Al-Uswah : KISAH SAHABAT NABI



Oleh : Galib Mas'ud, SH.

1. Umair Bin Hammam Al Anshari ra.

        Umair bin Hammam adalah seorang sahabat Anshar dan seorang Ahli Badar, dan termasuk dalam sedikit sahabat yang memperoleh syahid dalam pertempuran tersebut. Ketika memacu semangat pasukan muslim, Umair mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Demi diri Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seseorang di antara mereka yang berperang pada hari ini dengan sabar, mengharap keridhaan Allah, maju terus pantang mundur, melainkan Allah akan memasukkannya ke surga…!!” 

        Umair begitu terkesan dengan seruan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tersebut. Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda lagi, “Bangkitlah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi..!!”

        "Surga luasnya seluas langit dan bumi??" Kata Umair seolah tak percaya.

        Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengiyakan, Umair berkata, “Bakhin! Bakhin!!”

        Mendengar ucapannya itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Wahai Umair, apa yang membuatmu berkata : Bakhin, bakhin?”

        “Tidak lain, ya Rasulullah, kecuali aku ingin menjadi salah satu penghuninya."

        "Engkau adalah salah satu dari penguni surga!!" Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menandaskan.

        Mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mata Umair jadi berbinar-binar penuh kegembiraan. Ia yang telah mengambil kurma dari wadahnya untuk dimakan, tiba-tiba mengembalikannya, dan berkata, "Untuk hidup hingga menghabiskan kurma-kurma ini rasanya terlalu lama."

        Diletakkannya kurma itu dan Umair segera terjun ke medan pertempuran. Ia berperang dengan perkasa memporak-porandakan kaum kafir Quraisy hingga menemui syahidnya.

        Sebagian riwayat lain menyebutkan, peristiwa tersebut menjadi asbabun nuzul dari Surah Al Baqarah 154. Sebagian riwayat menyebutkan, sahabat yang gugur tersebut adalah Tamim bin Hammam, bukan Umair bin Hammam.(*)


2. Sa’d Bin Abu Waqash ra.

        Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pernah menyatakan ada sepuluh sahabat yang dijamin pasti masuk surga, ketika mereka masih hidup. Selain empat sahabat Khulafaur Rasyidin, mereka adalah Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'id bin Zaid, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Jarrah dan tentunya Sa'd bin Abi Waqqash sendiri. Ia memang tidak pernah tertinggal berjuang bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, bahkan ia adalah orang Arab pertama yang memanah di jalan Allah. Ia pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam suatu pasukan tanpa bahan makanan yang mencukupi, kecuali hanya daun-daun pohon hublah dan pohon samurah. Akibatnya ada beberapa anggota pasukan yang kotorannya seperti kotoran kambing karena sangat keringnya.

        Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam merasa begitu senang dan berkenan dengan perilaku Sa'd, beliaupun berdoa, "Ya Allah, tepatkanlah panahnya, dan kabulkanlah doanya."

        Sejak saat itu, panah Sa'd merupakan senjata andalan dan sangat ditakuti oleh musuh. Siapapun yang menjadi sasaran panahnya, ia tidak akan lolos dan selamat lagi. Begitu juga dengan doanya, apapun yang dipanjatkannya seolah tak ada penghalang antara dirinya dengan Allah Subhanahu Wata’ala.

        Pernah suatu ketika ada seseorang yang memaki Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bib Awwam. Sa'd menasehatinya untuk menghentikan perbuatannya tersebut, tetapi orang tersebut masih terus saja memaki tiga orang sahabat utama tersebut. Sa'd pun mengancam akan mendoakan kepada Allah, tetapi dengan sinis ia berkata kepada Sa'd, "Kamu menakut-nakuti aku seolah engkau seorang Nabi saja….!"

        Sa'd pun akhirnya pergi ke masjid, ia berwudhu dan shalat dua rakaat, kemudian berdoa, "Ya Allah, kiranya menurut ilmu-MU, orang ini telah memaki sekelompok orang yang telah memperoleh kebaikan dari Engkau, dan sekiranya sikapnya tersebut mengundang kemurkaan-MU, aku mohon Engkau tunjukkan suatu pertanda yang akan menjadi pelajaran bagi yang lainnya…."

        Tidak lama kemudian, ada seekor unta yang menjadi liar masuk kerumunan orang. Anehnya ia seolah-olah mencari seseorang, dan ketika ditemukan lelaki yang memaki tiga sahabat tersebut, ia menerjang, menyepak dan menginjak-injak lelaki tersebut hingga tewas.

        Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, Sa'd bin Abi Waqqash dipilih memimpin sebuah pasukan untuk memerangi tentara Persia di bawah pimpinan Rustum. Pertempuran yang disebut dengan Perang Qadisiah ini sebenarnya tidak berimbang, tentara muslim hanya 30.000 sedang tentara Persiasebanyak 100.000 orang. Riwayat lain menyebutkan 120.000 orang. Namun demikian tidak ada kegentaran pada diri Sa'd.

        Sebelum pertempuran dimulai, Rustum meminta agar mengirim utusan untuk melakukan pembicaraan atau negosiasi. Maka Sa'd mengirim Rib'i bin Amir. Esoknya Rustum masih meminta lagi, dikirimlah Huzaifah bin Mihsan. Dan ketiga kalinya, Sa'd mengirim Mughirah bin Syu'bah. Tiga kali pembicaraan ini menemui jalan buntu, karena bagi pasukan muslim, mereka hanya punya tiga pilihan seperti diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, pertama agar mereka memeluk Islam, atau mereka tunduk kepada Madinah (Islam) walau tidak menerima Islam, tetapi harus membayar jizyah (pajak), atau pilihan terakhir perang.

        Peperangan yang akhirnya terjadi, karena Rustum tidak mau memilih opsi pertama atau kedua. Ia merasa bisa dengan mudah mengalahkan pasukan muslim yang hanya sepertiga atau seperempatnya saja. Tetapi tepat ketika perang akan dimulai, Sa'd mengalami sakit bisul pada sekujur tubuhnya sehingga ia tidak bisa menaiki kuda. Karena itu ia memimpin pasukan dari tenda komandonya. Tetapi riwayat lain menyebutkan, ia menunjuk Khalid bin Arfathah untuk memimpin pasukan. Namun demikian pasukan muslim bisa memporak-porandakan pasukan Rustum yang jauh lebih besar. Mereka lari mengundurkan diri ke Nawahand, dan kemudian mundur lagi ke Madain, ibukota Persia karena pasukan muslim terus mengejar mereka.

        Setelah berlalu dua tahun, Khalifah Umar memerintahkan Sa'd untuk menyerang Madain. Walaupun kota Madain dipisahkan dengan sungai Tigris, pasukan muslim mampu menyeberangi sungai tersebut dengan strategi yang tepat. Pertama Sa'd mengirim dua kelompok pasukan yang dipimpin Ashim bin Amr dan Qa'qa' bin Amr menyeberang terlebih dahulu, dan mengamankan posisi di seberang. Baru setelah itu pasukan utama menyeberang, gelombang demi gelombang. 

        Salman al Farisi yang aslinya berbangsa Persia sampai takjub tak percaya mereka mampu menyeberangi sungai Tigris dengan kuda-kudanya, seolah di daratan saja.

        Sa'd, dengan doa makbulnya, hanya memerintahkan anggota pasukannya untuk berdzikir, "Hasbunallah wa nikmal wakil," sepanjang mereka menyeberangi sungai Tigris, sehingga tidak seorangpun yang celaka, bahkan juga tidak satu barangpun yang hilang terbawa arus air sungai. Akhirnya Madain ditaklukkan, dan runtuhlah simbol kekuasaan penyembah api yang telah ratusan atau ribuan tahun bertahan.

        Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, dunia Islam dilanda badai fitnah dan telah membawa korban dengan syahidnya Utsman sendiri. Disusul ketika Khalifah ke-4 Ali bin Abi Thalib, badai fitnah belum juga reda. Banyak orang yang ambisius tampil ke gelanggang untuk merebut kedudukan Khalifah.

        Sa’d sebagai sahabat yang waktu itu masih hidup pun tidak urung ditampilkan orang untuk merebut kedudukan Khalifah Ali. Bahkan Hasyim bin Utbah, keponakannya sendiri mengusulkan agar Sa’d tampil dan merebut kekuasaan Ali. Dengan pongah, Hasyim berkata kepadanya : “Paman, di sini telah siap 100.000 pedang yang menganggap paman adalah orang yang lebih berhak duduk dalam kursi Khalifah. Bangkitlah wahai Paman dan rebutlah kursi kepemimpinan Khalifah itu”

        Sa’d terperanjat dan dengan tegas berkata kepada Hasyim :

        “Dari 100 ribu pedang yang akan kau berikan kepadaku, aku hanya ingin sebuah saja. Dan sebuah itu pun bila kutebaskan kepada sesama mukmin tidak akan mempan sedikit juga. Tapi sebaliknya bila kutebaskan ke leher orang musyrik pastilah putus batang lehernya”

        Mendengar jawaban sang paman, Hasyim mundur, ia memahami bahwa pamannya bukan orang yang gila pangkat atau jabatan. Apalagi untuk merebut kedudukan Ali, pantang baginya. Sa’d memang orang yang sederhana, meski kekayaannya melimpah dan banyak jabatan disodorkan kepadanya. Dalam usianya yang makin menua, hanya satu keinginannya, yaitu bisa menghadap Allah Subhanahu Wata’ala dengan tenang, membawa ketenangan manis dalam membela Islam.

        Pernah suatu ketika sebelum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, dalam suatu majlis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam duduk bersama sahabatnya, tiba-tiba beliau berkata:

        “Tunggulah, sekarang akan datang di hadapan kalian seorang laki-laki penduduk Surga”

        Para sahabat kaget bercampur bingung, menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa yang dimaksudkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, “Laki-laki penduduk Surga”. Ketika para sahabat sedang memikirkan maksud ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam itu, datanglah Sa’d. Para sahabat pun gembira menyambut kedatangannya.

        Hadiah berupa doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, muncul lantaran keikhlasan mematuhi segala perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia memang dikenal seorang ahli ibadah dalam pengertian luas, bukan semata-mata ibadah khusus seperti Sholat, puasa, zakat dan haji, tapi setiap amal perbuatannya itu semata-mata dilandasi oleh semangat pengabdian kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang berkobar-kobar di lubuk hatinya.

        Abdullah bin Amru bin Ash pernah datang menemuinya, menanyakan jenis ibadat dan amal perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Sa’d menjawab sederhana: “Aku beribadah seperti yang biasa kita sama-sama lakukan, hanya saja aku tak pernah menaruh dendam atau niat jahat terhadap siapapun selagi ia masih sama-sama muslim”

        Cita-citanya itu terkabulkan, Ia wafat hanya dikafani oleh kain putih yang pernah dipakaikannya sewaktu ikut perang Badar, Peperangan yang sangat dasyat yang untuk pertama kalinya  dihadapi kaum muslimin.

        Dalam perang itu, Sa’d mengenakan kain (lusuh) yang sampai akhir hayatnya disimpan baik-baik dan sekarang digunakan untuk mengkafani jasadnya. (*)


3. Dzil Jausyan Adh Dhihabi ra.
        Dzil Jausyan Adh Dhibabi adalah seorang penunggang kuda
terbaik
dari kalangan Bani Amir. Ia mempunyai seekor kuda
terbaik
bernama Al Qarha yang cukup terkenal. Ia belum masuk Islam, tetapi ia menghargai keberadaan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam di Madinah. Setelah selesai Perang Badr, ia menunggangi kuda keturunan Al Qarha, untuk diberikan kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam sebagai hadiah dan penghargaannya.
        Tetapi Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam tidak mau menerimanya begitu saja, kecuali jika menukarnya dengan baju-baju besi pilihan yang berasal dari ghanimah Perang Badr. Dzil Jausyan tidak mau dengan tukar-menukar itu, karena niatnya sejak awal memang untuk dihadiahkan tanpa pengganti, bahkan seandainya ditukar dengan yang lebih berharga seperti budak, ia tetap tidak bersedia. Sebaliknya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam pun tidak bersedia karena memang tidak memerlukannya.
        Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam menyerunya masuk Islam sehingga ia akan menjadi orang-orang yang pertama dalam Islam (As Sabiqunal Awwalun). Tetapi seruan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam belum diterimanya, dengan alasan kaum beliau sendiri masih menyakiti dan menghasut untuk tidak mengikuti agama Islam. Bahkan kekalahan kaum Qureisy di Badr belum bisa meyakinkannya, ia berkata, "Aku akan masuk Islam jika engkau dapat menaklukan Ka'bah dan mendudukinya."
        Maka Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda, "Semoga engkau masih hidup saat itu, dan engkau bisa menyaksikan peristiwa itu."
        Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam memerintahkan Bilal untuk mengambilkan sekarung kurma
terbaik
sebagai perbekalan, saat Dzul Jausyan akan kembali ke kabilahnya. Beliau juga memujinya sebagai penunggang kuda
terbaik
dari kalangan Bani Amir.
        Waktupun berlalu, seseorang membawa kabar ke kabilah Bani Amir kalau Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam telah menaklukan Mekkah dan mendudukinya, Dzul Jausyan berseru, "Celaka, ibuku kehilangan diriku (ungkapan penyesalan orang-orang Arab), seandainya aku memeluk Islam saat itu, dan meminta darinya sepetak tanah dari Hiirah, pasti beliau akan memberikannya."
        Begitulah, sesuai janjinya kepada Rasullullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam, Dzul Jausyan akhirnya memeluk Islam.


4. Zaid Bin Haritsah ra.
        Dalam perkembangan selanjutnya ketika telah tinggal di Madinah, Al Qur'an melarang penisbahan kecuali kepada ayah kandungnya, begitu juga anak angkat tidaklah sama dengan anak kandung.
        Salahsatu cara Allah Subhanahu Wata’ala ‘membongkar’ budaya jahiliah ini adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam diperintahkan menikahi atau lebih tepatnya dinikahkan dengan janda Zaid bin Haritsah, yakni Zainab binti Jahsy, melalui firman Allah dalam surah al Ahzab 37.
Zaid sendiri kemudian dinikahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dengan Ummu Kaltsum binti Uqbah, saudara dari Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb.
        Mendengar pernyataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ini, Haritsah menjadi tenang, ia tidak perlu lagi merisaukan bahwa anaknya akan terlantar atau tersiksa karena statusnya sebagai budak. Ia kembali ke kaumnya dengan hati riang dan bangga.
        Zaid bin Haritsah menjadi kelompok pertama pemeluk Islam karena ia tinggal bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Ia menjadi orang yang ke-dua (setelah Khadijah Radhiyallahu ‘anhu) atau ke-tiga (setelah Ali bin Abi Thalib) yang meyakini kenabian Nabi Muhammad Shallallahu‘ Alaihi Wassalam. Ia begitu disayang oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, di samping karena ketinggian akhlaknya sebagai hasil didikan beliau sendiri, kecintaannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam juga begitu besar. Ia rela menderita dan kesakitan demi keselamatan beliau. Hal ini tampak jelas ketika ia mendampingi beliau menyeru penduduk Thaif untuk memeluk Islam.
        Ketika Abu Thalib dan Khadijah wafat, tekanan dan siksaan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy makin meningkat, karena itu beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berinisiatif untuk menyeru penduduk Thaif untuk memeluk Islam.
Kalau berhasil, setidaknya bisa mengurangi dan menghambat tekanan kaum Quraisy, karena Bani Tsaqif yang mendiami kota Thaif adalah kabilah yang cukup kuat. Beliau menempuh jarak sekitar 90 atau 100 km dengan berjalan kaki, hanya berdua dengan Zaid bin Haritsah.
        Selama sepuluh hari tinggal di Thaif ternyata tidak ada seorangpun yang menyambut seruan beliau. Bahkan akhirnya mereka mengusir beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dari Kota Thaif. Tidak cukup itu, mereka mengumpulkan beberapa orang jahat dan para budak mengerumuni beliau, membentuk dua barisan di kanan kiri jalan, dan mereka mencaci maki serta melemparkan batu kepada mereka berdua. Zaid bin Haritsah mati-matian melindungi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dari serangan lemparan batu tersebut. Tak terkira luka-luka di kepala dan tubuhnya, karena mereka terus melakukan serangan batu tersebut sepanjang 4,5 km (3 mil) perjalanan, sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan Zaid masuk dan berlindung ke dalam kebun milik Utbah bin Rabiah dan Syaibah bin Rabiah, seorang tokoh Quraisy.
        Luka mengucur hampir dari seluruh bagian tubuh Zaid, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sendiri juga terluka, bahkan salah urat di atas tumit beliau putus sehingga darah membasahi terompah beliau. Tetapi Zaid justru lebih mengkhawatirkan luka pada kaki Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam daripada luka-luka yang dialaminya.
        Persoalan belum selesai sampai di situ, kaum kafir Quraisy dengan pimpinan Abu Jahal ternyata telah bersiap-siap menolak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk memasuki Makkah, bahkan akan mengusir beliau. Zaid bin Haritsah bertanya, "Bagaimana caranya engkau memasuki Makkah, Ya Rasulullah, padahal mereka telah (berniat) mengusir engkau?"
        "Wahai Zaid," Kata Nabi SAW, "Sesungguhnya Allah akan menciptakan kelonggaran dan jalan keluar dari masalah yang kita hadapi ini. Sungguh Allah pasti akan menolong agama-Nya dan memenangkan Nabi-Nya….!"

        Keluarga Zaid bin Haritsah keluarga Arab biasa, yang ketika itu sedang mengunjungi kerabatnya di kampung Kabilah Bani Ma'an, dan Zaid kecil diajak serta. Takdir Allah menghendaki akan mengangkat derajadnya setinggi-tingginya, tetapi melalui jalan musibah. Tiba-tiba sekelompok perampok badui menjarah perkampungan Bani Ma’an tersebut, harta bendanya dikuras habis dan sebagian penduduknya ditawan untuk dijual sebagai budak, termasuk di antaranya adalah Zaid bin Haritsah.
        Zaid bin Haritsah yang masih kecil itu dijual di pasar Ukadz di Makkah, ia dibeli oleh Hakim bin Hizam. Oleh Hakim, ia diberikan kepada bibinya, Khadijah binti Khuwailid, yang tak lain adalah istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan akhirnya ia diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menjadi khadam (pelayan) beliau. Walau saat itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam belum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, tetapi pendidikan yang diperoleh Zaid dari beliau merupakan pendidikan berbasis akhlak mulia, didikan yang berbasis kenabian yang menaikkan derajadnya, dan mengantarnya menjadi salah seorang kelompok sahabat as sabiqunal awwalin.
        Ketika ayahnya, Haritsah mendengar kabar bahwa putranya dimiliki olekeluarga bangsawan Quraisy di Makkah, ia bergegas mengumpulkan harta semampunya untuk menebusnya dari perbudakan. Ia mengajak saudaranya untuk menemaninya ke Makkah. Sesampainya di Makkah, ia menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata, "Kami datang kepada anda untuk meminta anak kami, kami mohon anda bersedia mengembalikannya kepada kami dan menerima uang tebusan yang tidak seberapa banyaknya ini!!"
        "Tidak harus seperti itu," Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, "Biarlah ia memilih sendiri. Jika ia memilih anda, saya akan mengembalikannya kepada anda tanpa tebusan apapun. Tetapi jika ia memilih saya, maka saya tidak bisa menolak orang yang dengan sukarela mengikuti saya…!"
        Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Sementara itu tampak kegembiraan Haritsah dengan penjelasan beliau. Ia akan meperoleh kembali anaknya tanpa tebusan apapun, begitu pikirnya. Ketika Zaid telah datang, beliau berkata kepadanya, "Tahukah engkau, siapa dua orang ini?"
        "Ya, saya tahu," Kata Zaid, "Yang ini ayahku, satunya lagi adalah pamanku…"
        Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjelaskan permintaan ayahnya, dan juga tentang pilihan yang beliau berikan kepadanya. Tanpa berfikirpanjang, Zaid berkata, "Tak ada pilihanku kecuali anda, andalah ayahku, dan andalah juga pamanku…!"
        Mendengar jawaban Zaid ini ayah dan pamannya terkejut, tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tampak berlinang air mata karena haru dan syukur. Beliau memang sangat menyayanginya seperti anak sendiri, sehingga bagaimanapun secara manusiawi, beliau akan merasa kehilangan jika Zaid memutuskan untuk kembali kepada keluarganya sendiri. Segera saja Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam membawa Zaid ke Ka'bah dimana biasanya para pembesar Quraisy berkumpul, kemudian beliau berkata lantang, "Saksikanlah oleh kalian semua, mulai hari ini Zaid adalah anakku, ia ahli warisku dan aku ahli warisnya…"
        Memang, budaya Arab saat itu membenarkan mengangkat anak yang statusnya sama seperti anak kandung. Sejak itu, Zaid dikenal dengan nama Zaid bin Muhammad.


5. Amir Bin Fuhairah ra.
        Amir bin Fuhairah Radhiyallahu ’Anhu adalah hamba sahaya milik Abu Bakar yang telah dibebaskan. Sungguh Islam telah mengangkat derajat seseorang, dari seorang budak, ia dimuliakan tiada tara karena akhirnya ia menjadi seorang hafidz (Seseorang yang Hafal) Al Qur'an.
        Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan Abu Bakar berhijrah ke Madinah, dua orang bersahabat ini bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari untuk menghindari pengejaran kaum Quraisy. Dalam tiga hari tersebut, Amir menggembalakan kambing seperti biasanya bersama penggembala lain, tetapi ketika pulang, ia berlambat-lambat hingga gelap malam, dan membawa kambing-kambing tersebut ke Gua Tsur, sehingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan Abu Bakar dapat meminum susunya. Pada pagi harinya ia telah berada di padang gembalaan bersama dengan penggembala lainnya, sehingga orang-orang kafir Quraisy sama sekali tidak curiga atas apa yang dilakukannya.
        Sebagai seorang Hafidz Qur'an, ia dipilih Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjadi salah satu dari 70 sahabat yang dikirim kepada Bani Amir di Najd untuk mendakwahi mereka. Tetapi kelompok dakwah sahabat ini dikhianati dan mengalami tragedi pembantaian di Bi'r Ma'unah. Ketika tombak telah menembus tubuhnya, dalam keadaan sakit yang tidak terkira, Amir bin Fuhairah berkata, "Demi Allah, aku telah berjaya…"
        Setelah itu tubuhnya terkulai roboh, tetapi tiba-tiba jenazahnya terangkat ke langit. Kejadian ini disaksikan langsung oleh pembunuhnya, Jabbar bin Salma, dan selalu terngiang-ngiang ucapan Amir bin Fuhairah dan peristiwa ajaib tersebut. Di kemudian hari ia memperoleh penjelasan bahwa “kejayaan” dimaksud adalah surga. Jabbarpun akhirnya memeluk Islam karena peristiwa ini. Sungguh suatu tambahan kemuliaan bagi Amir, karena kesyahidannya membawa hidayah bagi orang lain. Dalam riwayat lain, dikatakan bahwa sahabat yang ditombak oleh Jabbar tersebut adalah Haram bin Milhan. (*)


6. Imran Bin Hushain Al-Khuzai ra.
        Imran bin Hushain al Khuzai, seorang sahabat dari Bani Khuza’ah yang telah memeluk Islam pada saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam masih berdakwah di Makkah. Ayahnya, Hushain bin Ubaid al Khuzai adalah seorang pemuka dan juga ilmuwan di antara kaumnya, yang juga sangat dihargai oleh kaum Quraisy Makkah.

        Suatu ketika ia sedang bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan sahabat-sahabat lainnya, ketika ayahnya itu datang menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, atas permintaan kaum Quraisy. Imran segera memalingkan muka dan bersikap sinis melihat ayahnya tersebut. Ia sangat tahu kepandaian dan keahlian ayahnya dalam berdebat, dan ia sangat tidak rela jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dibantah oleh ayahnya itu.
        Tetapi setelah beberapa lamanya berbincang, akhirnya ayahnya tersebut menyerah dengan logika ketuhanan yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan Hushain bin Ubaid mengucap syahadat menyatakan dirinya memeluk Islam. Imran kaget bercampur gembira, ia segera memeluk dan mencium kepala, tangan dan kaki ayahnya dengan penuh haru. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sendiri sampai ikut menangis melihat sikap Imran tersebut. Salah seorang sahabat bertanya, “Mengapa engkau menangis, ya Rasulullah??”
        Beliau bersabda, “Aku menangis melihat sikap Imran. Ketika ayahnya masuk ke sini dalam keadaan kafir, ia tidak menyambutnya, bahkan ia bersikap sinis dan memalingkan muka. Tetapi begitu ayahnya memeluk Islam, ia segera menunaikan kewajibannya sebagai anak, hal itu yang membuatku menangis terharu!!”
        Sebagian riwayat menyebutkan, Imran bin Hushain ini memeluk Islam pada saat perang Khaibar, yang terjadi setelah Perjanjian Hudaibiyah. Kalau mengacu dengan kisah keislaman ayahnya tersebut di atas, tentu saja hal itu sangat bertentangan. Wallahu A’lam!!
        Imran bin Hushain sangat rajin menghadiri majelis pengajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, baik ketika berada di Makkah, terlebih lagi ketika telah hijrah ke Madinah. Karena itu ia termasuk salah satu sahabat yang cukup banyak meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.
Ia berusia lanjut hingga sempat mengalami jaman kejayaan Islam, di mana harta melimpah ruah di seluruh penjuru negeri. Namun demikian ia memilih tetap hidup sederhana dan zuhud seperti yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.
        Pada masa khalifah Umar bin Khaththab, Imran ditugaskan untuk menjadi pengajar bagi penduduk Bashrah. Salah satu yang menjadi muridnya adalah seorang ulama tabi’in yang terkenal, Hasan al Bahsri. Hasan al Bashri pernah berkata, “Tidak ada sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang datang ke Bashrah, yang keutamaannya melebihi Imran bin Hushain. Ia selalu menolak siapapun yang membuatnya lalai beribadah kepada Allah, ia layaknya malaikat yang berjalan di muka bumi!!”
        Ketika terjadi pertentangan antara Khalifah Ali dan Muawiyah, Imran bin Hushain memilih tidak berpihak kepada siapapun dari keduanya. Ia berkata, “Menggembala sekelompok kambing yang sedang menyusui anak-anaknya di puncak gunung yang terpencil sampai aku mati, lebih aku sukai daripada harus melepaskan anak panah ke salah satu kelompok kaum muslimin, baik mereka itu salah, apalagi mereka itu benar!!”
        Pada masa akhir hidupnya, Imran bin Hushain menderita penyakit buang air selama tigapuluh tahun dan ia tidak bisa bergerak dari tempat tidurnya. Akibatnya harus dibuatkan lubang di bawah tempat tidurnya untuk kencing dan buang air besarnya. Namun demikian selama tiga puluh tahun tersebut ia tidak pernah mengeluh dan tetap bersabar dengan ujian Allah yang dialaminya. Ia juga tetap melaksanakan kewajiban-kewajiban syariat sesuai kemampuannya.
        Suatu ketika salah satu saudaranya yang bernama Al Alaa' atau Mutharrif bin Asy Syikhkhir menjenguknya dan ia menangis melihat keadaan Imran yang begitu memprihatinkan. Ia tersenyum melihat reaksi saudaranya tersebut dan berkata, "Janganlah engkau menangis. Sesungguhnya aku suka dengan apa yang disukai Allah. Aku akan menceritakan kepadamu sesuatu hal, yang semoga saja bermanfaat bagimu, tetapi jangan engkau ceritakan kepada orang lain sampai aku meninggal dunia."
        Kemudian Imran menceritakan, bahwa karena sakitnya itu, para malaikat berziarah atau mengunjungi dirinya setiap harinya, dan memberi salam kepadanya, sehingga ia merasa senang dan selalu berdoa untuk tidak sembuh dari penyakitnya tersebut hingga ajal menjemputnya.
        Jika ada orang yang menyarankan agar ia berobat atau akan mengobatinya, ia akan berkata, “Sesuatu yang paling aku cintai adalah sesuatu yang dicintai Allah (yakni, ketentuan/takdir Allah kepada dirinya) !!”
        Ketika waktu ajalnya makin dekat, ia berpesan kepada orang-orang sekitarnya, “Jika kalian pulang setelah menguburkanku, hendaklah kalian sembelih beberapa ekor ternak untuk menjamu mereka, layaknya jamuan dalam pesta perkawinan!!”(*)



7. Abdullah Bin Rawahah ra.
        Suatu saat Abdullah bin Rawahah tiba-tiba saja menangis, melihat keadaan itu istrinya ikut menangis, iapun bertanya kepada istrinya, "Mengapa engkau ikut menangis?"
"Apa yang menyebabkan engkau menangis, itulah yang membuatku ikut menangis." Kata istrinya.
        Mendengar jawaban itu, Abdullah berkata, "Ketika aku ingat, bahwa aku akan menyeberangi neraka melalui shirat, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau akan celaka?"
        Ketika Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam mempersiapkan pasukan ke Mu'tah, Beliau berpesan bahwa pimpinan pasukan adalah Zaid bin Haritsah, jika ia gugur penggantinya adalah Ja'far bin Abu Thalib, dan jika Ja'far gugur penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah.
        Saat itu hari jum'at, saat pasukan telah berangkat, Ibnu Rawahah tidak ikut serta karena ingin shalat jum'at dahulu bersama Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam, baru setelah itu ia akan menyusul. Usai shalat jum'at, ketika Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam melihat Ibnu Rawahah, Beliau bertanya, "Apa yang menghalangimu untuk berangkat pagi-pagi bersama sahabat-sahabatmu?"
        Ibnu Rawahah menjelaskan kalau masih ingin shalat jum'at bersama Beliau, tetapi justru Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam mencela sikapnya itu. Beliau bersabda, "Jika engkau mampu bersedekah dengan semua yang ada di muka bumi, tentu engkau tidak akan mencapai pahala yang mereka peroleh sejak pagi ini!"
        Mendengar teguran Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam tersebut, Ibnu Rawahah segera memacu tunggangannya menyusul induk pasukan yang telah berangkat, dan langsung bergabung dengan mereka.
        Ketika pasukan muslim telah berkemah di Maan, mereka memperoleh berita bahwa Hiraqla (Hiraklius) juga telah berkemah di Maab, di wilayah Balqa, dengan seratus ribu pasukannya, ditambah dengan seratus ribu pasukan dari para sekutunya. Sementara pasukan muslim hanya sekitar tiga ribu orang. Beberapa sahabat mengusulkan untuk mengirimkan surat kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam tentang jumlah musuh yang harus mereka hadapi, sehingga beliau akan menambah jumlah pasukan, atau beliau akan memberi perintah lain.
        Mendengar usulan tersebut, Abdullah bin Rawahah berkata, "Wahai sahabat-sahabatku, Demi Allah, sesungguhnya apa yang kalian tidak suka, itulah yang sebenarnya kita cari, yakni kesyahidan. Kita memerangi musuh tidak karena jumlah dan kekuatan mereka, tetapi karena agama ini yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Marilah...sesungguhnya apapun akhirnya hanya kebaikan bagi kita, kemenangan atau kesyahidan…"
        Sebagian besar sahabat membenarkan pendapat Ibnu Rawahah, mereka bergerak mendekati posisi pasukan Romawi yang kemudian bertemu di daerah Mu'tah. Pertempuran tidak berimbang terjadi dengan sengitnya, tetapi itu tidak mengurangi semangat pasukan muslim untuk terus berjuang. Zaid gugur, panji diambil Ja'far bin Abu Thalib. Ketika Ja'far juga gugur, Abdullah bin Rawahah mengambil alih panji tersebut dan meneruskan pertempuran. Ia bergerak sambil bersyair untuk menyemangati diri dan anggota pasukannya.
        Ketika pertempuran terhenti sejenak, seorang lelaki dari bani Murrah bin Auf mendekatinya dan memberikan sepotong tulang berdaging, sambil berkata, "Kuatkanlah punggungmu dengan daging ini, karena engkau telah mengalami kelaparan hari-hari ini..!"
        Ibnu Rawahah memakan sedikit dagingnya, kemudian terdengar suara menderu pertanda adanya serangan. Ia berseru, "Sesungguhnya engkau hanyalah dunia…"
        Ia mencampakkan daging tersebut dan mengambil pedangnya kemudian berperang menghadang serangan musuh sehingga ia menemui syahidnya.
        Tiga orang panglima perang yang ditunjuk Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam telah gugur. Sempat terjadi kebingungan dan hampir saja pasukan muslim ditumpas habis oleh pasukan Romawi. Kemudian komando pasukan diserahkan kepada Khalid bin Walid atas persetujuan dan kesepakatan para sahabat yang lebih senior dalam keislaman. Ketika itu Khalid bin Walid memang baru memeluk Islam. Dengan strategi dan keahliannya memimpin pasukan, ia berhasil lolos dari kepungan pasukan Romawi dan terhindar dari kemusnahan total (terbunuh semua).


8. Khalid Bin Sa’id Bin Ash ra.         Khalid baru bertemu lagi dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ketika beliau telah memerintahkan agar para sahabat di Habasyah berhijrah ke Madinah, saat itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabat dalam perjalanan pulang setelah selesainya perang Khaibar. Setelah itu Khalid senantiasa mengikuti pertempuran bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Bahkan sebelum wafatnya, beliau mengangkatnya menjadi Gubernur Yaman.         Ketika ia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam wafat dan Abu Bakar dikukuhkan sebagai khalifah, ia menjadi salah satu orang yang tidak setuju. Ia sangat mengenal berbagai kelebihan Abu Bakar dan kedudukannya di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam karena ia memang salah seorang sahabat Abu Bakar di masa jahiliah. Hanya saja ia berpendapat bahwa yang paling berhak memegang jabatan khalifah adalah Bani Hasyim, misalkan Ali bin Abi Thalib atau Abbas. Karena itu ia meninggalkan jabatannya di Yaman, dan kembali ke Madinah, tetapi ia tidak mau berba'iat kepada Abu Bakar.         Berlalulah waktu, Abu Bakar tetap menghargainya walaupun ia menolak berba'iat. Sampai suatu ketika Khalid menerobos barisan atau shaf-shaf di masjid menuju Abu Bakar yang berdiri di atas mimbar, ia memegang tangan Abu Bakar dan berba'iat dengan segala ketulusan hatinya.         Suatu ketika Abu Bakar mempersiapkan pasukan ke Syria, dan ia menyerahkan salah satu panji-panji pertempuran kepada Khalid. Tetapi sebelum pasukan berangkat, Umar menyarankan untuk mengganti Khalid sebagai pemegang panji, dan Abu Bakar bisa menerima alasan Umar. Khalid menerima kabar tersebut dengan biasa, dan ketika Abu Bakar hadir di rumahnya untuk meminta maaf, ia berkata, "Demi Allah, tidaklah saya gembira dengan pengangkatan anda, dan tidak juga bersedih dengan pemberhentian anda dari jabatan tersebut….!!"         Abu Bakar membebaskannya untuk memilih di pasukan mana ia akan bergabung, Amr bin Ash yang masih anak pamannya, atau Syurahbil bin Hasanah, atau lainnya lagi. Khalid-pun berkata, "Anak pamanku aku sukai karena ia masih kerabatku, tetapi Syurahbil lebih kucintai karena agamanya!"         Khalid bergabung dengan pasukan yang dipimpin Syurahbil, sedang yang menjadi komandan dari seluruh kesatuan adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.         Khalid menikahi janda Ikrimah bin Abu Jahal, Ummu Hakim di perjalanan jihad melawan tentara Romawi, di suatu tempat bernama Marjush Shafar. Setelah pernikahan itu, Khalid ingin beristirahat berduaan dengan istrinya sebagaimana pengantin baru, tetapi Ummu Hakim berkata, "Sekarang kita sedang diserang musuh dari segala arah, sebaiknya kita melawan mereka dahulu!!" "Saya yakin," Kata Khalid, "Saya akan menemui syahid pada pertempuran ini..!!”         Mendengar penuturan suaminya itu, Ummu Hakim memenuhi permintaan Khalid. Mereka menghabiskan malam pengantin di tenda sederhana, sementara musuh siap menyerang. Keesokan harinya, Khalid menerjunkan diri dalam pertempuran, menyerang dan menerjang musuh dengan perkasa, sehingga akhirnya gugur sebagai syahid.         Ketika masih bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam di Madinah, ia pernah membawa putrinya yang masih kecil, Ummu Khalid menghadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dengan memakai baju kuning. Beliau memuji keindahan baju tersebut dan menyuruhnya untuk tetap memakainya sampai habis/rusak. Khalid sempat memarahi putrinya tersebut karena bermain-main dengan cincin kenabian, tetapi beliau menyuruh membiarkannya.



9. Abdullah Bin Zubair ra.

Abdullah bin Zubair Radhiyallahu ‘Anhu merupakan salah satu sosok sahabat yang istimewa, karena ia berhijrah ketika dalam kandungan ibunya. Ibunya pun seorang yang istimewa, Asma binti Abu Bakar, yang mempunyai peran besar ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan Ayahnya dalam awal hijrah dicari-cari oleh orang kafir Quraisy untuk dibunuh. Ayahnya adalah seorang sahabat yang dijamin masuk surga ketika masih hidup, salah satu dari sepuluh sahabat, Zubair bin Awwam Radhiyallahu ‘Anhu.

Allah menambah keistimewaannya karena ia menjadi bayi pertama yang lahir di masa hijrah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana beratnya Asma binti Abu Bakar berhijrah, ia dalam keadaan hamil tua ketika harus menempuh panasnya padang pasir sejauh hampir 500 km. Ketika baru beberapa hari di Quba, ia melahirkan dan bayinya dibawa kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Beliau mengecup pipi dan mulutnya, hingga air liur Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memasuki rongga mulutnya, dan memberi nama ‘Abdulah’.

Tidak cukup sampai disitu saja, seluruh kaum muslimin, baik Muhajirin atau Anshar, menggendong bayi Abdullah ini keliling kota Madinah sambil menggemakan tahlil dan takbir. Apa yang sebenarnya terjadi? Ternyata, Beberapa waktu sebelumnya orang-orang Yahudi menyebarkan berita bahwa dukun-dukun mereka telah menyihir kaum muslimin hingga menjadi mandul. Bagi penduduk Madinah, ancaman ini bukan hal sepele, karena selama ini mereka menganggap kaum Yahudi sebagai orang yang ‘dekat’ dengan Tuhan. Tetapi dengan kelahiran Abdullah ini, mereka memperoleh bukti bahwa orang-orang Yahudi tersebut hanya menyebarkan kabar bohong semata.

Ibnu Zubair hanya dalam masa kanak-kanak ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam masih hidup, tetapi itu cukup membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang kokoh dan teguh dengan keislaman, sebagaimana kedua orang tuanya. Ia berba'iat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ketika masih berusia 7 tahun, dan beliau menerima ba'iatnya, padahal biasanya beliau tidak mau menerima ba'iat dari anak-anak. Ia tumbuh menjadi seorang ahli ibadah sebagaimana orangtuanya, dan sahabat sahabat senior Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam lainnya. Kesehariannya banyak diisinya dengan membaca dan mengkaji Al Qur'an, serta sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, memperbanyak ibadah dan berpuasa di hari-hari yang panas karena rasa takutnya kepada Allah. Ketika sedang shalat, yakni saat sedang ruku dan sujud, tak jarang burung-burung dara bertengger di punggungnya tanpa sedikitpun merasa terganggu shalatnya.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tercenung, seperti menerawang jauh, kemudian bersabda lagi, "Tetapi bagaimanapun engkau akan membunuh orang, atau orang itu yang akan membunuhmu."

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam semacam ramalan bagaimana akhir kehidupan Ibnu Zubair. Bahkan saat kelahirannya, beliau pernah mengibaratkan bahwa Ibnu Zubair ini seperti seekor domba yang dikelilingi harimau yang berbulu domba.

Pada masa khalifah Utsman bin Affan, ia bergabung dengan pasukan muslim yang dipersiapkan untuk menyerang pasukan Romawi yang berjumlah 200.000 orang, sementara pasukan muslim sendiri hanya 20.000 orang. Pimpinan pasukan adalah gubenur Mesir, Abdullah bin Abi Sarah. Pasukan ini ditujukan untuk membebaskan Afrika, Andalusia dan Konstantinopel dari penjajahan dan tirani Romawi.

Pimpinan pasukan Romawi yang bernama Jarjir mengadakan sayembara, barang siapa bisa membunuh Abdullah bin Abi Sarah, ia berhak memperoleh hadiah sebesar 100.000 dinar dan menikahi anaknya. Sayembara ini disebarkan juga di kalangan kaum muslim. Abdullah bin Zubair melihat bahaya adu domba ini dalam strategi Jarjir itu. Karena itu dengan persetujuan komandannya, ia membuat sayembara tandingan, ia berkata, "Kita tidak perlu khawatir, kita juga mengumumkan, bahwa barang siapa yang bisa membunuh Jarjir, ia memperoleh hadiah 100.000 dinar, dan berhak menikahi putrinya."

Ternyata tidak mudah membangkitkan semangat pasukan muslim hanya dengan sekedar sayembara tandingan seperti itu. Karena itu, Abdullah bin Zubair bersama sekelompok sahabat dan temannya menjadi pasukan perintis untuk menjebol pagar betis pasukan Romawi yang berlipat sepuluh kali lipat banyaknya tersebut. Ia berkata kepada pasukan perintis yang mendukungnya, "Lindungilah punggungku, dan marilah menyerbu musuh bersamaku…!!"

Pasukan ini berhasil membelah pasukan Romawi, dan terus merangsek maju menuju satu titik, yakni tempat pengendali dan komandan pasukan, Jarjir. Seolah bahtera yang membelah gelombang, pasukan perintis ini seolah tidak terbendung hingga akhirnya sampai berhadapan dengan Jarjir. Abdullah bin Zubair sendiri yang bertempur dengan komandan pasukan Romawi yang ditakuti itu, dan akhirnya ia berhasil membunuhnya.

Panji-panji Islam berkibar di pusat komando pasukan Romawi, dan pasukan muslim yang terus bergerak di belakangnya juga berhasil memporak-porandakan pasukan Romawi lainnya. Kemenangan yang gemilang ini tak lepas dari peran dan keberanian Abdullah bin Zubair, karena itu Abdullah bin Abi Sarah, komandan pasukan muslim, memberikan kehormatan kepadanya untuk menyampaikan sendiri berita kemenangan ini kepada Khalifah Utsman di Madinah. (*)


10. Bara Bin Malik ra.

Barra bin Malik adalah seorang sahabat Anshar yang kurus dan bermata cekung. Ia masih saudara tua Anas bin Malik, sahabat sekaligus pelayan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang banyak meriwayatkan hadits-hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Barra bin Malik memiliki keberanian dan semangat juang sangat tinggi, kontras sekali dengan penampilan tubuhnya yang kurus kecil. Ia tidak takut kepada musuh apapun dan selalu merindukan untuk mati syahid. Karena itu ketika menjadi khalifah, Umar bin Khaththab pernah menulis surat pada wakil-wakilnya untuk tidak menjadikan Barra sebagai komandan pasukan, dikhawatirkan ia akan membawa pasukannya kepada kemusnahan, walau memang mati syahid, karena semangat jihadnya yang terlalu tinggi.

Pasukan yang dibentuk Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu untuk menumpas pasukan Nabi Palsu Musailamah al Kadzab di Yamamah, pertama kali dipimpin oleh Ikrimah bin Abu Jahal, tetapi dapat dipukul mundur pasukan Musailamah. Pasukan kedua yang dipimpin oleh Khalid bin Walid juga sempat kocar-kacir, sebelum akhirnya Khalid merubah strategi dengan mengelompokkan pasukan sesuai kabilah dan golongannya, Barra diserahi untuk memimpin kaum Anshar. Riwayat lainnya menyebutkan dipimpin oleh Tsabit bin Qais bin Syammas, yang tidak lain masih pamannya sendiri. Atau bisa jadi, Barra sebagai komandannya dan Tsabit sebagai pembawa panji dari kelompok Anshar.

Dengan strategi ini pasukan Musailamah dipukul mundur dan berlindung dalam bentengnya yang kokoh, pasukan muslim sempat kesulitan menembus benteng karena dikelilingi tembok yang tinggi dan pintu yang terkunci rapat, sementara itu panah-panah menghujani mereka dari atas. Barra mengambil inisiatif beresiko tinggi untuk menjebol kebuntuan tersebut. Di dekat pintu gerbang benteng, ia duduk di atas sebuah perisai dan berkata kepada pasukannya, "Lemparkanlah aku ke dalam benteng dengan perisai ini, aku akan syahid, atau aku akan membukakan pintu gerbang ini untuk kalian!"

Sepuluh orang memegang perisai tersebut kemudian melemparkan Barra ke atas benteng. Tubuhnya yang kurus kecil dengan mudah melampaui dinding benteng, dan dengan pedang terhunus ia jatuh dikumpulan pasukan musuh yang menjaga pintu gerbang. Dengan semangat tinggi Barra menyerang mereka dan setelah melumpuhkan sepuluh orang, ia berhasil membuka pintu gerbang benteng dan membuka jalan bagi pasukan muslim memasukinya.

Akhirnya Pasukan Musailamah dan Bani Hanifah dapat dikalahkan dan nabi palsu itu terbunuh oleh tombak Wahsyi bin Harb, tombak yang sama yang telah mengantarkan Hamzah kepada syahidnya di Perang Uhud. Sungguh suatu tebusan yang setimpal. Dalam pertempuran Yamamah ini, Barra berhasil membunuh seorang tokoh kepercayaan Musailamah yang dikenal sebagai Muhkam al Yamamah, atau Kaldai Yamamah, seorang lelaki tinggi besar dengan pedang berwarna putih. Atau mungkin juga mereka dua orang yang berbeda, yang keduanya dibunuh oleh Barra.

Ketika kembali ke kemahnya, Barra mengalami delapanpuluh lebih luka tusukan pedang dan anak panah. Namun dengan ijin Allah luka-luka itu akhirnya sembuh dalam waktu satu bulan.



11. Hilal Bin Umayyah Al Waqifi ra.

Suatu ketika Hilal bin Umayyah datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sambil mengadukan bahwa istrinya telah berzina dengan Syarik bin Syahma. Dengan tegas beliau bersabda, "Apakah kamu bisa mendatangkan saksi (sebanyak empat orang)? Jika tidak kamu mendapat Had (hukuman cambuk) di punggungmu!!" 

Dengan rasa keberatan, Hilal berkata, "Wahai Rasulullah, apabila seseorang dari kami melihat seorang laki-laki di atas istrinya, haruskah mencari saksi?"

Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menegaskan bahwa begitulah yang diperintahkan oleh Allah, kemudian Hilal berkata, "Demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, sesungguhnya saya benar, dan Allah akan menurunkan sesuatu yang akan membebaskan punggungku dari Had…"

Tidak berapa lama berlalu, turunlah Jibril Alaihi Salam sambil membawa firman Allah surah an Nur ayat 6 - 9. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengirimkan utusan untuk mendatangkan Hilal dan istrinya. Beliau menjelaskan tentang ayat yang baru turun menyangkut mereka berdua. Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah mengetahui, salah seorang di antara kamu berdusta. Apakah ada di antara kalian yang akan bertobat…"

Hilal bersaksi dan bersumpah tentang kebenarannya dirinya sebanyak empat kali, dan sumpah ke lima bahwa laknat Allah akan turun kepadanya jika memang ia berdusta. Giliran istrinya yang berdiri dan bersumpah, tetapi ketika akan bersumpah yang ke lima kalinya, ia sempat ragu dan melambat sehingga orang-orang berfikir ia akan berubah fikiran dan bertobat. Tetapi kemudian ia meneruskan sumpahnya dan berkata, "Saya tidak membuka aib kaumku pada seluruh hari…"

Dengan adanya ketentuan tersebut, yakni bersumpah sampai lima kali, Hilal terbebas dari hukuman dera karena menuduh istrinya berzina tanpa empat saksi yang melihat perbuatannya. Begitupun dengan istrinya, dengan bersumpah sebanyak lima kali, ia juga terbebas dari hukuman rajam sampai mati walau mungkin ia benar-benar telah berzina. Dan urusannya akhirnya terserah kepada Allah, apakah Allah akan menurunkan laknatnya, sesuai dengan sumpah ke lima yang diucapkan, atau Allah akan membukakan jalan taubat lain bagi dirinya.

Setelah itu wanita tersebut pergi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam kemudian berkata, "Perhatikanlah istri Hilal, jika ia melahirkan anak yang bercelak kedua matanya, besar pantat dan kedua betisnya, maka anak itu adalah bagi Syarik bin Sahma (artinya, istri Hilal benar-benar berzina)."

Ternyata wanita tersebut melahirkan anak seperti yang digambarkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan beliau bersabda, "Seandainya tidak karena sesuatu yang telah lewat dalam Kitabullah Ta'ala (yakni ketentuan sumpah sampai lima kali tersebut), niscaya ada urusan antara aku dan wanita tersebut (yakni, istri Hilal tersebut akan dihukum rajam)."

Setelah peristiwa tersebut, Hilal meminta ijin kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menjatuhkan talak (menceraikan) kepada istrinya, dan beliau membolehkannya.

Hilal bin Umayyah adalah salah satu dari tiga sahabat yang tertinggal dari perang Tabuk, yang mengakui dosa-dosanya. Taubatnya ditunda sampai 50 hari hingga Allah sendiri yang mengampuninya dengan surah Taubah ayat 117 - 118. Dua orang lainnya adalah, Ka'ab bin Malik dan Murarah bin Rabi'.

Setelah 40 hari diasingkan dari pergaulan kaum muslimin lainnya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan agar Hilal menjauhi istrinya (tetapi bukan menceraikannya). Istrinya ini, yang dinikahinya setelah menceraikan istri sebelumnya yang dituduhnya berzina, datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam meminta ijin beliau untuk tetap merawat Hilal karena ia sudah tua dan lemah, serta tidak memiliki pembantu. Beliau mengijinkannya tetapi dengan syarat tidak sampai "kumpul". Istrinya menjamin hal itu takkan terjadi, karena hari-hari Hilal sejak ketertinggalannya dalam perang Tabuk tersebut hanya dilalui dengan menangis dan penyesalan tiada henti.


12. Mush’ab Bin Umair ra.

Muballigh Pertama di Kota Madinah

Dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pada beberapa kelompok suku yang sedang melaksanakan haji, kebanyakan mengalami penolakan. Tetapi enam orang dari Suku Khazraj yang dipimpin oleh As'ad bin Zurarah dari Bani Najjar menerima ajakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dengan baik. Pada musim haji berikutnya, dua belas orang datang lagi dan berba'iat pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, tujuh orang di antaranya baru masuk silam. As'ad bin Zurarah yang juga memimpin rombongan ini meminta Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengirim seseorang yang mampu memberikan pengajaran dan memimpin dakwah di Madinah.

Pilihan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam jatuh pada Mush'ab bin Umair. Walaupun masih muda, pengalamannya di masa jahiliah dalam majelis-majelis dan kepandaiannya saat berguru pada Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tentunya menjadi pertimbangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk memilihnya dalam tugas mulia ini. Ia tinggal bersama As'ad bin Zararah.

Bersama As'ad, Mush’ab mendatangi berbagai kabilah, rumah-rumah dan mejelis-majelis untuk mengajak mereka memeluk Islam. Saat berdakwah pada kabilah Abdul Asyhal, ia sempat disergap oleh Usaid bin Hudlair, pemuka kabilah tersebut karena dianggap mengacau dan membuat anak buahnya menyeleweng dari agamanya Tetapi dengan kemampuan diplomasinya dan wajahnya yang teduh serta tenang, Mush’ab mampu meredam kemarahan Usaid, dan memaksanya untuk duduk mendengarkan.

Mush'ab pun membacakan ayat-ayat Qur'an dan menjelaskan risalah yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Dengan gaya bahasa yang halus penuh ketulusan, Mush'ab mampu menyentuh hati nurani Usaid yang terdalam, dan membawanya pada hidayah Allah untuk memeluk Islam, yang dalam beberapa jam kemudian disusul dengan keislaman Sa’ad bin Mu’adz, tokoh Bani Abdul Asyhal lainnya. Keislaman dua pemukanya ini dikiuti oleh hampir seluruh anggota kabilah tersebut.

Tersebarnya kabartentang keislaman Usaid bin Hudlair dan Sa’ad bin Mu’adz membuat tokoh-tokoh Madinah lainnya mencari tahu tentang agama baru ini. Beberapa pemuka kabilah di Madinah akhirnya memeluk Islam, antara lain Sa'ad bin Ubadah dan Amr bin Jamuh, dimana tokoh ini membuat pemusnahan banyak berhala yang selama ini dijadikan sesembahan.

Masyarakat Madinah pun makin banyak yang masuk Islam menyusul tokoh-tokohnya. Mereka berpendapat, "Kalau Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu? Marilah kita datang ke Mush'ab untuk menyatakan keislaman."

Syahidnya Mush'ab bin Umair

Pada Perang Uhud, Mush'ab bin Umair dipilih oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai pembawa bendera. Dengan strategi yang jitu dan pengaturan pasukan yang sempurna oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, pasukan Quraisy pun kocar-kacir berlarian meninggalkan harta benda di medan pertempuran. Tetapi ketidak-disiplinan sebagian besar dari 50 pasukan pemanah yang ditempatkan Nabi di atas bukit, membuat situasi berbalik. Hampir 40 orang turun untuk mengambil ghanimah dan membiarkan pertahanan dari bukit terbuka. Peringatan Abdullah bin Jubair, komandan pasukan pemanah untuk tetap tinggal di atas bukit diabaikan begitu saja.

Khalid bin Walid yang memimpin satu kelompok pasukan Qureisy melihat situasi ini, dan ia bergerak menaiki bukit. Sekitar sepuluh orang yang bertahan di atas bukit tak mampu menahan gempuran Khalid dan mereka syahid semua. Kemudian Khalid menggempur pasukan Islam di bawahnya, bahkan serangan-pun mengarah pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Mush'ab melihat keadaan bahaya yang mengancam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, ia bergerak cepat dengan bendera di tangan kiri yang diangkat tinggi, tangan kanan mengayun pedang dan mulutnya bergemuruh dengan takbir, mencoba membendung arus musuh yang mendatangi Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Tetapi kekuatan yang tidak berimbang mematahkan serangan Mush’ab, tangan kanannya ditebas Ibnu Qumai'ah hingga putus, Mush'ab hanya berkata, "Muhammad tidak lain hanya seorang Rasul, sebagaimana Rasul-rasul yang telah mendahuluinya."

Kemudian bendera dikepit dengan sisa lengan kanannya, dan tangan kirinya mengayun pedang menyerang musuh yang terus berdatangan. Ketika tangan kiri itu ditebas juga hingga putus dan bendera jatuh. Lagi-lagi Umair mengulang ucapannya, "Muhammad tidak lain hanyalah seorang Rasul, sebagaimana Rasul-rasul yang telah mendahuluinya."

Namun demikian dengan kedua pangkal lengannya, Mush’ab masih berusaha menegakkannya bendera itu, sampai akhirnya sebuah tombak menusuk tubuhnya hingga patah, dan gugurlah Mush'ab sebagai syahid.

Setelah perang Uhud berakhir, Nabi berdiri di dekat jasad Mush'ab dengan mata berkaca. Sesosok tubuh yang masa mudanya dibalut dengan pakaian halus, mahal dan wangi, kini jasadnya hanya tertutup kain burdah yang begitu pendek, jika ditutup kepalanya, kakinya akan terbuka, jika ditutup kakinya, kepalanya yang terbuka. Maka Nabi bersabda, "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan tutupilah kakinya dengan rumput idzkir."

Islamnya Mush’ab Bin Umair

Masa remaja Mush'ab bin Umair adalah masa remaja yang paling diidamkan oleh umumnya remaja, hidup berlimpah kekayaan, tampan, cerdas, dimanjakan orang tua, diinginkan oleh banyak wanita dan dihargai oleh lingkungannya karena dari keluarga terpandang dan banyak memberikan solusi dalam majelis-majelis.

Namun semua kelebihan dan fasilitas yang dipunyainya jadi tak berarti ketika ia mulai mendengar adanya dakwah yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Tekanan dan siksaan yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap pemeluk Islam tidak membuatnya gentar untuk mengenal lebih jauh ajaran agama baru ini. Akhirnya cahaya hidayah membawanya ke rumah Arqam bin Abil Arqam (Darul Arqam), dimana biasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengajar sahabat-sahabat beliau, dan ia berba’iat memeluk Islam. Lantunan ayat-ayat Al Qur'an membuat hatinya bergemuruh, penuh gairah dan haru yang membludak, sampai akhirnya Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengusap dadanya, sehingga hatinya menjadi tenang dan damai bagaikan lubuk sungai yang dalam.

Hal yang ditakutkan setelah menjadi Islam adalah ibunya. Ibunya, Khunas binti Malik adalah sosok yang dominan, berkepribadian kuat, berpendirian yang tidak bisa ditawar-tawar. Karena itu Mush'ab menyembunyikan keislamannya dari ibunya, dan diam-diam ia selalu pergi ke rumah Arqam untuk memperdalam keislamannya. Namun pada akhirnya ibunya tahu juga perubahan keyakinan anaknya dari seseorang bernama Utsman bin Thalhah.

Tak pelak lagi, Mush'ab diinterogasi ibunya di depan pembesar-pembesar Quraisy, namun kekuatan iman telah menyatu-padu dalam hatinya sehingga tak mungkin ia kembali ke kepada agama jahiliah. Bahkan ia berdiri tegar di depan ibunya yang selama ini dihormati dan ditakutinya sambil membacakan ayat-ayat Al Qur'an. Dalam puncak kemarahannya, ibunya mengurung Mush'ab dalam ruangan sempit dan terpencil dengan penjagaan ketat.

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menitahkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Habsyi, Mush'ab berhasil memperdaya penjaganya dan lolos untuk mengikuti beberapa sahabat hijrah ke Habsyi. Sungguh harga yang mahal untuk mempertahankan keimanan. Kemewahan dan kemegahan masa remaja ditukar dengan hidup merana dan terlunta di negeri orang. Memang kenikmatan batin karena manisnya iman tidak akan bisa dijual dengan sebanyak apapun kemewahan dunia ini.

Beberapa waktu kemudian Mush'ab hadir dalam majelis Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersama sahabat-sahabatnya, mereka menundukkan dan memejamkan mata, sebagian menangis haru melihat penampilan Mush'ab yang memakai jubah usang bertambal-tambal. Rasanya belum lama berselang ketika mereka melihat Mush'ab yang bagaikan bunga di taman, begitu cemerlang memikat dan menebarkan aroma wewangian di sekitarnya. Tetapi justru inilah yang memunculkan pujian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam atas dirinya, Beliau bersabda, "Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya tetapi semua itu ditinggalkan karena cintanya pada Allah dan RasulNya."

13. Khalid Bin Walid ra.

Perjalanan ke Madinah tidaklah mudah untuk ditempuh sendirian, karena itu ia memerlukan seorang teman perjalanan yang sepemahaman, yang sekaligus bersedia untuk memeluk Islam. Khalid memilih di antara teman dekatnya, pertama ia mengajak Shafwan bin Umayyah, tetapi Shafwan menolak dengan penolakan yang kuat, bahkan ia berkata, "Jika tiada siapapun lagi yang tersisa kecuali aku, pasti aku tidak akan mengikutinya selama-lamanya."

Khalid bisa memaklumi karena bapak dan saudaranya terbunuh di perang Badar, sehingga ia begitu dendam kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Begitu dendamnya hingga ia pernah "membiayai" Umair bin Wahb untuk membunuh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam setelah perang Badr selesai, tetapi makarnya ini justru membawa Umair bin Wahb masuk Islam.

Kemudian Khalid menghubungi Ikrimah bin Abu Jahal, tetapi iapun memberikan jawaban yang kurang lebih sama dengan Shafwan. Khalid minta pada Ikrimah untuk merahasiakan niatnya ini dari orang-orang Quraisy, dan Ikrimah menyetujuinya. Akhirnya ia memutuskan untuk berangkat sendiri.

Ketika sedang mempersiapkan perbekalan dan tunggangannya, ia melihat salah seorang sahabatnya yang lain, Utsman bin Thalhah. Ia ingin memberitahukan niatnya, tetapi sempat ragu-ragu karena seperti halnya Shafwan dan Ikramah, banyak saudaranya yang terbunuh ketika berperang melawan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Bagaimanapun juga ia sudah dalam proses keberangkatan, karena itu tidak ada salahnya ia memberitahukannya pada Utsman. Maka Khalid menceritakan apa yang dirasakannya dan juga keputusannya untuk memeluk Islam, sebagaimana yang disampaikan pada Shafwan dan Ikramah, dan ia mengajak Utsman memeluk Islam dan menemaninya menjumpai Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam di Madinah. Di luar dugaan, ternyata Utsman menyambut ajakan Khalid ini. Mereka membuat janji untuk bertemu besok paginya di Ya'juj, sekitar 8 mil di luar kota Makkah.

Khalid meninggalkan rumah ketika waktu sahur dan telah sampai di Ya'juj sebelum fajar, Utsman pun telah menunggunya. Mereka meneruskan perjalanan, dan beristirahat sesampainya di Haddah. Tak lama berselang datang seorang penunggang unta mendekat, yang ternyata 'Amr bin 'Ash. Ketiga orang ini ternyata mempunyai tujuan yang sama, bahkan 'Amr bin 'Ash telah menyatakan Islam di hadapan Najasyi, Raja Habasyah. Merekapun bersama -sama menuju Madinah menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Sesampainya di Harrah, di luar kota Madinah, mereka menambatkan ontanya dan Khalid berganti pakaian dengan pakaian yang terbaik dan berangkat menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Walid bin Walid, adik Khalid yang telah menunggunya, berkata, "Bersegeralah, sesungguhnya Rasulullah telah diberitahu tentang kedatangan kalian dan beliau sangat gembira. Beliau telah menunggu kedatangan kalian."

Mereka bertiga mempercepat langkah menuju masjid dimana Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah menunggu. Khalid mengucap salam pada beliau, setelah dijawab, ia langsung mengucap syahadat sebagai ba'iat keislamannya. Nabi bersabda, "Marilah !! Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah kepadamu, sungguh aku telah melihat engkau sebagai orang yang berakal cerdik, dan aku berharap akalmu tidak akan mengantarkanmu kecuali kepada kebaikan semata!"

Khalid berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah terlibat dengan beberapa pertempuran melawan engkau dengan penuh penentangan, hendaknya engkau memohonkan ampun kepada Allah atas semua itu!"

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mendoakan ampunan untuk Khalid seperti yang dimintanya. Setelah itu menyusul 'Amr dan Utsman menghadap Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyatakan ba'iat keislamannya.

Khalid begitu inginnya memperoleh syahid, tetapi kehendak Allah berbicara lain. Begi…


14. Utsman Bin Thalhah Al  Adawi ra.

Utsman bin Thalhah bin Abu Thalhah al Adawi, pada masa jahiliahnya ia adalah penjaga Baitullah sekaligus pemegang kunci Ka'bah. Ia memeluk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah atas ajakan Khalid bin Walid. Dalam perjalanan ke Madinah, mereka bertemu dengan Amr bin Ash yang juga memutuskan untuk berba'iat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam keislaman. 

Ketika tiba di Madinah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menyambut gembira kehadiran mereka, bahkan ketika melihat kedatangan ketiganya, beliau bersabda, "Makkah telah melepaskan jantung hatinya…!"

Walau ucapan ini lebih ditujukan kepada Amr bin Ash dan Khalid bin Walid, tetapi kemuliaan itupun melingkupi dirinya karena berba'iat dalam Islam bersama-sama dengan dua orang yang kelak menjadi pahlawan yang mengharumkan nama Islam ke seantero dunia.

Seusai Fathul Makkah dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam membersihkan Ka'bah dan Baitullah dari berhala-berhala, Ali bin Abi Thalib menghampiri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sambil membawa kunci Ka'bah dan berkata, "Wahai Rasulullah, serahkanlah kewenangan menjaga Ka'bah dan memberi minum orang-orang yang berhaji kepada kami. Semoga Allah senantiasa melimpahkan salam dan shalawat kepada engkau…"

Riwayat lain menyebutkan, Abbas bin Abdul Muthalib yang menyatakan permintaan tersebut. Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berkata, "Mana Utsman bin Thalhah?"

Setelah Utsman dipanggil dan datang menghadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda, "Ambillah kunci ini sebagai pusaka abadi, tidak ada yang merampasnya dari kalian kecuali orang yang dzalim. Wahai Utsman, Sesungguhnya Allah menyerahkan keamanan rumahNya kepada kalian. Ambillah yang diberikan dari rumah ini dengan cara yang ma'ruf."

Maka tugas memegang kunci Ka'bah tersebut berada di tangan Utsman bin Thalhah dan anak keturunannya, bahkan sampai saat ini.

Suatu ketika saat masih musyrik, Utsman sedang berada di Tan'im, tidak jauh di luar kota Makkah, ia melihat seorang wanita bersama anaknya mengendarai onta sendirian keluar dari Kota Makkah. Setelah dekat, ia-pun bertanya kepada wanita tersebut, yang ternyata adalah Ummu Salamah. "Hendak kemanakah engkau, hai anak perempuan Abu Umayyah?"

Ummu Salamah menjelaskan kalau ia dan anaknya akan ke Madinah untuk menemui suaminya. Sudah sekitar setahun ia terpisahkan sejak suaminya hijrah ke Madinah, sedang ia dan anaknya ditahan oleh kerabatnya. Kini ia dibebaskan dan ingin tinggal bersama suaminya di Madinah, ia berangkat sendirian hanya ditemani Allah. Mendengar penjelasan tersebut, Utsman berkata, "Demi Allah, engkau tidak pantas dibiarkan sendirian begitu saja."

Setelah itu Utsman memegang kendali unta Ummu Salamah dan menuntunnya berjalan cepat. Jika tiba waktunya istirahat, ia mendudukkan unta agar Ummu Salamah bisa turun, menambatkan unta dan beristirahat di bawah pohon lainnya. Jika akan berangkat lagi, ia mendudukkan unta agar Ummu Salamah mudah menaikinya, kemudian menuntunnya berjalan cepat. Begitu berulang-ulang dilakukan tanpa banyak percakapan.

Setelah beberapa hari perjalanan, mereka sampai di pinggiran kota Madinah, yakni di kampung Quba yang didiami Bani Amr bin Auf, Utsman berkata kepada Ummu Salamah, "Suamimu tinggal di kampung itu, masuklah kamu ke dalamnya dengan berkah dari Allah!" Setelah itu ia menyerahkan kendali unta ke Ummu Salamah, dan berjalan pulang ke arah Makkah. (*)



15. Abu Lubabah ra.

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memobilisasi pasukan ke Tabuk, ada beberapa orang tertinggal atau tidak mengikuti beliau dalam pertempuran tersebut. Sebagian besar memang orang-orang yang tertuduh sebagai kaum munafik, mereka ini berjumlah sekitar delapan puluh orang. Ada juga sejumlah sahabat yang tidak memperoleh tunggangan dan perbekalan untuk berangkat, seperti sekelompok sahabat yang dipimpin Abdullah bin Ma'qil al Muzanni. Termasuk juga sepuluh orang dari Bani Muqrin. Mereka ini datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, tetapi beliau tidak memiliki apa-apa lagi untuk bisa memberangkatkan mereka, baik kendaraan atau perbekalan. Mereka pulang dengan berlinang air mata karena tidak bisa menyertai beliau berjihad. Namun demikian ada enam atau tujuh sahabat lainnya, yang tertinggal karena berbagai alasan yang tidak tepat, namun mereka menyadari kesalahannya ini, antara lain adalah Abu Lubabah.

Setelah beberapa hari berlalu sejak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan pasukannya meninggalkan Madinah menuju Tabuk, Abu Lubabah beserta tiga (atau dua, dalam riwayat lainnya) temannya menyadari kesalahannya. Mereka menyesal, tetapi tidak mungkin untuk mengejar atau menyusul pasukan tersebut. Abu Lubabah berkata, "Kita di sini berada di naungan pohon yang sejuk, hidup tentram bersama istri-istri kita, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam beserta kaum muslimin sedang berjihad…sungguh, celakalah kita…."

Tak habis-habisnya mereka menyesal, mereka yakin bahwa bahaya akan menimpa karena ketertinggalannya ini. Untuk mengekspresikan penyesalannya ini, Abu Lubabah berkata kepada kawannya, "Marilah kita mengikatkan diri ke tiang masjid, kita tidak akan melepaskan diri kecuali jika Rasulullah sendiri yang melepaskannya…!!"

Teman-temannya, Aus bin Khudzam, Tsa'labah bin Wadiah dan Mirdas (atau tanpa Mirdas, pada riwayat dua orang temannya) menyetujui usulan ini. Mereka tetap terikat pada tiang tersebut sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pulang, kecuali ketika mereka akan melaksanakan shalat. Ketika Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pulang dari Tabuk dan masuk ke Masjid, beliau berkata, "Siapakah yang diikat di tiang-tiang masjid itu?"

"Abu Lubabah dan teman-temannya yang tidak menyertai engkau berjihad, ya Rasulullah," Kata seorang sahabat, "Mereka berjanji tidak akan melepaskan diri, kecuali jika tuan yang melepaskannya…!!"

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, "Aku tidak akan melepaskan mereka kecuali jika mendapat perintah dari Allah…!!"

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda tentang mereka, "Aku tidak akan melepaskannya sampai saatnya ada pertempuran lagi…!!" Suatu hari menjelang subuh, ketika itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sedang berada di rumah Ummu Salamah, tiba-tiba beliau tertawa kecil. Ummu Salamah heran dengan sikap beliau ini dan berkata, "Apa yang engkau tertawakan, Ya Rasulullah?"

"Abu Lubabah dan teman-temannya diterima taubatnya…!!" Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Saat itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memang menerima wahyu, Surah Taubah ayat 102, yang menegaskan diterimanya taubat mereka yang berdosa karena ketertinggalannya menyertai jihad bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Ummu Salamah berkata, "Bolehkah aku memberitahukan kepada Abu Lubabah, ya Rasulullah..?" "Terserah engkau saja..!!" Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Ummu Salamah berdiri di depan pintu atau jendela kamarnya yang memang menghadap masjid dan berkata, "Hai Abu Lubabah, bergembiralah karena telah diampuni dosamu, telah diterima taubatmu…!!"

Mereka bergembira, begitu juga dengan para sahabat yang telah berkumpul di masjid untuk shalat shubuh. Mereka ini ingin melepaskan ikatan Abu Lubabah dan teman-temannya, tetapi Abu Lubabah berkata, "Tunggulah sampai datang Rasulullah dan melepaskan sendiri ikatanku…!!" Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam masuk masjid dan melepaskan sendiri ikatan-ikatan mereka. Pagi harinya, Abu Lubabah dan tiga temannya menghadap Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sambil membawa harta yang dipunyainya. Ia berkata, "Ya Rasulullah, inilah harta benda kami, shadaqahkanlah atas nama kami, dan tolong mintakan ampunan bagi kami…."

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, "Aku tidak diperintahkan untuk menerima harta sedikitpun (berkaitan dengan penerimaan taubat ini)…!!" Tetapi tak lama berselang, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memperoleh wahyu, Surah Taubah ayat 103, yang memerintahkan agar beliau untuk menerima shadaqah dari Abu Lubabah dan teman-temannya, dan mendoakan mereka. Beliau melaksanakan perintah ayat tersebut, dan itu membuat Abu Lubabah dan teman-temannya menjadi lebih gembira dan tentram hatinya.

Riwayat lain menyebutkan, peristiwa Abu Lubabah mengikatkan diri di tiang Masjid Nabi bukan berkaitan dengan Perang Tabuk, tetapi dengan Perang Bani Quraizhah.

Setelah berakhirnya Perang Khandaq (parit) atau Perang Ahzab karena pasukan kaum kafir Quraisy dan sekutu-sekutunya diporak-porandakan oleh angin dan badai di waktu subuh, Nabi SAW dan kaum muslimin segera kembali ke Madinah. Angin dan badai tersebut sebenarnya adalah pasukan malaikat yang dikirim Allah untuk membantu kaum muslimin, dan di waktu dhuhur, Jibril yang menjadi pimpinan pasukan malaikat menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sambil berkata, “Wahai Muhammad, mengapa engkau meletakkan senjata sedangkan kami belum meletakkan senjata. Serulah mereka untuk menuju Bani Quraizhah, dan kami akan berada di depanmu. Akan aku guncangkan benteng mereka dan aku susupkan ketakutan di hari mereka…!!” Bani Quraizhah adalah kaum Yahudi di Madinah yang terikat perjanjian damai dan kerjasama dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam Piagam Madinah. Tetapi ketika terjadi pengepungan Madinah oleh pasukan kafir Quraisy dan sekutunya, mereka justru berpihak kepada pasukan musuh dan memasok kebutuhan makanannya. Mereka juga berencana menyerang penampungan kaum wanita dengan mengirim seorang mata-mata terlebih dahulu. Untung saja, berkat keberanian bibi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, mereka membatalkan rencananya itu. Shafiyah berhasil membunuh mata-mata tersebut dan menggelindingkan mayatnya ke arah pasukan Bani Quraizhah yang siap menyerang, karena itu mereka beranggapan bahwa ada pasukan muslim yang menjaga para kaum wanitanya, padahal tidak ada.

Segera saja Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan Bilal untuk menyerukan panggilan jihad, “Siapa saja yang tunduk dan patuh, janganlah melaksanakan shalat ashar kecuali di Bani Quraizhah!!”

Dalam kondisi baru tiba (pulang) setelah mempertahankan diri dari pengepungan kaum kafir Quraisy dan sekutunya selama satu bulan, ternyata tidak mudah untuk mengumpulkan seluruh pasukan. Karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan agar mereka yang telah siap, walau dalam kelompok yang kecil, agar segera berangkat. Kelompok demi kelompok akhirnya berkumpul di tempat Bani Quraizhah ketika telah menjelang waktu isya’, dan pada saat itulah mereka melaksanakan shalat ashar sesuai perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.

Kaum muslimin melakukan pengepungan selama beberapa hari lamanya, dan akhirnya pemimpin Bani Quraizhah, Ka’b bin Asad mengirim utusan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai tanda menyerah. Tetapi mereka juga meminta Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengirim Abu Lubabah untuk melakukan pembicaraan dan mendengar pendapatnya. Abu Lubabah memang sekutu terbaik kaum Yahudi Bani Quraizhah sebelum Islam datang, bahkan saat itu harta kekayaan dan anak Abu Lubabah ada yang masih tinggal (tertinggal) di wilayah kaum Yahudi tersebut. Dan ternyata, dalam situasi yang seperti itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memenuhi permintaan mereka.

Ketika Abu Lubabah memasuki benteng dan perkampungan Bani Quraizhah, mereka mengelu-elukan dirinya, para wanita dan anak-anak menangis di hadapannya. Hal itu membuat Abu Lubabah terharu dan merasa kasihan. Ka’b berkata, “Wahai Abu Lubabah, apakah kami harus tunduk kepada keputusan Muhammad??”

“Begitulah!!” Kata Abu Lubabah, tanpa sadar ia memberi isyarat dengan tangannya yang diletakkan di lehernya, isyarat bahwa mereka akan dihukum mati. Mungkin karena suasana yang dilihatnya atau rasa kedekatannya selama ini yang membuat ia bersikap seperti itu. Tetapi seketika itu ia menyadari apa yang dilakukannya, yang sama artinya bahwa ia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Tanpa bicara apa-apa lagi ia berlari keluar, bukannya kembali menghadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, tetapi menuju masjid Nabawi dan mengikatkan dirinya di tiang masjid sembari bersumpah tidak akan pernah memasuki Bani Quraizhah, dan juga tidak akan melepaskan ikatannya kecuali Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sendiri yang melepaskannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menunggu-nunggu kedatangan Abu Lubabah, karena tidak datang juga, beliau mengirimkan seorang utusan lainnya. Setelah mendengar tentang apa yang dilakukannya, beliau bersabda, “Andaikata ia datang kepadaku, tentu aku akan memaafkannya. Tetapi karena ia telah berbuat seperti itu (yakni dengan diikuti sumpah), maka aku tidak bisa melepaskannya kecuali jika ia benar-benar bertaubat kepada Allah!!” Selanjutnya sama dengan kisah di atas.


16. Abu Hudzaifah Bin Utbah ra. Abu Hudzaifah bin Utbah adalah putra tokoh Quraisy, Utbah bin Rabiah. Ia memeluk Islam ketika orangtua dan saudara-saudaranya gencar-gencarnya memusuhi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, yakni sebelum Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berdakwah di rumah Arqam bin Abi Arqam. Ia menikah dengan putri tokoh Quraisy juga, yakni Sahlan binti Suhail bin Amr, yang juga telah memeluk Islam ketika orangtuanya gencar memusuhi Islam. Mereka berdua sempat berhijrah ke Habasyah sampai dua kali karena kerasnya tekanan dan permusuhan dari kaum Quraisy, terutama orang tua mereka. Abu Hudzaifah termasuk Ahlu Badar, sementara itu orang tua dan saudara-saudaranya terbunuh dalam perang ini, namun demikian ia tidak mendendam kepada Hamzah dan Ali yang telah membunuh mereka. Hanya ketika mayat ayahnya dilemparkan ke sumur Badar seperti mayat orang-orang kafir lainnya, tampak perubahan di wajahnya, sehingga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, "Wahai Abu Hudzaifah, tampaknya engkau sedih dengan keadaan ayahmu tersebut?" "Tidak ya Rasulullah," Kata Abu Hudzaifah, "Aku tidak bimbang atas ayahku dan kematiannya, hanya saja aku pernah menyampaikan tentang kebenaran ini dan keutamaannya, sehingga aku berharap Allah memberinya hidayah kepada Islam." Perasaannya sempat bergolak, ketika sebelum dimulainya perang Badar, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berpesan agar mereka tidak membunuh Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang berada di pihak kaum musyrik. Maka terlontarlah ucapannya yang emosional, "Kami berperang untuk membunuh ayah-ayah, saudara-saudara dan keluarga-keluarga kami, tetapi dilarang untuk membunuh Abbas!! Demi Allah, sekiranya aku menjumpainya, aku akan menebasnya dengan pedangku…" Ucapannya ini disesalinya seumur hidup karena jelas telah menentang perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan itu membuatnya begitu semangat berjuang untuk memperoleh syahid sebagai tebusan ucapannya tersebut. Untungnya ia tidak bertemu dengan Abbas pada perang Badar tersebut, yang ternyata tertawan oleh seorang sahabat Anshar dan menyerahkannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Ketika hijrah ke Madinah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mempersaudarakannya dengan Abbad bin Bisyr, dan mereka berdua syahid di peperangan Yamamah di masa khalifah Abu Bakar, yakni pertempuran dalam rangka menumpas nabi palsu, Musailamah al Kadzdzab.


17. Amru Bin Murrah Al Juhaini Ra.

Amru bin Murrah berasal dari Bani Rifaah dari kabilah Bani Juhainah. Pada masa jahiliah, ketika sedang berhaji di Makkah bersama jamaah dari bani Juhainah, ia bermimpi melihat cahaya keluar dari Ka'bah. Cahaya ini menerangi gunung-gunung di Yastrib dan Asharu Juhainah, dan dari cahaya itu keluar suara, "Kegelapan telah sirna digantikan cahaya terang benderang, penutup para Nabi telah diutus."

Kemudian ia melihat lagi cahaya keluar dari Ka'bah, kali ini tampak istana-istana di Hiirah (Yaman), dan putihnya istana-istana di Madain (Persia/Iran). Dari cahaya itu juga keluar suara, "Islam telah menang, berhala-berhala telah dihancurkan dan silaturahmi telah dijalin." 

Setelah itu Amru terbangun dari mimpinya dengan ketakutan, ia merasa akan terjadi sesuatu dengan kaum Quraisy, yang membuat goncang istana-istana di Yaman dan Persia. Ketika kembali ke perkampungan bani Juhainah, ia mendengar berita tentang seorang lelaki yang mengaku sebagai Nabi. Ia segera melacak kebenaran berita tersebut, yang akhirnya membawa langkahnya menuju Madinah. Saat bertemu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, ia menceritakan mimpinya tersebut, dan dengan gembira Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berkata. "Selamat datang wahai, Amru…"

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjelaskan risalah Islam dengan panjang lebar kepada Amru, dan menyerunya untuk memasuki agama Islam. Tanpa ragu lagi Amru menyambut seruan beliau, ia mengucapkan kalimah syahadat dan berba'iat untuk menjalankan ajaran-ajaran Islam.

Amru memohon ijin Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk mendakwahi kaumnya dan beliau mengijinkannya. Sayangnya hanya beberapa orang saja yang menyambut seruannya. Ada satu orang yang membantahnya dengan keras, bahkan menganggapnya murtad, pendusta, dan memecah belah kaumnya. Atas sikap permusuhannya yang begitu keras, Amru berkata, "Seorang pendusta, salah satu di antara aku atau engkau akan dimusnahkan oleh Allah, dikelukan lidahnya, dan dibutakanlah matanya…."

Lelaki tersebut mati beberapa waktu kemudian. Sebelum kematiannya, mulutnya menjadi hancur sehingga ia tidak bisa menikmati makanan apapun, matanya buta dan akalnya juga rusak.


18. Abu Arzah Al Islami Ra
Dalam suatu pertempuran, Abu Arzah al Aslami shalat sambil memegang kendali hewan kendaraannya (unta atau kudanya). Tiba-tiba saja hewan tunggangannya tersebut bergerak/berjalan lambat, mungkin sambil mencari makan, dan Abu Arzah mengikutinya dengan tetap mempertahankan shalatnya. Artinya ia tetap shalat dalam keadaan berjalan, seperti halnya shalatnya orang musafir di dalam kendaraan saat ini. Ia menjadi bahan pembicaraan dari orang-orang di sekitarnya karena shalatnya dengan berjalan/bergerak tersebut. Setelah Abu Arzah menyelesaikan shalatnya dan kembali di antara anggota pasukannya, ia menanggapi pembicaraan mereka dengan berkata, "Sesungguhnya saya telah berperang bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sebanyak enam, tujuh atau delapan kali, dan saya melihat beliau mempermudahnya (ketika terjadi peristiwa seperti itu). Dan saya lebih senang mengikuti kemana hewan tersebut bergerak, daripada saya membiarkannya kembali ke tempat yang disukainya, dan itu akan menyulitkan saya (mencarinya dalam pertempuran tersebut)."



19. Abu Sufyan Bin Harb Ra
Abu Sufyan bin Harb adalah tokoh utama kaum kafir Qurasy. Setelah kekalahan di Perang Badar, dan tokoh-tokoh kaum Quraisy seperti Abu Jahal, Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Umayyah bin Khalaf, Walid bin Utbah dan beberapa lainnya, terbunuh di perang tersebut, Abu Sufyan yang muncul sebagai pemimpin Quraisy Makkah, layaknya ia seorang raja saja. Pada hari pembebasan atau penaklukan Kota Makkah (Fathul Makkah), Abu Sufyan bin Harb sama sekali tidak diusik oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Padahal beberapa tokoh Quraisy yang sama kerasnya memusuhi Islam seperti dirinya sempat dihalalkan darahnya (boleh dibunuh), walaupun memang pada akhirnya banyak yang diampuni oleh beliau. Bahkan ia sempat diistimewakan dengan sabda beliau, "Siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, ia aman…!" Memang, ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersiap-siap menggerakkan pasukan ke Makkah, Abu Sufyan telah berada di Madinah dengan maksud memperbaharui Perjanjian Hudaibiyah. Ia sempat singgah di rumah putrinya yang juga istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Ummu Habibah, tetapi ia tidak mendapat sambutan yang menggembirakan. Bahkan untuk duduk di tikar milik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam saja ia dilarang oleh putrinya tersebut, dengan alasan masih kotor, yakni musyrik. Abu Sufyan sempat berbicara dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tetapi beliau agak mengabaikannya. Ia juga meminta jaminan perlindungan kepada beberapa sahabat, termasuk Ali bin Abi Thalib, tetapi ia tidak memperoleh apa yang diharapkan. Kebanyakan dari mereka merasa takut, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam telah memutuskan untuk menyerang dan menaklukkan Kota Makkah. Namun demikian ia memutuskan untuk tetap bersama pasukan muslimin yang sedang bergerak menuju Makkah. Ketika pasukan muslim tiba di Marr Azh Zhahran, dengan bantuan Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Abu Sufyan berhasil menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan akhirnya ia memeluk Islam atas dorongan dari Abbas. Entah apa motivasi dasarnya, tetapi yang jelas ia mengungkapkan kekaguman dan pengakuannya bahwa pasukan muslim begitu besar, dan orang-orang Quraisy tidak akan mampu menahan jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam benar-benar menyerang Makkah. Pada malam harinya pada hari Penaklukan Makkah itu, istrinya, Hindun berkata kepada Abu Sufyan bin Harb, "Sesungguhnya aku mau berbai'at kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam." "Aku melihat kamu ini masih kufur!" Kata suaminya. Hindunpun berkata, "Demi Allah! Demi Allah! Tidak pernah aku melihat sebelum ini, Allah disembah dengan sebenar-benarnya, sebagaimana telah dilakukan oleh Muhammad dan sahabat-sahabatnya di masjid ini (Masjidil Haram) pada malam hari ini. Tidaklah mereka menghabiskan malam, kecuali dengan ruku, sujud dan thawaf hingga subuh." Abu Sufyan bertanya, "Apakah kamu melihat semua ini dari Allah?" "Ya, ini memang dari Allah!!" Kata Hindun dengan tegas. Pagi harinya, ketika ia menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, tiba-tiba beliau berkata kepadanya, "Semalam engkau telah bertanya kepada Hindun : Apakah ini semua dari Allah? Dan ia menjawab : Ya, ini memang dari Allah." Seketika Abu Sufyan memandang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam penuh kekaguman. Ia mungkin telah menyatakan diri memeluk Islam saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam perjalanan ke Makkah. Tetapi pada pagi hari itu ia merasakan kebenaran telah merasuk ke dalam sum-sum dan jiwanya, sehingga sekali lagi ia menyatakan syahadatnya di hadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dengan segenap ketulusan hatinya. Kemudian ia berkata, "Demi Allah, tidak ada yang mendengar ucapanku itu selain Hindun!!" Dalam perang Thaif, perang pertama yang diikutinya sebagai muslim, ketika sedang makan di kebun Abu Ya'la, Sa'id bin Ubaid berhasil memanahnya dan melukai matanya. Ia datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata, "Wahai Rasulullah, mataku ini cedera di jalan Allah!" Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tersenyum mendengar pengaduannya tersebut. Beliau bersabda, "Jika kamu mau, aku akan berdoa kepada Allah agar penglihatanmu kembali seperti sediakala. Atau jika tidak, untukmu surga karena cederamu ini!" "Aku memilih surga saja, wahai Rasulullah!" Kata Abu Sufyan. Maka ia menjalani sisa hidupnya dengan mata yang cedera, dan bersabar atasnya.


20. Wahsyi Bin Harb Al Habsyi Ra.

Wahsyi bin Harb al Habsyi adalah sosok yang cukup terkenal pada perang Uhud, tetapi terkenal dalam sisi jeleknya. Ia adalah pembunuh sahabat dan paman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Hamzah bin Abdul Muthalib, yang jasadnya kemudian dirusak oleh Hindun binti Utbah, sebagai balas dendam atas kematian bapak, paman, saudara dan putranya yang dibunuh oleh Hamzah dalam perang Badar.

Wahsyi sebenarnya adalah budak milik Jubair bin Muth'am yang pamannya juga tewas di perang Badar dibunuh oleh Hamzah. Ia dijanjikan akan dibebaskan dari perbudakan, jika ia berhasil membalas dendam membunuh Hamzah. Hindun ikut menjanjikan hadiah-hadiah yang berlimpah jika ia berhasil membunuh Hamzah.

Wahsyi memang mempunyai keahlian melempar tombak dengan teknik Habsyi, tempat asalnya Habasyah, Afrika. Ia terus melatih kemampuannya itu. Tibalah saat perang Uhud berlangsung, Wahsyi tidak punya tujuan lain kecuali untuk membunuh Hamzah demi untuk kebebasannya dari perbudakan. Praktis ia tidak melakukan pertempuran dengan orang muslim lainnya kecuali hanya mengendap-endap mendekati Hamzah yang berperang bagai banteng mengamuk Ia mencari kesempatan yang tepat untuk bisa melemparkan tombaknya.

Ketika kondisi berbalik dari kemenangan kaum muslim menjadi kekalahan, karena sebagian besar pemanah yang ditugaskan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjaga dari sisi bukit turun untuk mengambil ghanimah, posisi Hamzah jadi terbuka. Seorang kafir Quraisy bernama Siba' bin Abdul Uzza sedang melayani Hamzah bertarung, saat pedang Hamzah mengenai leher Siba', saat itulah Wahsyi melemparkan tombaknya, mengenai pinggangnya hingga tembus ke depan. Hamzah sempat akan berdiri kemudian jatuh lagi dan meninggal. Wahsyi mencabut tombaknya dari tubuh Hamzah dan kembali menunggu di kemahnya. Ketika pertempuran usai, ia kembali ke Makkah bersama rombongan kaum kafir Quraisy. Atas keberhasilannya ini, Wahsyi memperoleh kebebasannya dari perbudakan.

Saat Fathul Mekkah, seperti kebanyakan orang yang mempunyai kesalahan besar terhadap Islam, Wahsyipun berusaha melarikan diri, ia lari ke Thaif. Ketika utusan dari Thaif akan menghadap Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menyatakan keislaman, ia berfikir untuk lari ke Syiria, Yaman atau tempat lainnya. Tetapi dalam kebingungannya, seseorang berkata kepadanya, "Hai orang bodoh, Rasulullah tidak akan membunuh seseorang yang memeluk Islam."

Wahsyi datang ke Madinah. Saat terlihat oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Wahsyi segera berdiri di depan Beliau dan mengucap syahadat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengenali Wahsyi dan memintanya untuk menceritakan proses ia membunuh Hamzah. Usai ia bercerita, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tampak sangat bersedih mengingat apa yang terjadi pada pamannya di Perang Uhud tersebut. Kemudian beliau bersabda,"Sungguh amat disesalkan!! Engkau telah muslim, tetapi sebaiknya engkau menghindarkan perjumpaan denganku."

Sungguh sangat dimaklumi sikap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ini. Walau sebagai paman, Hamzah sebaya dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, bermain dan tumbuh dewasa bersama sebagai sahabat. Ketika kemudian Hamzah masuk Islam, tak lama disusul oleh Umar bin Khaththab, mereka berdua menjadi pilar yang kokoh dalam meredam perlakuan kejam orang-orang kafir Quraisy, bahkan mereka melakukan perlawanan yang tidak mungkin dilakukan sebelumnya, termasuk beribadah dengan terang-terangan di dekat Ka'bah.

Terbunuhnya Hamzah di Perang Uhud, apalagi jasadnya dirusak Hindun untuk mengambil hatinya, adalah kehilangan besar bagi diri pribadi Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ataupun bagi Islam. Saat melihat jasad paman dan sahabat yang dicintainya tersebut, Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sempat memberikan ancaman atas kebiadaban orang-orang kafir Quraisy dan melakukan pembalasan terhadap 30 orang dengan cara yang sama. Tetapi kemudian Allah menegaskan bahwa Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam adalah rahmatan lil 'alamin, sehingga beliau tidak pernah melaksanakan ancamannya tersebut.

Sejak saat itu Wahsyi berusaha untuk tidak bertemu dengan Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sampai beliau wafat. Mungkin tidak mengenakkan bagi Wahsyi untuk tidak bisa bergaul rapat dengan sosok mulia seperti Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, tetapi atas apa yang dilakukannya di masa lalu, ia bisa memahaminya. Cukup bisa melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dari kejauhan dan menjadi umatnya adalah suatu karunia besar.

Saat Khalifah Abubakar mengirim pasukan ke Yamamah untuk menumpas nabi palsu Musailamah Al Kadzdzab, Wahsyi ikut serta dalam pasukan ini dengan membawa tombak yang dahulu ia pergunakan membunuh Hamzah. Tekadnya bulat untuk menebus kesalahannya di masa lalu dalam peperangan ini. Sambil bertempur ia terus bergerak mendekati posisi nabi palsu itu. Pada saat yang tepat, ia melihat Musailamah berdiri dengan pedang terhunus, dilemparkan tombaknya dengan teknik Habsyi yang dikuasainya, tepat mengenai nabi palsu itu hingga tewas. Wahsyi berkata, "Sungguh dengan tombak ini saya telah membunuh sebaik-baiknya manusia, yaitu Hamzah, saya berharap semoga Allah mengampuniku, karena dengan tombak ini pula saya telah membunuh sejahat-jahatnya manusia, yaitu Musailamah…!"


21. Mundzir Bin Uqbah Bin Amr Ra.

Mundzir bin Uqbah bin Amr termasuk dari tujuh puluh sahabat huffadz Qur’an yang dikirimkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk mendakwahkan Islam kepada Penduduk Najd dan sekitarnya. Ketika pimpinan rombongan, Mundzir bin Amr menetapkan untuk berhenti di Bi’r Ma’unah, ia ditugaskan menggembalakan unta-unta bersama Amr bin Umayyah adh Dhamry, hingga mereka berdua sebenarnya lolos dari pembantaian yang dilakukan oleh Amir bin Thufail terhadap sahabat-sahabat yang hafal Al Qur'an tersebut.

Dari tempat penggembalaannya, mereka berdua melihat burung pemakan bangkai melayang di udara di atas perkemahannya, salah seorang berkata, "Sesuatu yang buruk telah terjadi, mari kita kembali ke perkemahan menemui teman-teman kita…"

Mereka bergegas kembali, dan dari kejauhan tampak para sahabat telah terkapar tak bernyawa dikelilingi para pembunuh yang pedangnya masih meneteskan darah. Langkah mereka terhenti, Amr mengajak kembali ke Madinah untuk mengabarkan peristiwa tersebut, tetapi Mundzir tidak setuju, ia berkata, "Cepat atau lambat, berita ini akan sampai juga kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, aku tidak rela meninggalkan sahabat kita terbaring nyenyak dalam keadaan ‘nyaman’, tanpa kita berjuang dan syahid bersama mereka, ayolah Amr! Kita maju dan berjuang menyusul mereka yang telah syahid.."

Amr menyambut ajakan Mundzir, mereka berdua menyerang para pembunuh kejam tersebut sehingga terjadi pertempuran hebat yang tidak berimbang. Mundzir akhirnya gugur sebagai syahid, sedangkan Amr ditawan.

22. Farwah Bin Musaik Al Ghuthaifi Ra.

Farwah bin Musaik al Ghuthaifi seorang sahabat yang berasal dan tinggal di Saba, termasuk wilayah Yaman. Negeri itu di masa lalu dikuasai oleh Ratu Balqis yang menyembah matahari, tetapi akhirnya memeluk Islam mengikuti dakwah Nabi Sulaiman AS. Kisahnya diabadikan di dalam Al Qur’an. Sebagian penduduk Saba telah memeluk Islam, tetapi sebagian dari mereka ini kembali ke agama lamanya atau murtad. Farwah menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata, "Ya Rasulullah, bolehkah aku memerangi orang yang berpaling dari Islam di antara kaumku, bersama orang-orang yang masih memeluk Islam?"

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengijinkan niat Farwah ini, karena secara syariah hal itu memang dibolehkan. Tetapi karena ada pertimbangan lain, Farwah bertanya lagi, "Ya Rasulullah, rasanya aku tidak akan mampu memerangi mereka, karena mereka akan bergabung dengan penduduk Saba lainnya yang masih memeluk agama lamanya. Dan mereka adalah kaum yang lebih kuat daripada kami."

Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan Farwah untuk melaksanakan niatnya yang pertama, yakni memerangi orang-orang yang murtad tersebut. Tidak masalah ia menang atau kalah, yang jelas ia telah melaksanakan kewajibannya. Kalaupun ia dan pasukannya gugur semua, surga telah menunggunya karena mereka gugur dalam keadaan syahid.

Farwah kembali ke perkemahannya, dimana kabilahnya berkumpul. Tetapi tidak berapa lama ada utusan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang menjemputnya untuk menemui beliau lagi. Farwah kembali bergabung dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan sahabat lainnya. Beliau memberitahukan tentang turunnya ayat tentang kaum Saba dan beliau melarang untuk memerangi kaumnya tersebut. Beliau berkata, "Serulah kaum itu kepada Islam terlebih dahulu, siapa yang bersedia, maka terimalah mereka. Jika merekamenolak, janganlah kamu tergesa memerangi sampai engkau melaporkannya kepadaku."

Farwah menanyakan tentang nama 'Saba', apakah nama sebuah tempat atau nama wanita? Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjelaskan, "Sababukanlah nama suatu tempat atau nama seorang wanita, tetapi ia nama seorang lelaki yang menurunkan sepuluh kabilah Arab, enam di Yaman, yaitu : Azdi, Kindah, Himyar, al Asy'ariyyun, Ammar dan Madzhij. Sedang empat kabilah di Syam, yaitu : Lahm, Judzdzam, Ghassan dan Amilah."

Setelah itu Farwah kembali kepada kabilah dan segera pulang ke Saba untuk melaksanakan dakwah seperti yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam


23.Khabbab Bin Arats Ra.

Khabbab bin Arats adalah seorang sahabat Muhajirin yang memeluk Islam pada masa-masa awal, ketika umat Islam belum mencapai dua puluh orang. Ia berasal dari golongan lemah, yakni hanya seorang budak yang bertugas membuat pedang atau peralatan dari besi lainnya. Sebagaimana sahabat-sahabat yang masuk Islam pada periode awal, ia mengalami penyiksaan yang tidak tanggung-tanggung. Statusnya sebagai budak membuat tuannya, Ummu Anmar bebas menyiksa dirinya. Ia diseterika dengan besi panas yang merah menyala, dipakaikan baju besi kemudian dijemur di panas padang pasir, juga pernah diseret di atas timbunan bara sehingga lemak dan darahnya mengalir mematikan bara tersebut.

Khabbab pernah mengeluhkan beratnya siksaan yang dialaminya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau yang saat itu tengah bersandar pada Ka'bah beralaskan burdah, bersabda, "Wahai Khabbab, orang-orang yang sebelum kalian pernah disisir kepalanya dengan sisir besi, sehingga terlepas tulang dari dari daging dan uratnya, tetapi ia tidak berpaling dari agamanya. Ada pula yang dipenggal lehernya hingga kepalanya putus, namun ia tetap teguh dengan agamanya. Sungguh Allah Subhanahu Wata’ala akan memenangkan perjuangan agama ini sehingga suatu saat nanti, orang akan berkendaraan dari Shan'a hingga Hadramaut tanpa merasa takut kecuali hanya kepada Allah, sampai serigala bisa berdampingan dengan kambing (tanpa memangsanya). Namun sungguh kalian adalah orang yang suka tergesa-gesa."

Mendengar penuturan beliau itu, Khabbab pun ikhlas dengan penderitaannya dan berteguh dengan keimanannya. Ketika Islam telah mengalami kejayaan dan berbagai harta kekayaan melimpah, Khabbab justru duduk menangis sambil berkata, "Tampaknya Allah telah memberikan ganjaran atas segala penderitaan yang kita alami, aku khawatir tidak ada lagi ganjaran yang kita terima di akhirat, setelah kita terima berbagai macam kemewahan ini!!”

Setelah itu Khabbab meletakkan seluruh hartanya pada bagian rumahnya yang terbuka, dan mengumumkan agar siapa saja yang memerlukan untuk mengambilnya tanpa meminta ijin dirinya. Ia berkata, “Demi Allah aku tidak akan mengikatnya dengan tali (yakni, tidak mempertahankan hartanya tersebut), dan tidak akan melarang orang yang akan meminta/mengambilnya!!”

Setelah Khabbab terbebas dari perbudakannya karena ditebus dan dimerdekakan oleh Abu Bakar, ia berkhidmad untuk belajar Al Qur’an dan akhirnya menjadi salah seorang yang ahli (Qari) dalam Al Qur’an. Ia tengah mengajarkan Al Qur’an kepada Fathimah binti Khaththab dan suaminya ketika Umar datang menghajar keduanya karena keislamannya. Tetapi peristiwa itu justru menjadi pemicu Umar memeluk Islam.

Khabbab hampir tidak tertinggal dalam berbagai pertempuran di medan jihad. Pada Perang Badr, ia bertugas menjaga kemah Rasulullah pada malam sebelum perang, dan ia melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam shalat semalaman hingga menjelang fajar. Ketika Khabbab bertanya tentang shalat yang sangat panjang itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab, "Itu adalah shalat yang penuh harapan dan ketakutan, aku berdoa kepada Allah dengan tiga permintaan, dua dikabulkan dan satu lagi dicegahNya. Aku berdoa : Ya Allah, janganlah umatku Engkau binasakan sampai habis karena kelaparan, dan Dia mengabulkannya. Aku berdoa : Ya Allah, Janganlah umatku engkau binasakan sampai habis karena serangan musuh, dan Dia mengabulkannya. Aku berdoa : Ya Allah, janganlah terjadi perpecahan dan perselisihan di antara umatku, maka Dia mencegah doaku ini."


24. Farwah Bin Amr Al Judzamy Ra.

Farwah bin Amr Al Judzamy adalah seorang Arab yang menjadi gubernur di bawah kekuasaan Romawi di Mu'an, sebuah wilayah di Syam. Ia juga menjadi komandan dari pasukan Arab yang tunduk di bawah kekaisaran Romawi. 
Dalam perang Mu'tah, dimana tiga komandan dari 3.000 pasukan Muslimin gugur secara berturutan, Farwah menjadi salah satu komandan dari 200.000 tentara Romawi, khususnya yang berkebangsaan Arab.

Walau pasukannya boleh dibilang menang, tetapi timbul kekaguman pada diri Farwah atas kehebatan dan sikap heroik pasukan Muslim, yang notabene pasukan Arab seperti dirinya. Mereka mampu lolos dari kehancuran total walaupun hanya berjumlah tiga ribu pejuang. Padahal 200.000 personal pasukan Romawi mengepung mereka dari segala arah. Saat itu yang mengambil alih tampuk pimpinan pasukan muslimin adalah Khalid bin Walid.

Setelah beberapa waktu berlalu, Farwah bin Amr menyatakan dirinya masuk Islam dan ia mengirim utusan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam di Madinah untuk mengabarkan ke-Islamannya, sambil menghadiahkan seekor baghal berwarna putih kepada beliau. Tetapi keputusannya ini harus dibayar mahal, penguasa Romawi menangkap dan memenjarakannya. Ia diberi dua pilihan, keluar dari Islam atau mati. Walau diberi waktu yang cukup untuk memikirkan pilihannya, ternyata pilihan Islam adalah harga mati bagi Farwah, karena itu penguasa Romawi menyalibnya di dekat mata air Afra' di Palestina, setelah itu mereka memenggal lehernya.

Karena kecongkakan dan sikap sewenang-wenang penguasa Romawi tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam menghimpun pasukan besar di bawah pimpinan Usamah bin Zaid untuk mengamankan wilayah perbatasan dan menyerang pasukan Romawi jika mereka melanggar batas dan kehormatan orang-orang muslim. Tetapi pasukan ini sempat tertunda karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, dan diteruskan oleh khalifah Abu Bakar.

25. Utbah Bin Ghazwan Ra.

Begitulah cara Utbah mengajarkan pola hidup yang dipeganginya, semuanya disandarkan dan dikembalikan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Tentu, bagi pemeluk Islam belakangan yang tidak sempat hidup bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, dan tidak mengalami masa-masa sulit mempertahankan keimanan dan keislaman, hal-hal tersebut terasa mustahil, seperti dongeng saja dan bukan kenyataan. Bagaimanapun juga, suasana dan pengaruh magnetis yang dipancarkan dari sosok Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bisa memotivasi seseorang berbuat sesuatu yang di luar nalar, seolah di bawah kendali kekuatan ghaib yang bernama keimanan.

Orang-orang tersebut terus mendorongnya untuk merubah pola hidupnya, dan seakan ingin menyadarkan kedudukannya sebagai seorang penguasa muslim. Keteguhan sikapnya dalam zuhud dan kesederhanan seolah-olah mencoreng ‘nama-baik’ Islam di antara penguasa lainnya seperti Persia dan Romawi. Tetapi dengan tegas Utbah berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari sanjungan orang-orang terhadap diriku karena kemewahan duniawi, yang sesungguhnya nilainya sangat kecil di sisi Allah…!!"

Ketika tampak sekali ekspresi wajah-wajah tidak sepakat dengan pendiriannya tersebut, ia berkata lagi, "Besok atau lusa, kalian akan menjumpai dan melihat amir (yang kalian inginkan itu), menggantikan diriku!"

Pada suatu musim haji, ia menyerahkan pimpinan pemerintahan Bashrah kepada sahabatnya dan ia pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Usai haji, ia pergi ke Madinah dan menghadap Khalifah Umar, dan mengajukan pengunduran dirinya dari jabatan wali negeri Bashrah. Tetapi seperti bisa diduga, Umar menolak dengan tegas keinginannya tersebut, dengan ucapannya yang sangat terkenal, "Apakah kalian membai'at aku dan menaruh amanat khilafah di pundakku, kemudian kalian meninggalkan aku dan membiarkan aku memikulnya seorang diri? Tidak, demi Allah tidak kuizinkan kalian melakukan itu!!"

Kalaulah tipikal amir atau wali negeri itu suka bermewah-mewahan dengan harta duniawiah, tidak perlu diminta, Umar akan segera memecatnya seperti terjadi pada Muawiyah ketika menjabat amir di Syam. Terpaksalah Utbah harus meninggalkan Madinah, kota Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang selalu menjadi kerinduannya, dan kembali ke Bashrah yang justru sangat ingin dihindarinya karena harus memegang jabatan wali negeri di sana. Tampak keresahan dan kegamangan melingkupi wajahnya. Sebelum menaiki tunggangannya, ia menghadap kiblat dan berdoa, "Ya Allah, janganlah aku Engkau kembalikan ke Bashrah, janganlah aku Engkau kembalikan kepada jabatan pemerintahan selama-lamanya….!!"

Ternyata Allah Subhanahu Wata’ala mengabulkan permintaannya. Walaupun ia tidak mengingkari perintah khalifah Umar untuk kembali ke Bashrah, tetapi dalam perjalanan kembali tersebut, Allah berkenan memanggilnya ke haribaan-Nya, menghindarkan dirinya dari kegalauan dan keresahan jiwa karena memegang jabatan wali negeri. Sebagian riwayat menyebutkan ia terjatuh dari tunggangannya ketika belum jauh meninggalkan kota Madinah. Tampaknya ia tidak ingin dipisahkan lagi dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam terlalu jauh.


26. Rafi Bin Khadij Ra.

Dalam persiapan perang Uhud, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam melihat beberapa orang anak yang belum cukup dewasa menyertai pasukan yang akan diberangkatkan. Mereka ini berusia antara 14 - 24 tahun, di antaranya adalah Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, Zaid bin Arqam, Usamah bin Zaid, Barra bin Azib, Usaid bin Zhuhair, Amr bin Hazm, Urabah bin Aus, Abu Sa'id al Khudry, Sa'd bin Habbah RA, Rafi bin Khadij dan Samurah bin Jundub. 
Mereka ini dipulangkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam karena usianya tersebut, tentu saja mereka jadi kecewa. 

Khadij Radhiyallahu ‘Anhu, ayah Rafi menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan meminta agar Rafi diperbolehkan ikut karena ia mempunyai keahlian memanah atau melempar tombak. Beliau mengamati Rafi dengan seksama. Rafipun menjinjitkan kakinya agar terlihat lebih tinggi. Ia juga menunjukkan ketrampilannya memainkan tombak, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sangat terkesan dan mengijinkannya mengikuti perang Uhud. Saat itu usia Rafi adalah 15 tahun. Sebenarnya pada perang Badar, Rafi telah meminta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk bisa mengikutinya, tetapi saat itu beliau dengan tegas tidak mengijinkannya.

Melihat Rafi dibolehkan ikut, beberapa orang anak lainnya memaksa untuk ikut pula. Di antaranya adalah Samurah bin Jundub yang akhirnya diijinkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk mengikuti perang tersebut setelah dia berhasil mengalahkan Rafi dalam suatu duel, yakni sekedar untuk menunjukkan kekuatannya, tidak untuk saling mengalahkan.

Pada perang Uhud ini, Rafi tertembus panah di dadanya di bawah ketiaknya, darah mengucur dan rasa sakitnya tidak bisa dihindarkan. Ia datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata, “Wahai Rasulullah, tolonglah anak panah itu dicabut…”

Seperti yang terjadi pada kebanyakan sahabat, ia berharap dengan bantuan beliau tersebut ia akan segera sembuh, dan segera bisa terjun lagi di medan pertempuran. Tetapi ternyata beliau bersabda, "Hai Rafi, aku bisa mencabut panah ini beserta mata panahnya dan engkau akan segera sembuh. Tetapi jika engkau mau, aku akan mencabut panah ini dan meninggalkan mata panahnya di tubuhmu, dan aku akan bersaksi pada hari kiamat bahwa engkau mati syahid."

Kebanyakan dari kita mungkin agar segera memilih tawaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam yang pertama. Tetapi tanpa keraguan sedikitpun, Rafi memilih yang penawaran beliau yang kedua, dicabut panahnya tetapi membiarkan mata panah tetap di tubuhnya. Akibatnya ia mengalami sakit berkepanjangan karena luka-lukanya ini. Namun demikian ia tetap berjuang dan berperang di jalan Allah (jihad fi sabilillah), baik di masa hidupnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam atau sepeninggal beliau, sampai akhirnya ia wafat di jaman khalifah Muawiyah.


27. Samurah Bin Jundub Ra

Samurah bin Jundub masih belum dewasa ketika terjadi perang Uhud. Ia bersama beberapa anak lainnya yang mempunyai semangat juang tinggi untuk membela panji keislaman, dikeluarkan dari barisan pasukan perang Uhud oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam karena belum cukup umur. Tetapi salah seorang di antaranya, Rafi bin Khadij, karena permintaan ayahnya dibolehkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ikut karena ia mempunyai keahlian memanah, dan menunjukkan kemampuannya di hadapan beliau.

Melihat dibolehkannya Rafi ikut bertempur, Samurah berkata kepada ayah tirinya, Murrah bin Sinan, "Wahai ayah, Rafi dibolehkan ikut berperang sementara saya tidak. Padahal saya lebih kuat daripada Rafi. Kalau diadu tanding, pasti saya dapat mengalahkan Rafi.." Melihat semangat yang begitu menggebu dari anaknya ini, Murrah menyampaikan hal ini pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliaupun mengadakan adu kekuatan antara Rafi dan Samurah, dan ternyata Samurah memenangkannya, sehingga iapun dbolehkan ikut serta dalam pertempuran di Uhud itu. Ketika itu Samurah berusia 15 tahun, sama seperti Rafi.


28.Rafi’ Bin Amirah Bin Jabir Ra

Rafi' bin Amirah bin Jabir tengah mengembalakan kambing, ketika seekor serigala berhasil menerkam salah satu kambing gembalaannya yang paling besar. Rafi' pun berjuang melepaskan kambingnya dari terkaman serigala tersebut, sambil berkata, "Mengherankan, bagaimana mungkin serigala mau membawa buruan yang lebih besar dari dirinya sendiri?" 

Setelah berhasil membebaskan kambing tersebut dari cengkeraman serigala, tanpa disangka serigala itu berkata, "Lebih mengherankan lagi kamu, kau ambil dariku rezeki yang ditakdirkan Allah untukku."

Ibnu Amirah sangat terkejut dan berkata, "Sungguh mengherankan serigala bisa berbicara."

Ternyata serigala itupun masih berbicara lagi, "Lebih mengherankan lagi orang yang keluar dari Tihamah, ia mengajak kalian ke surga namun kalian enggan, justru kalin ingin masuk neraka."

Rafi' bin Amirah memang telah mendengat tentang risalah agama baru, yakni Islam yang dibawa Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam. Karena itu begitu mengalami peristiwa mengherankan dimana serigala bisa berbicara, bahkan membenarkan kenabian Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam, segera ia datang kepada beliau. Sementara Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam telah memperoleh berita tentang Ibnu Amirah tersebut dari Jibril Alaihi Salam. Karena itu, begitu Rafi' tiba di hadapan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan belum sempat menceritakan apa yang dialaminya, beliau telah mendahului menceritakan pengalamannya dengan serigala yang berbicara tersebut, sehingga tanpa keraguan lagi, ia pun membenarkan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan masuk Islam.


29. Salim Radhiyallahu Anhu, Maula Abu Hudzaifah Ra
Salim, walaupun statusnya sebagai maula, bekas budak yang dimerdekakan oleh tuannya, namun Islam telah mengangkat derajatnya karena kemampuannya dalam hal Al Qur'an. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah bersabda, "Mintalah dibacakan (diajari) al Qur'an dari empat orang, yakni : Abdullah bin Mas'ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka'b dan Mu'adz bin Jabal." Tuan yang membebaskannya, Abu Hudzaifah, adalah putra dari tokoh kafir Quraisy Utbah bin Rabiah. Ia telah memeluk Islam sejak awal, dan segera membebaskan Salim sebagai budaknya, kemudian mengikat persaudaraaan dengannya. Bahkan ia menikahkan dengan keponakannya yang juga memeluk Islam, Fathimah binti Walid bin Utbah, untuk lebih mempererat persaudaraannya tersebut. Dalam pertempuran Yamamah melawan pasukan kaum murtad yang dipimpin nabi palsu Musailamah al Kadzdzab, pasukan muslim sempat mengalami kekalahan. Pasukan pertama yang dipimpin Ikrimah bin Abu Jahal telah kalah, pasukan kedua juga sempat kocar-kacir, kemudian yang ditunjuk memimpin pasukan adalah Khalid bin Walid. Khalid merubah strategi pertempuran dengan mengelompokkan pasukan sesuai kabilah dan golongannya. Salim diserahi Khalid untuk memegang panji kaum Muhajirin. Beberapa orang sepertinya meragukan semangat juangnya, dan akan goncang dari kedudukannya sebagai pemegang panji. Mereka khawatir musuh akan memfokuskan diri menyerang kaum Muhajirin karena dianggap pemimpinnya hanya seorang maula yang lemah semangat. Atas sikap mereka ini, Salim, yang digelari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam: 'Pendukung Al Qur'an' berkata dengan tegas, "Seburuk-buruknya pendukung Al Qur'an adalah aku, jika kalian diserang karena aku!" Perlawanan dari pasukan Musailamah dan bani Hanifah memang cukup hebat sehingga mampu membuat pasukan muslim porak-poranda beberapa kali. Hal ini menyebabkan beberapa orang menjadi gentar, bahkan ada yang berlari mundur. Melihat keadaan tersebut, Salim dan Tsabit bin Qais, pemegang panji kaum Anshar berkata, "Kami tidak berperang seperti ini pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam…" Keduanya kemudian menggali lubang sebatas lutut dan berdiri di dalamnya sehingga tidak mungkin mundur, dan menahan serangan musuh dengan semangat baja. Tindakan heroik dua sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ini ternyata mampu membangkitkan semangat pasukan muslim lainnya. Mereka berangsur bangkit dan akhirnya mampu mengalahkan pasukan Musailamah al Kadzdzab. Salim dalam keadaan sekarat dengan kaki masih terpendam sebatas lutut. Ketika orang-orang melepaskan kakinya dari lubang dan akan membaringkannya, ia sempat berkata, “Bagaimanakah keadaan Abu Hudzaifah?” “Ia telah menemui syahidnya!!” Salah seorang sahabat menjelaskan. “Baringkanlah aku di sebelahnya,” Kata Salim, seolah-olah sebagai permintaan terakhir. Mereka mengangkat tubuh Salim dan membaringkannya di dekat jenazah Abu Hudzaifah. Salah seorang berkata, “Ini dia Salim, engkau telah berbaring di sampingnya, ia telah menemui syahidnya di tempat ini…!!” Tampak sesungging senyum mengembang di mulut Salim mendengar penjelasan itu, tak lama kemudian ia menemui syahidnya menyusul saudara dan bekas tuannya tersebut.


30. Sa’d Bin Mu’adz Ra.

Sa'd bin Mu'adz adalah salah satu tokoh bani Abdul Asyhal di Madinah. Ia sangat prihatin karena kerabatnya yang juga tokoh kaumnya, As'ad bin Zurarah telah meninggalkan agama nenek moyangnya (agama jahiliah yang menyembah berhala), dan bersama sahabat yang diutus Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dari Makkah, Mush'ab bin Umair bergerak aktif mendakwahkan Islam kepada masyarakat Madinah. Ia merasa tidak enak untuk menghalangi As'ad karena hubungan kekerabatannya, karena itu ia minta tolong kepada Usaid bin Hudhair. Ia berkata kepada Usaid, "Pergilah kamu menemui mereka berdua, usir dan laranglah mereka memperbodoh orang-orang yang lemah dari kaum kita. Kalau saja As'ad bin Zurarah bukan anak bibiku, tentu aku sendiri yang akan melakukannya."

Usaid memenuhi permintaan Sa'd, ia mengambil tombaknya dan menemui As'ad dan Mush'ab yang berada di kebun bani Zhafar. Agak lama berselang, Usaid datang lagi menemui Sa'd yang berada di tengah kaumnya. Sa'd melihat ada sesuatu yang berbeda dengan Usaid, ia berkata kepada kaumnya, "Aku bersumpah kepada kalian dengan nama Allah, sesungguhnya Usaid mendatangi kalian dengan wajah yang berbeda dengan wajahnya ketika meninggalkan kalian."

Setelah dekat, Usaid berkata kepada Sa'd, "Wahai Sa'd, aku telah berbicara pada mereka berdua, dan aku tidak melihat ancaman apapun darinya. Dan telah kusampaikan apa yang kau inginkan, tetapi mereka berkata 'Lakukan saja apa yang kamu suka'. Dan aku mendengar berita kalau bani Haritsah bermaksud membunuh As'ad karena tahu dia adalah anak bibimu, sepertinya mereka meremehkan dirimu."

Mendengar kabar ini Sa'd menjadi marah sekaligus khawatir akan keselamatan As'ad. Bagaimanapun ikatan kekeluargaan itu lebih kuat dari ‘ancaman’ agama baru itu. Ia mengambil tombaknya dan bergegas menuju kebun bani Zhafar. Tetapi sampai disana, ia melihat As'ad dan Mush'ab dalam keadaan tenang tanpa sedikitpun ketakutan, ia sadar kalau Usaid menyiasatinya agar menemui dua orang itu. Kepalang basah, ia berdiri di hadapan mereka berdua dengan marah dan mencaci maki As'ad. Ia berkata, "Hai Abu Umamah (kunyahnya As’ad bin Zurarah), demi Allah, jika tidak ada hubungan kekeluargaan antara kita, kamu tidak akan meminta ini dariku. Adakah kamu datang ke tempat tinggal kami dengan membawa sesuatu yang kami benci?"

As'ad diam saja, justru Mush'ab bin Umair yang menjawab. Seperti halnya kepada Usaid, Mush'ab berhasil membujuk Sa'd untuk mau mendengarkan. Kalau ada sesuatu yang tidak disukainya, ia bebas menolaknya dan jika hal itu baik, ia bisa menerimanya. Sa'd setuju dengan pendapat itu dan ia duduk.

Mush'ab mulai menjelaskan tentang Islam dan juga membacakan beberapa ayat Al- Qur'an, yaitu ayat-ayat awal surataz Zukhruf. Setelah penjelasan Mush'ab ini, mata Sa'd berbinar penuh minat, ia bertanya, "Apa yang harus aku lakukan jika ingin masuk agama ini?"

As'ad menyuruhnya mandi dan bersuci, membersihkan pakaiannya dan bersyahadat dengan syahadat yang sebenarnya, kemudian melakukan shalat dua rakaat. Sa'd melakukan apa yang dikatakan As'ad dan Mush'ab membimbingnya bersyahadat dan shalat. Sa'd pun memeluk Islam dengan perantaraan Mush'ab sebagaimana Usaid.

Sa'd kembali kepada kaumnya, dan mereka menyambutnya dengan ucapan, seperti ucapan Sa'd ketika melihat kedatangan Usaid bin Hudhair, "Sesungguhnya Sa'd telah kembali kepada kita dengan wajah yang berbeda dari saat dia meninggalkan kita."

Ketika telah dekat dan berada di antara kaumnya, Sa'd berkata kepada mereka, "Wahai bani Abdul Asyhal, apakah yang kalian ketahui tentang kedudukanku di tengah kalian?"

Mereka menjawab, "Engkau adalah ketua kami, sebaik-baiknya orang dalam memberikan pendapat, dan selalu menang dalam menuntut…!"

"Sesungguhnya perkataan kaum lelaki dan wanita dari bani Abdul Asyhal dari kalangan kamu adalah haram bagiku, sehingga kalian beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad SAW." Kata Sa'd.

Maka sebelum petang pada hari itu, seluruh anggota bani Abdul Asyhal memeluk Islam sebagaimana dikatakan oleh Usaid bin Hudhair sebelumnya, dan ini menjadi kampung Islam pertama di kota Madinah.

Sa’d bin Mu’adz meninggal sebelum menikmati masa kejayaan Islam. Ia terluka parah akibat terkena panah pada Perang Khandaq atau Perang Ahzab. Namun ia berdoa agar diberikan waktu untuk bisa memberikan ‘pengadilan’ kepada orang-orang Yahudi Bani Quraizhah, yang telah melakukan pengkhianatan pada Perang Khandaq. Bani Quraizhah merupakan sekutu terbaik dari kaumnya pada masa jahiliah, dan tetap terjalin hubungan yang baik ketika kaumnya memeluk Islam. Tetapi ketika Madinah dikepung oleh musuh, mereka justru bersekutu dengan kaum Quraisy dan kaum Ghathafan, dan siap-siap menyerang kaum muslimin dari dalam kota Madinah. Setelah memberikan keputusan atas pengkhianatan mereka itu, Sa’d menemui syahidnya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Arsy Allah Yang Maha Pemurah berguncang karena kematian Sa’d bin Muadz!!”

Orang-orang yang mengangkat jenazahnya juga berkata, “Alangkah ringannya jenazah Sa’d bin Muadz ini!!”

InsyaAllah besok kita lanjutkan dengan Kisah Sahabat yang lain...


31. Abdullah Bin Atik Ra.

Suku Aus dan Khazraj adalah dua suku yang selalu bermusuhan semasa jahiliah. Ketika cahaya Islam menyinari dan menghilangkan permusuhan mereka, sikap saling bersaing tidak bisa hilang begitu saja. Hanya saja persaingan mereka kini dalam menunjukan bakti dan perjuangan serta pembelaan kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan Islam. 

Ketika Suku Aus yang diwakili Muhammad bin Maslamah dan teman-temannya berhasil membunuh musuh Islam, Ka'b bin Asyraf, seorang tokoh yahudi yang sering menghasut dan menyakiti orang-orang Islam, Suku Khazraj berusaha untuk bisa "mengimbangi" prestasi tersebut. Mereka teringat pada Abu Rafi Sallam bin Abu Huqaiq, tokoh Yahudi yang tinggal di Khaibar, yang juga sangat memusuhi Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan orang muslim lainnya. Mereka meminta ijin kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk membunuhnya, dan beliau mengijinkannya.

Lima orang dari Bani Salimah dan Bani Aslam, yakni Abdullah bin Atik, Mas'ud bin Sinan, Abdullah bin Unais, Abu Qatadah Harits bin Rib'i dan Khuzai bin Aswad R.hum berangkat ke Khaibar untuk melaksanakan tugasnya. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menetapkan Abdullah bin Atik sebagai pimpinan rombongan tersebut, dan beliau melarang membunuh wanita dan anak-anak.

Mereka tiba di benteng Abu Rafi ketika matahari telah tenggelam, dan pintu benteng hampir ditutup. Ibnu Atik berkata kepada teman-temannya, "Tetaplah kalian disini, aku akan menyiasati penjaga pintu gerbang agar aku dibolehkan masuk!"

Abdullah bin Atik duduk tak jauh dari pintu gerbang dan menutupi dirinya dengan kain seolah-olah sedang buang hajat, sementara orang-orang telah masuk semuanya. Melihat masih ada orang di luar, penjaga itu berteriak, "Hai hamba Allah! Jika engkau hendak masuk, segeralah, karena aku akan mengunci pintu ini!"

Ibnu Atik segera saja masuk dan bersembunyi. Ketika penjaga telah berlalu, ia mengambil kunci yang ditaruh pada sebuah kayu pancang dan membuka pintu benteng sehingga teman-temannya bisa masuk. Mereka mendatangi rumah Abu Rafi, tetapi masih ada tamunya. Ketika tamu itu pulang, mereka memasuki rumah dan menuju kamar Abu Rafi yang berada di lantai atas. Setiap melalui pintu, mereka menguncinya sehingga akan mempersulit bantuan kalau mereka ketahuan.

Ketika sampai di kamarnya, keadaan sangat gelap sehingga sulit diketahui dimana Abu Rafi berada. Ibnu Atik berinisiatif memanggil namanya. Abu Rafi balik bertanya, "Siapa itu?" 

Abdullah bin Atik segera saja menebaskan pedang ke arah suara itu. Terdengar jeritan, tetapi tampaknya itu belum membunuh tokoh Yahudi tersebut. Ia diam-diam keluar kamar, sesaat kemudian masuk lagi seolah-olah datang untuk membantu. Ia berkata, "Suara apa yang tadi aku dengar, wahai Abu Rafi!"

"Celakalah ibumu," Kata Abu Rafi, "Barusan ada lelaki yang memukulku dengan pedang!"

Kali ini posisinya cukup dekat, mereka berlima memukulnya beberapa kali, dan terakhir menusuk perut Abu Rafi hingga tembus ke belakang. Setelah itu mereka segera keluar dari kamar dan rumah tersebut, tetapi Ibnu Atik kurang hati-hati sehingga terjatuh ketika menuruni tangga, betisnya retak dan ia membalutnya dengan sorban.

Beberapa saat kemudian orang-orang berkumpul ke rumah Abu Rafi karena adanya keributan, dan mereka mendapati salah satu tokohnya telah mati. Istri Abu Rafi menceritakan apa yang terjadi, ia juga sempat berkata, "Saat itu aku mendengar suara Ibnu Atik, tetapi aku menafikannya. Apa mungkin Ibnu Atik ada disini?"

Mereka berlima tidak langsung kembali ke Madinah, tetapi menunggu sampai pagi di luar dinding benteng untuk meyakinkan diri bahwa tokoh yahudi itu sudah mati. Ketika seseorang telah mengumumkan kematian Abu Rafi, mereka segera pulang. Tiba di Madinah, saat itu Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sedang berdiri di atas mimbar, beliau langsung menyambutnya dengan bersabda, "Wajah-wajah yang telah memperoleh kemenangan!"

"Wajah engkau juga memperoleh kemenangan, Ya Rasulullah!!" sahut mereka.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam meminta pedang-pedang mereka untuk memastikan kematian musuh Allah tersebut, dan beliau bersabda, "Benar, ia telah mati, ini ada bekas makanannya di bagian mata pedang!!" 

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengusap kaki Ibnu Atik yang sakit, dan seketika itu sembuh.

Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa mereka berlima mengklaim dirinya yang membunuh Abu Rafi. Setelah memeriksa pedang-pedang mereka yang masih membekas darahnya, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyatakan pedang Abdullah bin Unais yang membunuhnya, karena ada bekas sisa makanannya.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka