Historia : SEJARAH KOTA RAPPANG DALAM CERITA PERJUANGAN ANDI CAMMI DAN LEGENDA OESMAN BALO



Oleh  Andi Damis Dadda


       Menurut cerita leluhur, Rappang dulu tidak sebagaimana sekarang. Tidak juga sepertinya sekarang. Tidak pula seadanya sekarang. Artinya, Rappang dulu bukan sebatas kelurahan, bukan juga sejenis kecamatan, dan bukan pula semacam kabupaten serta bukan sebentuk provinsi. Tapi suatu Negeri berdaulat yang berbentuk kerajaan. Punya wilayah separuh dari Kabupaten Sidrap. Punya penduduk yang mewarisi kecerdasan. Punya Pemerintahan yang menganut sistem demokrasi atau democratic government. Punya Kepala Negara yang bergelar “Arung Rappeng”. Punya “wajah” Ibukota yang teduh dan bersinar.

Hanya saja dari penelusuran referensi kesejarahan, keberadaan Rappang belum ditemukan keterangan terkait tahun penemuan tempat/kampung ini, cuma diceritakan bila kata rappang bersumber dari kata rappeng dalam kosa kata bahasa Bugis disebut juga rappe atau diartikan sebagai kayu yang hanyut tersangkut. Konon pada zaman dahulu bentuk daerah aliran sungai Rappang itu sangat besar, sedangkan pada bagian hulunya terdapat banyak tumbuh pepohonan  menjadi hutan belukar yang lebat dan luas, sehingga bila terjadi musim penghujan sebagian dahan dan ranting pohon-pohon tersebut terbawa arus sungai, lalu tersangkut disuatu tempat yang lama-kelamaan menumpuk dan berproses secara alami membentuk suatu daratan. Hamparan dataran itulah yang kemudian dihuni manusia menjadi perkampungan, lalu disebut Rappang.

Untuk menjadi rujukan tahun berdirinya Kerajaan Rappang, dapat dikonfirmasikan kedalam perakiraan tahun berdirinya Kerajaan Sidenreng, yang konon disebutkan bila usianya lebih tua dari Kerajaan Rappang, hal mana didasarkan pada narasi penunjukan pemimpin  pertama Kerajaan Rappang Bolopatinna sebagai anak dari Lamaddaremmeng yang menjadi penemu dan pemimpin di Kerajaan Sidenreng.  Dari penelusuran lontara’ dalam berbagai versinya, telah disepakati melalui musyawarah tudang sipulung, bahwa tahun berdirinya Kerajaan Sidenreng dirumuskan pada tanggal 18 Pebruari 1344 M. Kemudian hasil musyawarah ini dituangkan dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2009. Sehingga melalui pendekatan perakiraan tersebut, dapat pula disebutkan bila Kerajaan Rappang berdiri dalam abad ke 13 M.


Foto Suasana pertigaan atau bundaran Siti Khadijah (Depan SMK 2 Sidrap atau SMEA dulu)

Selanjutnya dalam lontara disebutkan jikalau sejak berdirinya, Kerajaan Rappang sudah berotonomi, sebagaimana ungkapan “Napoade’-ade’na, tenri cellengi bicaranna”, yang berarti adatnya yang berlaku dan tidak diintervensi keputusannya.

Anregurutta Abdul Muin Yusuf atau biasa akrab disapa Pu’Tommeng dan lebih populer disebut Kali Sidenreng menggambarkan sifat orang Rappang dalam pemaknaan otonomi  itu dengan ungkapan yang dikutifnya dari Lontara’; “mallekku tenripakkedde, joppa tenripatutu”, yang berarti tidak dapat dipaksakan melaksanakan sesuatu bila bukan aturan yang pernah dibuatnya sendiri yang menghendaki.

Pemimpin utama negeri Rappang Bolopatinna mempunyai tiga orang anak, yang sulung seorang perempuan bernama We’Tepu Uleng yang mana kemudian dikirim ke Sidenreng sebagai putra mahkota untuk menggantikan neneknya yaitu Lamaddaremmeng. Sedangkan anak lelakinya yang bernama Lamallibureng tetap tinggal di Rappang menggantikan ibunya. Tetapi oleh karena Sidenreng pada mulanya menganut sistim keputramahkotaan laki-laki, maka keduanya dipertukarkan, sehingga Lamallibureng dinobatkan menjadi  Raja di Kerajaan Sidenreng, bergelar Addaowang Sidenreng (sekaligus secara resmi sebagai raja pertama di Kerajaan Sidenreng), dan We’Tepu Uleng dinobatkan menjadi Ratu di Kerajaan Rappang, bergelar Arung Rappeng (sekaligus secara resmi sebagai raja pertama di Kerajaan Rappang).

Daripada kejadian pertukaran posisi We’Tepu Uleng dan Lammalibureng, ini pulalah kemudian menampakkan dimensi perbedaan sistem pemerintahan yang dianut kedua kerajaan kembar ini, khususnya dalam hal memilih pemimpin. Dimana Kerajaan Sidenreng menganut sistim yang disebut “massorong pawo”, diartikan sebagai sistim pemerintahan yang berdasarkan jalur keputramahkotaan (monarkis), sedangkan Kerajaan Rappang menganut sistim yang disebut “mangella pasang”, diartikan sebagai sistim pemerintahan yang berdasarkan aspirasi masyarakat dalam konteks pemerintahan demokratis.

Menanggapi perbedaan tersebut, Anregurutta K. H. Abdul Muin Yusuf  menyebutkan dalam bahasa Bugis; “Mappada pada memeng mua ade’e ri Sidenreng sibawa ri Rappeng, tapi denapada pangolo tanana” (Artinya; Memang sama saja budaya atau adat istiadat di Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang, akan tetapi berbeda sistim pemerintahannya).


K.H. Abdul Muin Yusuf

Dari penelusuran sejarah disebutkan beberapa nama yang pernah menjadi Arung Rappeng atau Pemimpin di Kerajaan Rappang, yaitu: We’tipu Uleng sebagai Arung Rappeng pertama (I), kakak kandung Lamallibureng, yang juga sebagai Addaowang Sidenreng pertama.  Disusul kemudian We’pawawoi (II), anak perempuan dari We’tepu Linge, hasil perkawinannya dengan Labangenge Manurungnge ri Bacukiki Addatuang Sawitto. Kemudian La Makkarawi (III), merangkap Datu Suppa keempat, anak dari La Puto Bulo Lembanna Mallali’E. Selanjutnya berturut-turut, Songko Pulawengnge (IV), We’cinang (V), Lapasampoi (VI), Lapancaitana (VII), Lapakolongi (VIII), We’dangkau (IX), Tone’e (X), We’tasi (XI), Todani (XII), Latenritatta Daeng Tomaming (XIII), Latoware (XIV), We’tenri Paonang (XV), Lapabitte’I (XVI), We’madditana (XVII), We’bangki  (XVIII), Lapanguriseng (XIX), Lasadapotto (XX), dan We’tenri atau  kalangan orang tua dulu menyebutnya Arung Rappeng I Tenri (XXI) merangkap Addatuang Sawitto.

            Pada masa kerajaan tersebut, untuk dapat diangkat menjadi Arung Rappeng, harus memenuhi tiga persyaratan pokok, yaitu ; (1) Malempu’i (jujur dan amanah), (2) Magettengngi ri tarobicaraE (tegas dan bijaksana dalam mengambil suatu keputusan), (3) Maraja pakkamasei ri pabbanuwaE  (cinta dan kasih sayang serta mengedepankan kepentingan rakyatnya). Ketiga persyaratan ini merupakan pencerminan dari karakteristik masyarakat Rappang dan sistem Pemerintahan Kerajaan Rappang yang berbentuk demokrasi atau   dalam lontarak disebut “Mangelle’ Pasang”, sebagaimana tercantum dalam lontara La Towa yang berbunyi;

Naiya Arung Rappeng ripile narilanti  rilaleng asenna pabbanuwaE ri Rappeng, riwakkelekiE pole ri ade’na Rappeng nariappallebbangeng ri pabbicaraE. Naiya akkarungengnge ri Rappeng rimanamoi tenripammanareng, de naripattentu ettana, wedding matepi narisullei narekko ripojiwi ripabbanuwaE, nasangadinna ri caccai ri pabbanuwaE masittai ripasellei. Naiya pabbanuwaE   ri  Rappeng mallekku tenripakkedde joppa tenripatutu. Naiya pakkedde’engngi nenniya patutuengngi iyanaritu ade mappura onroE. Naiyya  arungnge ri Rappeng weddingngi nakkatenni dua tellu akkarungeng, rimakkuwannaro na engka wakkele’na sullei pajoppai parentana narekko de’nadapiì arungnge, iyana riaseng Sulewatang

Artinya, Raja dalam Kerajaan Rappang dipilih dan dilantik atas nama rakyat yang diwakili oleh pemangku adat dan diumumkan oleh Pabbicara. Kerajaan Rappang dapat diwarisi oleh semua raja-raja di Sulawesi Selatan, akan tetapi kerajaan itu tidak dapat diwariskan langsung kepada anak cucunya (tidak ada putra mahkota). Batas waktu untuk memegang jabatan tidak ditentukan, boleh sampai meninggal  apabila dia disukai oleh rakyatnya. Kalau tidak disukai oleh rakyat, maka sewaktu-waktu dapat diganti. Rakyat Kerajaan Rappang tidak dapat dipaksakan mengerjakan sesuatu tanpa peraturan. Yang diangkat  menjadi Raja di Rappang, boleh laki-laki dan bisa juga perempuan. Mereka boleh memegang dua atau tiga kerajaan. Olehnya itu diangkat seorang wakil yang dinamai sulewatang untuk menggantikan raja menjalankan pemerintahan atau perintahnya apabila raja itu berhalangan.

Foto Kenangan I Tenri Arung Rappeng terakhir (Petta’e Rappeng) bersama para pemangku adat di depan Saoraja Rappang (1938)


Foto diri I Tenri Fatimang (Arung Rappeng terakhir)

Arung Rappeng  I Tenri tercatat sebagai ratu terakhir. Karena episode selanjutnya, keberadaan “Rappang” dan “Sidenreng” melebur dalam sejarah pergolakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta menjadi bagian dari kebhinekaan nusantara. Bermula dari kekalahan Lasadapotto dari tentara Belanda pada saat menjabat Arung Rappeng XX  merangkap Addatuang Sidenreng XII, dalam peperangan sengit  yang dipimpin panglima perang Arungnge Lanoni dari Tellang-Tellang, sehingga kerajaan harus diserahkan sepenuhnya kepada Pemerintah Hindia Belanda.

Surat Pernyataan Pendek (Korte Verklaring) yang ditandatangani  Lasadapotto (1905) selaku Arung Rappeng  dan merangkap Addatuang Sidenreng,  telah menjadi titik metamorfosis  bagi kerajaan  yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi ini. Wilayah Kerajaan Rappang kemudian dinyatakan sebagai bagian dari Wilayah Onderafdeeling Pare-Pare, selanjutnya diundangkan dalam Lembaran Negara  (Staatblad) 1916, No.352.

Suasana Pasar Rappang (1905). Ramai sekali . . . .

 Kemudian pada Tahun 1917, berdasarkan Staatblad 1917 No.249, bekas wilayah Kerajaan Rappang digabungkan dengan bekas wilayah Kerajaan Sidenreng  menjadi satu Onderafdeeling Sidenreng Rappang.  Penyatuan wilayah ini, tidak lagi mengalami perubahan dan berlangsung terus hingga Pemerintah Hindia Belanda dan Jepang  menyerah pada tentara sekutu serta diproklamasikannya Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Sukarno-Hatta Pada Tanggal 17 Agustus 1945, serta penyerahan kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949  yang juga menandai berakhirnya Pemerintahan Kerajaan di Sidenreng dan Rappang.

                                                                      Jembatan Rappang Tempo doeloe (1905)

Perjuangan Andi Cammi

            Dalam konteks perjuangan membela tanah air, kekalahan Addatuang Lasadapotto tidak serta merta menjadikan perjuangan patah arang di  Wilayah Kerajaan Rappang. Karena sejarah kemudian menorehkan tinta emas atas kegagahberanian  Andi Cammi menantang penjajahan, melalui perjuangan yang terorganisir Kelaskaran (BP) Ganggawa. Walaupun perjalanan hidup kader Ressang Dg. Pawellang ini (Gerakan Pemuda Merah Putih, September/Nopember 1945) harus berakhir dengan sangat memilukan dan menyayat hati mendengar ceritanya.

                                                            Monumen Andi Cammi di Carawali Kabupaten Sidrap

Betapa tidak, akibat kebiadaban  pasukan Nica (Netherlands Indies Civil Administration),  setelah menyerang dan melumpuhkan perlawanan Hamidong (nama samaran Andi Cammi)  di Carawali dengan berondongan peluru, pada Tanggal 26 Agustus 1946, mereka lalu mengikat kedua kaki dan tangannya lalu menyeret mayatnya dengan mobil Jeep sepanjang jalan dari Carawali  Kecamatan Watang Pulu (tepatnya di lokasi Monumen Andi Cammi, saat ini) sampai berkeliling di Kota Rappang. Kemudian keesokan harinya, tanggal 27 Agustus 1946, mereka menancapkan mayat yang berlumuran darah bercampur kotoran dan debu itu pada tumpukan drum di tengah Kota Rappang (persimpangan Jalan Sultan Hasanuddin dan Jalan Masjid Raya-Jalan Muhammadiyah, sekarang) untuk dipersaksikan kepada masyarakat, jikalau Andi Cammi Sang Pembela Kemerdekaan Indonesia telah gugur.


Foto diri Andi Cammi

Diceritakan,  hari itu Senin, ketika waktu hampir  Magrib dalam bulan Ramadhan di Tahun 1946, Andi Cammi dengan pengawalnya menyempatkan diri menemui keluarganya di Carawali, sekaligus bermaksud berbuka puasa bersama, apalagi menjelang 2 hari lagi Lebaran Idul Fitrih 1365 H. Maklum, guna mengorganisir perjuangan Kelaskaran BP.Ganggawa, menuntut  Andi Cammi harus berkeliling mengunjungi seluruh daerah operasinya yang meliputi; Parepare, Barru, Soppeng, Wajo, Bone, Pinrang, Enrekang, bahkan sampai ke Mandar, sehingga jarang sekali berada di Carawali berkumpul bersama keluarga.

Namun belum juga terdengar beduk Magrib sebagai pertanda waktu berbuka, tiba-tiba mendapat serangan dengan berondongan peluru dari dua penjuru dari tentara Nica. Maka  secara spontan pula Andi Cammi bersama pengikutnya mengambil senjata dan menghadang serangan, sehingga tembak-menembakpun menjadi hidangan buka puasa. Oleh karena serangan begitu tidak terduga, dan tidak didukung persenjatan yang berimbang, akhirnya Andi Cammi dapat terkena peluruh di bagian pahanya, sedangkan Andi Makkulau, Baco Mustika, La Maloga dan La Majjappareng gugur ditempat.

Dalam keadaan terluka parah dan kehabisan peluru, Andi Cammi masih berusaha melawan dengan sisa-sisa kekuatannya, walaupun harus melompat dari atas rumah, guna mengambil posisi bertahan di sawah. Sebilah badik di tangan tak lagi mampu menyelamatkan Andi Cammi dari serangan membabibuta tentara Nica yang begitu bernafsu ingin membunuh “Hamidong”.

Dalam posisi sangat terjepit dan terkepung, tentara Nica mendekati  Andi Cammi dengan berondongan peluru yang mengganas. Lalu, setelah jarak mereka dengan Andi Cammi tinggal beberapa langkah, merekapun memuntahkan peluruh tepat mengenai kepala Andi Cammi, mengakibatkan gugurnya Sang Pembela Kemerdekaan.


Foto diri Andi Nohong

Perjuangan Andi Cammi  kemudian  dilanjutkan oleh kakak kandungnya sendiri Andi Nohong, namun perlawanannya dapat dipatahkan dalam pertempuran yang begitu sengit dengan tentara Nica di Lakessi, sebelah barat Kota Pangkajene (tepatnya di lokasi Monumen Ganggawa,di Kota Pangkajene Kecamatan Maritengngae, sekarang ini). Namun dalam kondisi sakit akibat serangan yang semapat melukainya, Andi Nohong mencoba bertahan dan melakukan perlawanan, tapi taktik licik penjajah mengantarkan Andi Nohong masuk penjara, yang berlanjut dengan eksekusi tembak mati, sehingga Andi Nohong pun menyusul adiknya, gugur sebagai syuhada dalam rangka membela kebenaran,kemanusian dan kemerdekaan.

Gugurnya Andi Cammi dan Andi Nohong, bukannya meredupkan api perjuangan di Kota Rappang, bahkan menyulut api kebencian serta dendam kepada penjajah dan  semakin mengobarkan semangat juang para Putra Rappang lainnya, yang memang mewarisi sifat keberanian dari leluhurnya. Karena pilihannya hanya satu, “merdeka atau  mati”. Freedom or death.

Maka perjuangan Kelaskaran Ganggawa kemudian dilanjutkan  Oesman Balo  dengan keberaniannya yang melagenda dan kesohor seantero negeri. Oesman Balo juga yang pertama-tama mengibarkan Sang Merah Putih di Rappang di alun-alun Kota Rappang pada Tanggal 9 September 1945, tepatnya di lokasi Monumen Bambu Runcing, sekarang. Bersama dengan Sofyan Kute dan M.Arsyad B, usai menaikkan bendera, Oesman Balo lalu menulis pada bagian bawah tiang bendera; ”Siapa yang menurunkan bendera ini, jiwanya terancam”.


Oesman Balo

        Karena keragu-raguan,   menurut Oesman Balo,   menjadi bagian dari ketakutan dan wajah lain dari kegagalan. Maka berjuanglah Oesman Balo dengan sepenuh hati dan raganya, hingga akhirnya penjajahan dapat dilenyapkan dan berkibarnya bendera merah putih di Bumi Nene’ Mallomo.

 Salah satu ciri seorang laki-laki (a real gentlement) ialah kemampuannya memusnahkan keragu-raguan pada dirinya. Bahkan aku berpendapat, bahwa keragu-keraguan adalah bumerang yang dapat menghancurkan segalanya”, pesan Sang Petarung Sejati Oesman Balo, yang berpatang menyerah di medan laga, tapi cerdik  dan kaya  strategi menghadang musuh, sehingga membuat pasukan Belanda kewalahan dalam setiap pertempuran sepanjang Tahun 1946.

Sebagai Putra Rappang yang dilahirkan pada tahun 1920, Oesman Balo tumbuh dan berkembang mewarisi keberanian dari leluhurnya, sehingga pendidikan madrasah yang diperolehnya meneguhkan prinsip hidupnya "bahwa hidup dan mati itu ditangan Tuhan". Kesempatan menimbah pendidikan dibangku sekolah agama itu pula membuatnya dapat memahami sedikit dari arti perjuangan dan kemerdekaan. Selanjutnya iapun bergabung dengan Kelaskaran Ganggawa Pimpinan Andi Cammi, yang mana kemudian mengantarkannya  pada posisi sentral perjuangan yang melagenda, hingga mendapat pujian dari Presiden Soekarno.

Kesenangan Oesman Balo pada lawan jenisnya ditunjukkan dengan menikahi 90 lebih perempuan cantik, bahkan ada yang menyebutnya lebih seratus. Tapi semua kisah-kisah asmara dan keberanian yang bagaikan dongeng itu melebur dalam kisah perjuangan kelaskaran ganggawa yang begitu heroik. Walaupun tetap mempesona dan memukau  bila diceritakan lewat petikan alunan kecapi sebagai penghias pesta rakyat saat ini.

"Ia tidak pernah takut dan penuh tanggung jawab. Ia juga laki-laki sejati", cerita Ibu Ica mengenang suaminya Sang Lagenda.

       Selanjtnya menurut cerita, Presiden Pertama RI. Ir. Sukarno pernah berkunjung di  Rappang, guna  memberikan respon dan support  yang sangat luar biasa atas perjuangan bambu runcing di  Kota ini, dalam rangka membela dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Presiden Soekarno menandatangani prasasti Tugu Kemerdekaan di Rappang (lokasi Monumen Bambu Runcing, sekarang)


         Hari itu, Kamis  5 Pebruari 1953, Sang Proklamator memberikan pidato berapi-api dalam rapat akbar yang dihadiri ribuan orang di alun-alun Kota Rappang, atau di tempat Oesman Balo mula pertama mengibarkan Bendera Merah Putih. Oleh Bung Karno alun-alun ini  diberi nama Lapangan Murni, sebagai akronim dari Merdeka Untuk Rakyat Negeri Indonesia. Kemudian sebagai tanda pujian atas keberanian dan perjuangan Orang Rappang melawan penjajah dengan Bambu Runcing, maka “Putra Sang Fajar yang menyebut dirinya “Penyambung Lidah Rakyat itu,  menggoreskan sejarah keberadaannya  di Kota  Rappang dengan  menandatangani prasasti pengresmian Tugu Kemerdekaan (Monument of Indefendence). Sayang sekali tugu bersejarah ini telah dibongkar dan  kini  digantikan tempatnya  oleh Monumen Bambu Runcing Rappang.

Pridikat Kota Rappang Doeloe (Golden Memories dan hanya tinggal kenangan)

            Dalam konteks pemerintahan dan kemasyarakatan, Rappang dulu menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan, sebagai Ibukota Kewedanan Sidenreng Rappang. Alhasil  sebagai Ibukota lama, Rappang menyimpan begitu banyak kenangan indah (golden memories) yang ditandai dengan berbagai predikat yang pernah disandangnya.

Sebagai Kota Sejuk (Cool City), yang dulu ditunjukkan banyaknya pohon pelindung memenuhi pinggir jalan pusat kota dan dalam  pekarangan rumah penduduk, serta letak geografis yang dikelilingi sungai sepanjang bagian timur-selatan-barat daya dan hutan pegunungan bagian utara, sehingga amat  terasakan kesejukan walaupun diterpa panas terik pada siang hari.  

Sebagai Kota Pendidikan (City Education), yang ditandakan dengan banyaknya institusi pendidikan klasik di dalamnya sejak dulu, khususnya pendidikan agama. Pada masa penjajahan, sebelum kemerdekaan RI, sudah ada madrasah ibtidaiyah (1928),  Diniah School (1932), Madrasah Tsanawiyah (1937) dipimpin Sayid Muhsin Alwi, Madrasah Muallimin yang dibuat untuk mencetak guru-guru dan mubaligh yang dipimpin Ghazali Syahlan lalu digantikan oleh Syamsuddin Razak.

Setelah proklamasi kemerdekaan (1945) maka semakin bertambah banyak sekolah didirikan diantaranya; Taman Kanak-Kanak (TK),  SD, SMP, SMA, SMEP, SMEA, SKKP, SPG,  SMA PGRI, SPMA, SUT, dan Perguruan Muhammadiyah mulai dari tingkat TK, Madrasah, Tsanawiyah, Aliyah, hingga perguruan tinggi yaitu Universitas Muhammadiyah Makassar Cabang Rappang.  Konon Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau populer dikenal Buya Hamka, juga pernah berkunjung di Kota ini (1952)  untuk menghadiri Konprensi Daerah Muhammadiyah ke-7 di Rappang sekaligus menengok perguruan muhammadiyah yang berkembang cukup pesat kala itu. Sebelumnya Tokoh Nasional duabelas bahasa H.Agus Salim (1929) juga datang ke Rappang untuk konsolidasi organisasi Syarekat Islam (S.I).

 Sebagai Gudang Ulama (The Birthplace of The Scholar), yang dibuktikan dengan banyaknya  ulama besar yang lahir, atau pernah bermukim dan atau ulama tersebut pernah berguru pada ulama besar di Kota ini, diantaranya; H.Ibrahim, Syekh Ismail bin Thalib, Syekh Ali Matar (pendiri Madrasah Aunurrafiq Rappang (1958) dan pernah jadi Imam Besar Masjid Raya Rappang, Syekh Jamal Padaelo, H. Muhammad Ali Yusuf, K.H. Ali Yafi,  K.H.Abdul Jabbar Assiri (Pesantren Gombara), K.H. Muhamad Naim Mustara, K.H. Abdul Muin Yusuf, dan banyak lagi lainnya, termasuk H. Abdurahman Shihab atau Ayahanda Prof. H.Qurais Syihab.

Bangunan pertama Masjid Raya Rappang (1905)

Sebagai Serambi Mekah (Veranda of Mecca), yang diisyaratkan dengan budaya religius masyarakatnya dan maraknya wadah keagamaan yang dikelola ormas Muhammadiyah, NU, SI dll.

            Sepintas seperti itulah gambaran tempo dulu Kota Rappang dan masyarakatnya (hingga Tahun 70an), dan “kesan”nya masih terasa hingga saat sekarang ini.

Setelah berlangsungnya pemerintahan daerah tingkat II kemudian menjadi kabupaten, keberadaan Rappang bermetamorfosis lagi menjadi sebuah wilayah pecahan kecamatan dibawah kepemimpinan pemerintahan wanua, lalu selanjutnya dipecah lagi dan sekarang dalam wilayah pemerintahan kelurahan yang dikenal  Kelurahan Rappang.

Gambaran Umum Kota/Kelurahan Rappang

Kota Perjuangan Bambu Runcing merupakan julukan historis yang biasa ditujukan untuk menyebut Kota Rappang yang saat ini menjadi  wilayah administrasi pemerintahan Kelurahan Rappang dan sebagai Ibukota Kecamatan Panca Rijang Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Kelurahan Rappang terletak sekitar 10 kilo meter sebelah utara Kota Pangkajene Sidenreng   Ibukota  Kabupaten Sidenreng Rappang dan berjarak sekitar 189 kilo meter dari Kota Makassar Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan.

Kelurahan Rappang mempunyai luas wilayah administrasi 2,43 km2 yang terbagi pada 2 lingkungan yaitu; Lingkungan Lalebata dan Lingkungan Bambu Runcing dengan proyeksi penduduk Tahun 2017 sebanyak 6.063 jiwa, terdiri dari 3072 perempuan dan 2.991 pria serta kepadatan penduduk 2.495 per km2.

Kelurahan Rappang yang dulunya merupakan “kerajan berdaulatatau disebut Kerajaan Rappang, terletak pada posisi 30043- 40009Lintang Selatan dan 1190041 -1200010 Bujur Timur, serta berada pada ketinggian 37 meter dari permukaan laut (mdpl) dengan kondisi topografi pada keseluruhan wilayahnya 100 % merupakan hamparan datar.

Daerah yang berpenduduk suku bugis ini berbatasan dengan Kecamatan Kulo pada sebelah Utara. Pada sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Lalebata dan Kelurahan Timoreng Panua, sedangkan di sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Macorawalie, serta di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Baranti.

Mata pencaharian penduduk daerah yang dulunya dikenal sebagai Kota Pendidikan dan Gudang Ulama ini, mayoritas melakoni sektor perdagangan dan pertanian yang didukung luas persawahan sekitar 120 ha dengan pola tanam lima kali dalam dua tahun. Sedangkan matapencaharian penduduk lainnya adalah peternakan, industri, pengangkutan dan sebagiannya berkerja di pemerintahan atau PNS/ASN.

            Adapun nama-nama yang pernah menjadi kepala Wanua, Kepala Desa dan Kepala Kelurahan di Rappang, secara berurut yaitu; M.Arsyad (P.Ecca) 191-194, Mas’ud Amad (P.Ude) 194-1972, Andi Bunyamin (P.Bunu) 1972-1979, Zakariah Darosi (1979-1989),  Muammad Abdu (1989-1994), Andi Siddiq Rara (Andi Jajjo) 1994-1998, Abdul Hafid Sinring (1998-2001), M.Natsir (2001-2003, Emmiyati Samir (2003-2013), dan Muslihat Jafar Langko (2013-sekarang atau hingga penulisan ini).

            Sebagai wilayah pemerintahan yang memilki nilai sejarah yang terukir di peta dunia, menjadi pantas untuk mempertimbangkan kembali menata ulang tata ruang Rappang, terutama dengan masalah perluasan wilayah. Narasi ini dikedepankan mengingat nama Rappang yang secara historis sedemikian besarnya justru bebanding terbalik dengan luas wilayah Kelurahan Rappang saat ini yang begitu sempitnya. Sehingga diharapkan adanya political will atau kebijakan dari Pemerintah Daerah guna memekarkan nama Rappang setidak-tidaknya pada luasan wilayah  Kecamatan Panca Rijang. Apalagi substansi penamaan Panca Rijang yang menunjuk pada keberadaan 5 (lima) desa dan atau kelurahan didalamnya, saat ini, suda tidak relevan, dikarenakan Kecamatan Panca Rijang sekarang ini sudah memiliki 8 desa/kelurahan setelah pemekaran yaitu; Kelurahan Rappang, Kelurahan Lalebata, Kelurahan Kadidi, Desa Tiomoreng Panua, Desa Bulo Wattang, Desa Bulo dan Desa Cipo Takari. 

(Andi Damis Dadda, adalah pemerhati budaya leluhur)***

 Referensi

1.      Andi Cammi Sang Pembela Kemerdekaan, Andi Damis Dadda, 1985. Yatusi, Sidrap

2.      Anregurutta Ambo Dalle Maha Guru Dari Bumi Bugis, H.M.Nasruddin Anshory Ch. 2009, Tiara Wacana

3.      Boeginesche Chrestomathie, D.B.F. Matthes, 1972. Gedrukt Tc Amsterdam BIJ.C.A,Spin & Zoon

4.      Dibawah Bendera Revolusi, Ir.Sukarno, Jilid Pertama, Cetakan Kedua, 1963.

5.      Dokumentasi Pemda Sidrap.

6. H.M.DG.Patompo Biografi Perjuangan, Abdurrazaq Mattaliu, 1997. Yayasan Pebangunan Indonesia.

7.   I Lagaligo, R.A.Kern (Terjemahan ; La Side dan Sigmun M.D.), 1993. Gajah Mada University Press.

8.      Majalah Mimbar Indonesia, Edisi 7 (14 Pebruari 1953) dan Edisi 8 (21 Pebruari 1953).

9.    Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar Dalam Sejarah,  Prof. Dr. Mattulada, 1990. Hasanuddin  University Press, Ujung Pandang.

10.  Oesman Balo Mengabdi Proklamasi, Harun Rasyid Djibe, 2001. Bhakti Centra Baru, Makassar.



Komentar

  1. mraisrahmat@gmail.com

    BalasHapus
  2. Tulisan ini, sangat padat makna dan mampu, mengurai dg baik Sejarah Rappeng dg legendanya. Sejarah adalah warisan yg mesti dijaga dg baik. Era globalisasi seyogyanya menumbuhkan kesadaran akan perlunya melestarikan hal2 baik yg telah ditunjukkan oleh para pendahulu. Meskipun leluhur saya dari Enrekang, Bone dan luwu , sy bersyukur dan bangga bisa menjadi bagian dari orang Rappeng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak Pak Dekan telah hadir dipostingan ini.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka