Historia : SEJARAH KOTA RAPPANG DALAM CERITA PERJUANGAN ANDI CAMMI DAN LEGENDA OESMAN BALO
Oleh Andi Damis Dadda
Menurut cerita leluhur, Rappang dulu tidak sebagaimana sekarang. Tidak juga sepertinya sekarang. Tidak pula seadanya sekarang. Artinya, Rappang dulu bukan sebatas kelurahan, bukan juga sejenis kecamatan, dan bukan pula semacam kabupaten serta bukan sebentuk provinsi. Tapi suatu Negeri berdaulat yang berbentuk kerajaan. Punya wilayah separuh dari Kabupaten Sidrap. Punya penduduk
yang mewarisi kecerdasan. Punya Pemerintahan yang
menganut sistem demokrasi atau democratic government. Punya Kepala Negara yang bergelar “Arung
Rappeng”. Punya “wajah” Ibukota yang teduh dan bersinar.
Hanya saja dari penelusuran referensi kesejarahan, keberadaan Rappang belum ditemukan keterangan terkait tahun penemuan tempat/kampung ini, cuma diceritakan bila kata rappang bersumber dari kata rappeng dalam kosa kata bahasa Bugis disebut juga rappe atau diartikan sebagai kayu yang hanyut tersangkut. Konon pada zaman
dahulu bentuk daerah aliran sungai Rappang itu sangat besar, sedangkan pada
bagian hulunya terdapat banyak tumbuh pepohonan
menjadi hutan belukar yang lebat dan luas, sehingga bila terjadi musim
penghujan sebagian dahan dan ranting pohon-pohon tersebut terbawa arus sungai,
lalu tersangkut disuatu tempat yang lama-kelamaan menumpuk dan berproses secara
alami membentuk suatu daratan. Hamparan dataran itulah yang kemudian dihuni manusia
menjadi perkampungan, lalu disebut Rappang.
Untuk
menjadi rujukan tahun berdirinya Kerajaan Rappang, dapat dikonfirmasikan
kedalam perakiraan tahun berdirinya Kerajaan Sidenreng, yang konon disebutkan
bila usianya lebih tua dari Kerajaan Rappang, hal mana didasarkan pada narasi
penunjukan pemimpin pertama Kerajaan
Rappang Bolopatinna sebagai anak dari Lamaddaremmeng yang menjadi penemu dan
pemimpin di Kerajaan Sidenreng. Dari
penelusuran lontara’ dalam berbagai versinya, telah disepakati melalui
musyawarah tudang sipulung, bahwa tahun berdirinya Kerajaan Sidenreng
dirumuskan pada tanggal 18 Pebruari 1344 M. Kemudian hasil musyawarah ini
dituangkan dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2009. Sehingga melalui
pendekatan perakiraan tersebut, dapat pula disebutkan bila Kerajaan Rappang
berdiri dalam abad ke 13 M.
Selanjutnya dalam lontara’ disebutkan jikalau sejak berdirinya, Kerajaan Rappang sudah berotonomi,
sebagaimana ungkapan “Napoade’-ade’na, tenri cellengi bicaranna”,
yang berarti adatnya yang berlaku dan tidak diintervensi keputusannya.
Anregurutta Abdul Muin Yusuf atau biasa akrab disapa Pu’Tommeng dan lebih populer disebut Kali Sidenreng menggambarkan sifat orang Rappang dalam pemaknaan
otonomi itu dengan ungkapan yang
dikutifnya dari Lontara’; “mallekku tenripakkedde, joppa tenripatutu”,
yang berarti tidak dapat dipaksakan melaksanakan sesuatu bila bukan aturan yang
pernah dibuatnya sendiri yang menghendaki.
Pemimpin
utama negeri Rappang Bolopatinna mempunyai tiga orang anak,
yang sulung seorang perempuan bernama We’Tepu Uleng yang mana kemudian dikirim
ke Sidenreng sebagai putra mahkota untuk menggantikan neneknya yaitu
Lamaddaremmeng. Sedangkan anak lelakinya yang bernama Lamallibureng tetap
tinggal di Rappang menggantikan ibunya. Tetapi oleh karena Sidenreng pada
mulanya menganut sistim keputramahkotaan laki-laki, maka keduanya dipertukarkan,
sehingga Lamallibureng dinobatkan menjadi
Raja di Kerajaan Sidenreng, bergelar Addaowang Sidenreng (sekaligus
secara resmi sebagai raja pertama di Kerajaan Sidenreng), dan We’Tepu Uleng
dinobatkan menjadi Ratu di Kerajaan Rappang, bergelar Arung Rappeng (sekaligus
secara resmi sebagai raja pertama di Kerajaan Rappang).
Daripada kejadian pertukaran posisi We’Tepu Uleng dan
Lammalibureng, ini pulalah kemudian menampakkan dimensi perbedaan sistem
pemerintahan yang dianut kedua kerajaan kembar ini, khususnya dalam hal memilih
pemimpin. Dimana Kerajaan Sidenreng menganut sistim yang disebut “massorong
pawo”, diartikan sebagai sistim pemerintahan yang berdasarkan jalur
keputramahkotaan (monarkis), sedangkan Kerajaan Rappang menganut sistim yang
disebut “mangella pasang”, diartikan sebagai sistim pemerintahan yang
berdasarkan aspirasi masyarakat dalam konteks pemerintahan demokratis.
Menanggapi perbedaan tersebut, Anregurutta K. H. Abdul Muin
Yusuf menyebutkan dalam bahasa Bugis; “Mappada
pada memeng mua ade’e ri Sidenreng sibawa ri Rappeng, tapi de’napada pangolo tanana” (Artinya; Memang sama saja budaya atau adat istiadat di Kerajaan
Sidenreng dan Kerajaan Rappang, akan tetapi berbeda sistim pemerintahannya).
Dari penelusuran sejarah disebutkan beberapa nama yang
pernah menjadi Arung Rappeng atau Pemimpin di Kerajaan Rappang, yaitu: We’tipu Uleng sebagai Arung Rappeng pertama (I), kakak kandung
Lamallibureng, yang juga sebagai Addaowang Sidenreng pertama. Disusul kemudian
We’pawawoi (II), anak perempuan dari We’tepu Linge, hasil perkawinannya dengan
Labangenge Manurungnge ri Bacukiki Addatuang Sawitto. Kemudian La Makkarawi
(III), merangkap Datu Suppa keempat, anak dari La Puto Bulo Lembanna
Mallali’E. Selanjutnya berturut-turut, Songko Pulawengnge (IV), We’cinang (V), Lapasampoi (VI), Lapancaitana (VII), Lapakolongi (VIII),
We’dangkau (IX), Tone’e (X), We’tasi (XI), Todani (XII), Latenritatta Daeng
Tomaming (XIII), Latoware (XIV), We’tenri Paonang (XV), Lapabitte’I (XVI), We’madditana (XVII), We’bangki
(XVIII), Lapanguriseng (XIX), Lasadapotto (XX), dan We’tenri atau kalangan orang tua dulu menyebutnya Arung
Rappeng I Tenri (XXI) merangkap Addatuang Sawitto.
Pada masa kerajaan
tersebut, untuk dapat diangkat menjadi Arung Rappeng, harus memenuhi tiga
persyaratan pokok, yaitu ; (1) Malempu’i (jujur dan amanah),
(2)
Magettengngi ri tarobicaraE (tegas dan bijaksana
dalam mengambil suatu keputusan), (3) Maraja pakkamasei ri
pabbanuwaE (cinta dan kasih sayang serta mengedepankan kepentingan rakyatnya). Ketiga persyaratan ini merupakan pencerminan dari karakteristik
masyarakat Rappang dan sistem Pemerintahan Kerajaan Rappang yang
berbentuk demokrasi atau dalam lontarak
disebut “Mangelle’ Pasang”, sebagaimana tercantum dalam lontara’ La Towa yang berbunyi;
“Naiya Arung Rappeng ripile
narilanti rilaleng asenna pabbanuwaE ri Rappeng, riwakkelekiE pole ri ade’na Rappeng nariappallebbangeng ri pabbicaraE. Naiya akkarungengnge ri Rappeng
rimanamoi tenripammanareng, de naripattentu ettana, wedding matepi narisullei
narekko ripojiwi ripabbanuwaE, nasangadinna ri caccai ri pabbanuwaE masittai
ripasellei. Naiya pabbanuwaE ri Rappeng mallekku tenripakkedde joppa
tenripatutu. Naiya pakkedde’engngi nenniya patutuengngi iyanaritu ade mappura
onroE. Naiyya arungnge ri Rappeng
weddingngi nakkatenni dua tellu akkarungeng, rimakkuwannaro na engka wakkele’na
sullei pajoppai parentana narekko de’nadapiì arungnge, iyana riaseng Sulewatang “
Artinya, Raja dalam Kerajaan Rappang dipilih dan dilantik
atas nama rakyat yang diwakili oleh pemangku adat dan diumumkan oleh Pabbicara. Kerajaan Rappang dapat diwarisi oleh semua
raja-raja di Sulawesi Selatan, akan tetapi kerajaan itu tidak dapat diwariskan
langsung kepada anak cucunya (tidak ada putra
mahkota). Batas waktu untuk memegang jabatan
tidak ditentukan, boleh sampai meninggal
apabila dia disukai oleh rakyatnya. Kalau tidak disukai oleh rakyat,
maka sewaktu-waktu dapat diganti. Rakyat Kerajaan Rappang tidak dapat
dipaksakan mengerjakan sesuatu tanpa peraturan. Yang diangkat menjadi Raja di Rappang, boleh laki-laki dan bisa juga perempuan. Mereka boleh memegang dua atau tiga kerajaan. Olehnya itu
diangkat seorang wakil yang dinamai sulewatang
untuk menggantikan raja menjalankan pemerintahan atau perintahnya apabila
raja itu berhalangan.
Foto Kenangan I Tenri Arung Rappeng terakhir (Petta’e Rappeng)
bersama para pemangku adat di depan Saoraja Rappang (1938)
Arung Rappeng I Tenri tercatat sebagai ratu terakhir. Karena episode selanjutnya, keberadaan “Rappang” dan “Sidenreng” melebur dalam sejarah pergolakan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta menjadi bagian dari
kebhinekaan nusantara. Bermula dari kekalahan
Lasadapotto dari tentara Belanda pada saat
menjabat Arung Rappeng XX merangkap
Addatuang Sidenreng XII, dalam peperangan sengit yang dipimpin panglima perang
Arungnge Lanoni dari Tellang-Tellang, sehingga kerajaan harus diserahkan
sepenuhnya kepada Pemerintah Hindia Belanda.
Surat Pernyataan Pendek (Korte Verklaring) yang ditandatangani Lasadapotto (1905) selaku Arung
Rappeng dan merangkap Addatuang Sidenreng,
telah menjadi titik metamorfosis
bagi kerajaan yang menjunjung
tinggi nilai-nilai demokrasi ini. Wilayah Kerajaan Rappang kemudian dinyatakan
sebagai bagian dari Wilayah Onderafdeeling Pare-Pare, selanjutnya diundangkan
dalam Lembaran Negara (Staatblad) 1916,
No.352.
Suasana Pasar Rappang (1905). Ramai sekali . . . .
Kemudian pada Tahun
1917, berdasarkan Staatblad 1917 No.249, bekas wilayah Kerajaan Rappang
digabungkan dengan bekas wilayah Kerajaan Sidenreng menjadi satu Onderafdeeling Sidenreng
Rappang. Penyatuan wilayah ini, tidak
lagi mengalami perubahan dan berlangsung terus hingga Pemerintah Hindia Belanda dan Jepang menyerah pada tentara sekutu serta diproklamasikannya Kemerdekaan Republik Indonesia oleh
Sukarno-Hatta Pada Tanggal 17 Agustus 1945, serta penyerahan kedaulatan pada tanggal 27 Desember
1949 yang juga menandai berakhirnya
Pemerintahan Kerajaan di Sidenreng dan Rappang.
Jembatan Rappang Tempo doeloe (1905)
Perjuangan
Andi Cammi
Dalam
konteks perjuangan membela tanah air, kekalahan Addatuang Lasadapotto tidak
serta merta menjadikan perjuangan patah arang di Wilayah Kerajaan Rappang. Karena sejarah
kemudian menorehkan tinta emas atas kegagahberanian Andi Cammi menantang penjajahan, melalui
perjuangan yang terorganisir Kelaskaran (BP) Ganggawa. Walaupun perjalanan
hidup kader Ressang Dg. Pawellang ini (Gerakan Pemuda Merah Putih,
September/Nopember 1945) harus berakhir dengan sangat memilukan dan menyayat hati mendengar ceritanya.
Betapa tidak, akibat kebiadaban pasukan Nica (Netherlands Indies Civil Administration), setelah menyerang dan melumpuhkan perlawanan Hamidong (nama samaran Andi Cammi) di
Carawali dengan berondongan peluru, pada Tanggal 26 Agustus 1946, mereka lalu mengikat kedua kaki dan tangannya lalu menyeret
mayatnya dengan mobil Jeep sepanjang jalan dari Carawali Kecamatan Watang Pulu (tepatnya di lokasi Monumen Andi Cammi, saat ini) sampai berkeliling di Kota Rappang. Kemudian keesokan harinya, tanggal 27
Agustus 1946, mereka menancapkan mayat yang berlumuran darah
bercampur kotoran dan debu itu pada tumpukan drum di tengah Kota Rappang (persimpangan
Jalan Sultan Hasanuddin dan Jalan Masjid Raya-Jalan Muhammadiyah, sekarang)
untuk dipersaksikan kepada masyarakat, jikalau Andi Cammi Sang Pembela
Kemerdekaan Indonesia telah gugur.
Diceritakan, hari itu
Senin, ketika waktu hampir Magrib dalam
bulan Ramadhan di Tahun 1946, Andi Cammi dengan pengawalnya menyempatkan diri
menemui keluarganya di Carawali, sekaligus bermaksud berbuka puasa bersama,
apalagi menjelang 2 hari lagi Lebaran Idul Fitrih 1365 H. Maklum, guna
mengorganisir perjuangan Kelaskaran BP.Ganggawa, menuntut Andi Cammi harus berkeliling mengunjungi
seluruh daerah operasinya yang meliputi; Parepare, Barru, Soppeng, Wajo, Bone,
Pinrang, Enrekang, bahkan sampai ke Mandar, sehingga jarang sekali berada di
Carawali berkumpul bersama keluarga.
Namun belum juga terdengar beduk Magrib sebagai pertanda
waktu berbuka, tiba-tiba mendapat serangan dengan berondongan peluru dari dua
penjuru dari tentara Nica. Maka secara
spontan pula Andi Cammi bersama pengikutnya mengambil senjata dan menghadang
serangan, sehingga tembak-menembakpun menjadi hidangan buka puasa. Oleh karena
serangan begitu tidak terduga, dan tidak didukung persenjatan yang berimbang,
akhirnya Andi Cammi dapat terkena peluruh di bagian pahanya, sedangkan Andi
Makkulau, Baco Mustika, La Maloga dan La Majjappareng gugur ditempat.
Dalam keadaan terluka parah dan kehabisan peluru, Andi Cammi
masih berusaha melawan dengan sisa-sisa kekuatannya, walaupun harus melompat
dari atas rumah, guna mengambil posisi bertahan di sawah. Sebilah badik di
tangan tak lagi mampu menyelamatkan Andi Cammi dari serangan membabibuta
tentara Nica yang begitu bernafsu ingin membunuh “Hamidong”.
Dalam posisi sangat terjepit dan terkepung, tentara Nica
mendekati Andi Cammi dengan berondongan
peluru yang mengganas. Lalu, setelah jarak mereka dengan Andi Cammi tinggal
beberapa langkah, merekapun memuntahkan peluruh tepat mengenai kepala Andi
Cammi, mengakibatkan gugurnya Sang Pembela Kemerdekaan.
Perjuangan Andi Cammi kemudian dilanjutkan oleh kakak
kandungnya sendiri Andi Nohong, namun perlawanannya
dapat dipatahkan dalam pertempuran yang begitu sengit dengan tentara Nica di
Lakessi, sebelah barat Kota Pangkajene (tepatnya
di lokasi Monumen Ganggawa,di Kota Pangkajene Kecamatan Maritengngae, sekarang
ini). Namun dalam kondisi sakit akibat serangan yang semapat melukainya,
Andi Nohong mencoba bertahan dan melakukan perlawanan, tapi taktik licik
penjajah mengantarkan Andi Nohong masuk penjara, yang berlanjut dengan eksekusi
tembak mati, sehingga Andi Nohong pun menyusul adiknya, gugur sebagai syuhada
dalam rangka membela kebenaran,kemanusian dan kemerdekaan.
Gugurnya Andi Cammi dan Andi Nohong, bukannya meredupkan api
perjuangan di Kota Rappang, bahkan menyulut api kebencian serta dendam kepada
penjajah dan semakin mengobarkan
semangat juang para Putra Rappang lainnya, yang memang mewarisi sifat
keberanian dari leluhurnya. Karena pilihannya hanya satu, “merdeka atau mati”. Freedom or death.
Maka perjuangan Kelaskaran Ganggawa kemudian dilanjutkan Oesman Balo
dengan keberaniannya yang melagenda dan kesohor seantero negeri. Oesman Balo juga yang pertama-tama
mengibarkan Sang Merah Putih di Rappang di alun-alun Kota Rappang pada Tanggal 9 September 1945,
tepatnya di lokasi Monumen Bambu Runcing, sekarang. Bersama dengan Sofyan Kute
dan M.Arsyad B, usai menaikkan bendera, Oesman Balo lalu menulis pada bagian
bawah tiang bendera; ”Siapa yang
menurunkan bendera ini, jiwanya terancam”.
Karena keragu-raguan, menurut Oesman Balo, menjadi bagian dari ketakutan dan wajah lain
dari kegagalan. Maka berjuanglah Oesman Balo dengan sepenuh hati dan raganya,
hingga akhirnya penjajahan dapat dilenyapkan dan berkibarnya bendera merah
putih di Bumi Nene’ Mallomo.
“Salah satu ciri seorang laki-laki
(a real gentlement) ialah kemampuannya memusnahkan
keragu-raguan pada dirinya. Bahkan aku berpendapat, bahwa keragu-keraguan
adalah bumerang yang dapat menghancurkan segalanya”, pesan Sang
Petarung Sejati Oesman Balo, yang berpatang menyerah di medan laga, tapi
cerdik dan kaya strategi menghadang musuh, sehingga membuat
pasukan Belanda kewalahan dalam setiap pertempuran sepanjang Tahun 1946.
Sebagai Putra Rappang yang dilahirkan pada tahun 1920, Oesman Balo tumbuh dan berkembang mewarisi keberanian dari leluhurnya, sehingga pendidikan madrasah yang diperolehnya meneguhkan prinsip hidupnya "bahwa hidup dan mati itu ditangan Tuhan". Kesempatan menimbah pendidikan dibangku sekolah agama itu pula membuatnya dapat memahami sedikit dari arti perjuangan dan kemerdekaan. Selanjutnya iapun bergabung dengan Kelaskaran Ganggawa Pimpinan Andi Cammi, yang mana kemudian mengantarkannya pada posisi sentral perjuangan yang melagenda, hingga mendapat pujian dari Presiden Soekarno.
Kesenangan Oesman Balo pada lawan jenisnya ditunjukkan dengan menikahi 90 lebih perempuan cantik, bahkan ada yang menyebutnya lebih seratus. Tapi semua kisah-kisah asmara dan keberanian yang bagaikan dongeng itu melebur dalam kisah perjuangan kelaskaran ganggawa yang begitu heroik. Walaupun tetap mempesona dan memukau bila diceritakan lewat petikan alunan kecapi sebagai penghias pesta rakyat saat ini.
"Ia tidak pernah takut dan penuh tanggung jawab. Ia juga laki-laki sejati", cerita Ibu Ica mengenang suaminya Sang Lagenda.
Selanjtnya menurut cerita, Presiden Pertama RI. Ir. Sukarno pernah berkunjung di Rappang, guna
memberikan respon dan support yang sangat luar biasa atas perjuangan bambu
runcing di Kota ini, dalam rangka membela dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Presiden Soekarno menandatangani prasasti Tugu Kemerdekaan di Rappang (lokasi Monumen Bambu Runcing, sekarang)
Pridikat Kota Rappang Doeloe (Golden Memories dan hanya tinggal kenangan)
Dalam konteks
pemerintahan dan kemasyarakatan, Rappang dulu menjadi pusat pemerintahan dan
kebudayaan, sebagai Ibukota Kewedanan Sidenreng Rappang. Alhasil sebagai Ibukota lama, Rappang menyimpan
begitu banyak kenangan indah (golden
memories) yang ditandai dengan berbagai predikat yang pernah disandangnya.
Sebagai Kota Sejuk (Cool City), yang dulu ditunjukkan banyaknya pohon
pelindung memenuhi pinggir jalan pusat kota dan dalam pekarangan rumah penduduk, serta letak
geografis yang dikelilingi sungai sepanjang bagian timur-selatan-barat daya dan
hutan pegunungan bagian utara, sehingga amat terasakan kesejukan walaupun diterpa panas terik pada siang hari.
Sebagai Kota Pendidikan (City
Education), yang ditandakan dengan banyaknya institusi pendidikan klasik di dalamnya sejak dulu, khususnya pendidikan agama. Pada masa
penjajahan, sebelum kemerdekaan RI, sudah ada madrasah ibtidaiyah (1928), Diniah School (1932), Madrasah Tsanawiyah
(1937) dipimpin Sayid Muhsin Alwi, Madrasah Muallimin yang dibuat untuk
mencetak guru-guru dan mubaligh yang dipimpin Ghazali Syahlan lalu digantikan
oleh Syamsuddin Razak.
Setelah
proklamasi kemerdekaan (1945) maka semakin bertambah banyak sekolah didirikan diantaranya; Taman Kanak-Kanak (TK), SD, SMP, SMA, SMEP, SMEA, SKKP, SPG, SMA PGRI, SPMA, SUT, dan Perguruan
Muhammadiyah mulai dari tingkat TK, Madrasah, Tsanawiyah, Aliyah, hingga perguruan tinggi yaitu
Universitas Muhammadiyah Makassar Cabang Rappang. Konon Prof. Dr. Haji
Abdul Malik Karim Amrullah atau populer dikenal Buya Hamka, juga pernah berkunjung di Kota ini (1952) untuk menghadiri
Konprensi Daerah Muhammadiyah ke-7 di Rappang sekaligus menengok perguruan muhammadiyah yang berkembang cukup pesat kala itu. Sebelumnya
Tokoh Nasional duabelas bahasa H.Agus Salim (1929) juga datang ke Rappang untuk
konsolidasi organisasi Syarekat Islam (S.I).
Sebagai Gudang Ulama (The Birthplace of The Scholar), yang dibuktikan dengan banyaknya ulama besar yang lahir, atau pernah bermukim dan atau ulama tersebut pernah berguru pada ulama besar di Kota ini, diantaranya; H.Ibrahim, Syekh
Ismail bin Thalib, Syekh Ali Matar (pendiri Madrasah Aunurrafiq Rappang (1958)
dan pernah jadi Imam Besar Masjid Raya Rappang, Syekh Jamal Padaelo, H.
Muhammad Ali Yusuf, K.H. Ali Yafi,
K.H.Abdul Jabbar Assiri (Pesantren Gombara), K.H. Muhamad Naim Mustara,
K.H. Abdul Muin Yusuf, dan banyak lagi lainnya, termasuk H. Abdurahman Shihab atau Ayahanda Prof. H.Qurais Syihab.
Bangunan pertama Masjid Raya Rappang (1905)
Sebagai Serambi Mekah (Veranda of Mecca), yang diisyaratkan dengan budaya religius masyarakatnya dan maraknya wadah
keagamaan yang dikelola ormas Muhammadiyah, NU, SI dll.
Sepintas seperti itulah
gambaran tempo dulu Kota Rappang dan masyarakatnya (hingga Tahun 70an), dan “kesan”nya masih terasa hingga saat sekarang ini.
Setelah
berlangsungnya pemerintahan daerah tingkat II kemudian menjadi kabupaten,
keberadaan Rappang bermetamorfosis lagi menjadi sebuah wilayah pecahan
kecamatan dibawah kepemimpinan pemerintahan wanua, lalu selanjutnya dipecah
lagi dan sekarang dalam wilayah pemerintahan kelurahan yang dikenal Kelurahan Rappang.
Gambaran
Umum Kota/Kelurahan Rappang
Kota
Perjuangan Bambu Runcing merupakan julukan historis yang biasa
ditujukan untuk menyebut Kota Rappang yang saat ini menjadi wilayah administrasi pemerintahan Kelurahan
Rappang dan sebagai Ibukota Kecamatan Panca Rijang Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Kelurahan
Rappang terletak sekitar 10 kilo meter sebelah utara Kota Pangkajene Sidenreng Ibukota Kabupaten Sidenreng Rappang dan berjarak
sekitar 189 kilo meter dari Kota Makassar Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan.
Kelurahan
Rappang mempunyai luas wilayah administrasi 2,43 km2 yang terbagi pada 2 lingkungan
yaitu; Lingkungan Lalebata dan Lingkungan Bambu Runcing dengan proyeksi penduduk Tahun 2017 sebanyak 6.063 jiwa, terdiri dari 3072 perempuan dan 2.991 pria serta
kepadatan penduduk 2.495 per km2.
Kelurahan Rappang yang dulunya merupakan “kerajan berdaulat” atau disebut Kerajaan Rappang, terletak pada posisi
30043” - 40009” Lintang Selatan dan
1190041” -1200010” Bujur Timur,
serta berada pada ketinggian 37 meter dari permukaan laut (mdpl) dengan kondisi topografi pada keseluruhan wilayahnya 100 % merupakan
hamparan datar.
Daerah yang berpenduduk suku bugis ini berbatasan dengan Kecamatan Kulo pada sebelah Utara. Pada sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan
Lalebata dan Kelurahan Timoreng Panua, sedangkan di sebelah Selatan berbatasan
dengan Kelurahan Macorawalie, serta di sebelah Barat berbatasan
dengan Kecamatan Baranti.
Mata pencaharian penduduk daerah yang dulunya dikenal sebagai Kota Pendidikan dan Gudang Ulama ini, mayoritas melakoni sektor perdagangan dan pertanian yang didukung
luas persawahan sekitar 120 ha dengan pola tanam lima kali dalam
dua tahun. Sedangkan matapencaharian penduduk lainnya adalah peternakan,
industri, pengangkutan dan sebagiannya berkerja di pemerintahan atau PNS/ASN.
Adapun nama-nama yang pernah menjadi
kepala Wanua, Kepala Desa dan Kepala Kelurahan di Rappang, secara berurut yaitu;
M.Arsyad (P.Ecca) 191-194, Mas’ud Amad (P.Ude) 194-1972, Andi Bunyamin (P.Bunu)
1972-1979, Zakariah Darosi (1979-1989),
Muammad Abdu (1989-1994), Andi Siddiq Rara (Andi Jajjo) 1994-1998, Abdul Hafid Sinring (1998-2001), M.Natsir (2001-2003, Emmiyati Samir (2003-2013), dan
Muslihat Jafar Langko (2013-sekarang atau hingga penulisan ini).
Sebagai wilayah pemerintahan yang memilki nilai sejarah yang terukir di peta dunia, menjadi pantas untuk mempertimbangkan kembali menata ulang tata ruang Rappang, terutama dengan masalah perluasan wilayah. Narasi ini dikedepankan mengingat nama Rappang yang secara historis sedemikian besarnya justru bebanding terbalik dengan luas wilayah Kelurahan Rappang saat ini yang begitu sempitnya. Sehingga diharapkan adanya political will atau kebijakan dari Pemerintah Daerah guna memekarkan nama Rappang setidak-tidaknya pada luasan wilayah Kecamatan Panca Rijang. Apalagi substansi penamaan Panca Rijang yang menunjuk pada keberadaan 5 (lima) desa dan atau kelurahan didalamnya, saat ini, suda tidak relevan, dikarenakan Kecamatan Panca Rijang sekarang ini sudah memiliki 8 desa/kelurahan setelah pemekaran yaitu; Kelurahan Rappang, Kelurahan Lalebata, Kelurahan Kadidi, Desa Tiomoreng Panua, Desa Bulo Wattang, Desa Bulo dan Desa Cipo Takari.
(Andi
Damis Dadda, adalah pemerhati budaya leluhur)***
Referensi
1.
Andi Cammi Sang Pembela Kemerdekaan, Andi Damis Dadda, 1985.
Yatusi, Sidrap
2.
Anregurutta Ambo Dalle Maha Guru Dari Bumi Bugis,
H.M.Nasruddin Anshory Ch. 2009, Tiara Wacana
3.
Boeginesche Chrestomathie, D.B.F. Matthes, 1972. Gedrukt Tc
Amsterdam BIJ.C.A,Spin & Zoon
4.
Dibawah Bendera Revolusi, Ir.Sukarno, Jilid Pertama, Cetakan
Kedua, 1963.
5.
Dokumentasi Pemda Sidrap.
6. H.M.DG.Patompo Biografi Perjuangan, Abdurrazaq Mattaliu,
1997. Yayasan Pebangunan Indonesia.
7. I Lagaligo, R.A.Kern (Terjemahan ; La Side dan Sigmun M.D.),
1993. Gajah Mada University Press.
8.
Majalah Mimbar Indonesia, Edisi 7 (14 Pebruari 1953) dan
Edisi 8 (21 Pebruari 1953).
9. Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar Dalam Sejarah, Prof. Dr. Mattulada, 1990. Hasanuddin University Press, Ujung Pandang.
10. Oesman Balo Mengabdi Proklamasi, Harun Rasyid Djibe, 2001. Bhakti Centra Baru, Makassar.


mraisrahmat@gmail.com
BalasHapusTulisan ini, sangat padat makna dan mampu, mengurai dg baik Sejarah Rappeng dg legendanya. Sejarah adalah warisan yg mesti dijaga dg baik. Era globalisasi seyogyanya menumbuhkan kesadaran akan perlunya melestarikan hal2 baik yg telah ditunjukkan oleh para pendahulu. Meskipun leluhur saya dari Enrekang, Bone dan luwu , sy bersyukur dan bangga bisa menjadi bagian dari orang Rappeng
BalasHapusTerima kasih banyak Pak Dekan telah hadir dipostingan ini.
Hapus