Datu Soppeng ke-25 [1744-1746], atau Arungpone Matinro’e ri Mallimungeng dengan isterinya bernama Sitti Sapiah Arung Alitta) lahirlah La Pabittei. La Temmassonge adalah putra La Patau Matanna Tikka Matinro’e ri Nagauleng Raja Bone ke-16 [1696-1714] atau kemenakan La Tenritatta To Unru Arung Palakka Petta Torisompae Sultan Saaduddin Matinro’e ri Bontoala Raja Bone ke-15 [1667-1696).
16. La Pabittei, Arung Rappang XVI, kawin dengan sepupu sekalinya bernama I Corauleng atau I Tenrioja Petta Majjumba’e (anak La Balloso dengan isterinya bernama I Tenriawaru Arung Lempang) lahirlah I Madditana dan I Tompo yang menjadi isteri La Bambeng Arung Benteng. La Balloso juga adalah anak La Temmassonge Karaeng Katangka Abdul Razak Zainuddin Raja Bone ke-22 [1749-1775] dan Raja Gowa ke-28 [1769-1776] serta Datu Soppeng ke-25 [1744-1746], atau Arungpone Matinro’e ri Mallimungeng dengan isterinya bernama Sitti Habibah anak dari Syekh Yusuf Tuanta Salamaka.
17. I Madditana, Arung Rappang XVII. Ia diperisterikan oleh La Makkulawu Arung Gilireng (anak La Canno Petta Lampe Uttu Arung Gilireng dengan isterinya bernama I Panynyiwi Datu Pammana) lahirlah I Bangki, La Pallawagau Addatuang Sawitto, La Palettei, I Nunnung Datu Pammana.
18. I Bangki, Arung Rappang XVIII. Ia juga Permaisuri La Panguriseng Addatuang Sidenreng X.
Setelah kawin beliau menyerahkan jabatan Arung Rappang kepada suaminya, sehingga La Panguriseng merangkap akkarungeng (sebagai Addatuang Sidenreng dan Arung Rappeng)
19. La Panguriseng, Arung Rappang XIX merangkap Addatuang Sidenreng X. Meninggal di Massepe dan dikebumikan di Allakkuang pada Tahun 1889 M/ 1299 H. sehingga digelar Matinroe ri Allakkuang.
20. La Sadapotto, Arung Rappang XX merangkap Addatuang Sidenreng XII. Raja ini gigih menentang dan melawan penjajahan, dibantu oleh Panglima perangnya bernama La Noni atau Arungnge La Noni.
21.I Tenri, Arung Rappang XXI merangkap Addatuang Sawitto. Biasa juga disebut Petta’e Rappeng I Tenri, merupakan adik kandung La Cibu addatuang Sidenreng XIII/Raja terakhir. I Tenri dan La Cibu, keduanya anak kandung La Sadapotto.
Pada masa pemerintahan Arung Rappeng I Tenri inilah Andi Cammi dilahirkan yang mana kemudian tampil berjuang dengan gagah berani melawan penjajah Belanda dan membela Proklamai Kemerdekaan Republik Indonesia pada Tahun 1945.
Arung Rappang I Tenri sebagai Raja terakhir dalam Kerajaan Rappang, tapi pemerintahannya dikendalikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, karena Pada Tahun 1917, berdasarkan Staatblad 1917 No.249, wilayah Kerajaan Rappang digabungkan dengan wilayah Kerajaan Sidenreng menjadi satu Onderafdeling Sidenreng Rappang. Kebijakan penggabungan dua wilayah kerajaan ini, tidak lagi mengalami perubahan dan berlangsung terus hingga Pemerintah Hindia Belanda dan Jepang menyerah dan diproklamsikannya Kemerdekaan Rebublik Indonesia oleh Sukarno-Hatta pada Tanggal 17 Agustus 1945, serta penyerahan kedaulatan pada Tanggal 27 Desember 1949 yang juga menandai berakhirnya Pemerintahan Kerajaan di Sidenreng dan di Rappang, untuk selanjutnya melebur dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta menjadi bagian dari kebhinekaan nusantara.
Dinamika pembentukan Kabupaten Sidenreng Rappang menjadi bagian dari wilayah Pemerintahan Republik Indonesia, berlangsung selama 11 tahun setelah penyerahan kedaulatan, mengikuti dinamika penataan wilayah Sulawesi, hingga kemudian terpisah dengan Swatantra Tingkat II Parepare dengan dikeluarkannya Undang Undang 1959 No.29 sebagai dasar resmi terbentuknya Daerah Tingkat II Sidenreng Rappang.
Adapun Hari Ulang Tahun Kabupaten Sidenreng Rappang, yang diperingati setiap tahunnya, didasarkan pada Pelantikan H.Andy Sapada Mappangile menjadi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sidenreng Rappang, oleh Gubernur Sulawesi Andi Pangerang Pettarani atas nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, pada Tanggal 18 Pebruari 1960, beradasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri R.I. Tanggal 26 Januari 1960 No. U.P.7/37-374.
Akan tetapi Hari Lahir Kabupaten Sidrap ini, sempat menjalani “uji historis”, sehingga mengalami pergeseran kurun waktu mundur menjadi Tanggal 18 Pebruari 1344.
Sedangkan sosok Bupati Sidrap dari periode ke periode, yaitu; H.Andy Sapada Mappangile (1960-1966), H.Arifin Nu’mang (1966-1978), H.Opu Sidik (1978-1988), H.M. Yunus Bandu (1988-1993), H.Andi Salipolo Palalloi (1993-1998), H.S. Parawansa (1998-2003), H.Andi Ranggong (2003-2008), H.Rudi Masse (2008- 2018), dan H.Dollah Mando (2018-sekarang)
Kabupaten Sidenreng Rappang, di Tahun 2020 ini, dipimpin Bupati H. Dollah Mando dan wakilnya H. Mahmud Yusuf, untuk masa pemerintahan periode 2018 – 2023. Sudah tentu masih banyak yang harus dilakukan sebanyak apa yang telah dikerjakan sebelumnya. Namun bagi Dollah Mando dengan memiliki pengalaman selaku Wakil Bupati dua periode, akan lebih memudahkan menyusun langkah pembangunan daerah yang dapat semakin mensejahterakan masyarakatnya.
Visi untuk mewujudkan Sidenreng Rappang sebagai Daerah Agribisnis yang maju dengan masyarakat religius, adil, aman dan sejahtera, yang menjadi janji politik pada saat pilkada sidrap 2018, setidaknya untuk waktu satu periode masa pemerintahan harus terimplementasi sebagai barometer kemampuan mengelola pemerintahan yang berpihak kepada rakyat.
(Andi Damis Dadda, pemerhati budaya leluhur)
Referensi
-- Boeginesche Chrestomathie, D.B.F. Matthes, 1972. Gedrukt Tc Amsterdam BIJ.C.A,Spin & Zoon
--- Dokumentasi Pemda Sidrap.
I Lagaligo, R.A.Kern (Terjemahan ; La Side dan Sigmun M.D.), 1993. Gajah Mada University Press.
--- Majalah Mimbar Indonesia, Edisi 7 (14 Pebruari 1953) dan Edisi 8 (21 Pebruari 1953).
-- Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar Dalam Sejarah, Prof. Dr. Mattulada, 1990. Hasanuddin University Press, Ujung Pandang.
--- Sejarah Kabupaten Daerah Tk.II Sidenreng Rappang, Dr.Mukhlis Paeni, dkk, 1985 Universitas Hasanuddin.
--- Silasa, Kumpulan Petuah Bugis, A.Hasan Machmud, 1994. Bhakti Centra Baru.
--- Siri’ & Pesse (Harga diri, Manusia Bugis, Makassar, Mandar,Toraja), Prof.Dr.Abu Hamid, dkk, 2003. Pustaka Refleksi.
-- Syekh Yusuf, Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang, Prof.Dr.Abu Hamid,1994.,Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
-- Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, Michael H. Hart (Terjemahan H.Mahbub Djunaidi), 1978, PT.Dunia Pustaka Jaya.
-- Strategi Pembangunan Daerah, Nurman, 2015, Rajawali Pres. Jakarta.
Informan
-- Wawancara dengan K.H.Abdul Muin Yusuf di Benteng. (1997)
-- Wawancara dengan Prof.Mr.Dr. Andi Zainal Abidin Farid di Makassar (1997)
-- Wawancara dengan Prof.A. Muis di Makassar (1997)
-- Wawancara dengan Drs. Muhammad Salim di Makassar (1997)
--- Wawancara dengan Prof.Dr. H.Abu Hamid di Makassar (1997)
-- Wawancara dengan Andi Rusdi Dadda di Rappang (2018)
-- Dari penelusuran internet.
Komentar
Posting Komentar