SARO MASE



Oleh Andi Damis

         Dalam tradisi orang bugis, khususnya di Bumi Nene' Mallomo dikenal istilah "saro mase" yang dapat ditafsirkan berbeda masing-masing orang. Namun secara umum kata atau ungkapan saro mase bermaksud menggambarkan suatu upaya kebaikan yang dilakoni dengan penuh kasih agar orang lain merasa senang. 
         Biasa juga disebut massaro mase dengan maksud yang sama diatas, tapi  penekanannya lebih menjurus pada suatu jenis perbuatan. 
         Dalam pergaulan sehari-hari saat ini, ungkapan saro mase sering dimaksudkan sebagai upaya mendapatkan perhatian atau memperoleh simpatik. Walaupun pengertian itu belum sepadan dengan permakluman kata saro mase menurut literasi leluhur Bugis, disebabkan pemaknaannya tidak sekedar mendapatkannya, justru yang diutamakan bagaimana cara mendapatkannya.Sama halnya ketika dikatakan; tidak penting siapa kamu, tapi bagaimana kamu.
         Saro mase merupakan apresiasi dari nilai-nilai ketentraman hati setelah menerima respon ketulusan dari luar dirinya. Menjadi daya dorong yang menggerakkan batinnya untuk bisa membalaskan kebaikan yang memberatkan perasaannya. Sehingga merekapun ikhlas melakukan apa adanya demi mengharmonisasi  keseimbangan hubungan timbal-balik dengan orang lain.
         Walaupun saro mase dalam wujud untuk mendapatkan perhatian atau simpatik, tidaklah menjadi haram dimaksudkan seperti itu. Oleh karena perbendaharaan arti kata khususnya suatu ungkapan dalam bahasa bugis, memamg lebih banyak menawarkan adaptasi lingkungannya. Bahkan terkadang dibiarkan menjadi liar dalam memaknai sesuatu perbuatan. Tapi tidak berarti harus diartikan seenaknya, sehingga melanggar batas etika dan moral.
         Saro mase juga merupakan kearifan lokal, yang senantiasa memberikan respon baik pada setiap perlakuan baik yang diterimanya. Berpihak pada kebenaran dan kejujuran. Welas asih pada sesama atau berbalas kasih pada saudara، sahabat dan kawan. Memberi dukungan pada setiap kebijakan yang berpihak pada orang banyak. Merekapun melakoni setiap upaya pendukungan dengan tulus ikhlas tanpa pernah memahami arti pujian. Bahkan kepasrahannya pada Tuhan telah menghalangi langkahnya hanya untuk mendapatkan simpatik dan empati dari orang lain.
         Alhasil saro mase menggambarkan sikap hidup orang Bugis yang dengan bijak senantiasa memahami  arti suatu perhatian dan pemberian dalam pengertian "ningseng alena" atau "macca matane". 
         Sehingga beranjak dari doktrin budaya leluhur "nisseng alena" atau "tahu diri" inilah sebenarnya sumber utama dari perilaku saro mase. Sedangkan "macca matane" menjadi implementasi atau pengejawantahan dari tindakan dari kearifan tahu diri atau nisseng alena tersebut.
         Perilaku saro mase pada akhirnya menjadi penting selalu dikedepankan dalam era pergaulan modern saat ini, yang dipenuhi intrik dan kepentingan. Setidak-tidaknya menjadi perisai diri dari sifat individualis, egois dan lupa kacang akan kulitnya serta maunya menang sendiri. Akibatnya seringkali ketidakpedulian itu menelantarkan peran yang menorehkan tinta emas dalam hidupnya.
          Begitu bijak leluhur orang Bugis bertutur perlunya saling menghargai sebagai sesama manusia dengan ungkapan bahasa saro mase sebagaimana tergambarkan dalam pesan rampeka kaluku nakurampeki golla (karena kamu memujiku segurih kelapa, akupun memujimu semanis gula.

 (Andi Damis, adalah pemerhati budaya leluhur)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka