MISTERI COPPO BENDERANA ARUNGNGE LA NONI (Refleksi Kepahlawanan Yang Tidak Terbukukan)



         Selain keris Lamba Tellunna Sidenreng, ada satu lagi pusaka di Kabupaten Sidrap yang hilang atau dihilangkan, yaitu Coppo Bendarana Arungnge La Noni, yang oleh orang tua dulu menyebut namanya 'Coppo Bendera'e". Padahal cerita kesaktiannya begitu melegenda, terutama dilingkaran pergaulan pemerhati budaya daerah, utamanya peminat senjata pusaka polo bessi.
          Keberadaan pusaka Coppo Bendera'e seakan tenggelam ditelan waktu yang berlalu begitu saja tanpa pernah ada yang hirau padanya. Padahal kehadirannya menjadi saksi sejarah akan arti sebuah harga diri dalam balutan siri na pacce yang bergelora di Bumi Nene' Mallomo.
        Betapa tidak, keberadaan Coppo Benderae mejadi simbol dari tekad yang bulat, semangat yang menyala-menyala dan perlawanan yang berpantang menyerah, menyerang, menerjang dan bertahan menghadang musuh yang tidak beradab.


                               Foto Contoh Badik 

           Maka dikisahkan jika pasukan perang atau pammusuna Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang, pada masa pemerintahan La Sadapotto selaku Addatuang Sidenreng merangkap Arung Rappang (1905......), mempunyai bendera perang berwarnah hijau dan pada coppona atau bagian ujung atasnya ditancapkan sebilah badik bertuah. Konon badik tersebut terbuat dari ana'oling dan amat tajam dan mamoso  atau berbisah, sehingga walaupun hanya tergores sedikit maka sekucur tubuh jadi biru kehitaman  dan bisa memyebabkan kematian.
          Bendera perang Kerajaan Sidenreng dan Rappang itu selalu mengiringi atau berdampingan dengan Arungnge La Noni, sebagai Panglima Perang Kerajaan Sidengreng dan Rappang, pada setiap berangkat dimedan laga, terutama melawan tentara Belanda yang sudah masuk menjajah di wilayah "kerajaan kembar" tersebut pada penghujung abad ke-18 atau pada masa pemerintahan Addatuang  La Panguriseng.
          Menurut cerita orang tua dulu di Tellang-Tellang atau kampung kelahiran Arungnge La Noni, bendara pasukan perang Arung La Noni itu selain menjadi panji-panji kerajaan juga menjadi senjata yang digunakan untuk membunuh lawan atau musuh saat berperang. Selanjutnya diceritakan bila pembawa bendera perang tersebut sekaligus menjadi pallapi aro atau pelindung terdepan Arungngen La Noni. Sedangkan pallapi aro lainnya tersebut La Pallontang, Wa' Mappe, Wa' Sigerra dan lainnya.
            Adapun cerita kegagahberanian Arungnge La Noni masih kesohor melagenda hingga saat ini, khususnya masyarakat Rappang dan sekitarnya. Dia terpaksa bersikap tegas di hadapan Addatuang La Sadapotto untuk tidak bekerjasama dengan Belanda sebagaimana dilakukan ayahandanya atau Addatuang La Panguriseng, walaupun harus berkalang tanah. Lebbi moi matewe naiya siwolongpolongnge sibawa Balandae (lebih baik mati berkalang tanah dari pada bekerja sama dengan penjajah). 
          Tapi sebagaimana nasib pemberani lainnya, Arungnge La Noni dapat juga dilumpuhkan karena taktik licik Belanda memanfaatkan mata-mata dari kalangan pribumi. Arung La Noni tewas setelah bertahan habis-habisan pada suatu pertempuran sengit dalam Tahun 1906 M, dan mayatnya dibawah lari ke Kampung Malimpung daerah Pinrang dan dimakamkan disana untuk mengamankannya dari berbuatan keji penjajah. Pusaranya kemudian dipindahkan ke Pemakaman Jara'e sebelah Timur Masjid Raya  Rappang.
         Gugurnya Panglima Perang Arungnge La Noni, sangat melemahkan posisi Addatuang La Sadapotto saat itu, hingga akhirnya bersedia menandatangani surat pernyataan pendek (Korte Verklaring) yang menandai penyerahan Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang kepada Pemerintah Hindia Belanda. Dan momen penyerahan ini pulalah yang menjadi episode penyatuan Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang yang selanjutnya sampai sekarang ini disebut Kabupaten Sidenreng Rappang atau disingkat Sidrap.
         Benang merah perjuangan dan gugurnya Arungnge La Noni sebagai Panglima Perang Kerajaan dengan terbentuknya Kabupaten Sidrap, memang nampaknya tak pernah terhubungkan dengan penulisan sejarah keberadaan Kabupaten Sidrap versi penggabungan dua kerajaan tersebut.
          Akan tetapi kamatian Arung La Noni, telah turut serta menghilangkan jejak mahkota perlawan Kerajaan Sidenreng dan Rappang yaitu badik Coppo Benderae yang menghiasi ujung bendera kebesaran kerajaan.
            Keduanya (Keris Lamba Tellunna Sidenreng dan Badik Coppo Banderana Arungnge La Noni) menjadil simbol kebesaran kerajaan dan pusaka yang tak ternilai harganya, karena menjadi bagian dari sejarah keberadaan Kabupaten Sidrap. Dan keduanya hilang, entah dimana, tanpa pernah terdengar upaya pemerintah daerah mencarinya.(Andi Damis).



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka