Refleksi : REBBA SIPATOKKONG (Konsep Persaudaraan Orang Bugis)



         Konsep persaudaraan dalam budaya Bugis terukir indah dalam ungkapan "rebba sipatokkong, mali siparappe, malilu sipakainge, maingepi mupaja", yang maksudnya saling meneguhkan, saling menyelamatkan, saling mengingatkan, hingga kesemuanya menjadi baik.
         Ungkapan penyemangat persatuan orang Bugis tersebut, merupakan warisan yang begitu luhur dari moyangnya sebagai nilai tradisi masyarakat dalam rangkatetap melestarikan sifat-sifat sipakamase, sipakatau dan sipakalebbi yang bermuara pada implementasi sikap senasib sepenanggungan.
         Konsep persaudaraan rebba sipatokkong merupakan pengejawantahan dari budipekerti luhur untuk senantiasa proaktif memberikan kepedulian kepada orang lain, terutama bila mendapatkan kesulitan atau kesusahan dalam kehidupannya, sehinga dapat terbantu penyelesainnya. Karena kepedulian yang dilakukan secara tulus dan ikhlas pada saudara kita, tidak hanya meringankan beban yang tengah dialaminya, tapi terkadang sebagai solusi terbaik keluar dari suatu permasalahan tersebut.
         Demikian halnya konsep mali siparappe, merupakan implementasi dari sikap berempati dalam memberikan pertolongan maksimal kepada orang lain, agar dapat terselamatkan dari derita kehidupan yang membebaninya. eKarena godaan kehidupan dunia terkadang menggiring seseorang pada kondisi yang amat dilematis.
         Selanjutnya dalam konsep malilu sipakainge, menegaskan pentingnya mengambil peran memberikan wejangan atau nasehat dengan cara yang bijak dan bersahaja kepada orang lain yang tengah dilanda kegalauan atau kerisauan, sehingga terombang-ambing oleh kehidupan, di tengah-tengah derasnya arus informasi yang melanda peradaban manusia di zaman modern saat ini.    Nasehat yang dimaksud sedapat mungkin memberinya kesadaran dan ketenangan dalam menyikapi permasalahan yang tengah dihadapinya.
         Hingga konsep maingepi mupaja, merupakan implementasi sikap kesungguhan dalam memberikan perhatian, kepedulian, bantuan atau pertolongan kepada orang lain, sehingga berwujud pada pemulihan atau perbaikan kondisi mereka. Karena sesuatu yang dilakukan secara sungguh-sungguh akan memperoleh keberhasilan. To Accana Sidrap, Nene' Mallomo mengingatkan, "resopa temmangingngi malomo naletei pammase dewata", yang menunjukkan bahwa apa saja kebaikan yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan mendapatkan berkah penyelesaian dan keberhasilan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
         Begitu elok konsep persaudaraan orang Bugis dimanapun mereka berada, karena selalu mengedepankan perhatian kepada saudaranya dalam konteks maperru (rasa sekandung) sebagai wujud doktrin budaya pada idi pada elo sipatuo-sipatokkong, sipatongkong-sipakainge atau sipatuo-sipodeceng. Mereka sejak dulu sangat menekankan pentingnya bersimbiosis-mutualistik dalam kehiidupan bermasyarakat dengan menerapkan pola assijingeng, assumpunglolongeng, ambalibolangeng dalam praktek manre sipulung, tudang sipulung dan sipulung-pulung. Sehingga setiap acara atau masalah dipikul bersama secara gotong-royong dalam napas kebersamaan dan persatuan serta persaudaraan. 
        Alhasil warisan kopsep persaudaraan orang Bugis yang bersahaja ini begitu mahal untuk ditinggalkan apalagi untuk dilupakan. Mengingat keberadaannya telah menjadi karakter personal yang senantiasa mencirikan keturunannya sebagai penerus nilai-nilai budaya leluhurnya. (Andi Damis)

Budaya Gotong Royong yang tetap terjaga

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka