Refleksi : SETULUS EMPATI UNTUK PEREMPUAN PALESTINA
Hingga zaman milenial ini, masalah peran perempuan,
khususnya kepemimpinan
perempuan, masih saja jadi topik yang paling menarik didiskusikan. Walaupun persoalan gender, boleh jadi bukan lagi berita
hangat. Karena semakin hari, semakin banyak perempuan yang tampil
menjadi pemimpin, dan berhasil. Menjadi Perdana Menteri sekelas Benasir Buto,
Indira Gandhi, Margaret Thatcher, Simavo Bandaranaike. Menjadi Presiden sehebat Corazon Aquiono,
Mary Robinson, Violeta Chamoro, Isabel Martinez de Peron. Lalu di Tanah Air ada Megawati Soekarno Putri, Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, Retno Lestari,
Yohana Susana Yembesi, Puan Maharani, Khofifah Indar Parawansa, Tri
Rismaharini, dan sederet nama lainnya pada tempat yang berbeda.
Mereka adalah perempuan yang hebat, dan berprestasi.
Perempuan yang mampu menembus batas-batas kelasiman, dan merebut mahkota
kepantasan. Perempuan yang luar biasa, dan menginspirasi. Perempuan yang
berjaya di puncak pemerintahan, dan bertahta di singgasana kepemimpinan.
Tapi, mereka itu semua, adanya dibelahan bumi, yang negaranya
merdeka. Pada bangsa yang “memerdekakan” perempuan. Yang membagi “jata” perempuan sama dengan
laki-laki. Karena sudah lama tersadar, bahwa betapa peran perempuan, begitu
besarnya membangun kejayaan suatu negeri. Walaupun demikian, duniapun tetap
memuji ketangguhan Ahed Tamimi, Marah Baker, Nourwan Awad, Lama Bakri, Syeruk
Duyat, Amal Thogotogoh, dan sejumlah nama perempuan Palestina lainnya, yang
begitu tegar manantang penindasan dan penjajahan, demi kemerdekaan bangsanya.
Teori-teori kepemimpinan, yang mengunggulkan perempuan,
terasa hampa di Palestina. Derita panjang akibat ronrongan Israil, telah
mengubur keseluruhan daya imajinasi perempuan Palestina, untuk bisa bermimpi.
Jangankan menjadi pemimpin senasib Corason Aquino, menjadi pribadi yang merdeka
saja, sudah begitu mengenaskan.
Sedangkan waktu yang berputar, tidak juga memberikan solusi.
Bahkan kita hampir kehabisan kata-kata untuk Palestina. Seperti seorang
perempuan Palestina, tak mampu lagi menangisi mayat anak lelakinya, yang
terkapar akibat hujanan peluru tentara Israil. Begitu kejamnya penjajahan. Ketika
air mata mengering, karena tak tahu lagi menangis.
Mungkin karena itulah pernah dikampanyekan #WeAreAllMary atau
#WeAreAllMaryam, yang terasa menyayat hati, disaat kita harus memuji
solidaritas perempuan Islam sedunia, untuk kemerdekaan Palestina. Karena
berempati, tidak lagi hanya turut bersimpatik dan menangisi derita yang
diselumti duka tak bertepi, yang dialami perempuan Palestina, tapi harus menjadi
gerakan moral untuk membela martabat kaum perempuan secara universal, yang
terhinakan di Palestina.
Terus terang, sewaktu membaca tema tagar yang diterjemahkan “Kami
Semua Maryam”, menyiksa pikiran saya, mencari kata-kata yang lebih pantas,
untuk menyatakan rasa empati saya yang
sangat mendalam terhadap perjuangan rakyat Palestina. Apalagi untuk
menggambarkan keterharuan saya, menyikapi “perlawanan” perempuan sedunia,
sebagai bentuk dukungan terhadap kaumnya yang tertindas di Tanah Suci
Baitulmakdis.
Sehingga, kampanye “Kita Semua (Siti) Maryam”, telah
menyadarkan kita, bila kelembutan dapat menjadi kekuatan perjuangan yang begitu
tangguh, ketika penindasan sudah menghinakan martabatnya sebagai puncak harga diri perempuan. Dan kitapun mengutuk perlakuan tentara Israil,
yang mencederai para tawanan perempuan Palestina di Tanah Suci al-Quds. Tempat kelahiran perempuan mulia, yang
melahirkan manusia mulia, Nabi Isa AS.
Sudah tentu, selalu harus ada harapan untuk Palestina. Dan
#WeAreAllMaryam, adalah secerca harapan. Karena saya percaya, perempuan
Pelestina tidak sendirian berjuang. (*)

Komentar
Posting Komentar