Goresan pena : ROMANSA PESTA PANEN



Oleh : Andi Damis

Dendangnge dendangnge nakko puraki mengngala
Ala ri dendang to mappadendang
Mappadendang makkacaping makkelong-kelong
Makkelong andi daeng
Tomarillau ri puang maraja’e  
Natopada salama 

           Penggalan lirik lagu mappadendang diatas sungguh terdengar indah bila dinyanyikan dara cantik bugis Sidrap bersuara merdu dan manja pada setiap acara pesta panen yang diselenggarakan pada masa lalu.
         Acara pesta panen di Kabupaten Sidrap, merupakan tradisi leluhur sebagai bentuk rasa syukur atas reski yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa berupa hasil panen sebagai kebutuhan pokok dalam kehidupan.

Tari kreasi menghiasai acara Pesta Panen

         Pesta panen secara proporsional biasanya berisi acara  mappadendang, makkacaping, mattojang dan makkelong-kelong, serta maccera arajang. Adapun para pemain atau pelaku pengisi acara pesta panen  diwajibkan berpakaian adat  bugis, yaitu stelan mappassapu bagi laki-laki dan stelan mabbaju tokko bagi perempuan. Sedangkan sarana hiburan biasanya terdiri dari; satu buah palungeng atau lesung berserta sepuluh alu (alat penumbuk padi), satu tiang ayunan yang tinggi, dan satu group kecapi. Untuk lokasi biasanya dipilih tempat terbuka, seperti pada lahan sawah yang sudah dipanen, atau di lapangan. Kalau dulu pada masa pemerintahan kerajaan, pesta panen diselenggarakan di alun-alun istana atau soraja’e.

Sere-sere padendang

         Mappadendang adalah permainan beberapa orang yang menumbuk lesung dengan alu (biasanya dillakukan sepuluh orang yang mengelilingi lesung tersebut,  masing-masing; empat  orang anak dara/gadis pada sisi kiri dan empat orang anak dara/gadis pada sisi kanan ditambah dua orang anak laki-laki/perjaka pada ujung lesung sebelah menyebelah yang bertugas menumbuk lesung guna menimbulkan nada sela) secara bergantian dan beraturan sehingga menimbulkan efek nada berirama ceria, yang menjadi pengiring atraksi pasere atau penari latar penghias padendang.
   
Simponi kecapi
    
         Makkacaping adalah permainan alat musik tradisional bugis yaitu kacapi yang mempunyai dua senar, yang biasanya mengiringi lagu yang didendangkan  atau biasa juga melakukan atraksi intro (getti-getti lampana) dengan alunan musik mempesona.
          Makkelong-kelong adalah bernyanyi dengan lagu-lagu berirama ceria dan menghibur.
         Mattojang adalah bermain ayunan pada tiang ayunan yang tinggi serta menggunakan tali ayunan yang ditarik dua orang sebelah-menyebelah. Permainan ini sangat menarik bila orang yang diayun memiliki kelenturan tubuh dan mampu memainkan tali ayunan  sehingga menimbulkan bunyi gesekan yang terdengar riuh.

Mattojang

          Maccera arajang adalah ritual pembersihan benda-benda pusaka istana  yang menjadi simbol-simbol kerajaan dan disimpan dan terawat secara turun-temurun.

Maccera arajang.

          Manre Sipulung merupakan puncak kemeriahan pesta panen, dimana semua orang terlibat dalam acara makan bersama dengan sajian beraneka macam menu ala bugis dengan menu pokoknya nasi dengan lauk berupa daging kerbau yang sengaja dipotong untuk acara pesta panen tersebut.

Manre Sipulung

          Dan banyak lagi sajian permainan rakyat lainnya yang mengihiasi pesta panen seperti maggasing, mallongga, mammenca, mappabbitte manu, dan sebaginya.
          Alhasil pesta panen ini begitu menawan, mempesona dan amat menghibur. Tidak hanya membuat suasana hati menjadi bergembira, tapi juga merasakan suka-cita dalam keramaian acara yang memang sengaja dikemas sebagai arena hiburan rakyat yang penuh cule-cule dan sorak-sorai penonton.

Tarian pada acara mappadendang

          Oleh karena itu pesta panen merupakan simbol kesyukuran atau pujian-pujian pada Tuhan Yang Maha Pemberi Reski atas limpahan rahmat yang telah diturunkan melalui hasil panen yang diperoleh. Juga menjadi bentuk apresiasi dari kerja keras bercocok tanam atau bertani yang telah dilakukan beberapa bulan dengan segala bentuk aktifitas melelahkan didalamnya, demi untuk  menghidupi keluarga dan menopang kebutuhan pangan nasional.
          Akhirnya pesta panenpun menjadi suatu pesona yang menghiasi tradisi leluhur, yang sedemikian esklusif  ketika ditampilkan di tengah-tengah budaya elektronik dalam era milenial yang kian hari semakin menyuburkan pola hidup individualistik dan mengikis nilai-nilai kesejatian diri sebagai makhluk sosial dalam pola kehidupan humanistik.
          Oleh sebab itu siapapun diantara kita yang masih berkesempatan hadir di masa transisi dan masih dapat menyaksikan penyelenggaraan pesta panen sebagai tradisi leluhur dalam suasana pedesaan yang begitu bersahaja, maka  dapat dipastikan akan merasakan getaran kenangan terindah (golden memories) dari acara yang menampilkan aneka budaya khas  daerah  tersebut sebagai warisan dari moyang orang bugis.
         Sudah tentu banyak pula orang mengenang pesta panen dengan segala kemeriahannya, sebagai momentum menapak tilas kehidupan leluhur yang begitu naïf, klasik, natural dan sungguh familiar namun elegan serta marak dengan simbol-simbol kehidupan dalam kesemestaan dari pemaknaan yang sarat dengan nilai keluhuran budi pekerti. 
          Walaupun tidak sedikit juga yang mengingatnya sebatas acara serimonial paska panen yang mempertontonkan pentas tradisi leluhur dengan berbagai suguhan macam-macam cule-cule tradisi turunan masa lalu sebagai hiburan yang menawarkan suasana gembira dan suka-cita bagi segenap lapisan masyarakat. Karena memang pada acara pesta panen ini, biasanya para anggota masyarakat masing-masing terlibat dan melibatkan diri untuk dapat ambil bagian didalam permainannya. Tidak hanya orang tua yang terlihat asyik menikmati setiap sajian acara, tapi juga para muda-mudi nampak berkesempatan untuk saling melirik dan menarik simpatik, sementara anak-anak kecil lebih senangnya bermain layanan atau berkejar-kejaran sambil sekali-kali berebutan didepan makanan tradisional yang tersedia dengan berbagai ragamnya.
          Tapi tradisi leluhur memang selalu menyisakan kisah yang selalu indah untuk dikenang, walaupun boleh jadi zaman telah melupakannya. 

(Andi Damis, pemerhati budaya leluhur)

Hamparan sawah bagai permadani hijau

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka