Kajian hakekat : Antara PUANG dan UANG



Oleh Rusdi Mannan 

 

 Cukup menarik dan menggelitik bila kita perbincangkan letak perbedaan makna dari bahasa antara kosa kata PUANG dan UANG. Dimana kata PUANG berasal dari gelar tertinggi dari Suku Bugis-Makassar yang mana  sangat berhubungan erat jikalau makna sebenarnya dilekatkan kepada Sang Pencipta sebagaimana ungkapan "PUANGTA MARAJAE" yang artinya Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.  Dan dalam Al-Qur'anul Karim yang termaktub pada ayat terakhir  Surah Al-Ikhlas yaitu walamyakullahukuPuang Ahad  yang artinya tidak ada yang setara dengan Dia.

   Makna dari kata UANG adalah alat tukar atau standard pengukur nilai (hitungan) yang sah berupa logam dan kertas dengan bentuk dan gambar tertentu yang diberlakukan resmi di Indonesia. Dan di Inggeris sana sangat terkenal dengan nama money. Bayangkan saja bila banyak uang atau duit,  seorang pria dapat saja memiliki harta yang melimpah sampai tujuh turunan, bahkan  tahta, jabatan dan kekuasaan dapat dibelinya, termasuk wanita pun bisa saja banyak di persuntingnya.  Maka tak salah bila ada pepatah berpesan;  “banyak uang abang di sayang dan tak ada uang abang ditendang”.  Walau memang uang bukan segalanya,  tapi dengan uang segalanya bisa saja di beli atau di miliki. Karena uang itu seperti air,  terlalu sedikit tak berguna, terlalu banyakpun akan menghancurkan.

   Mengapa banyak orang berpikir bahwa kesuksesan itu dinilai karena banyaknya uang  yang dimiliki oleh seseorang, sehingga menjadi  penyebab banyaknya orang terlalu tergantung pada uang. Padahal gara-gara uanglah sehingga mengakibatkan banyaknya  terjadi persoalan dalam kehidupan di dunia ini, misalnya persoalan hutang-piutang,  atau perselisihan antara saudara sekandung, family, sepupu, teman, tetangga  maupun kerabat. Dan tragisnya ketika harus berujung  pada jatuhnya korban disebabkan  pembunuhan dan proses pengadilan. Akan tetapi kekurangan uang juga berdampak pada  kemiskinan, yang mana pada gilirannya  kemiskinan boleh jadi mendekatkan seseorang pada kekafiran. Sebaliknya  kalau banyak uang yang nota bene disebut kaya, juga berpotensi menggiring seseorang  mendekati kekufuran.

   Persoalan keuangan inilah yang membuat banyak orang menjadi pening kepalanya dalam memenuhi  kebutuhan sandang,  pangan dan papannya, akhirnya seringkali orang-orang salah kaprah dan salah paham terhadap Sang Pencipta atau PUANGTA MARAJAE, ketika terlilit ekonomi sulit, sampai Tuhan pun disalahkannya,  bahwa ini sudah di atur segala-segalanya oleh Allah. Bahkan ada da'i yang menceramahkan jikalau seseorang ditakdirkan miskin, maka biarpun  orang itu bekerja keras, pasti  tetap juga miskin.  Disini ceramah terkadang jadi ironi dan menyesatkan  umat, karena tidak memahami keberadaan  rezeki  yang mana sebenarnya  telah ditetapkan atau diatur oleh Sang Pencipta.

   Jadi Apa yang sebenarnya terpikirkan dibenak kita selama ini, manakah yang lebih penting dalam kehidupan kita;  apakah PUANG atau UANG?.  Pertanyaan ini jawabannya tidaklah sulit untuk dijabarkan,  hanya saja gaya gravitasi keinginan terhadap UANG begitu besar ,sehingga kita melupakan kebesaran Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.  Padahal  teramat  jelas dalam  Al-Quranul Karim Allah berfirman; “ Katakanlah aku Ahad, akulah tempat bergantung, tidak beranak dan tidak di peranakkan, dan tidak ada setara dengan DIA atau walamyakullahukuPuang Ahad.

   Di ayat ini sangat jelas Allah memperingatkan hambanya bahwa;  “Akulah tempat bergantung segala makhluk, yang mana kalian harus tergantung kepadaKu”.  Karena tidak ada yang setara  dengan DIA atau PUANG.  Sehingga tatkala  sang jiwa ketergantungannya hanya  dengan Allah, maka akan diberikan ketentraman  (“Dengan mengingat Allah hatimu menjadi tentram”),  lalu ketika  tentram, maka Allah memberi petunjuk sang jiwa dalam mencari  nafkah, penghasilan atau UANG, supaya tidak rakus, tamak apalagi sombong yang ujung-ujungnya akan riya'.  Artinya sang jiwa selalu dalam lindungan rabbNya, ketika selalu dan senantiasa ketergantungannya  dengan Sang Khaliknya.

            Di Inggris sana  Allah itu  berarti GOD.  Jika kita selalu jadikan GOD sebagai sebaik-baiknya tempat bergantung, berharap atau bermohon, maka perbuatan kita akan dinilai oleh GOD, karena sang jiwa selalu bergantung kepada PUANG dan bukan UANG.  Sehingga tatkala  sang jiwa ketika dalam keadaan membeli atau memiliki GOD dengan hasil yang sempurna, tentu akan menjadi  istiqamah, wara, qanaah, lapang dada,  karena  tendensinya pada ikhlas  Lillaahi Taala.  Alhasil perbedaan yang mendasar jika yang kita utamakan PUANG dan bukan  UANG dapat disinyalirkan bahwa  “UANG  adalah king off the king di bumi, tapi yang paling penting kita ketahui dan pahami serta  kenal bahwa PUANGTA MARAJAE menyelamatkan kita di bumi, menentramkan kita di dunia dan membahagiakan kita di akhirat kelak di kemudian hari. Nun walqalami wamayasturun . Amin amin ya rabbalalamin.

(Rusdi Mannan , anggota Kajian Al-Kalam)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka