Pesan leluhur : LETTU' MEMENNI RIOLO TELLETTU'NA
Oleh Andi Damis Dadda
Palettu memenni alemu riolo tejjokkamu. (Sudah sampai sebelum berangkat).
Jauh sebelum munculnya metode perencanaan strategis analisa SWOT, leluhur orang orang bugis telah mentradisikan metode tersebut dengan mengimplementasikan ungkapapn "palettu memenni alemu riwettu tejjokkamu", yang mana dimaksudkan agar memikirkan segala sesuatunya yang bisa mendukung dan menghambat atau yang memberi peluang dan menjadi tantangan, sebelum melakukan sesuatu, utamanya bila barencana hendak bepergian ke suatu tempat dengan tujuan tertentu, seperti berdagang, menuntut ilmu, melamar pekerjaan, dan sebagainya.
Dalam hal hendak bepergian ke suatu tempat tujuan guna mencari karunia Tuhan tersebut, moyang orang Bugis memesankan kepada anak-cucunya agar selalu mengendalikan diri terutama dalam hal memperbaiki niat dan menguatkan keyakinan. Selanjutnya memikirkan atau menyusun rencana kegiatan dan langkah kerja serta pemecahan masalah yang kemungkinannya akan dihadapi.
Palettu memenni alemu, juga bermakna perlunya ketenangan bila hendak bepergian atau menuju kesuatu tempat tujuan. Karena dengan ketenangan jiwa dan pikiran, sehingga hati dapat menjadi jernih "melihat" bayangan diri kita berada di tempat yang akan dituju dengan berbagai aktifitas yang dikerjakan sebagaimana yang direncanakan.
Selanjutnya ungkapan palettu memenni alemu, juga bermakna pentingnya berserah diri pada Tuhan bila hendak bepergian atau menuju suatu keadaan yang diharapkan terwujudnya, dengan mengandalkan doa sebagai fasilitas kehidupan yang bebas hambatan.
Sehingga dengan demikian ungkapan palettu memenni alemu ini mengesankan perlu adanya analisis situasi dan kondisi sebelum melangkah, baik untuk rencana melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan, maupun untuk pergi ke suatu tempat tujuan tertentu. Sebagaimana halnya dengan analisa SWOT yang mengevaluasi perencanaan, maka penekanan pesan leluhur orang Bugis ini juga mengharuskan dilakukannya evaluasi rencana melalui pertimbangan akal sehat dan fasilitas yang mendukung serta kapasitas kemampuan melakukannya.
Demikian bernas petuah leluhur orang Bugis, yang sarat nilai keutamaan dalam makna kehidupan dengan segala dinamikanya, sehingga tetap relevan mereferensikan persoalan kekinian dari berbagai aspeknya. Bahkan pada banyak hal, petuah leluhur tersebut seakan menjadi solusi terbaik dalam memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi di abad penguasaan teknologi digital saat ini. Sebagai misal ungkapan "duami kuala sappo, unganna panasa'e na belo-belo kanuku'e", yang artinya ada dua kujadikan pagar hidupku, yaitu kejujuran (karena bunga pohon nangka itu bentuknya lurus dan dipersonifikasi sebagai sifat lurus atau jujur) dan prasangka baik (karena belo-belo kanuku itu disebut pacci atau paccing yang diibaratkan dengan sifat hati yang bersih atau selalu berprasangka baik). Maka disaat kejujuran dan perasangka baik itu terdegrasi dalam berbagai lini kehidupan, berakibat munculnya bermacam-macam prilaku negatif di tengah-tengah masyarakat, yang mana pada gilirannya akan memuncul pola kehidupan saling curiga dan menyebarnya fitnah. Untuk itu leluhur memberi solusi agar bisa berkehidupan yang harmonis dan bermartabat, yaitu dengan mengiplementasikan budaya jujur dan berprasangka baik dalam kehidupan bermasyarakat.
(Andi Damis, adalah pemerhati budaya leluhur)
Komentar
Posting Komentar