Refleksi : SOMPE (Tradisi Mencari Reski di Negeri Jiran)
Oleh Andi Damis
Dahulu sompereng atau pergi merantau pada umumnya ke negeri tetangga Malaysia atau Kalimantan Utara. Mereka mendiami daerah seperti Nunukan, Sandakan, Tawao, Laha Datu, Keke dan ditempat lainnya. Banyak pula memilih merantau di beberapa tempat di seluruh Nusantara, seperti ke Sumatera, Kalimantan, Jawa hingga ke Papua. Sebagian dari mereka berhasil pulang membawa penghasilan yang cukup lumayan guna meningkatkan kesejahteraan keluarganya, namun sebagian memilih tinggal dan menetap disana hingga menjadi warga masyarakat disana.
Kegai sanre lopi'e ekkositu taro sengereng, artinya dimana perahu dirapatkan disitu menyimpan kenangan. Ungkapan ini mengisyaratkan makna jika orang Bugis dalam melakoni kegemaran merantaunya senantiasa berusaha berbuat kebajikan yang dapat membuat orang kerkesan. Mereka selalu mendasari sepak terjangnya di rantauan atau di kampung orang pada doktrin budaya leluhur dengan terlebih dahulu mappatabe kepada penduduk setempat untuk mohon diperkenankan menginjakkan kaki disana dan menjalin kekerabatan sebagai sesama hambah Allah SWT. Selanjutnya mencari sialapadaroane atau induk semang yang dapat dijadikan referensi atau penunjuk guna lebih mengenal prilaku dan karakter atau budaya masyarakat setempat, agar dapat melakukan adaptasi atau menyesuaikan diri terhadapnya, guna menghindari benturan budaya dalam pergaulan sosial nantinya.
Setelah tahapan pengenalan di kampung rantauan dilakoni dengan mempedomani pesan moyangnya; dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, maka mulailah mereka melangkah mencari peluang kerja yang telah menjadi tujuan rantauanya yaitu mencari reski halal yang dapat memberinya penghasilan yang cukup serta diharapkan akan bisa mensejahterakan kehidupan keluarganya dikampung halaman yang ditinggalkannya.
Alhasil tidak sedikit diantara perantau Bugis memang berhasil di kampung rantauanya. Disamping dapat menjalankan usaha secara mandiri dengan omset cukup besar, juga mendapat kepercayaan masyarakat setempat untuk mengelola bidang kehidupan lainnya semisal menjadi pejabat pemerintahan daerah atau sebagai pemimpin organisasi sosial politik dan ormas yang ada disana.
Mewarisi sifat pakkareso atau pekerja keras, ulet dan berpantang menyerah, sudah tentu menjadikan para perantau Bugis cukup antisipatif merespon peluang kerja yang ada di rantauan, karena mereka yakin kerja apa saja yang penting halal dan dilakukan secara bersungguh-sungguh akan memudahkan turunNya berkah dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Pemberi Reski. Dimana tekad tersebut telah disematkan dalam hati mereka berdasarkan pesan budaya kerja Nene' Mallomo "Resopa temmangingngi malomo naletei pammase Dewata".
Demikian pula dalam mensosialisasikan dirinya dengan masyarakat pribumi dirantauan, mereka senantiasa berusaha mendekatkan diri agar bisa diterima hidup berdampingan secara damai, bahkan mereka berupaya meleburkan diri untuk hidup sipatuo sipatongkong dengan masyarakat setempat, sebagai manifestasi dari konsep kehidupan bermasyarakat yang diwarisi dari leluhurnya yaitu "rebba sipatongkong, mali siparappe, malilu sipakainge, maingepi mupaja", yang mana maksudnya saling meneguhkan, saling menyelamatkan, saling menasehati, hingga semuanya menjadi baik.
Dalam lontara' dengan elok diceritakan bila moyang orang Bugis memesankan pentingnya membawa bekal jikalau hendak pergi merantau. Adapun bekal yang dimaksud populer dengan istilah tiga ujung, yaitu; ujung lidah, ujung penis (alat kelamin pria), dan ujung badik. Bekal ujung lidah dimaksudkan sebagai kemampuan membawa diri di kampung rantauan dengan senantiasa bersikap sopan dan santun disertai tutur sapa yang lemah lembut bila menghadapi orang lain. Lalu tak kalah pentingnya adalah bersifat merendah dan senantiasa menghargai serta menghormati orang lain tersebut, apalagi sebagai penduduk asli kampung yang didatangi. Sedangkan bekal ujung penis (alat kelamin pria) dimaksudkan sebagai kemampuan melebur atau menyatukan diri dengan penduduk asli kampung rantauan dengan berupaya mengawini anak gadisnya, sehingga dengan sendirinya akan menjadi menantu orang disana atau telah menjadi bagian dari keluarga besar dikampung rantauan tersebut. Adapun bekal ujung badik dimaksudkan sebagai kemampuan mempertahankan diri dan menjaga kehormatan serta bertanggungjawan atas segala tindakan dan perbuatan yang telah diperbuat, dan tak kalah pentingnya adalah berkewajiban membela dan menjaga kehormatan kampung rantauan seperti kampung halaman sendiri.
Apabila ketiga bekal itu dapat diimplementasikan di kampung rantauan, maka dalam lontara' disebutkan bahwa mereka akan menjalani kehidupan yang aman dan berhasil di rantau manapun mereka berada. Karena ketiga bekal itu pada dasarnya mengisyaratkan prilaku sipakatau dan sipakalebbi, jalinan persaudaraan dan pelebaran rumpun keluarga, dan tekad membela dan menjaga kehormatan kampung rantauan. Dalam artian ketiga bekal tersebut merupakan refleksi sifat mulia dalam menjalin hubungan kekerabatan dan membina persatuan sebagai saudara serumpun.
Engkako ritu sompereng deceng munawa-nawa lise'pa mulisu, yang artinya engkau berangkat merantau dengan membawa harapan, maka janganlah pulang bila tidak membawa buah harapan tersebut. Begitulah pesan yang biasa diungkapkan keluarga yang ditinggalkan di kampung halaman, sebagai penyemangat bagi yang akan berangkat merantau. Ungkapan itu sekaligus mengisyaratkan agar setelah memperoleh penghasilan sesuai yang diharapkan, maka bersegerlah membawanya pulang menghidupi keluarga dan mengobati rindu yang lama menanti. Karena tidak sedikit dari perantau Bugis yang memilih tinggal menetap di rantauannya, bahkan keluarga yang sebelumnya ditinggal di kampung halaman kembali diboyongnya ke tempat rantauan.
Pura babbara sompekku, pura tangkisi golikku, ulebbirini tellengnge natowali'e, artinya sudah terkembang layarku, sudah terpasang kemudiku, lebih baik tenggelam dari pada kembali. Begitulah tekad dan prinsip perantau Bugis yang maksudnya sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai. Karena tidak ada kata mundur bagi seorang petarung sejati.(*)
(Andi Damis, adalah pemerhati budaya leluhur)
Komentar
Posting Komentar