PESONA AYAM KETAWA (Kebanggaan Sidrap yang terabaikan)




Oleh  Andi Damis

          Oni manu masengerengnge adalah ungkapan yang begitu melagenda di tengah-tengah masyarakat Bugis, yang mana menunjukkan bila dalam tradisi kehidupan orang Bugis amat atensif terhadap jenis hewan berkaki dua berbulu halus tersebut.
         Oni manu masengerengnge ini diartikan secara harfiah yaitu bunyi ayam yang mengalun indah mengesankan sehingga membuat hati yang mendengarnya menjadi baper atau terbawa perasaan karena terpesona. Sedangkan secara simbolik menunjukkan suasana romantisme di tengah keheningan alam  yang menentramkan jiwa.
          Membayangkan bunyi ayam yang mengalun indah di kampung halaman dengan hamparan sawah yang luas menghijau ditiup angin senja sepoi-sepoi diterpa cahaya sang surya yang hampir tenggelam di upuk barat, terkadang mengantarkan seseorang pada suatu kerinduan terhadap suasana tradisional yang begitu indah, alami, sejuk, bersahaja dan menyenangkan. Sehingga boleh jadi karena alasan itu munculnya istilah “back to natural”.

        Maka pesona oni manu masengerengnge dengan penomena Ayam Ketawa, yang saat ini menjadi buruan orang-orang kota, seakan-akan menegaskan bila kerinduan pada tradisi leluhur atau kampung halaman itu memang melanda generasi jaman milineal, walaupun hanya sebatas hiburan alternatif yang  menawarkan nilai-nilai budaya masa silam.
         Akan tetapi bukankah sejarah juga mengajarkan adanya pertalian antara masa lalu dan masa kini serta masa yang akan datang. Sebagaimana tradisi dipahami sebagai kebiasaan yang dilakukan secara turun-temurun dari nenek moyang. Sehingga tradisi yang telah membudaya akan menjadi sumber budi pekerti yang melekat pada pewaris tradisi tersebut, yang selalu menyertainya kemanapun mereka berada.
         Oleh karena itu dapat dimaklumi bila kemudian kecintaan pada bunyi Ayam Ketawa, senantiasa menghiasi kehidupan masyarakat suku Bugis begitupula keturunannya dimanapun mereka berada, sebagai warisan kecintaan yang diterima dari pada leluhurnya.


         Alhasil daya pikat Ayam Ketawa inipun berekstravert atau justru berkecenderungan digandrungi orang luar Sidrap melebihi kegandrungan ahli warisnya sendiri. Pada titik ini, hukum ekonomi telah mengisyaratkan jika permintaan pasar menjadi tinggi sedangkan persediaan terbatas, maka akan terjadi negosiasi harga pasar yang melonjak naik.
         Kegandrungan orang dari luar Sulsel terhadap pesona Ayam Ketawa saat ini, sudah tentu menjadi penomena sosial-ekonomi yang menarik dan unik ditengah-tengah masyarakat Kabupaten Sidrap sebagai daerah asal ayam yang bersuara merdu tersebut. Dimana fenomena ini telah mengantarkan daerah berpredikat lumbung pangan ini menjadi pusat perhatian para pecinta dan pemerhati Ayam Ketawa dari berbagai lapisan dan penjuru masyarakat di beberapa daerah bahkan di luar Pulau Sulawesi hingga ke luar negeri, seperti Malaysia.

         Pesona Ayam Ketawa ini juga semestinya menjadi peluang bagi Pemerintah Daerah Sidrap untuk lebih menggali dan memperkenalkan nilai-nilai budaya lainnya pada pentas promosi tingkat  nasional bahkan internasional. Begitupula anggota masyarakat Sidrap, seyogyanya memanfaatkan momentum kegemaran pada Ayam Ketawa ini, sebagai peluang menjadi matapencaharian yang berpotensi menambah pendapatan atau penghasilan keluarga.
        Warekkengngi cedde’e sappa’i maega’e ri lalenna hallala’e, begitu petuah leluhur orang Sidrap yang menasehatkan betapa pentingnya memanfaatkan dan memaksimalkan potensi diri yang dimiliki, sebelum memikirkan untuk merebut peluang yang lebih besar yang ada di luar.           Kata warekkengngi juga dapat dimaknai sebagai upaya menjaga dan memelihara potensi itu, walaupun hanya sedikit atau tidak seberapa, sehingga dapat lestari dan tidak sampai justru direbut oleh orang lain, sehingga tinggal menjadi kenangan dan pelipur lara.
        Saat ini saja seiring berjalannya waktu, sudah nampak terjadi jikalau pasaran Ayam Ketawa telah bergeser di luar daerah asalnya, bahkan cukup menggairahkan di Pulau Jawa. Mengingat bahwa para pecinta Ayam Ketawa dari sana memang sengaja mendatangkan jenis-jenis ayam ketawa yang berkualitas dari Sidrap, lalu mereka ternakkan di daerahnya.  Sehingga diantara mereka ada yang telah berhasil mengembangbiakkan Ayam Ketawa tersebut dan secara profesional melempar ke pasar hobi dengan harga lumayan bersaing.
         Tentu saja animo orang luar Sidrap untuk memelihara Ayam Ketawa sangat membanggakan, karena itu sekaligus akan membantu melestarikan populasi Ayam Ketawa. Namun juga cukup memprihatinkan disebabkan pangsa pasar bagi anggota masyarakat Sidrap, khususnya pemelihara Ayam Ketawa semakin sepi, karena di beberapa daerah di luar Sulawesi Selatan telah ikut meramaikan pasar Ayam Ketawa dengan kualitas bersaing dari hasil peternakan yang mereka lakukan sendiri di daerahnya masing-masing.
       Oleh karena itu menjadi penting untuk senantiasa menjaga dan mempertahankan agar Bumi Nene’ Mallomo tetap sebagai  sentral pemeliharaan Ayam Ketawa, yang bernilai budaya dan ekonomis. 
Raihlah kesempatan itu ketika datang menghampirimu, kalau tidak maka orang lain yang akan meraihnya”, demikian wejangan Bupati Sidrap pertama Andy Sapada Mappangile. (Andi Damis, pemerhati budaya leluhur)***



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka