Goresan Pena : SENDIRI MANRE COTO
Sendiri itu sepi. Karena tidak ada yang menemani. Padahal dengan adanya teman, setidaknya ada yang tersenyum sebelum tertawa bila kita salah tingkah, atau terlihat lucu dan kebingunan. Karena itu Hawa diciptakan agar Adam tidak kebingunan sendiri menikmati surga dengan segala keindahannya.
Dan Nabi Muhammad pun amat berbahagia mendapatkan Sitti Khadijah yang masyhur dengan kesempurnaannya sebagai isteri Rasulullah. Lalu kesetiaan itupun melagenda sebagai teladan yang utuh bagi pasangan suami isteri yang ingin hidup bahagia sepanjang masa.
Hidup dalam kesendirian memang mungkin ada baiknya, walau bukan itu sebaiknya, tapi mengarungi kehidupan berumahtangga dengan segala suka dukanya menunjukkan kesejatian diri sebagai sepasang manusia. Setidak-tidaknya ada tempat berkeluh-kesah bila kemujuran belum lagi berpihak atau hari-hari dipenuhi masalah dan membuat hilangnya selera makan.
Oleh karena itu, seorang teman saya menganggap bahagia itu sederhana. Cukup kumpul bersama keluarga dan makan bersama rame-rame atau orang Bugis menyebutnya manre sipulung. Dan tentu lain lagi ceritanya bila pergi manre coto sendiri. Karena makan sendirian dan makan beramai-ramai itu, suasananya tentu beda sekali. Paling tidak kalau makan bersama, semangat makannya juga bertambah. Dan yang tak kalah pentingnya adalah memberi rasa gembira dan membuat hati jadi senang. Lalu kebersamaan itupun menjadi indah, disaat kumpul-kumpul sambil bercanda ringan, melepas kepengatan.
Kegembiraan itulah yang kadang tidak bisa dilakukan sendiri dan dalam kesendirian. Padahal kegembiraan itu menunjukkan suasana hati yang tentram. Walaupun itu sejenak. Karena kebahagian itu tak pernah berlangsung lama. Selalu saja ada masalah yang menghinggapi hidup ini. Hanya saja jangan sampai justru masalah orang lain yang membuat kita uring-uringan. Karena lucunya ada disitu.
(Andi Damis, pemerhati budaya leluhur)
Komentar
Posting Komentar