REFLEKSI KEPEMIMPINAN DI BUMI NENE' MALLOMO (Bagian 1)
Siapa yang menabur prestai akan menuai dukungan. Setidak-tidaknya kata orang bijak ini sering melegitimasi keberadaan seorang pemimpin yang banyak memperoleh pujian dan penghargaan sebagai hasil dari upaya yang sungguh-sungguh yang telah dilakukannya sebagai pemangku kekuasaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memajukan wilayah pemerintahannya.
Tapi kerja selalu belum selesai. Masih banyak yang harus dilakukan. Pujian hanyalah peringatan untuk semakin bergiat dan bekerja keras. Karena yang memuji bisa jadi yang akan menggunjing. Oleh karena itu lengan baju tetap harus disingsingkan, mengingat hari esok yang lebih baik, menuntut pengelolaan pembangunan yang melebihi apa yang telah dilakukan dan dicapai hari ini.
Menyikapi keberhasilan seorang pemimpin, mengingatkan kita apa yang pernah dituturkan “Singa daratan Eropa” Napoleon Bonaparte: “I have succeeded in whatever I hahe undertaken I have wiled it. I heve never hesitated wich has given me an advantage over the rest of mankind” (Saya berhasil di semua pekerjaan yang saya lakukan karena saya menghendakinya. Saya tidak pernah ragu sehingga memberi saya keuntungan dibandingkan orang lain).
Oleh karena setiap pekerjaan yang dilakukan, apabila memang dikehendaki, akan menimbulkan rasa percaya diri dan rasa senang melakukannya. Selanjutnya rasa senang membuat kita bersungguh-sungguh melaksanakannya. Maka barang siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil, seperti kata pepatah berbahasa arab yang berkias “mantera” “man jadda wajada”. Sedangkan setiap keberhasilan akan mendapatkan pujian. Lalu pada banyak kejadian dan kesempatan pujian itupun menuai dukungan.
Dukungan bisa berarti doa dan harapan, namun dukungan politik adalah komitmen dan keberpihakan. Sebuah komitmen terbangun dari kepentingan yang merajuk kesepahaman untuk melangkah bersama melaksanakan perbaikan dan perubahan kearah arah yang lebih baik untuk kepentingan bersama
Dukungan juga terkaji sebagai penghormatan rakyat kepada pemerintahnya yang telah berhasil mengangkat nama baik daerah pada pentas penilain tertinggi dalam kerangka peningkatan taraf hidup masyarakatnya. Oleh karena itu penghormatan masyarakat yang dialamatkan kepada pemimpinnya yang berhasil sudah tentu amat layak dan pantas, sebagai wujud rasa terima kasih atas berbagai prestasi yang telah dicapainya.
Alhasil dukungan itupun merupakan manifestasi kecintaan dan respon pujian rakyat kepada pemimpinnya, yang telah mencurahkan perhatiannya yang begitu besar kepada segenap sendi-sendi kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin yang lebih mementingkan kepentingan rakyak dan daerahnya, dari pada kepentingan pribadinya dan golongannya.
Karena sesungguhnya pada diri kita, ada ruang untuk orang lain sebagai media interaksi secara internal dan eksternal. Oleh karena itu secara dialektika setiap orang akan bergantung kepada orang lain dan lingkungannya. Maka segala bentuk penilaian rakyat kepada pemimpinnya sangat ditentukan dari model interaksi sosial yang dilakoni pemimpin tersebut pada kesehariannya di tengah-tengah masyarakat dalam konteks budi pekerti atau akhlak.
Penomena kepemimpinan yang berhasil dengan sederet prestasi yang terukir didalamnya, sudah tentu mendapat respon dari berbagai kalangan, khususnya respon sejarah masa depan. Oleh sebab itu sangat menarik untuk merecoveri respon sejarah tersebut, guna memproyeksikan dimensi kepemimpinan di Bumi Nene’ Mallomo, dari berbagai sudut pandang sejarah leluhur, sehingga dapat dipetik hikmah atau pelajaran dari pesan yang terungkap didalamnya.
Rampeka’ kaluku nakurampeki golla, pesan leluhur ini bermakna bahwa sebuah kebaikan akan berbalas kebaikan pula. Bahwa pribadi yang baik dan mengesankan akan berbuah pada banyaknya keberpihakan. Bahwa kepemimpinan yang baik dan berpihak pada masyarakat, dapat dipastikan akan mendapat dukungan dan pujian serta penghormatan dari sejarah kehidupan bermasyarakat. Bahwa pemerintahan yang berhasil, akan mendapatkan anugerah atau penghargaan dari prestasi-prestasi yang akan bernilai monumental sepanjang masa.
Hanya dengan bermasyarakatlah hidup manusia akan berkembang biak, kata filsuf Yunani kuno Aristoteles, tanpa kepemimpinan yang kuat dan mencerahkan maka suatu bangsa atau masyarakat akan kacau balau.
“Tapi kita harus berjuang terus-menerus untuk mencapai kesempurnaan yang paling mulia dan tujuan yang paling luhur, karena rahasia keberhasilan dan kebahagiaan hanya terletak pada cara berpikir yang benar”, ungkap Sayed Mujtaba Musawi Lari,
Ungkapan tersebut itu mengingatkan kita pada sosok Leluhur Sidrap yang cukup penomenal dan lagendaris Nene’ Mallomo yang telah mengukir masa keemasan Kerajaan Sidenreng, pada masa Pemerintahan Addaowang IX Lapatiroi, di awal abad ke-16 Masehi, yang mana pesannya bermantera itu menjadi Motto Kabupaten Sidenreng Rappang, yakni: “Resopa Temmangingngi Malomo Naletei Pammase Dewata”, (Artinya; Hanya dengan bekerja keras yang tak mengenal lelah, akan mudah memperoleh rahmat keberhasilan dari Yang Maha Kuasa).
Selanjutnya, bila penomena Nene’ Mallomo sebagai tokoh paling berpengaruh dalam perjalanan keberadaan Kabupaten Sidrap, akan diungkap secara sepintas, maka setidak-tidaknya ada tiga dimensi pokok yang menjadi pelajaran bagi kita semua selaku Putra Daerah, yiatu; Dimensi Kesejarahan, Dimensi Kepemerintahan dan Dimensi Keilmuan.
Pada dimensi kesejarahan, berdasarkan penelusuran literatur yang sudah terbukukan secara ilmiah, dituturkan bahwa Nene’ Mallomo yang konon bernama Lapagala merupakan sosok berilmu dengan memiliki kecerdasan dan wawasan yang sangat luas, sehingga gelar Nene’ Mallomo menunjuk pada diri beliau yang senantiasa berkemampuan memecahkan permasalahan secara mudah dengan cepat dan tepat dalam bingkai kebijaksanaan dan keadilan.
Dalam lontara’ juga disebutkan, jikalau pada masa Nene’ Mallomo inipulah Agama Islam masuk di Kerajaan Sidenreng dan Rappang. Bahkan sebagian hasil penelitian menyebutkan bahwa Nene’ Mallomo sendiri yang datang ke Rappang dan Sidenreng untuk menyebarkan ajaran Agama Islam. Karena memang dari berbagai sumber rujukan tentang riwayat Nene’ Mallomo, begitupula referensi tentang Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang, tidak ada yang menceritakan asal-muasal Nene’ Mallomo, selain disebut sebagai “tau tompo”. Hanya ditemukan dalam lontara’ bahwa Raja Gowa Sultan Alauddin adalah orang yang membawa Agama Islam ke Kerajaan Rappang dalam Tahun1608 Masehi dan dilanjutkan pada Kerajaan Sidenreng dalam Tahun 1609 Masehi, yang didahului dengan peperangan dan penaklukan kedua kerajaan kembar tersebut. Masalahnya, apakah Nene’ Mallomo menjadi bagian dari perjalanan misi keislaman Sultan Alauddin???. Wallahu A'lam Bishawab, dan masih perlu penelitian lebih lanjut.
Pada dimensi kepemerintahan, diceritakan dalam lontara' bagaimana Nene’ Mallomo telah mengantarkan Pemerintahan Lapatiroi mencapai masa kejayaannya, yang ditandai dengan kemakmuran hidup dan kehidupan masyarakat. Keberhasilan Nene’ Mallomo membangun Kerajaan Sidenreng waktu itu, diabadikan dalam lontara' terkait rasa penasaran Puang Rimanggalatung (yang juga terkenal keahlian dan wawasannya yang luas dalam hal pemerintahan) dari Kerajaan Wajo, dalam bentuk dialog.
Makkadai Puang Rimanggalatung ri Nene’ Mallomo; “Agaro muwala appettuang bicara ri Sidenreng, namawasa pabbanuamu, namasennang peneddinna tomapparentamu, najaji wisesa’e ri kampongmu, nabbija olokkolomu, gangkanna mauni asewetteannami mupanobine jajito. Mappebaliwi Nene’ Mallomo Makkada; “Iya uwala’e appettung bicara, iyanaritu alempurengnge sibawa deceng kapangnge”. (Artinya; Maka bertanyalah Puang Rimanggalatung kepada Nene’ Mallomo; “Apa gerangan yang engkau jadikan pedoman (dasar hukum) dalam Pemerintahan Sidenreng, sehingga terlihat makmur dan sejahtera hidupnya rakyatmu, senantiasa bersuka-cita rajamu, begitupula tanam-tanamanmu bertumbuh subur, ternak-ternakmu berkembang biak, dan bahkan seandainya padi muda yang cocoknya hanya dibuat “wette”(sejenis kue bugis) yang engkau jadikan benih dan engkau semaikan, niscaya akan bertumbuh juga??? Nene’ Mallomo menjawab dengan singkat; “Adapun yang dijadikan pedoman (dasar hukum) di Kerajaan Sidenreng adalah kejujuran dan prasangka baik.
Penekanan Nene’ Mallomo pada pentingnya kejujuran dan prasangka baik dalam pengelolaan pemerintahan yang baik, terungkap pula dalam lontara' ketika beliau berpesan; “Tellu tau kupaseng (Arung Mangkau, Pabbicara, Suro’e), aja’ pura mucapa lempu’e arung mangkau. Malempuko mumadeceng bicara, mumagetteng. Apa riasengnge lempu, madeceng bicara lamperi sunge. Apa temmate lempu’e, temmaruttung lappa’e, teppettu mallompengnge, teppolo massellomo’e”. (Artinya; “Saya berpesan kepada tiga orang (Maharaja atau Kepala Pemerintahan, Pembantu Raja atau Pejabat Pemerintahan, Pegawai Kerajaan atau Pegawai Pemerintahan dan atau Para Aparatur), jangan sampai engkau meremehkan atau mengabaikan kejujuran itu. Berlaku jujurlah serta peliharalah tutur katamu, juga bersikap tegaslah dalam pengambilan keputusan. Sebab kejujuran dan keramahan itu akan memanjangkan usia (pemerintahan). Ketahuilah bahwa tak akan mati kejujuran, tak akan runtuh yang datar (kelapangan), tak akan putus yang kendur (mengalah), dan tak akan patah yang lentur (bijaksana).
Dari sisi penegakan hukum, Nene’ Mallomo telah berpesan; “Naiya ade’e temmakeana temmakeappo”, (Artinya; Hukum itu tidak mengenal anak dan cucu). Lalu diriwayatkan dalam lontara’, bagaimana Nene’ Mallomo mengeksekusi mati sendiri anak kandungnya, setelah terbukti “mengambil” kayu yang disandarkan orang lain tanpa meminta kepada pemiliknya, sehingga mengakibatkan terjadinya musibah kemarau di wilayah Kerajaan Sidenreng pada waktu itu.
Pada dimensi keilmuan, dengan apik lontara’ menceritakan kepintaran Nene’ Mallomo yang luar biasa. Penguasaan ilmunya begitu elok menyelesaikan setiap persoalan pemerintahan dan amat elegan memutuskan perkara kemasyarakatan secara profesional dan proporsional. Wawasannya yang luas menjangkau seluruh aspek ketatanegaraan dan memancarkan penegakan hukum yang berkeadilan.
Terpadunya intelektualitas dan religiusitas pada diri Nene’ Mallomo, memang akhirnya telah menjustifikasi keberadaanya sebagai figur negarawan sejati, yang tidak hanya terhormat di Kerajaan Sidenreng, tetapi juga dipanuti di kerajaan-kerajaan tetangga, serta menjadi tokoh penomenal dan melagenda hingga sekarang ini.
Pada dimensi keilmuan, sejarahpun telah mengajarkan betapa tinggi derajat orang yang berilmu, sebagaimana tingginya derajat Nene’ Mallomo di “mata sejarah”, dimana setiap ucapannya dibenarkan, pendapatnya diiyakan, perintahnya dipatuhi dan pesa-pesannya dipedomani. Oleh karena itu, warisan menjadi “to acca” atau orang yang berilmu pengetahuan ini, menjadi penting dibudayakan dalam kehidupan masyarakat Sidenreng Rappang, sehingga daerah berjuluk “lumbung pangan” ini dapat mengantisipasi setiap perkembangan yang terjadi dalam era globalisasi saat ini.
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam konteks pembangunan sumber daya manusia pembangunan daerah, merupakan persyaratan utama memasuki era komputerisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi yang semakin canggih dan berbasis internet saat ini. Oleh karena itu langkah pemerintah daerah mengimplementasikan atau penerapan E-Government di Kabupaten Sidrap, dapat dipastikan sebagai langkah cerdas (“to acca”) guna memperbaiki kinerja pengelolaan pemerintahannya dalam rangka terwujudnya Good Governance di Kabupaten Sidenreng Rappang.
Selanjutnya untuk kesinambungan kepemimpinan Sidrap kedepannya, seyogyanya secara konsisten penuh komitmen, masyarakat Sidrap tetap melestarikan warisan daripada nilai-nilai pesan Nene’ Mallomo atas persyaratan untuk bisa dipilih atau diangkat sebagai pemimpin dalam pemerintahan, yang mana disebutkan dalam lontara', harus memiliki sifat-sifat, yaitu; Malempui namatette, Makurangngi cai’na, Magettengngi rijamang maggunae, Makurang pauwi ri ada temmaggunae, anrengnge topa Waranipi liuri ada-adanna. (Artinya; Jujur dan konsisten, Arif dan bijaksana, Berkomitmen pada pekerjaan, Mawas diri atau tidak mengada-ada, serta Amanah, berani dan bertanggungjawab).
Kelima sifat utama sebagai persyaratan “Memimpin Sidrap” tersebut, kemudian dilegitimasikan Nene’ Mallomo dalam piagam “ADE MAPPURAONRONA SIDENRENG, iyanaritu; Ade puraonro’e, Wari rialitutui, Janci ripiasseri, Rapang ripannennungeng, Agama ritanreri maberre”. (Terjemahannya, Ade puraonroe, artinya adat yang tetap utuh atau mengutuhkan nilai-nilai khas yang telah mengakar dan menjadi ciri dan karakter masyarakat dan daerah Sidrap, Wari rialitutui, artinya keputusan harus dipatuhi dan dilaksanakan serta dipertanggungjawabkan. Janci ripiasseri, artinya setiap janji atau perjanjian atau kesepakatan harus dipegang erat secara konsisten dan dipenuhi apa adanya. Rapang ripannennungeng, artinya suatu keputusan yang pernah diberlakukan untuk suatu persoalan, harus diberlakukan pula terhadap persoalan yang serupa, dalam hal ini dituntut konsistensi kebijakan pemerintah. Agama ritanreri maberre, artinya Agama harus diagungkan dalam bentuk penghormatan dan kepatuhan kepada ajaran-ajarannya sebagai pedoman dan petunjuk utama dalam kehidupan, serta yang paling prinsip harus menjadi menjadi petunjuk keselamatan hidup di dunia dan di akhirat kelak.
Kepemimpinan memang tidak berdiri sendiri. Selalu melibatkan berbagai pihak dan beberapa hal. Tapi keberhasilan seorang pemimpin, akan mengharumkan nama baik pemimpin tersebut. Bersambung (Andi Damis)
Referensi
-- Boeginesche Chrestomathie, D.B.F. Matthes, 1972. Gedrukt Tc Amsterdam BIJ.C.A,Spin & Zoon
-- Majalah Mimbar Indonesia, Edisi 7 (14 Pebruari 1953) dan Edisi 8 (21 Pebruari 1953).
-- Sejarah Kabupaten Daerah Tk.II Sidenreng Rappang, Dr.Mukhlis Paini, dkk, 1985 Universitas Hasanuddin.
-- Dibawah Bendera Revolusi, Ir.Sukarno, Jilid Pertama, Cetakan Kedua, 1963.
-- Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar Dalam Sejarah, 1990, Prof. Dr. Mattulada, Hasanuddin University Press, Ujung Pandang.
-- Syekh Yusuf, Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang, 1994. Prof.Dr.Abu Hamid,Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
-- Silasa, Kumpulan Petuah Bugis, A.Hasan Machmud, 1994, Bhakti Centra Baru.
-- Andi Cammi Sang Pembela Kemerdekaan, Andi Damis Dadda, 1985, Yatusi, Sidrap
-- I Lagaligo, R.A.Kern (Terjemahan ; La Side dan Sigmun M.D.), 1993 Gajah Mada University Press.
-- Oesman Balo Mengabdi Proklamasi, Harun Rasyid Djibe, 2001, Bhakti Centra Baru, Makassar.
-- Menumpas Penyakit Hati, Sayed Mujtaba Musawi Lari, 2006, Lentera, Jakarta.
-- Administrasi Publik Untuk Pelayanan Publik, Prof.Dr.Dedy Mulyadi, M.Si., dkk, 2016, Alfabeta, Bandung.
-- Dokumentasi Pemda Sidrap.
Komentar
Posting Komentar