Refleksi : LABUNI ESSOE



Oleh  Andi Damis


Labuni essoe

Turunni uddanie

Wettunnani massenge

ri tau mabelae............



              Penggalan lagu bugis diatas seakan mengisyaratkan  adanya hubungan kausal antara perasaan manusia dengan  penomena alam yang terjadi. Setidak-tidaknya hendak bercerita betapa hari bila mulai petang, tidak hanya menandai datangnya malam tapi juga membawa pesan  kasih pada hati yang merindu. Melantumkan simponi cinta  dalam alunan kemesraan yang sepi. Karena kerinduan adalah bisikan kesepian yang terbujuk hasrat ingin bertemu.

             Para orang tua dulu dalam budaya masyarakat bugis, sangat mewaspadai saat-saat terbenamnya matahari. Oleh karena itu mereka harus memastikan anak-cucunya tidak lagi berada di luar rumah. Menutup jendela dan pintu rumah. Dan menantikan shalat Magrib dengan memperbanyak berzikir atau mengingat Tuhan.

                Prosesi pergantian siang dan malam ini, memang menjadi suatu momentum perubahan waktu yang memiliki kesan tersendiri. Keberadaannya disebut senja dan ditandai dengan terbenamnya matahari di ufuk barat. Para pecinta pesona alam dan pujangga meyebut tergelincirnya matahari bila Sang Surya memasuki peraduaannya. Meyabelalekan kegelisahan malam agar bisa terlelap. Mengusir rindu yang terbelai hembusan angin malam.

Panorama senja sungguh menjadi pemandangan yang begitu indah, bagaikan lukisan alam yang berhias warnah  jingga dengan bias cahaya mentari  yang semakin meredup. Lalu secara perlahan pesona senja menjadi hitam dan semakin gelap sebagai pertanda bila hari sudah malam dan para penjaga kegelapanpun mendendangkan lagunya. Maka lenterapun dinyalakan agar malam tidak berlalu tanpa kasih yang tersulam.

                Senjapun tenggelam membawa rindu yang tak bertepi. Penggalan sajak ini sungguh meratapi keberadaan senja yang hanya mampu membuai rindu dan membawanya pergi, tanpa pernah menoleh betapa derita menyiksa batin orang yang tengah merindu. Ibarat pengembaraan, senja memang seringkali dipersonifikasi sebagai penghujun jalan yang tidak pernah mengisahkan akhir dari suatu harapan. Oleh karena itu keberadaan senja selalu menyisakan rasa penasaran akan kejelasan suatu hasrat yang terpendam pada mimpi-mimpi indah yang telah lama bersemayam di hati.

                Bagi orang bugis khususnya yang tinggal dirantau terutama yang telah berdiam di kota-kota besar, penomena labuni essoe atau bila hari sudah mulai petang, dapat dipastikan menjadi kenangan pada kampung halaman yang sarat dengan pemmali atau larangan. Menurut orang tua dulu, bila labuni essoe maka bertebaranlah para makhluk halus yang biasa menggangu manusia. Oleh sebab itu bila labuni essoe, lelehur orang bugis mappemmaliangngi atau melarang anak-cucunya berada di luar rumah, karena dikhawatirkan nantinya diganggu oleh mahluk halus tersebut sebagaimana cerita orang yang disembunyi kalimpau. Ataukah makhluk halus tersebut marasuki perasaan mereka yang duduk termenung sore hari  supaya jadi mengenang orang yang dicintainya namun pergi jauh merantau di negeri seberang, ataukah karena telah lama meninggal dunia, sehingga dilanda kerinduan yang begitu menyiksa jiwanya. Maka sebagai upaya menghindari resiko diperdaya makhluk halus tersebut, para orang tua dulu mengarahkan anak-cucunya memperbanyak mengingat Tuhan atau bersikir bila labuni essoe.

                Maka bertasbilah diwaktu pagi dan petang sambil memuji Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan menjadikan kamu khalifa di permukaan bumi ini. Kerena hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram. Lalu ketentraman hati menjadi kunci untuk bahagia, yang kemudiaan ditandai dengan kehidupan yang nampak adem dalam suasana yang tenang dan menyenangkan selalu.

                Alhasil, penomena kegalauan yang sering merisaukan di waktu senja, hanyalah kegundahan hati yang telah dirasuki oleh bisik-rayu setan, dengan memaksimalkan upayanya memalingkan hati manusia untuk mengingat Allah di saat Adzan Magrib segera berkumandang.

                Oleh karena itu biarkanlah senja berlalu, disebabkan malampun  akan menjadi indah bila diterpa sinar rembulan. 

(Andi Damis, pemerhati budaya leluhur)***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka