PEMBERONTAKAN KERIS LAMBA TELLU
Cerita leluhur kali ini bertajuk Pemberontakan Keris Lamba Tellu, merupakan lanjutan dari cerita sebelumnya tentang Gajang Ritappi yang mengisahkan persahabatan dua raja yang begitu sitelli namun harus berakhir dengan tragedi berdarah disebabkan hasutan fitnah bernuansa cemburu pihak ketiga.
Konon sepeninggal Raja La Mappesona dalam drama pemenggalan kepalanya yang dilakukannya sendiri demi membuktikan kesetiaannya pada sahabatnya La Tenriampa Raja Lompotasi, maka kepemimpinan Kerajaan Bolagalung selanjutnya diteruskan oleh anak cucunya secara priodik dari generasi ke generasi sesudahnya.
Begitupula hubungan persaudaraan antara Kerajaan Bolagalung dengan Kerajaan Lompotasi, tetap terjaga berlanjut sebagai Gajang Ritappi dengan ikrar sehidup semati dalam suka dan duka. Sedangkan kemenangan yang diraih La Mappesona ketika tampil menjadi Panglima Perang Kerajaan Lompotasi melawan Kerajaan Tanabulu dalam perang besar terbuka beberapa waktu lalu, telah mengantarkan Kerajaan Lompotasi menjadi salah satu kerajaan besar yang tampil cukup disegani oleh kerajaan lainnya.
Namun waktu pula yang merubah keadaan. Hubungan persahabatan yang sudah terjalin mesra selama sekian periode pergantian raja pada Kerajaan Bolagalung dan Lompotasi, seketika harus porak-poranda karena sikap keras La Temmassenge begitu menduduki tahta Kerajaan Bolagalung sebagai raja menggantikan ayahandanya La Makkawali. "Tidak akan pernah ada lagi Gajang Ritappi atau persekutuan dengan Kerajaan Lompotasi. Saya menyatakan menolak menjalani langkah bodoh yang pernah dilakoni pendahulu saya, sehingga rela difitnah dan mengorbankan diri sendiri demi mempertahankan komitmen persaudaraan yang penuh pengkhianatan" tegas La Temmassenge.
Sebagai buyut atau generasi keempat dari Raja La Mappesona, kelihatan La Temmassenge banyak menyamai sifat dan prilaku kakeknya, bahkan disebutkan bila mirip dengannya. Hanya saja tidak mewarisi kesetiaannya pada Kerajaan Lompotasi،, bahkan menentang segala bentuk perjanjian persekutuan yang sebelumnya terawat dengan baik. Selanjutnya untuk membalaskan dendamnya atas perlakuan kerajaan Lompotasi kepada kakeknya atau La Mappesona, sehingga rela memenggal kepalanya sendiri demi arti sebuah persahabatan yag tidak adil, maka La Temmassenge memberontak dan menyatakan perang kepada Kerajaan Lompotasi.
Mendengar sepak terjang Raja Bolagalung La Temmassenge yang telah memutuskan persekutuan secara sepihak, bahkan memberontak dan mau melawan Lompotasi, membuat galau dan resah hati Raja Lompotasi La Tenrioki, sehingga iapun berusaha membujuk La Temmassenge agar tetap bersudi menjaga persaudaraan yang telah dibina pendahulunya. Namun La Temmassenge tak bergeming, bahkan utusan perdamaian Kerajaan Lompotasi diusir dan diburunya sampai perbatasan yang membuat La Tenrioki marah dan memerintahkan untuk menyerang Kerajaan Bolagalung.
Mengetahui rencana Raja Lompotasi La Tenrioki hendak menyerang Bolagalung, malahan membuat girang hati La Temmassenge, karena itu berarti kesempatan baginya membalaskan dendamnya pada Kerajaan Lompotasi yang telah menghianati persahabatan. Iapun mempersiapkan perlawanan dengan strategi jebakan pengepungan, termasuk taktik menghadang diperbatasan Kerajaan Lompotasi dan Kerajaan Samallangi sebelum mamasuki Kerajaan Bolagalung.
Adapun langkah strategis untuk memudahkan mendapatkan simpatik dan bantuan pasukan Kerajaan Samallangi guna menghadang serangan pasukan Kerajaan Lompotasi, terlebih dahulu La Temmassenge memperisteri keluarga dekat Raja Samallangi La Tenrisessa, sehingga iapun menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Samallangi. Selanjutnya La Temmassenge memperluas hubungan kekerabatan dengan kerajaan-kerajaan tetangga dan masih merupakan keluarga besar dari Kerajaan Samallangi.
Alhasil serangan Kerajaan Lompotasi dilakukan disaat persiapan perlawanan La Temmassenge sudah rampung, terlebih pada taktik penghadangan di perbatasan Kerajaan Samallangi berupa sungai besar. Selanjutnya peperanganpun berlangsung amat sengit dan mengakibatkan berjatuhan korban lebih banyak pada pasukan Lompotasi. Keris Lamba Tellu yang digunakan La Temmassenge mengamuk-meraung mengkocar-kacirkan barisan pasukan Lompotasi yang mencoba menyeberangi Sungai Samallangi sebagai tapal batas, tanpa satupun yang mampu menahannya.
Karena diantarai sungai yang cukup lebar, maka walaupun dalam jumlah besar dan dibantu pasukan dari kerajaan persekutuan lainnya, tetap saja Raja La Tenrioki mengalami kesulitan menembus pertahanan pasukan La Temmassenge yang diperkuat pasukan Kerajaan Samallangi beserta kerajaan tetangga lainnya.
Akhirnya pasukan Kerajaan Lompotasi berhasil dipukul mundur tanpa pernah menembus masuk di wilayah Kerajaan Bolagalung dengan membawa pulang kepedihan dan derita kekalahan. Kemudian setelah perang terbuka antara Bolagalung dengan Lompotasi ini berlangsung, maka tidak ada lagi hubungan persekutuan yang berkondisi Gajang Ritappi antara Bolagalung dengan Lompotasi.
Akan tetapi walaupun perang sudah berakhir, La Temmassenge memilih tetap tinggal menetap di Kerajaan Samallangi, disamping menemani isterinya disana, juga dimaksudkan tetap berjaga-jaga jangan sampai ada serangan susulan mendadak dari pasukan Kerajaan Lompotasi. Karena La Temmassenge berkaca dari pengalaman pada perang besar antara Lompotasi dengan Tanabulu tempo dulu, yang mana pada mulanya pasukan Lompotasi dapat dilumpuhkan oleh pasukan Tanabulu yang ditandai terbunuhnya Panglima Perang La Mallawa, namun karena ambisi Raja La Tenriampa membalas dendam sehingga dimintailah bantuannya Raja Bolagalung La Mappesona untuk diangkat menjadi Panglima Perang Lompotasi, untuk melanjutkan perang melawan Tanabulu dan perang itupun berhasil dimenangkannya. Akibatnya roda pemerintahan di Kerajaan Bolagalung dikendalikan oleh Putra Mahkota La Masagena dibantu Sulewatang Bolagalung.
Akan tetapi disebabkan kondisi paska perang melawan Kerajaan Lompotasi masih menyisakan ancaman perang susulan, maka termakan waktu lama baru La Temmassenge berkesempatan kembali ke Bolagalung. Oleh sebab itu setiba di Bolagalung dan menanyakan rencana perkawinan cucunya La Parissengi, dan dijawab oleh La Masagena jikalau perkawinan itu telah dilangsungkan beberapa waktu lalu, mengingat pihak perempuan tak bisa menunggu lama. Bukan main marahnya La Temmassenge mendengar jawaban anaknya La Masagena, apalagi ia mendapat kabar jikalau dalam perang melawan Lompotasi kemarinnya Kerajaan Wirittasi berpihak pada Raja Lompotasi La Tenrioki, maka iapun menyerang Kerajaan Wirittasi tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti, namun pasukan Wirittasi sempat melukai La Masagena dan mengakibatkan kematiannya. Akan tetapi kesalahpahaman ini dapat dipulihkan kemudian, sehingga hubungan kedua kerajaan berlangsung rukun kembali.
Kematian La Masagena membuat hati La Temmassenge sangat sedih karena telah kehilangan putra mahkotanya. Oleh karena itu ditunjuklah La Parissengi sebagai putra mahkota Kerajaan Bolagalung yang kelak menggantikan La Temmassenge sebagai Raja di Kerajaan Bolagalung. (Andi Damis).
Komentar
Posting Komentar