SEJARAH BERDIRINYA PERSERIKATAN MUHAMMADIYAH DI RAPPANG (SIDRAP)



Oleh  Andi Damis Dadda


          Menulis sejarah artinya menuturkan peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau. Peristiwa itu tentunya menjadi akibat dari perbuatan manusia pada suatu waktu dan pada suatu tempat. Selanjutnya sejarah juga dimaksudkan sebagai cerita tentang kejadian yang pernah dilakukan manusia disuatu masa yang telah berlalu dan berbias pada masa sekarang serta berdaya pantul untuk masa akan datang. 
          Antara waktu lalu dan waktu sekarang serta waktu yang akan datang, merupakan suatu rangkaian kejadian yang tak dapat dipisahkan. Sehingga sejarahpun menjadi peristiwa yang terjadi disuatu waktu dan diperhubungkan dengan waktu-waktu sesudahnya, sebagaimana pertalian hubungan generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, Mattulada (1990) menyebutkan, bahwa penyusunan suatu rencana pada masa kini untuk dapat dilaksanakan pada hari esok, tidak mempunyai arti apabila mengabaikan ramuan-ramuan pengalaman masa yang kemarin.
          Memahami masa lalu serta dapat menghayati masa kini, lanjut Mattulada, berarti kita memiliki salah satu landasan untuk merencanakan masa datang yang mempertemukan masa lalu dan masa kini yang menjangkau harapan-harapan masa depan. Betapa besar arti sejarah dalam pembangunan, meliputi banyak hal, terutama dalam menentukan arah dan tujuan pembangunan yang akan dicapai.  Suatu hambatan yang selalu terasa dalam kesejarahan baik ditingkat lokal maupun di tingkat nasional ialah kekurangan dalam kepustakaan. Khususnya di Sulawesi Selatan kita sangat rasakan kekurangan ini.
          Beranjak dari pemikiran Mattulada tersebut, sehingga cerita tentang awal masuknya orgainisasi Muammadiyah di Rappang dalam rangka membina keagamaan  masyarakat, diungkapkan melalui penulisan ini guna menambah referensi yang suda ada. Setidaknya-tidaknya menjadi bahan kajian bagi yang berminat menekuninya lebih mendalam. Walaupun disadari sepenuhnya jikalau penulisan ini, sudah pasti memiliki keterbatasan didalam penyajiannya, mengingat bahwa disaat  ini, waktu juga yang telah merubah keadaan, dimana para pelaku pendiri Muhammadiyah di Rappang,  tertinggal hanya beberapa orang saja yang masih hidup, itupun dalam kondisi rentan terhadap gangguan memori. Sehingga penuturan cerita secara sistematis, hampir dipastikan tidak lagi mampu ditemukan. Akibatnya memang dibutuhkan kerja ekstra  hati-hati dalam merangkai penggalan-penggalan cerita dari berbagai sumber yang berhasil ditemui dan dianggap mengetahui peristiwa, atau karena mempunyai hubungan emosional dan  kedekatan kekeluargaan dengan para tokoh serta  pelaku pendiri.
          Alhasil cerita berdirinya Muhammadiyah di Rappang sebagai pusat pergerakan dapat tersajikan sebagaimana adanya dibawah ini, yang dituturkan dengan mencoba mengelaborasi penelusuran literatur dengan wawancara tokoh yang dipercaya sedikit memahami awal mula terbentuknya ormas Muhammadiyah di Kota Rappang.
          Sebagaimana diungkapkan Mukhlis Paeni (1985), bahwa pada dasarnya idealisme yang melatar belakangi untuk mengungkapkan sejarah lokal ini sebagai bahan pelengkap sejarah nasional lebih merupakan keterpukauan dari pada kesadaran akan realitas yang sesungguhnya dari suatu masyarakat. Disadari atau tidak hidup dan gerak manusia dikitari oleh realitas yang bersifat partikular, khusus dan bahkan unik. Oleh karena itu rumusan terpenting yang harus ditempatkan sebagai dasar bagi suatu penulisan sejarah lokal hendaknya bertolak dari realitas lokal itu sendiri. Dengan demikian suatu studi khusus yang baik, pasti akan memberikan bahan yang berharga bagi pengetahuan yang umum, disamping manfaat yang dapat disumbangkan bagi keperluan khusus lainnya.  Usaha demokratisasi penulisan sejarah dengan menempatkan realitas lokal pada dirinya sendiri diharapkan akan mampu memperdalam tentang diri  dan manusia lain atau dapat memberikan sesuatu yang berharga bagi sejarah nasional.
          Tetapi  sekali lagi bahwa catatan sejarah berdirinya Muhammadiyah di Rappang ini, sudah pasti  masih jauh dari apa yang dinamakan sempurna. Hanya saja diharapkan  kehadirannya di tengah-tengah generasi milinial sekarang dan yang akan datang, agar  dapat menjadi stimulasi dalam rangka mewarisi dan  melanjutkan semangat pendirian yang begitu heroik, pada medan laga pembangunan bangsa dan negara sekarang ini.
          Bahwa sejarah adalah tekateki yang memang selalu saja menarik  untuk dipecahkan,  maka mudah-mudahan pemaparan cerita apa adanya yang dihaturkan ini dapat juga menarik untuk meretas subyektifitas yang menyertai setiap peristiwa yang terjadi didalamnya. Walaupun disadari sepenuhnya bila  sejarah juga bukanlah ilmu pasti, sehingga ia tidaklah terbebas dari dugaan-dugaan dan unsur subyektif lainnya.
          
          Sebagaimana telah banyak disebutkan bahwa dulunya Rappang  menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan, sebagai Ibukota Kewedanan Sidenreng Rappang. Artinya Kota Rappang dulu merupakan Ibukota pertama Kabupaten Sidrap. Sama dengan Yogyakarta. Alhasil,  sebagai ibukota lama, Rappang menyimpan begitu banyak kenangan indah yang ditandai dengan berbagai predikat atau penyebutan yang pernah disandangnya. 
           Disebut sebagai Kota Sejuk, yang dulu ditunjukkan banyaknya pohon pelindung memenuhi pinggir jalan pusat kota, begitupula dalam  pekarangan rumah penduduk. Ditunjang letak geografis yang dikelilingi sungai sepanjang bagian timur-selatan-barat daya dan hutan pegunungan bagian utara. Sehingga amat  terasakan kesejukan walaupun diterpa panas terik pada siang hari.  
          Sebagai Kota Pendidikan, yang ditandakan dengan banyaknya institusi pendidikan klasik di dalamnya sejak dulu, khususnya pendidikan agama. Pada masa penjajahan, atau sebelum kemerdekaan RI, sudah ada Madrasah Ibtidaiyah (1928),  Diniah School (1932), Madrasah Tsanawiyah (1937) dipimpin Sayid Muhsin Alwi, Madrasah Muallimin yang dibuat untuk mencetak guru-guru dan mubaligh yang dipimpin Ghazali Syahlan lalu digantikan oleh Syamsuddin Razak. 
         Setelah proklamasi kemerdekaan (1945) maka semakin bertambah banyak sekolah didirikan diantaranya; Taman Kanak-Kanak (TK),  SD, SMP, SMA, SMEP, SMEA, SKKP, SPG,  SMA PGRI, SPMA, SUT, dan Perguruan Muhammadiyah mulai dari tingkat TK, Madrasah, Tsanawiyah, Aliyah, hingga perguruan tinggi yaitu Universitas Muhammadiyah Makassar Cabang Rappang.  Konon Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau populer dikenal Buya Hamka, juga pernah berkunjung di Kota Rappang (1932)  untuk menghadiri Konfrensi Daerah Muhammadiyah ke-7 di Rappang sekaligus menengok perguruan Muhammadiyah yang berkembang cukup pesat kala itu. 

 

                                                                        Buya Hamka

          Saya masih teringat, semasa duduk di bangku sekolah menengah pertama, bagaimana kami begitu mengagumi dan membanggakan Buya Hamka, sebagai sosok ulama dan pujangga yang karya-karyanya enak dibaca. Sehingga sebagian besar teman sekolah saya, waktu itu, pernah membaca buku roman karangan beliau yang paling populer saat itu; “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” dan “Di Bawah Lindungan Ka’bah”. Orang-orang tua kami di Rappang, dulu, juga sangat mengidolakan Buya Hamka, sebagai Tokoh Muhammadiyah yang kharismatik. Ceramanya adem dengan suara serak lembut. Terlebih lagi, banyak guru-guru yang mengajar di Rappang, berasal dari kampung halaman Buya Hamka, Minangkabau. Merekalah semua yang menggoreskan sejarah dan memperkuat barisan keanggotaan pesyarikatan di Kota Rappang dan sekitarnya.  Sehingga, sampai sekarang ini, Kota Rappang lebih dikenal sebagai basis Muhammadiyah.
          Sebagai Gudang Ulama, yang dibuktikan dengan banyaknya  ulama besar yang lahir, atau pernah bermukim dan atau ulama tersebut pernah berguru pada ulama besar di Kota ini, diantaranya; H.Ibrahim, Syekh Ismail bin Thalib, Syekh Ali Matar (pendiri Madrasah Aunurrafiq Rappang (1958) dan pernah jadi Imam Besar Masjid Raya Rappang, Syekh Jamal Padaelo, H. Muhammad Ali Yusuf, K.H. Ali Yafi,  K.H.Abdul Jabbar Assiri (Pesantren Gombara), K.H. Muhamad Naim Mustara, K.H. Abdul Muin Yusuf, dan banyak lagi lainnya, termasuk H. Abdurahman Shihab atau Ayahanda Prof. H.Qurais Syihab bersaudara. 


                                                            Masjid Raya Rappang (1978)

        Bahkan disebut sebagai Serambi Meka, yang diisyaratkan dengan budaya religius masyarakatnya dan maraknya wadah keagamaan yang dikelola ormas Muhammadiyah, NU, SI dll. 
          Dalam lontara’ diceritakan bahwa pada  masa pemerintahan La Pakolongi sebagai Arung Rappang ke-8, dalam Tahun 1017 M/1607M, Agama Islam memasuki Kerajaan Rappang yang dibawah oleh Raja Gowa Sultan Alauddin, yang didahului dengan peperangan. Dan La Pakolongi menjadi Raja Rappang pertama memeluk Agama Islam.
          Konon Raja Gowa Sultan Alauddin pernah menetap dan menjadikan Rappang sebagai basis penyebaran Agama Islam ke seluruh kerajaan tetangga sekitarnya, seperti Sidenreng, Soppeng, Wajo, Bone  dan lainnya.  


Sutus makam Arung Rappeng VIII La Pakolongi  di Benteng-Baranti Sidrap (Jasanya sangat besar mengislamkan masyarakat Rappang dalam Tahunn1607 M)

          Dengan masuknya Islam, memberikan pengaruh kuat terhadap perbendaharaan kebudayan masyarakat Rappang, seperti penggunaan kalender Qamariyah-Hijriyah, perkawinan sesuai syariat Islam, pemakaman jenasah, begitu pula pada acara-acara adat lainnya disesuaikan dengan ajaran Agama Islam, ditambah dengan perayaan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi, Isra Mi’raj, dan Nuzulul Qur’an. 
          Untuk lebih mendalami Agama Islam, banyak anak-anak muda Rappang, meninggalkan kampung halamannya, guna menimbah ilmu di daerah-daerah yang lebih dulu mengenal Islam, seperti berguru di Sumatera, bahkan sampai ke Mekkah. Sehingga dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya, mereka kembali ke kampung halamannya, mengajarkan agama Islam  secara menyeluruh meliputi segenap aspek kehidupan, kepada masyarakat.
          Pada mulanya, pengajaran agama Islam dilakukan dalam bentuk dakwah dan mengaji. Pengajaran membaca Al-Qur’an dilakoni dengan cara duduk bersilah mengelilingi guru mengaji, yang biasanya dilakukan di atas bale-bale di bawah kolong rumah panggung, atau sering juga dilakukan di teras depan rumah atau lego-lego. Berlanjut kemudian pembelajaran membaca Al-Qur’an dilakukan di masjid atau musallah dengan jumlah anak mengaji yang lebih banyak. 
          Melalui sistim mengaji di rumah, lalu berlanjut di masjid dan musallah, kemudian berkembang menjadi pendidikan sistim madrasah, yang biasa diistilahkan “bersekolah arab”, yang mana didalamnya diajarkan cara membaca Al-Qur’an yang benar, dan belajar bahasa arab untuk percakapan sehari-hari. 
          Para guru agama, yang telah menempu pendidikan di rantau, ternyata tidak saja kembali  mengajarkan sekian banyak ilmu keislaman yang telah didapatkannya di rantauan, tapi juga mengapdatasikan budaya masyarakat Islam di daerah mereka belajar, ke dalam budaya kampung halaman mereka. Mereka juga mengajak teman-teman seperguruan mereka, bahkan guru mereka, berkunjung ke Rappang, sehingga banyak diantaranya kemudian memilih tinggal menetap. Seperti Haji Abdur Rasyid bin Ali, walaupun beliau berasal dari Mandar Sulawesi Barat, namun keberadaannya di Rappang, justru menjadi cikal-bakal berdirinya wadah pendidikan klasikal di Kota Rappang. Banyak muridnya, kemudian menjadi ulama besar, dan tersebar di seluruh daerah Sulawesi Selatan, diantaranya;  K.H.Ahmad di Bone, K.H. Muhammad Ramli di Palopo, K.H.Muhammad Akib, K.H. Abdurrahman Thahir, dan H.Ibrahim Gurunna Andi. 
          H.Ibrahim Gurunna Andi, inilah yang pertama menggabungkan diri dalam gerakan pembaruan Muhammadiyah yang didirikan K.H.Ahmad Dahlan di Yogykarta pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H, bertepatan dengan tanggal 18 Nopember 2012. 


                                                       Pendiri Muhammadiyah K.H.Ahmad Dahlan

          Organisasi Persyarikatan Muhammadiyah masuk ke Rappang, melalui Makassar, sebagai pintu gerbang Sulawesi Selatan. Masuknya Muhammadiyah di Makassar,  diinisiasi seorang pedagang batik dari Surabaya, bernama Mansur Al-Yamani. Dan berkat bantuan K.H.Abdullah, yang pernah belajar di Makkah sekitar 10 tahun, akhirnya Organisasi Persyarikatan Muhammadiyah dapat didirikan di Makassar pada tanggal 30 Maret 1926, bertepatan dengan tanggal 15 Ramadhan 1346 H.
          Pada awal bulan Juli 1926, Wakil Pimpinan Pusat Muhammadiyah K.H.Yunus Anis,  sengaja berkunjung ke Makassar, guna melakukan pertemuan besar dengan anggota pengurus dan para simpatisan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, sekaligus menjelaskan tentang dasar dan tujuan berdirinya persyarikatan Muhammadiyah dengan gerakan pembaharuan yang diembannya. 
          Alhasil, pertemuan tersebut, mampu mengakselerasikan pengaruh Muhammadiyah ke segenap daerah, termasuk Kewedanan Sidenreng Rappang, yang pemerintahannya bepusat di Kota Rappang dalam Tahun 1928. Menurut Mukhlis Paini, dalam bukunya “Sejarah Kabupaten Daerah Tk.II Sidenreng Rappang”, ada  tiga tokoh yang menunjang perkembangan Muhammadiyah di Rappang, yaitu H.Ibrahim Gurunnna Andi, seorang ulama yang cukup berpengaruh di Rappang saat itu, dan H. Zaini seorang pengusaha terkemuka yang terkenal kedermawanannya di Rappang, serta H.Saleh Rewo ( lebih populer disebut P.Saleh Dewang) seorang  organisator dan tokoh pergerakan, yang kemudian meninggal saat menunaikan haji di Tanah Suci Mekah.


                                            M. Saleh Rewo (Insiator Pendirian Muhammadiyah di Rappang)
 
          Karena digerakkan oleh ketiga pemuka masyarakat Rappang tersebut, membuat kehadiran Muhammadiyah di Rappang, tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama, untuk dapat diterima  sebagian anggota masyarakat. Bahkan dalam perjalanan keberadaannya, segera dapat memberikan warna kehidupan masyarakat Rappang, melalui amal usaha yang dikelolanya, begitupula metode pendidikan dan dakwah yang dilakukannya. Seperti pemakaian kurikulum yang modern, penyampaian dakwah yang lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia atau tidak lagi terpola dengan bahasa daerah, dan pelaksanan shalat tarwih hanya delapan rakaat ditambah shalat witir tiga rakaat. Muhammadiyah pula mempelolopori pelaksanaan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha di tanah lapang.
           Bersamaan masuknya Muhammadiyah di Rappang pada Tahun 1928, didirikan pula Sekolah Muhammadiyah untuk jenjang Ibtidaiyah, yang dikelola oleh seorang guru dari Jawa bernama Abdul Majid. Tercatat sebagai murid pertama ialah K.H.Abdul Muin Yusuf, seorang ulama kharismatik yang melagenda di Rappang, disamping dikenal sebagai  pimpinan pondok pesantren Al-Urwatul Wutsqa Benteng, juga pernah memangku jabatan Qadi Sidrap pada masa pemerintahan kerajaan, serta pernah memimpin Masyumi dan Nahdlatul Ulama Sidrap, dan selanjutnya menjadi anggota DPRD Sidrap, kemudian sebagai  Ketua MUI Sulawesi Selatan. Pada Tahun 1931, Sekolah Muhammadiyah ini kemudian dipimpin Syekh Ali Mathar. 


K.H.Abdul Muin usuf

         Pada Tahun 1932, dibuka  “Diniah School”, yang dipimpin oleh Abdur Rauf, seorang guru dan ulama yang didatangkan dari Yogyakarta. Sedangkan pada Tahun 1937 M dibuka juga “Madrasah Tsanawiyah”, yang dipimpin oleh Sayid Muhsin Alwi, dan pada tahun itu pula untuk jenjang pendidikan dasar direformulasi menjadi “Ibtidaiyah”, dipimpin oleh H.Ibrahim Gurunna Andi.
          Selanjutnya “Madrasah Tsanawiyah” dikembangkan menjadi “Madrasah Muallimin” yakni sekolah untuk mencetak guru-guru dan muballigh, yang dipimpin oleh Ghazali Syahlan dan isterinya. Guru-gurunya didatangkan dari Sumatera Barat, termasuk Syamsuddin Razak asal Tapanuli dan bermarga Nasution. Kedua guru inilah yang memimpin sekolah Muallim itu sampai masa pendudukan Jepang.    Keduanya dikenal di Rappang, sebagai guru yang menguasai bahasa Arab, bahasa Inggeris dan bahasa Belanda.
           Syamsuddin Razak kemudian memperisterikan seorang gadis Rappang, dari muridnya sendiri. Setelah proklamsi kemerdekaan, beliau terjun dalam Kelaskaran Ganggawa Pimpinan Andi Cammi, dan menjadi salah seorang pemikir perjuangan gerilya melawan Belanda. Beliau kemudian hijrah ke Jakarta, dan pernah menjadi pejabat di Departemen Penerangan RI, disamping menjadi muballigh. Beliau menikmati masa tuanya sebagai veteran RI, dan meninggal di Jakarta Tahun 1983. Sedangkan Ghazasli Syahlan, setelah mengabdikan diri di Rappang, beliau menetap beberapa lama di Makassar, lalu hijrah ke Jakarta. Pada Tahun 1984, beliau diangkat sebagai Ketua Majeli Ulama Daerah Istimewa Jakarta Raya.
          Masa pendudukan Jepang, tahun 1942-1945, memang menjadi mimpi buruk bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah di Rappang, karena tidak diizinkan beroperasi atau ditutup. Maka sebagian kader Muhammadiyah, berpindah ke Makassar bahkan ke Pulau Jawa guna melanjutkan pendidikan, dan sebagian tetap bertahan di Rappang, ikut bergabung dalam keanggotan Kelaskaran Ganggawa, untuk berjuang melawan penjajah. Sehingga sejatinya dipermaklumkan  jikalau peran perserikatan Muhammadiyah di Kota Rappang, sebagai sentral perjuangan di Kabupaten Sidrap, sungguh mengesankan, karena tidak hanya bergiat dibidang da'wah dan pendidikan, tapi lebih jauh ikut terlibat secara fisik dalam pergerakan perjuangan melawan penjajahan, khususnya dalam rangka membela dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. 
           Keterlibatan para kader dan anggota Muhammadiyah di Rappang dalam medan laga atau pertempuran, sudah tentu didorong oleh keiinginan luhur guna membebaskan rakyat dari penindasan atau penjajahan yang tidak berprikemanusiaan. Dan tidak sedikit diantaranya yang mati syahid, yang rela berkorban meregang nyawa demi kemerdekaan dan tegaknya kalimat lailaaha illallaah di bumi pertiwi ini.
          Paska kemerdekan Indonesia, pada tahun 1948,  dibuka kembali “Madrasah Ibtidaiyah” kelas pagi dan sore. Kelas pagi belajar umum dan agama, dan sore hari belajar khusus agama sekaligus menampung anak-anak sekolah rakyat (SR) yang masuk pagi. Sekolah ini awal dibukanya, dipimpin M.Saad B, dan pada tahun 1952 dipimpin oleh H.Abdul Mannan Temmalegga.
          Pada Tahun 1960, didirikanlah Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Muhammadiyah Rappang, dipimpin oleh K.H.M.Naim Mustara. Selanjutnya pada tahun 1965 di buka Universitas Muhammadiyah Cabang Rappang, untuk Fakultas Pendidikan, yang menjadi cikal bakal berdirinya Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Rappang, yang didirikan pada tanggal 28 Pebruari 1985, yang semakin berkembang dengan membina tiga program studi yaitu  Pendidikan Bahasa dan Sastra (S1), Pendidikan Bahasa Inggris (S1), dan Teknologi Pendidikan (S1). Disusul kemudian, berdirinya Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Muhammadiyah Rappang, yang didirikan pada tanggal 17 April 2000,  yang juga berkembang dengan membina tiga program studi, yaitu; Ilmu Administrasi Negara (S1), Ilmu Pemerintahan (S1), dan Administrasi Publik (S2). Dan saya (Andi Damis Dadda, penulis sejarah ini) adalah salah seorang alumni STISIP Muhammadiyah Rappang Program Magister Administrasi Publik bergelar MAP.

          Bagaikan matahari, Organisasi Perserikatan Muhammadiyah di Rappang,  tak henti-hentinya memberikan sinarnya untuk kemajuan pendidikan di Rappang pada khususnya dan Kabupaten Sidrap pada umumnya, bahkan daerah sekitarnya. Sehingga ikhtiar pendirian Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang, disingkat UMS Rappang, sebagai fusi STKIP dengan STISIP Muhammadiyah Rappang, semakin menguatkan ekspestasi kita akan sinar “matahari” Muhammadiyah yang selalu menerangi kehidupan umat manusia, di bumi manapun mereka berada.
 
                                                                Kampus UMS Rappang

          Kini Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rapang telah beroperasi secara profesioanal dan amat  membanggakan serta menjadi universitas pertama yang didirikan di Bumi Nene' Mallomo. Dibawah kendali Rektor Dr.H.Jamaluddin Ahmad, MSi. keberadaannya mendapat sambutan menggembirakan dari berbagai kalangan dan diminati banyak calon mahasiswa, karena ternilai cukup kompetitif  dalam hal pengeloloan  pendidikan tinggi dan mutu tenaga pengajar, sehingga mendapat pujian dari berbagai pihak, khususnya angota perserikatan.


                                                 Rektor UMS Rappang Dr.H.Jamaluddin Ahmad, MSi

          Kembali kepada H.Ibrahim Gurunna Andi, belaiu tidak hanya merintis jalan berkembangnya Muhammadiyah di Rappang, tapi tak juga menjadi pendororong semangat perjuangan kelaskaran membela Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Bumi Nene’ Mallomo atau Kabupaten Sidrap. Beliau meninggal dunia pada tanggal 4 Ramadhan 1375 H, bertepatan dengan tanggal 13 Mei 1956 di Rappang. Kini namanya diabadikan pada sebuah jalan di Kota Rappang, bernama Jalan H.Ibrahim, berdekatan dengan Jalan Ali Mathar.
           Lalu kemudian, seiring berjalannya waktu, keberadaan perserikatan Muhammadiyah, dapat berkembang pesat dan menjalar merambah kesegenap pelosok Kabupaten Sidenreng Rappang. Bahkan gerak aktif berbagai kegiatan sosial dan sebaran kader serta peran aktif  anggotanya telah mewarnai kehidupan masyarakat daerah yang berjuluk lumbung pangan nasional hingga sekarang ini. 
          Adapun diantara ulama yang menjadi murid H. Ibrahim Gurunnda Andi, dapat disebutkan seperti: Syekh Ismail bin Thalib (asal Rappang, lalu menjadi ulama dan syek terkenal di Makkah), Syekh Ali Mathar (pendiri Madrasah Aunurrafiq di Rappang dan pernah menjadi Imam Besar Masjid Raya Rappang), K.H.Ali Yafi (pernah menjadi Wakil Ketua Pengurus Besar Syuriah NU, pernah menjadi anggota DPR/MPR RI di Jakarta), K.H.M.Sanusi Maggu (lahir pada tahun 1913 di Lise-Sidrap. Beliau termasuk murid paling lama berguru pada H.Ibrahim. Kemudian bersama Buya Hamka melanjutkan pendidikannya pada Kulliyatul Muballigin di Padang Panjang pada tahun 1938.

  *(Andi Damis Dadda, Alumni  STISIP Muhammadiyah Rappang, Magister Administrasi Publik, dari berbagai sumber)


Penulis foto bareng bersama Rektor UMS Rappang Dr.H.Jamaluddin Ahmad, Msi. dan teman2 seangkatan








Komentar

  1. Iniasiator pendirian Pergerakan Muhammadiyah Rappang Muh Saleh Rewo saya kenal baik ... Jika almarhum ayah saya bertandang kerumahnya saya selalu diikutkan .. pengikut sertaan saya rupanya adalah pembelajaran yang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, kalau P. Galib mengenal beliau, karena sejarah juga mencatat bila beliaulah yang mendampingi Bung Karno waktu datang ke Rappang dan memberikan pidato berapi-api di lapangan MURNI (Merdeka Untuk Rakyat Negeri Indonesia).

      Hapus
    2. H. IBRAHIN GURUNNA ANDI bapak kandung dari H. MUHAMMAD SYAIYADI IBRAHIM adalah kakek saya dari bapak Hadayullah syaiyadi
      H.Zaini buyut saya dari mama H.Munadirah beddu Mansur

      Hapus
  2. Terima kasih untuk semua yang telah hadir dipostingan ini. Semoga bermanfaat bagi banyak orang, khususnya dalam rangka memberi informasi kepada pembaca yang selama ini mencari tahu sejarah keberadaan perserikatan Muhammadiyah di Rappang.

    BalasHapus
  3. Kehadiran Muhammadiyah di Rappang, kemudian berkembang ke daerah lain adalah bukti sejarah. Rappang mrpkn tempat tumbuh dan berkembang nya gerakan tajdid, shg menjadi tempat menuntut ilmu yg baik. Akankah predikat itu, menjadi warisan yg terus terjaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Pak Dekan telah berkunjung di postingan ini. Dan sebagai tokoh muhammadiyah di Rappang saat ini, saya sangat mendukung dan memuji langkah-langkah Pak Dekan mengembangkan perserikatan yang kita cintai ini, terkhusus dalam pembinaan pendidikan.

      Hapus
  4. Saya baru memahami dan menyadari bahwa sentuhan Muhammadiyah rappang telah melahirkan banyak ulama nasional, bahkan beberapa nama yang disebut yang saya tahu hanya nama jalan ternyata merupakan tokoh dan pejuang Muhammadiyah di Rappang.

    BalasHapus
  5. Sehatki Pak Andi, tulisanta cukup merefleksi sebuah jejak sejarah gerakan Amar ma'ruf nahi mungkar di bumi Nene' Mallomo, salah satu karya history yang memiliki muatan edukasi untuk generasi kita. Teruski berkarya Kakanda.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka