Refleksi : SAPPO



         Pagar dalam bahasa bugis disebut sappo atau di Bumi Nene' Mallomo disebut juga palla. Fungsinya macam-macam, sebagai batas halaman, sebagai pelindung, sebagai penghalang pandangan dan sebagainya.
          Sebagai batas halaman, pagar menjadi penjelas hak kepemilikan atau ruang lingkup otoritas atas tanah sesuai ukuran sertipikat. Sedangkan sebagai pelindung, pagar menjadi penjamin rasa aman dari berbagai gangguan dari luar pekarangan semisal hewan liar atau aksi konyol orang gila dan sebagainya. Demikian halnya sebagai penghalang pandangan, pagar menjadi perisai suasana nyaman dari keleluasan orang mengintai kedalam halaman rumah.
         Dari berbagai fungsi sebagai manfaat pagar tersebut, sehingga sappo dalam budaya masyarakat Bugis dikiaskan sebagai bentuk penjagaan diri pada batas etika dan moral. Sebagaimana pesan leluhur dalam kalimat "dua kuala sappo unganna panasae na belo-belo kanukue, yang artinya ada dua kujadikan pagar yang menjaga diriku yakni; bunga nangka dan hiasan kuku. Dalam pemaknaan bahasa leluhur, bunga nangka itu bentuknya lurus sehingga dipersonifikasikan sebagai sifat yang lurus atau biasa disinonimkan sebagai kejujuran. Adapun hiasan kuku perempuan dipersonifikasikan dengan pacci atau paccing yang berarti kebersihan yang lebih dimaknai sebagai kebersihan hati. Selanjutnya kebersihan hati dimaksudkan sebagai niat baik yang terpancar pada prasangka baik.
         Sehingga dengan demikian pesan leluhur tersebut menyiratkan petuah untuk senantiasa memagari diri dengan sifat jujur dan prasangka baik. Karena kedua sifat mulia tersebut akan menjauhkan seseorang dari pada sikap buruk dalam kehidupannya, terutama dalam pergaulan sosialnya. Bahkan dengan menjadikan kejujuran dan prasangka baik sebagai pedoman hidupnya, maka akan membuat orang itu selalu tampil apa adanya serta mengerjakan sesuatu penuh percaya diri dan menyelesaikannya sebagaimana seharusnya.
         Begitu elok ungkapan dalam penuturan pesan leluhur orang Bugis dengan personifikasi bahasa yang sarat makna. Sebagaimana ungkapan sappo atau palla dalam arti kiasan menjaga diri dari perbuatan tercelah, karena selalu membatasi diri pada batas-batas pelanggaran dengan mengedepankan sifat jujur dan prasangka baik. (Andi Damis)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka