Refleksi : SETULUS EMPATI UNTUK PEREMPUAN PALESTINA



Oleh  Andi Damis Dadda


Hingga zaman milenial ini, masalah peran perempuan, khususnya kepemimpinan perempuan, masih saja jadi topik yang paling menarik didiskusikan. Walaupun persoalan gender, boleh jadi bukan lagi berita hangat.  Karena semakin hari, semakin banyak perempuan yang tampil menjadi pemimpin, dan berhasil. Menjadi Perdana Menteri sekelas Benasir Buto, Indira Gandhi, Margaret Thatcher, Simavo Bandaranaike.  Menjadi Presiden sehebat Corazon Aquiono, Mary Robinson, Violeta Chamoro, Isabel Martinez de Peron. Lalu  di Tanah Air ada Megawati Soekarno Putri,  Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, Retno Lestari, Yohana Susana Yembesi, Puan Maharani, Khofifah Indar Parawansa, Tri Rismaharini, dan sederet nama lainnya pada tempat yang berbeda.

Mereka adalah perempuan yang hebat, dan berprestasi. Perempuan yang mampu menembus batas-batas kelasiman, dan merebut mahkota kepantasan. Perempuan yang luar biasa, dan menginspirasi. Perempuan yang berjaya di puncak pemerintahan, dan bertahta di singgasana kepemimpinan.

Tapi, mereka itu semua, adanya dibelahan bumi, yang negaranya merdeka. Pada bangsa yang “memerdekakan” perempuan.  Yang membagi “jata” perempuan sama dengan laki-laki. Karena sudah lama tersadar, bahwa betapa peran perempuan, begitu besarnya membangun kejayaan suatu negeri. Walaupun demikian, duniapun tetap memuji ketangguhan Ahed Tamimi, Marah Baker, Nourwan Awad, Lama Bakri, Syeruk Duyat, Amal Thogotogoh, dan sejumlah nama perempuan Palestina lainnya, yang begitu tegar manantang penindasan dan penjajahan, demi kemerdekaan bangsanya.

Teori-teori kepemimpinan, yang mengunggulkan perempuan, terasa hampa di Palestina. Derita panjang akibat ronrongan Israil, telah mengubur keseluruhan daya imajinasi perempuan Palestina, untuk bisa bermimpi. Jangankan menjadi pemimpin senasib Corason Aquino, menjadi pribadi yang merdeka saja, sudah begitu mengenaskan.

Sedangkan waktu yang berputar, tidak juga memberikan solusi. Bahkan kita hampir kehabisan kata-kata untuk Palestina. Seperti seorang perempuan Palestina, tak mampu lagi menangisi mayat anak lelakinya, yang terkapar akibat hujanan peluru tentara Israil. Begitu kejamnya penjajahan. Ketika air mata mengering, karena tak tahu lagi menangis.

Mungkin karena itulah pernah dikampanyekan #WeAreAllMary atau #WeAreAllMaryam, yang terasa menyayat hati, disaat kita harus memuji solidaritas perempuan Islam sedunia, untuk kemerdekaan Palestina. Karena berempati, tidak lagi hanya turut bersimpatik dan menangisi derita yang diselumti duka tak bertepi, yang dialami perempuan Palestina, tapi harus menjadi gerakan moral untuk membela martabat kaum perempuan secara universal, yang terhinakan di Palestina.

Terus terang, sewaktu membaca tema tagar yang diterjemahkan “Kami Semua Maryam”, menyiksa pikiran saya, mencari kata-kata yang lebih pantas, untuk menyatakan rasa empati saya  yang sangat mendalam terhadap perjuangan rakyat Palestina. Apalagi untuk menggambarkan keterharuan saya, menyikapi “perlawanan” perempuan sedunia, sebagai bentuk dukungan terhadap kaumnya yang tertindas di Tanah Suci Baitulmakdis.

Sehingga, kampanye “Kita Semua (Siti) Maryam”, telah menyadarkan kita, bila kelembutan dapat menjadi kekuatan perjuangan yang begitu tangguh, ketika penindasan sudah menghinakan martabatnya  sebagai puncak harga diri perempuan. Dan  kitapun mengutuk perlakuan tentara Israil, yang mencederai para tawanan perempuan Palestina di Tanah Suci al-Quds.  Tempat kelahiran perempuan mulia, yang melahirkan manusia mulia, Nabi Isa AS.

Sudah tentu, selalu harus ada harapan untuk Palestina. Dan #WeAreAllMaryam, adalah secerca harapan. Karena saya percaya, perempuan Pelestina tidak sendirian berjuang. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka