Refleksi : KEKUATAN BERMIMPI




Oleh  Andi Damis

        Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang di langit, ujar Bung Karno. Mungkin karena bintang menjadi “pesona” tertinggi di jagad raya. Setidaknya Sang Proklamator ingin berpesan kepada kita, bila cita-cita itu memang harus tinggi dan boleh jadi  dibutuhkan waktu lama dan pengorbanan yang tidak sedikit untuk meraihnya.
       Mimpi bisa menjadi cita-cita ataupun menjadi sebuah angan. Bisa pula jadi khayalan serta bayangan, atau bisa saja menjadi visi. Kalau mimpi adalah cita-cita, sudah tentu menjadi suatu keinginan atau kehendak yang menawarkan sistem  serta daya upaya untuk menggapai tujuannya.             Cita-cita bersemayam dalam hati, dan bersinggungan dengan niat. Lalu akal yang menjadi sarana operasional hati mengelolanya di alam pikiran, menjadi sebuah ide atau gagasan. Pergerakan ide selanjutnya, adalah perjuangan untuk mewujudkan cita-cita.

        Karena cita-cita dalam bungkusan niat yang baik akan tertuntun oleh hikmah kebaikan yang terpancar dari nurani. Pada titik ini agama menekankan kebajikan, karena hanya dengan itu kehidupan bisa berarti atau bernilai. Artinya, bahwa hanya cita-cita yang baik dan diraih dengan cara yang baik, akan bermanfaat dengan baik pula. 
        “Maka janganlah pernah berhenti bermimpi”, pesan orang bijak. Never stop dreaming because the dream has power, kata orang sana, karena mimpi itu punya kekuatan. Memiliki energi untuk membentuk dirinya. Karena dengan bermimpi kita memelihara semangat hidup, yang mana pada gilirannya akan memotivasi potensi dasar diri yang bersumber dari jiwa yang terkendali kebajikan.
        Senantiasa harus ada harapan, yang menjadi fasilitas mewujudkan mimpi dengan kendali tiga kecerdasan yang tersedia, sebagai bekal kekhalifaan di bumi, yaitu; kecerdasan pikiran, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Dan yang paling utama, harus selalu berdoa dan berserah diri kepada yang Maha Memiliki dan Meliputi segalanya.
        Suatu mimpi haruslah diiringi perbuatan, begitupula usaha layaknya disertai ketekunan, kerja keras dan doa. Lalu berserah diri kepada Sang Khalik, sebagai  manipestasi  keimanan bila takdir memang dalam genggaman “TanganNya”. 
        Hanya orang yang punya mimpi yang punya masa depan. Hari-hari yang dilalui adalah langkah-langkah yang terencana menuju ketujuan mimpinya. Sedangkan waktu yang dilewati menjadi gerak perubahan membangun mimpi tersebut. Keyakinannya terjaga, karena terkawal pesan leluhur, “Namo mattaung mattimo minasa metta’e bolepi napajapa”. Biarpun termakan usia dan mengalami banyak keberatan hidup,  setiap mimpi yang senantiasa diupayakan, akan berwujud juga akhirnya.
         Bahwa keyakinan akan terwujudnya mimpi menjadi keharusan. Karena keragu-raguan adalah kebinasaan. Membayangkan kegagalan hanya memanjakan sikap pesimis dan mengabaikan akal sehat. Tapi sikap optimis akan menuntun kesungguhan melintasi jalan kesuksesan. Maka biarpun dunia ini tenggelam, tetaplah berkeyakinan kepada Tuhan. “Namo telleng linoe tellleang pesonaku ri masagalaE”, ucap leluhur.
         Ibarat pelayaran, sebuah mimpi mesti disandarkan pada komitmen atau janji kepada diri sendiri yang kuat. Bahwa ketika layar mimpi sudah terkembang, kemudi atau keyakinan sudah mantap, maka lebih baik tenggelam daripada surut langkah. Karena tak ada kata mundur bagi seorang petarung sejati.
         Berpantang mundur dari cita-cita, dalam balutan siri’ na pacce’, artinya menjaga harga diri dan memelihara rasa malu. Resiko tentu menghadang, tapi jangan menjadi penghalang, sehingga harus dihalau dengan keyakinan dan sikap bijaksana.
         Berusahalah meraih mimpi itu sampai titik akhir. Sebab di titik akhirlah biasanya dipastikan hasil perjuangan. Semangat tak kunjung padam adalah gambaran pejuang sejati. Segala bentuk rintangan hanyalah pelipur lara bagi seorang petarung. Oleh karena pantai mimpi baru dapat didarati setelah menyeberangi  lautan kehidupan yang sarat gelombang suka duka.
        Dinamika dan romantika kehidupan tak pelak lagi akan mempermainkan perjuangan dalam rangka meraih cita-cita atau mimpi. Namun demikian, kejujuran dan prasangka baik akan menepis keraguan dan segala bentuk provokasi.      Dibutuhkan kearifan dan kelapangan dada disaat melakoni pergulatan hidup, sebagaimana pentingnya pengendalian diri ketika kemenangan dan keberuntungan berpihak kepada kita.
        Kejujuran, dan berprasangka baik, menjadi kata kunci dari pada kebajikan. Jujur pada diri sendiri  dan terlebih  kepada semua orang, pada setiap keadaan, merupakan  warisan  yang pundamental dalam rangka menata rekam jejak kehidupan yang bernilai lebih. Karena kejujuran, orang bisa berlaku adil, bisa berkata benar dan bisa membangun mimpi. Karena prasangka baik membuat orang mempunyai kemampuan berpikiran secara logis dan berpandangan mulia.
         Maka tetaplah bermimpi, dan jujurlah dalam mimpi itu. Karena  ketidakjujuran  pada mimpi, menunjukkan bila hati tidak lurus. Oleh karena itu,  adanya keinginan untuk dapat meraih piala cinta, harus mengisi hati dengan kejujuran dan ketulusan. Karena hati yang lurus kata seorang pujangga adalah potret suasana batin yang indah dan berhias surgawi. Sabda Nabi SAW.: bahwa iman seseorang tidak akan lurus atau benar sebelum hatinya lurus. Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasadmu, dan tidak pula kepada bentukmu, akan tetapi Dia melihat kepada hati kamu.
        Tetaplah bermimpi. Dan mimpi itu adanya di hati. (Andi Damis, )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka