Barra bin Malik adalah seorang sahabat Anshar yang kurus dan bermata cekung. Ia masih saudara tua Anas bin Malik, sahabat sekaligus pelayan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang banyak meriwayatkan hadits-hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Barra bin Malik memiliki keberanian dan semangat juang sangat tinggi, kontras sekali dengan penampilan tubuhnya yang kurus kecil. Ia tidak takut kepada musuh apapun dan selalu merindukan untuk mati syahid. Karena itu ketika menjadi khalifah, Umar bin Khaththab pernah menulis surat pada wakil-wakilnya untuk tidak menjadikan Barra sebagai komandan pasukan, dikhawatirkan ia akan membawa pasukannya kepada kemusnahan, walau memang mati syahid, karena semangat jihadnya yang terlalu tinggi.
Pasukan yang dibentuk Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu untuk menumpas pasukan Nabi Palsu Musailamah al Kadzab di Yamamah, pertama kali dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal, tetapi dapat dipukul mundur pasukan Musailamah. Pasukan kedua yang dipimpin oleh Khalid bin Walid juga sempat kocar-kacir, sebelum akhirnya Khalid merubah strategi dengan mengelompokkan pasukan sesuai kabilah dan golongannya, Barra diserahi untuk memimpin kaum Anshar. Riwayat lainnya menyebutkan dipimpin oleh Tsabit bin Qais bin Syammas, yang tidak lain masih pamannya sendiri. Atau bisa jadi, Barra sebagai komandannya dan Tsabit sebagai pembawa panji dari kelompok Anshar.
Dengan strategi ini pasukan Musailamah dipukul mundur dan berlindung dalam bentengnya yang kokoh, pasukan muslim sempat kesulitan menembus benteng karena dikelilingi tembok yang tinggi dan pintu yang terkunci rapat, sementara itu panah-panah menghujani mereka dari atas. Barra mengambil inisiatif beresiko tinggi untuk menjebol kebuntuan tersebut. Di dekat pintu gerbang benteng, ia duduk di atas sebuah perisai dan berkata kepada pasukannya, "Lemparkanlah aku ke dalam benteng dengan perisai ini, aku akan syahid, atau aku akan membukakan pintu gerbang ini untuk kalian!"
Sepuluh orang memegang perisai tersebut kemudian melemparkan Barra ke atas benteng. Tubuhnya yang kurus kecil dengan mudah melampaui dinding benteng, dan dengan pedang terhunus ia jatuh dikumpulan pasukan musuh yang menjaga pintu gerbang. Dengan semangat tinggi Barra menyerang mereka dan setelah melumpuhkan sepuluh orang, ia berhasil membuka pintu gerbang benteng dan membuka jalan bagi pasukan muslim memasukinya.
Akhirnya Pasukan Musailamah dan Bani Hanifah dapat dikalahkan dan nabi palsu itu terbunuh oleh tombak Wahsyi bin Harb, tombak yang sama yang telah mengantarkan Hamzah kepada syahidnya di Perang Uhud. Sungguh suatu tebusan yang setimpal. Dalam pertempuran Yamamah ini, Barra berhasil membunuh seorang tokoh kepercayaan Musailamah yang dikenal sebagai Muhkam al Yamamah, atau Kaldai Yamamah, seorang lelaki tinggi besar dengan pedang berwarna putih. Atau mungkin juga mereka dua orang yang berbeda, yang keduanya dibunuh oleh Barra.
Ketika kembali ke kemahnya, Barra mengalami delapanpuluh lebih luka tusukan pedang dan anak panah. Namun dengan ijin Allah luka-luka itu akhirnya sembuh dalam waktu satu bulan.
11. Hilal Bin Umayyah Al Waqifi ra.
Suatu ketika Hilal bin Umayyah datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sambil mengadukan bahwa istrinya telah berzina dengan Syarik bin Syahma. Dengan tegas beliau bersabda, "Apakah kamu bisa mendatangkan saksi (sebanyak empat orang)? Jika tidak kamu mendapat Had (hukuman cambuk) di punggungmu!!"
Dengan rasa keberatan, Hilal berkata, "Wahai Rasulullah, apabila seseorang dari kami melihat seorang laki-laki di atas istrinya, haruskah mencari saksi?"
Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menegaskan bahwa begitulah yang diperintahkan oleh Allah, kemudian Hilal berkata, "Demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, sesungguhnya saya benar, dan Allah akan menurunkan sesuatu yang akan membebaskan punggungku dari Had…"
Tidak berapa lama berlalu, turunlah Jibril Alaihi Salam sambil membawa firman Allah surah an Nur ayat 6 - 9. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengirimkan utusan untuk mendatangkan Hilal dan istrinya. Beliau menjelaskan tentang ayat yang baru turun menyangkut mereka berdua. Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah mengetahui, salah seorang di antara kamu berdusta. Apakah ada di antara kalian yang akan bertobat…"
Hilal bersaksi dan bersumpah tentang kebenarannya dirinya sebanyak empat kali, dan sumpah ke lima bahwa laknat Allah akan turun kepadanya jika memang ia berdusta. Giliran istrinya yang berdiri dan bersumpah, tetapi ketika akan bersumpah yang ke lima kalinya, ia sempat ragu dan melambat sehingga orang-orang berfikir ia akan berubah fikiran dan bertobat. Tetapi kemudian ia meneruskan sumpahnya dan berkata, "Saya tidak membuka aib kaumku pada seluruh hari…"
Dengan adanya ketentuan tersebut, yakni bersumpah sampai lima kali, Hilal terbebas dari hukuman dera karena menuduh istrinya berzina tanpa empat saksi yang melihat perbuatannya. Begitupun dengan istrinya, dengan bersumpah sebanyak lima kali, ia juga terbebas dari hukuman rajam sampai mati walau mungkin ia benar-benar telah berzina. Dan urusannya akhirnya terserah kepada Allah, apakah Allah akan menurunkan laknatnya, sesuai dengan sumpah ke lima yang diucapkan, atau Allah akan membukakan jalan taubat lain bagi dirinya.
Setelah itu wanita tersebut pergi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam kemudian berkata, "Perhatikanlah istri Hilal, jika ia melahirkan anak yang bercelak kedua matanya, besar pantat dan kedua betisnya, maka anak itu adalah bagi Syarik bin Sahma (artinya, istri Hilal benar-benar berzina)."
Ternyata wanita tersebut melahirkan anak seperti yang digambarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan beliau bersabda, "Seandainya tidak karena sesuatu yang telah lewat dalam Kitabullah Ta'ala (yakni ketentuan sumpah sampai lima kali tersebut), niscaya ada urusan antara aku dan wanita tersebut (yakni, istri Hilal tersebut akan dihukum rajam)."
Setelah peristiwa tersebut, Hilal meminta ijin kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menjatuhkan talak (menceraikan) kepada istrinya, dan beliau membolehkannya.
Hilal bin Umayyah adalah salah satu dari tiga sahabat yang tertinggal dari perang Tabuk, yang mengakui dosa-dosanya. Taubatnya ditunda sampai 50 hari hingga Allah sendiri yang mengampuninya dengan surah Taubah ayat 117 - 118. Dua orang lainnya adalah, Ka'ab bin Malik dan Murarah bin Rabi'.
Setelah 40 hari diasingkan dari pergaulan kaum muslimin lainnya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan agar Hilal menjauhi istrinya (tetapi bukan menceraikannya). Istrinya ini, yang dinikahinya setelah menceraikan istri sebelumnya yang dituduhnya berzina, datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam meminta ijin beliau untuk tetap merawat Hilal karena ia sudah tua dan lemah, serta tidak memiliki pembantu. Beliau mengijinkannya tetapi dengan syarat tidak sampai "kumpul". Istrinya menjamin hal itu takkan terjadi, karena hari-hari Hilal sejak ketertinggalannya dalam perang Tabuk tersebut hanya dilalui dengan menangis dan penyesalan tiada henti.
12. Mush’ab Bin Umair ra.
Muballigh Pertama di Kota Madinah
Dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pada beberapa kelompok suku yang sedang melaksanakan haji, kebanyakan mengalami penolakan. Tetapi enam orang dari Suku Khazraj yang dipimpin oleh As'ad bin Zurarah dari Bani Najjar menerima ajakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dengan baik. Pada musim haji berikutnya, dua belas orang datang lagi dan berba'iat pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, tujuh orang di antaranya baru masuk silam. As'ad bin Zurarah yang juga memimpin rombongan ini meminta Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengirim seseorang yang mampu memberikan pengajaran dan memimpin dakwah di Madinah.
Pilihan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam jatuh pada Mush'ab bin Umair. Walaupun masih muda, pengalamannya di masa jahiliah dalam majelis-majelis dan kepandaiannya saat berguru pada Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tentunya menjadi pertimbangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk memilihnya dalam tugas mulia ini. Ia tinggal bersama As'ad bin Zararah.
Bersama As'ad, Mush’ab mendatangi berbagai kabilah, rumah-rumah dan mejelis-majelis untuk mengajak mereka memeluk Islam. Saat berdakwah pada kabilah Abdul Asyhal, ia sempat disergap oleh Usaid bin Hudlair, pemuka kabilah tersebut karena dianggap mengacau dan membuat anak buahnya menyeleweng dari agamanya Tetapi dengan kemampuan diplomasinya dan wajahnya yang teduh serta tenang, Mush’ab mampu meredam kemarahan Usaid, dan memaksanya untuk duduk mendengarkan.
Mush'ab pun membacakan ayat-ayat Qur'an dan menjelaskan risalah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dengan gaya bahasa yang halus penuh ketulusan, Mush'ab mampu menyentuh hati nurani Usaid yang terdalam, dan membawanya pada hidayah Allah untuk memeluk Islam, yang dalam beberapa jam kemudian disusul dengan keislaman Sa’ad bin Mu’adz, tokoh Bani Abdul Asyhal lainnya. Keislaman dua pemukanya ini dikiuti oleh hampir seluruh anggota kabilah tersebut.
Tersebarnya kabartentang keislaman Usaid bin Hudlair dan Sa’ad bin Mu’adz membuat tokoh-tokoh Madinah lainnya mencari tahu tentang agama baru ini. Beberapa pemuka kabilah di Madinah akhirnya memeluk Islam, antara lain Sa'ad bin Ubadah dan Amr bin Jamuh, dimana tokoh ini membuat pemusnahan banyak berhala yang selama ini dijadikan sesembahan.
Masyarakat Madinah pun makin banyak yang masuk Islam menyusul tokoh-tokohnya. Mereka berpendapat, "Kalau Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu? Marilah kita datang ke Mush'ab untuk menyatakan keislaman."
Syahidnya Mush'ab bin Umair
Pada Perang Uhud, Mush'ab bin Umair dipilih oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai pembawa bendera. Dengan strategi yang jitu dan pengaturan pasukan yang sempurna oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, pasukan Quraisy pun kocar-kacir berlarian meninggalkan harta benda di medan pertempuran. Tetapi ketidak-disiplinan sebagian besar dari 50 pasukan pemanah yang ditempatkan Nabi di atas bukit, membuat situasi berbalik. Hampir 40 orang turun untuk mengambil ghanimah dan membiarkan pertahanan dari bukit terbuka. Peringatan Abdullah bin Jubair, komandan pasukan pemanah untuk tetap tinggal di atas bukit diabaikan begitu saja.
Khalid bin Walid yang memimpin satu kelompok pasukan Qureisy melihat situasi ini, dan ia bergerak menaiki bukit. Sekitar sepuluh orang yang bertahan di atas bukit tak mampu menahan gempuran Khalid dan mereka syahid semua. Kemudian Khalid menggempur pasukan Islam di bawahnya, bahkan serangan-pun mengarah pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Mush'ab melihat keadaan bahaya yang mengancam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, ia bergerak cepat dengan bendera di tangan kiri yang diangkat tinggi, tangan kanan mengayun pedang dan mulutnya bergemuruh dengan takbir, mencoba membendung arus musuh yang mendatangi Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.
Tetapi kekuatan yang tidak berimbang mematahkan serangan Mush’ab, tangan kanannya ditebas Ibnu Qumai'ah hingga putus, Mush'ab hanya berkata, "Muhammad tidak lain hanya seorang Rasul, sebagaimana Rasul-rasul yang telah mendahuluinya."
Kemudian bendera dikepit dengan sisa lengan kanannya, dan tangan kirinya mengayun pedang menyerang musuh yang terus berdatangan. Ketika tangan kiri itu ditebas juga hingga putus dan bendera jatuh. Lagi-lagi Umair mengulang ucapannya, "Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rasul, sebagaimana Rasul-rasul yang telah mendahuluinya."
Namun demikian dengan kedua pangkal lengannya, Mush’ab masih berusaha menegakkannya bendera itu, sampai akhirnya sebuah tombak menusuk tubuhnya hingga patah, dan gugurlah Mush'ab sebagai syahid.
Setelah perang Uhud berakhir, Nabi berdiri di dekat jasad Mush'ab dengan mata berkaca. Sesosok tubuh yang masa mudanya dibalut dengan pakaian halus, mahal dan wangi, kini jasadnya hanya tertutup kain burdah yang begitu pendek, jika ditutup kepalanya, kakinya akan terbuka, jika ditutup kakinya, kepalanya yang terbuka. Maka Nabi bersabda, "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan tutupilah kakinya dengan rumput idzkir."
Islamnya Mush’ab Bin Umair
Masa remaja Mush'ab bin Umair adalah masa remaja yang paling diidamkan oleh umumnya remaja, hidup berlimpah kekayaan, tampan, cerdas, dimanjakan orang tua, diinginkan oleh banyak wanita dan dihargai oleh lingkungannya karena dari keluarga terpandang dan banyak memberikan solusi dalam majelis-majelis.
Namun semua kelebihan dan fasilitas yang dipunyainya jadi tak berarti ketika ia mulai mendengar adanya dakwah yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Tekanan dan siksaan yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap pemeluk Islam tidak membuatnya gentar untuk mengenal lebih jauh ajaran agama baru ini. Akhirnya cahaya hidayah membawanya ke rumah Arqam bin Abil Arqam (Darul Arqam), dimana biasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengajar sahabat-sahabat beliau, dan ia berba’iat memeluk Islam. Lantunan ayat-ayat Al Qur'an membuat hatinya bergemuruh, penuh gairah dan haru yang membludak, sampai akhirnya Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengusap dadanya, sehingga hatinya menjadi tenang dan damai bagaikan lubuk sungai yang dalam.
Hal yang ditakutkan setelah menjadi Islam adalah ibunya. Ibunya, Khunas binti Malik adalah sosok yang dominan, berkepribadian kuat, berpendirian yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena itu Mush'ab menyembunyikan keislamannya dari ibunya, dan diam-diam ia selalu pergi ke rumah Arqam untuk memperdalam keislamannya. Namun pada akhirnya ibunya tahu juga perubahan keyakinan anaknya dari seseorang bernama Utsman bin Thalhah.
Tak pelak lagi, Mush'ab diinterogasi ibunya di depan pembesar-pembesar Quraisy, namun kekuatan iman telah menyatu-padu dalam hatinya sehingga tak mungkin ia kembali ke kepada agama jahiliah. Bahkan ia berdiri tegar di depan ibunya yang selama ini dihormati dan ditakutinya sambil membacakan ayat-ayat Al Qur'an. Dalam puncak kemarahannya, ibunya mengurung Mush'ab dalam ruangan sempit dan terpencil dengan penjagaan ketat.
Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menitahkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Habsyi, Mush'ab berhasil memperdaya penjaganya dan lolos untuk mengikuti beberapa sahabat hijrah ke Habsyi. Sungguh harga yang mahal untuk mempertahankan keimanan. Kemewahan dan kemegahan masa remaja ditukar dengan hidup merana dan terlunta di negeri orang. Memang kenikmatan batin karena manisnya iman tidak akan bisa dijual dengan sebanyak apapun kemewahan dunia ini.
Beberapa waktu kemudian Mush'ab hadir dalam majelis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersama sahabat-sahabatnya, mereka menundukkan dan memejamkan mata, sebagian menangis haru melihat penampilan Mush'ab yang memakai jubah usang bertambal-tambal. Rasanya belum lama berselang ketika mereka melihat Mush'ab yang bagaikan bunga di taman, begitu cemerlang memikat dan menebarkan aroma wewangian di sekitarnya. Tetapi justru inilah yang memunculkan pujian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam atas dirinya, Beliau bersabda, "Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya tetapi semua itu ditinggalkan karena cintanya pada Allah dan RasulNya."
13. Khalid Bin Walid ra.
Perjalanan ke Madinah tidaklah mudah untuk ditempuh sendirian, karena itu ia memerlukan seorang teman perjalanan yang sepemahaman, yang sekaligus bersedia untuk memeluk Islam. Khalid memilih di antara teman dekatnya, pertama ia mengajak Shafwan bin Umayyah, tetapi Shafwan menolak dengan penolakan yang kuat, bahkan ia berkata, "Jika tiada siapapun lagi yang tersisa kecuali aku, pasti aku tidak akan mengikutinya selama-lamanya."
Khalid bisa memaklumi karena bapak dan saudaranya terbunuh di perang Badar, sehingga ia begitu dendam kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Begitu dendamnya hingga ia pernah "membiayai" Umair bin Wahb untuk membunuh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam setelah perang Badr selesai, tetapi makarnya ini justru membawa Umair bin Wahb masuk Islam.
Kemudian Khalid menghubungi Ikrimah bin Abu Jahal, tetapi iapun memberikan jawaban yang kurang lebih sama dengan Shafwan. Khalid minta pada Ikrimah untuk merahasiakan niatnya ini dari orang-orang Quraisy, dan Ikrimah menyetujuinya. Akhirnya ia memutuskan untuk berangkat sendiri.
Ketika sedang mempersiapkan perbekalan dan tunggangannya, ia melihat salah seorang sahabatnya yang lain, Utsman bin Thalhah. Ia ingin memberitahukan niatnya, tetapi sempat ragu-ragu karena seperti halnya Shafwan dan Ikramah, banyak saudaranya yang terbunuh ketika berperang melawan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Bagaimanapun juga ia sudah dalam proses keberangkatan, karena itu tidak ada salahnya ia memberitahukannya pada Utsman. Maka Khalid menceritakan apa yang dirasakannya dan juga keputusannya untuk memeluk Islam, sebagaimana yang disampaikan pada Shafwan dan Ikramah, dan ia mengajak Utsman memeluk Islam dan menemaninya menjumpai Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di Madinah. Di luar dugaan, ternyata Utsman menyambut ajakan Khalid ini. Mereka membuat janji untuk bertemu besok paginya di Ya'juj, sekitar 8 mil di luar kota Makkah.
Khalid meninggalkan rumah ketika waktu sahur dan telah sampai di Ya'juj sebelum fajar, Utsman pun telah menunggunya. Mereka meneruskan perjalanan, dan beristirahat sesampainya di Haddah. Tak lama berselang datang seorang penunggang unta mendekat, yang ternyata 'Amr bin 'Ash. Ketiga orang ini ternyata mempunyai tujuan yang sama, bahkan 'Amr bin 'Ash telah menyatakan Islam di hadapan Najasyi, Raja Habasyah. Merekapun bersama -sama menuju Madinah menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.
Sesampainya di Harrah, di luar kota Madinah, mereka menambatkan ontanya dan Khalid berganti pakaian dengan pakaian yang terbaik dan berangkat menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Walid bin Walid, adik Khalid yang telah menunggunya, berkata, "Bersegeralah, sesungguhnya Rasulullah telah diberitahu tentang kedatangan kalian dan beliau sangat gembira. Beliau telah menunggu kedatangan kalian."
Mereka bertiga mempercepat langkah menuju masjid dimana Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah menunggu. Khalid mengucap salam pada beliau, setelah dijawab, ia langsung mengucap syahadat sebagai ba'iat keislamannya. Nabi bersabda, "Marilah !! Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah kepadamu, sungguh aku telah melihat engkau sebagai orang yang berakal cerdik, dan aku berharap akalmu tidak akan mengantarkanmu kecuali kepada kebaikan semata!"
Khalid berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah terlibat dengan beberapa pertempuran melawan engkau dengan penuh penentangan, hendaknya engkau memohonkan ampun kepada Allah atas semua itu!"
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mendoakan ampunan untuk Khalid seperti yang dimintanya. Setelah itu menyusul 'Amr dan Utsman menghadap Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyatakan ba'iat keislamannya.
Khalid begitu inginnya memperoleh syahid, tetapi kehendak Allah berbicara lain. Begi…
14. Utsman Bin Thalhah Al Adawi ra.
Utsman bin Thalhah bin Abu Thalhah al Adawi, pada masa jahiliahnya ia adalah penjaga Baitullah sekaligus pemegang kunci Ka'bah. Ia memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah atas ajakan Khalid bin Walid. Dalam perjalanan ke Madinah, mereka bertemu dengan Amr bin Ash yang juga memutuskan untuk berba'iat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam keislaman.
Ketika tiba di Madinah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyambut gembira kehadiran mereka, bahkan ketika melihat kedatangan ketiganya, beliau bersabda, "Makkah telah melepaskan jantung hatinya…!"
Walau ucapan ini lebih ditujukan kepada Amr bin Ash dan Khalid bin Walid, tetapi kemuliaan itupun melingkupi dirinya karena berba'iat dalam Islam bersama-sama dengan dua orang yang kelak menjadi pahlawan yang mengharumkan nama Islam ke seantero dunia.
Seusai Fathul Makkah dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam membersihkan Ka'bah dan Baitullah dari berhala-berhala, Ali bin Abi Thalib menghampiri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sambil membawa kunci Ka'bah dan berkata, "Wahai Rasulullah, serahkanlah kewenangan menjaga Ka'bah dan memberi minum orang-orang yang berhaji kepada kami. Semoga Allah senantiasa melimpahkan salam dan shalawat kepada engkau…"
Riwayat lain menyebutkan, Abbas bin Abdul Muthalib yang menyatakan permintaan tersebut. Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkata, "Mana Utsman bin Thalhah?"
Setelah Utsman dipanggil dan datang menghadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda, "Ambillah kunci ini sebagai pusaka abadi, tidak ada yang merampasnya dari kalian kecuali orang yang dzalim. Wahai Utsman, Sesungguhnya Allah menyerahkan keamanan rumahNya kepada kalian. Ambillah yang diberikan dari rumah ini dengan cara yang ma'ruf."
Maka tugas memegang kunci Ka'bah tersebut berada di tangan Utsman bin Thalhah dan anak keturunannya, bahkan sampai saat ini.
Suatu ketika saat masih musyrik, Utsman sedang berada di Tan'im, tidak jauh di luar kota Makkah, ia melihat seorang wanita bersama anaknya mengendarai onta sendirian keluar dari Kota Makkah. Setelah dekat, ia-pun bertanya kepada wanita tersebut, yang ternyata adalah Ummu Salamah. "Hendak kemanakah engkau, hai anak perempuan Abu Umayyah?"
Ummu Salamah menjelaskan kalau ia dan anaknya akan ke Madinah untuk menemui suaminya. Sudah sekitar setahun ia terpisahkan sejak suaminya hijrah ke Madinah, sedang ia dan anaknya ditahan oleh kerabatnya. Kini ia dibebaskan dan ingin tinggal bersama suaminya di Madinah, ia berangkat sendirian hanya ditemani Allah. Mendengar penjelasan tersebut, Utsman berkata, "Demi Allah, engkau tidak pantas dibiarkan sendirian begitu saja."
Setelah itu Utsman memegang kendali unta Ummu Salamah dan menuntunnya berjalan cepat. Jika tiba waktunya istirahat, ia mendudukkan unta agar Ummu Salamah bisa turun, menambatkan unta dan beristirahat di bawah pohon lainnya. Jika akan berangkat lagi, ia mendudukkan unta agar Ummu Salamah mudah menaikinya, kemudian menuntunnya berjalan cepat. Begitu berulang-ulang dilakukan tanpa banyak percakapan.
Setelah beberapa hari perjalanan, mereka sampai di pinggiran kota Madinah, yakni di kampung Quba yang didiami Bani Amr bin Auf, Utsman berkata kepada Ummu Salamah, "Suamimu tinggal di kampung itu, masuklah kamu ke dalamnya dengan berkah dari Allah!" Setelah itu ia menyerahkan kendali unta ke Ummu Salamah, dan berjalan pulang ke arah Makkah. (*)
Komentar
Posting Komentar