Refleksi : MAPPASITINAJA NA MAPPASIKUA



Oleh Andi Damis Dadda

          Keelokan kosa kata  bahasa bugis terletak pada tingkat kehalusan suatu ungkapan dengan makna yang begitu bersahaja.
          Mappasitinaja dan mappasikua menjadi salah satu ungkapan bahasa bugis yang dimaksud diatas. Dimana mappasitinaja dimaksudkan sebagai sifat yang senantiasa memposisikan diri pada kondisi yang sepatutnya, dalam artian membiasakan memantaskan keberadaan dirinya  pada setiap hal yang akan dilakoninya. Sedangkan mappasikua merupakan ungkapan yang menunjukkan suatu sifat yang senantiasa menerima kenyataan keberadaan dirinya apa adanya, sehingga selalu menikmati berbagai hal yang ada pada diirinya.
         Para orang tua dulu dalam budaya masyarakat bugis, khususnya di Bumi Nene' Mallomo, senantiasa memesankan kepada anak-cucunya supaya memiliki sifat mappasitinaja dan mappasikua. Karena kedua sifat ini dinilai akan mengantarkannya pada suatu kehidupan yang diliputi perasaan nyaman (ekkoko myamengnge monro) dan senantiasa merasa berkecukupan (sukkurukini engkae). Merasa nyaman karena hanya melakukan sesuatu sepatutnya dan merasa berkecukupan disebabkan selalu menikmati hari-hari apa adanya.
         Mappasitinija dan mappasikua juga menunjuk pada sikap konsisten menjalankan suatu pekerjaan secara profesional dan proporsional  serta merampungkannya secara konsekwen. Prosesi tingkah lakunya dalam mengerjakan sesuatu disandarkan pada konsistensi mengikuti aturan yang berlaku dan komitmen menyelesaikannya sebagaimana seharusnya.
          Mappasitinaja dan mappasikua merupakan refleksi dari sifat syukur dan sabar dengan konstruksi kepribadian yang optimis menjalani kehidupannya sebagai anugerah Tuhan. Oleh karena itu setiap harapan yang terbangun dari mimpinya menjadi obsesi masa depannya yang dipatronisasi dengan kepasrahannya pada kehendak Tuhan sebagai penentu mutlak dari segala sesuatunya. 
         Warekkengngi cedde'e sappa'i maegae ri lalenna hallala'e. Petuah leluhur orang Bugis yang berarti genggamlah yang sedikit dan carilah yang banyak secara halal ini, menjadi salah satu implementasi dari sikap mappasitinaja dan mappasikua tersebut. Dimana kata warekkengngi cedde'e dimaksudkan sebagai tindakan menerima apa adanya dengan sepenuh hati disertai rasa syukur walaupun itu sedikit, karena keyakinannya bahwa itulah pemberian terbaik dari Tuhan. Selanjutnya kata sappa'i maega'e ri lalenna hallala'e dimaksudkan sebagai perbuatan tetap berupaya mencari yang lebih banyak secara patut dan yang halal. Karena ada juga yang patut tapi tidak halal, sehingga dalam perbendaharaan petuah leluhur orang Bugis selalu menekankan unsur halalnya karena mengharapkan keberkahan dari Tuhan.
         Orang yang memiliki sifat dan sikap mampasitinaja dan mappasikua pada dirinya, maka tidak pernah lagi dirisaukan dengan munculnya permasalahan, dan tidak dibimbangkan oleh bujuk rayuan. Ketidakterpengaruhan pada berbagai urusan duniawi dengan segala bentuk dan ragamnya tersebut,  karena tersaring secara bijak pada potensi kepatutan yang dimiliki serta kesyukuran menikmati apa yang ada pada dirinya.
         Aga guna masara'e tenre'gi lesangenna anu pura ripototo'e. Petuah leluhur ini maksudnya untuk apa risau hati, karena kita tidak mungkin akan mampu menolak sesuatu yang memang sudah ditakdirkan kepada kita. Hidup juga hanya sementara, dan pada akhirnya akan kembali mempertanggungjawabkan segala bentuk kepemilikan dan perbuatan di dunia ini. (Andi Damis, adalah pemerhati budaya leluhur)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka