MENGENAL NENE' MALLOMO (Kajian 3 Dimensi Keberadaan To Accana Sidenreng)
Oleh Andi Damis Dadda
Setidak-tidaknya ada tiga dimensi pokok yang melatar-belakangi cerita kehidupan Nene’ Mallomo sebagai tokoh leluhur yang paling berpengaruh dalam perjalanan keberadaan Kabupaten Sidenreng Rappang, yaitu; Dimensi Kesejarahan, Dimensi Kepemerintahan dan Dimensi Keilmuan. Ketiga dimensi ini, sepatutnya menjadi pilar kebudayaan masyarakat Sidenreng Rappang dan menjadi referensi bagi generasi muda dalam melakoni berbagai aktifitas modernisasi sebagai bias kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini.
Pada dimensi kesejarahan, dalam lontara’ disebutkan bahwa Nene’ Mallomo hidup pada awal abad ke-16 Masehi di Sidenreng-Rappang, pada masa Pemerintahan La Patiroi selaku Addaowang Sidenreng IX dengan isterinya We’Dangkau selaku Arung Rappang IX. Beliau disebut sebagai sosok berilmu dengan kecerdasan luar biasa dan wawasan yang sangat luas, sehingga diberi julukan Nene’ Mallomo, yang mana justru julukan tersebut begitu melekat pada dirinya dan melagenda.
Menurut para ahli lontara’, istilah nene’ dalam bahasa bugis menunjuk pada tingkatan dalam pola hubungan kekerabatan masyarakat Sidenreng Rappang kala itu, sebagai orang yang paling dituakan. Sedangkan istilah mallomo diartikan sebagai orang yang senantiasa berkemampuan memecahkan setiap permasalahan secarah mudah dengan arif dan bijaksana. Sehingga julukan Nene’ Mallomo, dimaksudkan sebagai orang yang dituakan dan dihormati dikarenakan tingginya ilmu yang dia miliki serta sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana.
Dalam lontara’ juga disebutkan, bahwa pada masa Nene’ Mallomo ini pula Agama Islam masuk di Sidenreng Rappang. Bahkan sebagian pemerhati sejarah dan budaya Sidrap, berasumsi jikalau Nene’ Mallomo sendiri yang datang ke Sidenreng Rappang untuk menyebarkan ajaran Agama Islam. Kerena memang dari berbagai sumber dan rujukan tentang riwayat Nene’ Mallomo, begitupula referensi tentang Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang, tidak ada yang paten menceritakan asal-muasal Nene’ Mallomo. Hanya disebut “tau tompo” atau orang yang muncul, dan dipastikan kemunculannya pada saat Agama Islam masuk di Sidenreng dan Rappang.
Akan tetapi amat jelas dalam cerita lontara’ disebutkan bahwa Raja Gowa Sultan Alauddin adalah yang membawa Agama Islam ke Kerajaan Rappang (1608 M) dan Kerajaan Sidenreng (1609 M), yang didahului dengan peperangan. Apakah Nene’ Mallomo merupakan bagian dari perjalanan misi keislaman Sultan Alauddin, sebagai orang yang diamanahkan untuk tingggal di Sidrap kala itu guna mengawal dan mengajarkan ajaran-ajaran Agama Islam kepada keluarga kerajaan dan masyarakat???, Wallahu A'lam Bishawab. Masih perlu penelitian lebih lanjut.
Oleh karena itu, perlu ditengok sejarah masuknya Agama Islam di Sulawesi Selatan, guna menemukan benang merah dengan cerita masuknya Agama Islam di Sidenreng Rappang.
Menurut peneliti dan penulis asal Belanda B.F.Matthes, sebagaimana dituturkan Abu Hamid (1994; 58-77), bahwa lagenda orang Makassar dan Bugis berisi catatan tentang mula masuknya Agama Islam di Sulawesi Selatan, yang dibawa oleh Datok ri Bandang yang disebut pula Katte Toenggalak, orang dari Kota Minangkabau. Ia datang dengan perahu padewakang yang besar, yaitu sebuah perahu niaga yang berlabuh di pelabuhan Tallo. Ia bermaksud untuk mengislamkan Raja Tallo Abdullah I Malingkaang Daeng Manyonri.
Selanjutnya Abu Hamid menyebutkan, Raja Tallo I Malingkaang Daeng Manyonri menerima Islam pada malam Jumat 9 Jumadil Awal 1015 H, bersesuaian dengan tanggal 22 September 1605 M. Baginda ini merangkap sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa. Segera disusul oleh penerimaan Islam Raja Gowa ke-14 I Manga’rangi Daeng Manrabia esoknya, yakni pada hari Jumat menjelang sembahyang Jumat dimulai. Sehubungan dengan penerimaan Agama Islam itu, maka baginda diberi gelar Sultan Alauddin.
Setelah mengislamkan Kerajaan Gowa, menurut Abu Hamid, maka Raja Sultan Alauddin mengajak pula karajaan-kerajaan tetangganya untuk menerima Agama Islam tersebut. Ajakan itu sebagai manifestasi dakwah, mulanya berlangsung secara damai, namun hanya bebera kerajaan kecil yang menyambutnya. Kerajaan-kerajaan Bugis yang kuat, sebagian menolak karena trauma masa lalu akibat perang yang menyimpan luka hati dan penderitaan.
Dengan adanya penolakan atas seruan itu, ungkap antropolog Abu Hamid, maka Raja Gowa terpaksa memilih jalan lain, meskipun sudah ditempuh cara musyawarah sesuai prinsip-prinsip adat dan ajakan yang baik menurut syariat Islam, maka Gowa memerangi mereka yang tidak menerima seruan itu. Pengiriman laskar-laskar ke tanah Bugis yang pertama kali tahun 1608 dapat dikalahkan oleh laskar Bugis yang tergabung dalam persekutuan TellumpoccoE. Tahun berikutnya, laskar Gowa berhasil menundukkan Raja Sidenreng dan Soppeng, dan diislamkannya Arung Matowa Wajo dalam tahun 1610 dan Raja Bone pada tahun 1611.
H.D. Mangemba dalam Mukhlis Paeni (1985: 36), mengemukakan masalah pengislaman itu sebagai berikut: Mula-mula Gowa mendaratkan tentaranya di Sawitto (Pinrang). Tempat itu kemudian dinamai Binanga Karaeng, artinya sungai tempat pendaratan Raja Gowa (sekitar 40 Km sebelah utara Kota Pinrang). Daerah itu dengan mudah diislamkan. Kemudian terus ke Suppa dan Sidenreng. Peristiwa ini terjadi pada Tahun 1607.
Sebenarnya proses Islamisasi Sulawesi Selatan, menurut Mukhlis Paini, tidaklah berlangsung dengan muda karena Raja Bone, Arung Matowa Wajo dan Datu Soppeng mengangkat senjata sehingga terjadi peperangan melawan Kerajaan Gowa. Tiga bulan sesudah peperangan itu, Raja Gowa kembali mendaratkan tentaranya, namun keadaan sudah berubah. Rakyat Akkotongeng berbalik haluan dari Wajo dan berpihak kepada Gowa, demikian pula dengan rakyat Sakkoli.
Kemudian TellumpoccoE mengerahkan pasukan-pasukannya dan mengepung Raja Gowa Sultan Alauddin, sehingga banyak tentara Gowa yang gugur. Tetapi karena bantuan dan petunjuk Arung Gilireng, Raja Gowa dapat selamat kembali ke Gowa. Enam bulan kemudian, yaitu pada Tahun 1608, Sultan Alauddin kembali mendaratkan pasukan-pasukannya di negeri Pandang-Pandang (Pare-Pare). TellupoccoE datang ke tempat itu melakukan peperangan, tetapi dipukul mundur oleh tentara Gowa sampai ke Lalempulu (wilayah Sidrap), di sanalah Gowa mengadakan pertahanan.
Pada waktu itulah rakyat Rappang, Bulu Cenrana, Otting dan Maiwa berpihak kepada Gowa. Oleh karena itu tentara Gowa dengan mudah memasuki Rappang. Di Rappang inilah Raja Gowa Sultan Alauddin menetap membuat pertahanan benteng baru, setelah mengislamkan Raja Rappang La Pakolongi dan masyarakatnya.
Beberapa waktu kemudian, TellumpoccoE menyerang Rappang dengan segala kekuatannya dan mengepung selama satu bulan. Akan tetapi dikarenakan adik Tau TongengngE ri Soppeng terbunuh, mengakibatkan orang-orang dari TellumpoccoE mulai takut dan segera mereka kembali ke negerinya meninggalkan Rappang dan menghentikan penyerangan.
***********
Pada dimensi kepemerintahan, sebagaimana telah disebutkan diatas, bahwa Nene’ Mallomo telah berhasil mengantarkan Pemerintahan La Patiroi selaku Adattuang Sidenreng IX dan Pemerintahan We’Dangkau selaku Arung Rappang IX mencapai masa keemasannya, pada awal abad ke-16 M, yang ditandai dengan kemakmuran hidup dan kehidupan masyarakatnya. Keberhasilan Nene’ Mallomo membangun dua kerajaan kembar ini, diabadikan dalam lontara’ terkait rasa penasaran Arung Matowa Wajo Puang Rimanggalatung, yang juga terkenal keahlian dan wawasannya yang luas dalam hal pemerintahan, dalam bentuk dialog sebagai berikut:
Makkadai Puang Rimanggalatung ri Nene’ Mallomo; “Agaro muwala appettuang bicara ri Sidenreng, namawasa pabbanuamu, namasennang peneddinna tomapparentamu, najaji wisesa’e ri kampongmu, nabbija olokkolomu, gangkanna mauni ase wetteannami mupano bine jajito”. Mappebaliwi Nene’ Mallomo makkada; “Iya uwala’e appettung bicara, iyanaritu alempurengnge’ sibawa deceng kapangnge’”. (Artinya; maka bertanyalah Puang Rimanggalatung kepada Nene’ Mallomo; “Apa gerangan yang engkau jadikan pedoman (dasar pokok pengelolaan pemerintahan) di Sidenreng, sehingga berbahagia rakyatmu, bersuka-cita rajamu, begitupula tanam-tanamanmu bertumbuh subur, ternak peliharaanmu berkembang biak, bahkan seandainya padi muda yang hanya cocoknya dibuat Wette’ (sejenis kue bugis, biasa juga disebut Bette) yang engkau samaikan sebagai benih, akan bertumbuh juga”?. Nene’ Mallomo menjawab singkat; “Adapun yang dijadikan pedoman (dasar pokok pengelolaan pemerintahan) adalah kejujuran dan prasangka baik”.
Penekanan Nene’ Mallomo pada pentingnya kejujuran dan prasangka baik dalam pengelolaan pemerintahan yang baik, terungkap pula dalam lontara’ ketika beliau berpesan; “Tellu tau kupaseng (Arung Mangkau, Pabbicara, Suro’e), aja’ pura mucapa’i lempu’e arung mangkau. Malempuko mumadeceng bicara, mumagetteng. Apa riasengnge lempu, madeceng bicara lamperi sunge. Apa temmate lempu’e, temmaruttung lappa’e, teppettu mallompengnge, teppolo massellomo’e”. (Artinya; Saya berpesan kepada tiga orang (Maharaja atau Kepala Pemerintahan, Pembantu Raja atau Pejabat Pemerintahan, Pegawai Kerajaan atau Pegawai Pemerintahan atau Para Aparatur), jangan sampai engkau meremehkan atau mengabaikan kejujuran itu. Berlaku jujurlah serta peliharalah tutur katamu, juga bersikap tegaslah dalam pengambilan keputusan. Sebab kejujuran dan keramahan itu akan memanjangkan usia (pemerintahan). Ketahuilah bahwa tak akan mati kejujuran, tak akan runtuh yang datar (kelapangan), tak akan putus yang kendur (mengalah) dan tak akan patah yang lentur (bijaksana).
Dari sisi penegakan hukum, Nene’ Mallomo telah berpesan; “Naiya ade’e temmakkeana temmakkeambo”. (Artinya; Hukum itu tidak mengenal anak dan bapa). Lalu diriwayatkan dalam lontara’, bagaimana Nene’ Mallomo mengeksekusi mati anak kandungnya sendiri, setelah terbukti “mengambil” sepotong kayu yang disandarkan orang lain tanpa meminta kepada pemiliknya, sehingga disebabkan “dosanya” itu mengakibatkan terjadinya musibah kemarau di wilayah Kerajaan Sidenreng pada waktu itu. Sampai disini dapat dipahami betapa kekuatan agama amat mempengaruhi kepribadian dan karakter kepemimpinan Nene’ Mallomo.
Pesan-pesan Nene’ Mallomo berupa kejujuran, ketegasan dan berprasangka baik kepada semua orang dan pada setiap keadaan serta berpihak kepada rakyat, merupakan warisan yang fundamental dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang baik, sebagaimana diproyeksikan konsep Good Governance. Karena tanpa kejujuran, tidak mungkin bisa berlaku adil. Tanpa kejujuran bagaimana bisa akuntabel, transparan dan berorientasi pada konsensus. Begitupula partisipasi, responsif, setara dan inklusif, sudah tentu hanya dapat terwujud bila pemerintah berpihak kepada rakyat dengan menjunjung nilai-nilai demokrasi. Sedangkan ketegasan akan menuntun pemerintahan guna mengikuti segala bentuk aturan hukum yang berlaku.
Sejatinya dengan mengedepankan kejujuran dan berprasangka baik akan membuat pemerintahan terselenggara secara efektif dan efisien.
Membudayakan sifat jujur, disiplin, adil, tegas, berprasangka baik dan berpihak pada rakyat dalam tuntunan agama, menjadi urat-nadi penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Bahkan sebuah penelitian penyebutkan bahwa ternyata faktor yang paling berpengaruh untuk mengantar seseorang mencapai kesuksesannya adalah faktor kejujuran. Penelitian ini tentu tidak terbantahkan tatkala figur Nabi Muhammad SAW., yang oleh Michael H. Hart dalam bukunya “100 Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah” (1978) yang diterjemahkan oleh H.Mahbub Djunaidi (1982) menempatkan beliau diurutan teratas, menjadi patokan penilaian, dikarenakan kejujuran Rasulullah SAW yang begitu mulia, bahkan orang kafir qurais sendiri memberinya gelar “al-amin” sebagai orang yang jujur dan terpercaya.
“Pilihan saya menempatkan Muhammad pada urutan teratas mungkin mengejutkan semua pihak, tapi dialah satu-satunya yang sukses baik dalam tataran sekuler maupun agama”, ungkap Michael Hart.
Lebih lanjut Mr. Hart yang membutuhkan waktu 28 tahun penelitian untuk menyelesaikan bukunya tersebut menyebutkan alasannya menempatkan Muhammad SAW pada urutan pertama adalah bahwa “Baginda Rasulullah SAW, berdiri tegak sendirian di Mekkah pada tahun 611, dan menyatakan kesemua orang disana saat itu : “Aku adalah nabi dan utusan Allah”. Hanya 4 orang yang percaya kepada beliau saat itu, sahabatnya, isterinya dan dua orang anak kecil. Saat ini, setelah lebih dari 1400 tahun, pengikut beliau, umat muslim sudah lebih dari 1 milyar orang, dan masih terus bertambah. Jadi, Nabi Muhammad SAW. jelaslah bukan pembohong, karena kebohongan tidak akan pernah bertahan setelah lebih dari 1400 tahun!!., dan anda tidak akan pernah mampu membohongi 1 Milyar manusia. Tambahan lagi yang anda harus renungkan, setelah semua yang terjadi selama ini, ratusan juta umat muslim ini tidak akan pernah ragu untuk mengorbankan jiwa raga mereka jika ada yang mencoba menodai nama baik Nabi mereka yang tercinta tersebut.
Termasuk pula warisan pemikiran paling berharga dari Nene’ Mallomo pada dimensi pemerintahan adalah rumusan persyaratan untuk bisa dipilih atau diangkat sebagai pemimpin, yang disebutkan dalam lontara’, harus memiliki sifat-sifat, yaitu; Malempu’i namatette, Makurangngi cai’na, Magettengngi rijamang maggunae, Makurang pauwi ri ada temmaggunae, anrengnge topa Waranipi liuri ada-adanna. (Artinya; Jujur dan konsisiten, Arif dan bijaksana, Berkomitmen pada pekerjaan, Mawas diri atau tidak mengada-ada, serta amanah-berani-dan bertanggungjawab).
Kelima sifat utama tersebut, merupakan penjabaran dari pada “dasar pokok” pemerintahan Kerajaan Sidenreng yang juga telah dirumuskan Nene’ Mallomo, yang dikenal dengan “Ade Mappuraonrona Sidenreng”, yaitu; 1). Ade Mappura Onro’e. 2). Wari Rialitutu’i. 3). Janci Ripiasseri. 3). Rapang Ripannennungeng. 5). Agama Ritanreri Maberre. (1. Ade Mappura Onro’e, artinya bahwa adat yang tetap utuh atau mengutuhkan nilai-nilai khas yang telah mengakar dan menjadi ciri dan karakter Sidenreng Rappang, 2. Wari Rialitutu’i, artinya keputusan berupa kebijakan harus dipatuhi dan dilaksanakan serta dipertanggungjawabkan. 3. Janci ripiasseri, artinya setiap janji atau perjanjian atau kesepakatan harus dipegang erat secara konsisten dan dipenuhi apa adanya. 4. Rapang ripannennungeng, artinya suatu keputusan yang pernah diberlakukan untuk suatu masalah, harus diberlakukan juga terhadap masalah yang serupa, dalam hal ini dituntut konsistensi kebijakan pemerintah. 5. Agama ritanrenri maberre, artinya ajaran agama harus diagungkan dalam bentuk penghormatan dan kepatuhan, sebagai pedoman dan petunjuk utama dalam hidup dan kehidupan, serta yang paling prinsip akan menjadi petunjuk keselamatan di dunia dan di akhirat kelak.
************
Pada dimensi keilmuan, dengan apik lontara’ menceritakan kepintaran Nene’ Mallomo yang luar biasa. Penguasaan ilmunya begitu elok menyelesaikan setiap persoalan pemerintahan dan amat elegan memutuskan perkara kemasyarakatan secara profesional dan proporsional. Wawasannya yang luas menjangkau seluruh aspek ketatanegaraan dan memancarkan penegakan hukum yang berkeadilan.
Terpadunya intelektualitas dan religiusitas pada diri Nene’ Mallomo, memang akhirnya telah menjustifikasi keberadaannya sebagai figur negarawan sejati, yang tidak hanya terhormat di Kerajaan Sidenreng dan Rappang, tetapi juga dipanuti di “negeri jiran” atau kerajaan-kerajaan tetangga, serta menjadi tokoh penomenal dan melagenda hingga di jaman milineal.
Sebagai ilmuwan, Nene’ Mallomo bahkan telah merumuskan falsafah dari pada nilai-nilai pokok kehidupan manusia dalam konteks pemenuhan kepuasaan dirinya secara berjenjang, yang terkenal dengan falsafah 5 M, yaitu; Massappa, Mabbola, Mappabbotting, Mappatarakka Hajji, dan Mattaro Sengereng.
Massappa, dimaksudkan sebagai suatu usaha pergi bekerja mencari reski halal untuk memenuhi kebutuhan tubuh dalam menjalani hidup sehari-hari, seperti kebutuhan akan makan dan minum serta berpakaian guna menutupi aurat. Dan massapa atau bekerja keras itu disebut sebagai upaya pencarian reski yang paling terhormat.
Mabbola, dimaksudkan sebagai suatu upaya mendirikan bangunan rumah untuk memenuhi kebutuhan akan rasa nyaman dan aman dari gangguan eksternal/lingkungan, seperti; gangguan dari binatang buas, gangguan dari cuaca panas dan hujan, gangguan dari pencurian dan perampokan. Makanya rumah itu disebut sebagai tempat perlindungan yang memberi rasa aman dan nyaman paling terjaga. Mabbola juga memberikan simbol otoritas dalam rangka menata kehidupan berumah tangga.
Mappabbotting, dimaksudkan sebagai suatu upaya melangsungkan perkawinan untuk memenuhi kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, sekaligus melestarikan kelangsungan hidup secara generatif. Sehingga selain untuk memenuhi kebutuhan biologis atau sexualitas secara alamia, juga yang paling penting adalah memenuhi obsesi guna menghadirkan generasi yang akan melanjutkan keberadaan diri. Dan mappabbotting atau perkawinan itu disebut sebagai alternatif mendapatkan kasih kasih paling indah.
Mappatarakka Hajji, dimaksudkan sebagai suatu upaya melaksanakan ibadah haji dalam rangka menunaikan rukan Islam kelima. Dalam hal ini menjadi haji biasanya tidak sebatas mencerminkan adanya “kemampuan finansial” yang dimilki, tapi juga membias pada efek stimulan “penghormatan sosial” dan harga diri bagi orang yang menyandangnya.
Mattarosengereng, dimaksudkan sebagai suatu upaya berbuat kebaikan dan kebajikan terahadap sesama manusia dan lingkungan sekitar, sehingga dengan itu hidup bisa lebih berarti. Mattarosengereng juga dimaksudkan sebagai upaya menanamkan jasa dan pengaruh kepada masyarakat dengan kegiatan-kegaiatan yang mendapatkan perhatian umum. Selanjutnya mattarosengereng dimaksudkan sebagai upaya lebih memperkenalkan diri kepada masyarakat, sehingga mendapatkan penilaian sosial atau popularitas.
Falsafah 5 M Nene’ Mallomo ini, sudah tentu adalah buah pikiran dari olah pengetahuan dan wawasan melalui kajian kehidupan secara mendalam, sebagaimana 300 tahun kemudian Abraham Maslow (lahir 1 April 1908 di Broooklyn, New York) mengemukakan Teori Hirarki Kebutuhan (1940), yang lebih dikenal dengan “Teori Maslow”, dalam piramida kebutuhan yang meliputi 5 kebutuhan dasar manusia yaitu; Kabutuhan fisiologis (Physiological Needs), Kebutuhan akan rasa aman (Safety/Security Needs), Kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang (Social Needs), Kebutuhan akan penghargaan (Esteem Needs), dan Kebutuhan akan aktualisasi diri (Self-actualization Needs).
Pada dimensi keilmuan ini, sejarahpun telah mengajarkan betapa tinggi derajat orang yang berilmu, sebagaimana tingginya derajat Nene’ Mallomo, dimana setiap ucapannya dibenarkan, pendapatnya disetujui, perintahnya dipatuhi, dan pesan-pesannya dipedomani. Oleh karena itu, warisan menjadi “to acca” atau orang yang berilmu pengetahuan, melalui proses belajar-mengajar, menjadi penting dibudayakan dalam kehidupan masyarakat Sidenreng Rappang. Sehingga daerah berjuluk “lumbung pangan” ini dapat mengantisipasi setiap perkembangan yang terjadi dalam era globalisasi saat ini. (Andi Damis Dadda, adalah pemerhati budaya leluhur)
Referensi
-- Boeginesche Chrestomathie, D.B.F. Matthes, 1972. Gedrukt Tc Amsterdam BIJ.C.A,Spin & Zoon
-- Dokumentasi Pemda Sidrap.
-- I Lagaligo, R.A.Kern (Terjemahan ; La Side dan Sigmun M.D.), 1993. Gajah Mada University Press.
-- Majalah Mimbar Indonesia, Edisi 7 (14 Pebruari 1953) dan Edisi 8 (21 Pebruari 1953).
-- Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar Dalam Sejarah, Prof. Dr. Mattulada, 1990. Hasanuddin University Press, Ujung Pandang.
-- Sejarah Kabupaten Daerah Tk.II Sidenreng Rappang, Dr.Mukhlis Paeni, dkk, 1985 Universitas Hasanuddin.
-- Silasa, Kumpulan Petuah Bugis, A.Hasan Machmud, 1994. Bhakti Centra Baru.
-- Siri’ & Pesse (Harga diri, Manusia Bugis, Makassar, Mandar,Toraja), Prof.Dr.Abu Hamid, dkk, 2003. Pustaka Refleksi.
-- Syekh Yusuf, Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang, Prof.Dr.Abu Hamid,1994.,Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
-- Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, Michael H. Hart (Terjemahan H.Mahbub Djunaidi), 1978, PT.Dunia Pustaka Jaya.
-- Strategi Pembangunan Daerah, Nurman, 2015, Rajawali Pres. Jakarta.
Informan
-- Wawancara dengan K.H.Abdul Muin Yusuf di Benteng. (1997)
-- Wawancara dengan Mr.Dr. Andi Zainal Abidin Farid di Makassar (1997)
-- Wawancara dengan Prof.A. Muis di Makassar (1997)
-- Wawancara dengan Drs. Muhammad Salim di Makassar (1997)
-- Wawancara dengan Prof.Dr. H.Abu Hamid di Makassar (1997)
-- Wawancara dengan Andi Rusdi Dadda di Rappang (2018)
Komentar
Posting Komentar