Refleksi : MENAFSIR BUDAYA DUKUNG MENDUKUNG
Siapa yang menabur perestasi akan menuai
dukungan. Tapi kerja belum selesai. Masih banyak yang mau dilakukan. Pujian
hanyalah peringatan untuk semakin bergiat dan bekerja keras. Karena yang memuji
bisa jadi yang akan menggunjing. Oleh karena itu lengan baju tetap harus
disingsingkan, mengingat hari esok yang lebih baik, menuntut pengelolaan
pembangunan melebihi apa yang telah
dilakukan dan dicapai hari ini.
“Singa daratan Eropa” Napoleon Bonaparte
bertutur: “I have succeeded in whatever I
hahe undertaken I have wiled it. I heve never hesitated wich has given me an
advantage over the rest of mankind”. Saya berhasil di semua pekerjaan yang
saya lakukan karena saya menghendakinya. Saya tidak pernah ragu sehingga memberi saya keuntungan dibandingkan
orang lain.
Oleh karena setiap pekerjaan yang
dilakukan, apabila memang dikehendaki, akan menimbulkan rasa percaya diri dan
rasa senang melakukannya. Selanjutnya rasa senang membuat kita bersungguh-sungguh melaksanakannya. Maka
barang siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil, seperti kata pepatah berbahasa arab yang berkias
“mantera” “man jadda wajada”.
Sedangkan setiap keberhasilan akan mendapatkan pujian. Lalu pada banyak
kejadian dan kesempatan pujian itupun menuai dukungan.
Dukungan bisa berarti doa dan
harapan. Namun dukungan politik adalah komitmen dan keberpihakan. Sebuah
komitmen terbangun dari kepentingan yang merajuk kesepahaman untuk melangkah
bersama melaksanakan perbaikan.
Dukungan juga terkaji sebagai penghormatan
kepada yang didukung. Boleh jadi karena perestasi, reputasi, atau rekam jejak yang mengesankan. Oleh karena itu
penghormatan yang dialamatkan kepada yang akan didukung, sudah tentu sebagai
wujud apresiasi yang didedikasikan kepada “nilai-nilai lebih” yang telah dicapai
oleh yang didukung.
Alhasil dukungan itupun merupakan
manifestasi kecintaan dan respon pujian kepada yang didukung, yang bisa jadi telah
mencurahkan perhatiannya yang begitu besar kepada segenap sendi-sendi kehidupan
masyarakat. Yang lebih mementingkan kepentingan rakyat dari pada kepentingan
pribadinya.
Karena sesungguhnya pada diri kita,
ada ruang untuk orang lain sebagai media interaksi secara internal dan
eksternal. Oleh karena itu secara dialektika setiap orang akan bergantung
kepada orang lain dan lingkungannya. Maka segala bentuk penilaian orang lain
kepada kita sangat ditentukan dari model interaksi yang kita lakoni sehari-hari
dalam konteks budi pekerti atau akhlakulkarimah..
Rampeka’
kaluku nakurampeki golla, kenanglah
aku segurih kelapa maka aku akan mengenangmu semanis gula, pesan leluhur
orang bugis, yang bermakna bahwa sebuah
kebaikan akan berbalas kebaikan pula. Bahwa pribadi yang baik dan mengesankan
akan berbuah pada banyaknya keberpihakan. Bahwa perbuatan yang baik dan
berpihak pada masyarakat, dapat dipastikan akan mendapat dukungan dan pujian
serta penghormatan dari sejarah kehidupan bermasyarakat. Bahwa prestasi yang
berhasil, akan mendapatkan anugerah atau penghargaan yang akan bernilai
monumental sepanjang masa. Setidak-tidaknya prestasi itu meraih simpatik dari
seseorang atau sekelompok orang. Tergantung kadar prestasinya.
Pada titik bersimpatik inilah, biasanya
proses dukung mendukung terkelola dengan amat hiperbolik, melalui retorika
argumentasi janji-janji yang terkadang tak mampu dicerna akal sehat. Sehingga
diharapkan kali ini, dan seterusnya, dapat dilakoni secara alamiah. Disederhanakan
sebagaimana masyarakat dapat memahaminya,
dan akan menikmati hasil dari dukungannya kelak. Karena masyarakat
biasanya cuma butuh kepastian, bukan retorika.
Teramat penting bagi yang mau didukung untuk meninjau kemampuannya
sebelum mengikat janji, lalu menahan diri dari janji yang di luar kemampuannya.
Karena sekalipun seseorang tak dapat memenuhi janji atau melaksanakan
komitmennya, ia harus dapat bertanggung jawab atasnya. Karena itu, apabila
seseorang tak mencermati apa yang akan dikatakanya, ia menjadikan dirinya
sasaran kesalahan dan kecaman.
Ada ritangnga itai addimunrinna,
gau ritangnga itai mappuralaloe. Pesan leluhur ini
mengisyaratkan betapa pentingnya perbuatan baik dalam hidup bermasyarakat.
Karena setiap yang pernah terucap,
apalagi janji, berakibat pada
tagihan perwujudan. Begitupula sikap dan perbuatan yang diperagakan sebelumnya,
akan jadi barometer penilaian masa sekarang dan akan datang. Sehingga kita akan
menjadi penulis sejarah kita sendiri. Masyarakat adalah pembicara sejarah yang paling multi tafsir. Oleh sebab
itu Sayid Mustajab Musawi Lari dalam bukunya “Menumpas Penyakita Hati” berpesan bahwa, “Tak ada kesalahan lebih
besar daripada ketidakperdulian terhadap anggota masyarakat. Moralitas
mewajibkan manusia melaksanakan dan menghormati semua janji dan persetujuan di
antara berbagai pihak, sekalipun tanpa jaminan hukum. Melanggar janji berarti
meninggalkan tatanan kehormatan dan martabat”.
Hanya dengan bermasyarakatlah hidup
manusia akan berkembang biak, kata filsuf Yunani Kuno Aristoteles, tanpa
kepemimpinan yang kuat dan mencerahkan maka suatu bangsa atau masyarakat akan
kacau balau.
“Tapi kita harus berjuang terus-menerus
untuk mencapai kesempurnaan yang paling mulia dan tujuan yang paling luhur,
karena rahasia keberhasilan dan kebahagiaan hanya terletak pada cara berpikir
yang benar”, ungkap Sayid Mustajab Musawi Lari. (andi damis dadda)
Komentar
Posting Komentar