OPTIMIS PADA DOA & HARAPAN
Oleh Andi Damis
Ketika di pagi hari sepasang rusa meninggalkan sarangnya, tentu harapannya dapat menemukan banyak makanan untuknnya hari itu. Begitupula ketika seorang pemburu menerobos seramnya hutan belantara, mengintai dan melepaskan tembakan pada seekor rusa, tentu harapannya, hasil buruan itu dapat dijualnya pada pedagang daging di pasar, lalu uangnya digunakan memenuhi kebutuhan keluarganya. Selanjutnya ketika pedagang itu menjual daging rusa pada pembelinya, tentu harapannya dapat mendapatkan keuntungan penjualannya, lalu keuntungan itu akan menambah modal dagangannya. Seterusnya si pembeli daging rusa, tentu berharap dapat menikmati daging rusa yang empuk sebagai hidangan istimewa sekeluarga hari itu.
Matarantai harapan itu, menggambarkan pentingnya adanya harapan. Memberikan semangat hidup di pagi hari. Memacu keberanian menghalau rintangan. Mendorong gairah meraih keberuntungan. Menambah hasrat menikmati kebahagiaan. Dan nilai-nilai positif bernuansa masa depan lainnya yang ditawarkan dengan adanya harapan. Karena pada harapan ada optimisme yang terbangun dari akal sehat. Ada prasangka baik yang terpancar dari kelurusan hati. Ada tujuan yang ingin dicapai sebagai masa depan.
Optimisme memungkinkan manusia melihat warna kehidupan dengan lebih indah, sehingga memampukannya melihat semua orang dalam cahaya dari kekuatan baru. Dengan optimisme, menurut Sayid Mujtaba Musawi Lari, penderitaan seseorang lenyap dan harapannya bertambah. Tak ada faktor yang mampu mengurangi besarnya permasalahan dalam kehidupan manusia sebagaimana optimisme. Cahaya optimisme bersinar dari jiwanya yang senang setiap masa.
Optimisme adalah keteguhan dan keyakinan serta kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri. Keberanian berdiri diatas kaki sendiri. Optimisme itu berpengharapan baik, yang selalu meyakini bila hal yang baik akan terjadi padanya. Oleh karena itu optimisme sebagai inti dari harapan, telah mengajarkan kepada kita untuk meyakini adanya kehidupan yang lebih baik di masa depan. Sebab harapan itu sendiri adalah masa depan, yang akan dicapai dengan sikap optimistik sebagai wujud prasangka baik kepada Tuhan atas pertolonganNya.
Maka prasangka baik sebagai inti optimisme, harus dibangun dengan rasa percaya dan cintah kasih serta penuh maaf. Karena memaafkan artinya mengerti segalanya. Budi pekerti yang luhur ditandai dengan gampangnya memaafkan dan meminta maaf. Tidak ada dendam pada prasangka baik, apalagi amarah. Bahkan prasangka baik, mampu menghalau kegelapan, yang merintangi kedamaian. Oleh sebab itu, Yusuf Qardhawi menasehatkan, dari pada mengutuk kegelapan, lebih baik nyalakan api terangi jalan. Nyala api kedamain adalah prasangka baik akan adannya harapan.
Sehingga selalu harus ada harapan, yang akan merenda hari esok lebih baik. Karena hari esoklah tujuan kehidupan hari ini. Hari esoklah masa depan yang akan diraih harapan sebagai tujuan. Sedangkan tujuan itu sendiri adalah titik akhir dari harapan. Maka biarkanlah waktu yang menemukan tujuannya. Karena waktu pula yang akan merubah keadaan. Merubah keadaan menjadi wujud harapan. Harapan yang merupakan ekspestasi, yang diyakini menjadi kenyataan di masa depan. Ekspestasi atau keyakinan, tentang berbagai hal yang seharusnya terjadi pada waktu yang akan datang, yang lebih baik. Ekspestasi dari keseluruhan keinginan, mimpi, atau cita-cita yang hendak diraih melalui tingkah laku dan tindakan nyata.
Sehingga selalu harus ada harapan, yang akan mengusir keragu-raguan. Menghalau kecemasan. Mencampakkan kesedihan. Menepikan kealpaan. Menepis perangai-perangai buruk yang selalu menawarkan kesesatan dan yang akan membelenggu keputusasaan serta ketidak berdayaan. Karena ketidakberdayaan pada hakekatnya adalah ketidakmampuan memahami harapan. Snider telah mengajarkan bahwa harapan itu adalah kemampuan merencanakan jalan keluar dalam upaya mencapai tujuan walaupun adanya rintangan, dan menjadikan motivasi sebagai suatu cara dalam mencapai tujuan. Arahkanlah tujuan itu kepada perangai mulia, kejarlah dia dengan penuh tekad, karena dorongan untuk memperolehnya akan mempersiapkan pikiran untuk menerimanya dan akhirnya menjangkaunya.
Sehingga selalu harus ada harapan, yang menjadi pelipur larah. Penuntun keteguhan. Pedoman kemampuan untuk bisa berhasil menggapai perangai mulia. Sayid Mujtaba Musawi Lari mengisyaratkan bahwa kita tidak boleh membiarkan hawa nafsu rendah mengubah manisnya kehidupan menjadi pahit, mendirikan tembok yang tak tampak yang menghalangi tujuan-tujuan mulia dan harapan untuk mencapai perangai tertinggi dan paling luhur. Perangai-perangai semacam itulah yang menuntun pikiran kita ke jalan yang benar, dan pada akhirnya akan mengantarkan manusia ketujuannya yang mulia.
Oleh karena itu, selalu harus ada harapan, agar bisa meramu kebersamaan. Menyatukan kekuatan. Memadukan tekad. Mengeratkan ikatan batin. Merajuk cintah kasih, dan rasa saling percaya untuk satu hasrat, hidup harmonis. Harmonis dalam kehormatan dan keselamatan. Karena cinta hanya bisa bertahan dalam hubungan respek timbal balik. Janganlah ragu memperkuat niat untuk mencapai tujuan dan harapan.
Oleh karena itu, kendati tersesat jalan. Kendati dipenuhi kegetiran, terseot-seot, tertatih-tatih, berliku-liku, bahkan “berdarah-darah”. Selalu harus ada harapan. Tetap yakin kalau ada hari esok yang lebih baik. Biarpun begitu banyak rintangan, halangan, godaan, dan tantangan. Selalu harus ada harapan. Karena harapan itulah milik kita yang paling berharga. Karena harapan itulah doa. Karena doa mempertemukan seorang hamba dengan Tuhannya. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menuturkan bahwa tidak ada satupun sebab yang lebih bermanfaat dan lebih mendekatkan pada tujuan melainkan doa. Karena pertolongan Tuhan itu sungguh dekat. “Dan Tuhanmu berfirman,”Berdoalah kamu kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan untukmu” (QS. Ghafir 60).
Akhirnya, semoga selalu ada harapan. Karena tulisan ini juga adalah sebuah harapan. (Andi Damis)
Komentar
Posting Komentar