Mampirnya di rumah makan.



        Perjalanan ke Makassar bagi kita orang dari daerah selalu saja menggoreskan cerita singgah makan. Entah itu di Parepare atau  di Barru atau di Pangkep atau di Maros. Karena untuk urusan kampung tengah selalu saja akrab dengan perjalanan. Makanya warung-warung dan rumah makan cukup menyebar sepanjang rute perjalanan menuju tempat yang banyak dikunjungi orang.
        Budaya mampir makan, tentu saja tidak sekedar singgah di rumah makan, tapi juga boleh jadi sejenak melepas kecapean setelah kelamaan duduk termangu dilarikan mobil dengan kecepatan yang membuat jantung terkadang berdebar kencang, dan nyaris saja terkencing dicelana, karena sang sopir begitu asyik dengan dirinya sendiri membawa mobil berlari kencang, tanpa perduli bila ada penumpang yang diam-diam merasakan kengerian.
        Oleh karena itu, banyak diantara kita yang menganggap singgah makan itu, sebagai keharusan. Walaupun kebanyakan juga sudah cerdas  memilih-milih warung yang cocoknya kongkow-kongkow serta bisa selfi-selfian untuk bahan postingan. Karena menjadi tradisi baru di era milial saat ini, bila semua aktifitas keseharian diarahkan jadi konsumsi publik. Akibatnya telah banyak bermunculan wartawan-wartawan dimana-mana dan disetiap saat, yang berebut menyampaikan berita hangat secepat kilat menyambar. Sehingga media profesional terkadang tertinggal kereta, dan kehilangan aktualisasinya.
        Termasuk anak saya, mewajibkan singgah makan bila ke Makassar. Padahal didalam mobil, ibunya sudah menyiapkan makanan ringan, sebagai solusi untuk mengisi kekosongan perut akibat goncangan mobil. Tetapi tetap saja, harus singgah makan, walaupun tujuannya hanya untuk membuat cerita agar teman-temannya bisa baca eksistensinya saat itu. 
        Tapi memang, sebagian besar juga yang mampir makan itu, karena ronrongan rasa lapar yang mendadak muncul seketika melihat jejeran warung dan rumah makan di pinggir jalan. Dan tidak ada lagi yang indah bila perut lapar. Maka sebaiknya kita singgah makan saja. (Goresan pena Andi Damis)



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka