PERNIAGAAN TIDAK MERUGI
Dalam satu postingan di WA, Seorang anak kecil belajar berceramah didepan sedikit ibu-ibu. Mungkin keluarga dekatnya atau tetangganya, yang pasti satu diantaranya adalah ibunya sendiri. Anak kecil itu berdiri dengan yakin, melontarkan satu judul ceramah, yaitu “rugi”. Lalu dia mengeja isi cermahnya, dalam bahasa daerah yang amat kental, dengan menyebutkan sampel seenaknya, bahwa; nanti ada orang rugi di dunia dan di akhirat, yaitu petani yang sibuk di sawah tapi tidak mengaji, akan rugi. Guru yang sibuk mengajar tapi tidak mengaji, akan rugi. Kepala sekolah sibuk di kantor tapi tidak mengaji, akan rugi. Anak-anak yang tidak mengaji, akan rugi. Termasuk penceramah, dengan menunjuk dirinya, yang tidak mengaji, juga akan rugi. Lalu buru-buru menutup ceramahnya dengan mengucapkan salam, dan bersimpu malu, di pangkuan ibunya.
Anak kecil itu, pasti “membeo”, sebagaimana layaknya anak usia balita yang suka meniru-niru. Tapi itu lebik baik dari pada hanya tahunya meniru-niru yang norak. Dan apa yang diungkapkannya, memang benar. Karena kerugian akibat tidak mengaji itu, bagi umat Islam berlaku menyeluruh, pada semua orang. Setidak-tidaknya kerugian yang paling mendasar, bila orang tidak mengaji, bagaimana bisa dekat dengan kitab sucinya.
Di kampung saya, dulu, para orang tua sangat menekankan anaknya untuk mengaji, dan harus tamat baca Al-Qur’an, begitupula pergi shalat berjamaah di masjid, khususnya di waktu Magrib. Perlakuan yang cukup ketat dalam hal agama, khususnya doktrin harus tamat mengaji ini, menjadi sendi kehidupan masyarakat. Anjuran ini merupakan wasiat seorang ulama kharismatik bernama K.H.Abdul Muin Yusuf, “bahwa seorang anak yang dibekali pendidikan agama sejak kecilnya, maka walaupun dalam perjalanan hidupnya ada waktu kelihatan melakukan sedikit penyimpangan, pada saatnya juga akan kembali dijalan agama yang benar”.
Pergi mengaji, di kampung saya, biasanya dilakoni seusai dari sekolah tingkat dasar atau SD. Duduk bersila mengelilingi guru mengaji di atas bale-bale di bawah kolong rumah panggung. Untuk setiap anak mengaji biasanya dituntun membaca satu atau dua ayat, yang dibaca berulang-ulang, sampai hafal. Nanti guru mengajinya menilai, layak tidak berpindah ke ayat berikutnya. Kalau dinilai tidak layak, sanksinya masih mengulang ayat itu lagi besoknya. Bagi yang mengajinya cepat dan lancar, bisa segera berpindah bacaan ke ayat berikutnya, dan diberi keistimewaan dalapat berpindah bacaan dua sampai tiga kali. Keistimewaan berikutnya bagi yang bacaannya lancar, adalah dibebaskan dari kewajiban mengambil air di sumur dan mengisi gentong hingga penuh hari itu.
Tradisi mengaji duduk bersila, memang sudah amat langkah, saat ini. Sekarang, dengan metode pengajaran yang lebih epektif, membuat anak-anak lebih cepat memahami bacaan Al-Qur’an. Bahkan diajarkan hukum tajwid, tanda waqaf, dan lainnya. Sehingga dengan metode lebih epektif itu pula, banyak orang tua, malu-malu mengaji di depan anak-anaknya. Mungkin malu ditegur bacaannya.
Mentradisikan mengaji secara berjamaah di rumah bersama keluarga, sudah tentu lebih baik. Lagi pula lebih utama bila proses belajar mengajar agama itu dapat dilakoni di rumah, bersama keluarga. Sehingga belajar agama bersama keluarga menjadi penting dalam upaya menjaga diri dan keluarga dari api neraka.
Imam Bukhari meriwayatkan satu hadits dimana Nabi SAW. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya.”
BImam Muslim meriwayatkan satu hadits, bahwa Abi Umamah, ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda, “Bacalah olehmu Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat, bagi para pembacanya”.
Isteri Rasululullah SAW. Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda; “Seorang yang lancar membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata didalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut, maka baginya dua pahala”. Demikian hadits yang diriwayatkan Imam Muslim.
Allah SWT. berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Fathir, Ayat 29, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan dari sebagian reski yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak pernah merugi”.
Ternyata anak kecil itu, tidak hanya belajar ceramah, tapi belajar pula mengingatkan kita agar tidak menjadi orang merugi dalam kehidupan dunia yang sementara ini, terlebih pada kehidupan akhirat kelak, selama-lamanya. (Andi Damis)
Komentar
Posting Komentar