Resensi Buku :




MEWARISI JIWA PATRIOTISME TOALALA

Oleh  Andi Damis *)

 IDENTITAS BUKU

Judul Buku          : Jejak Pemerintahan Toala dan Silsilah Arung Enrekang

Penulis                : Muhammad Rais Rahmat Rasak, dkk.

Penerbit               : Penerbit Qiara Media – Pasuruan Jawa Timur

Cetakan               : I

Tahun Terbit        : 2021

Jumlah Halaman  :  xii + 187 

Menulis sejarah artinya menuturkan peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau. Peristiwa itu tentunya menjadi akibat dari perbuatan manusia pada suatu waktu dan pada suatu tempat.  Selanjutnya sejarah juga dimaksudkan sebagai cerita tentang kejadian yang pernah dilakukan manusia disuatu masa yang telah berlalu dan berbias pada masa sekarang serta berdaya pantul untuk masa akan datang.

            Antara waktu lalu dan waktu sekarang serta waktu yang akan datang, merupakan suatu rangkaian kejadian yang tak dapat dipisahkan. Sehingga sejarahpun menjadi peristiwa yang terjadi disuatu waktu dan diperhubungkan dengan waktu-waktu sesudahnya, sebagaimana pertalian hubungan generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu,  Mattulada  menyebutkan, bahwa penyusunan suatu rencana pada masa kini untuk dapat dilaksanakan pada hari esok tidak mempunyai arti apabila mengabaikan ramuan-ramuan pengalaman masa yang kemarin.

            Memahami masa lalu serta dapat menghayati masa kini, berarti kita memiliki salah satu landasan untuk merencanakan masa datang yang mempertemukan masa lalu dan masa kini yang menjangkau harapan-harapan masa depan. Begitu besar arti sejarah bagi kehidupan manusia, meliputi banyak hal, sehingga orang yang bijak senantiasa menjadikan sejarah sebagai pelajaran guna menata masa depannya, terutama dalam menentukan arah dan tujuan kehidupan yang akan dicapai.

Beranjak dari pemikiran tersebut, tentunya menjadi alasan ditulisnya buku sejarah bernuansa kehidupan leluhur orang  Mansenrempulu ini. Setidak-tidaknya penulis ingin menegaskan suatu maksud bahwa eksistensitas kesejarahan pernah terukir dengan tinta emas di Enrekang, yang dilakoni secara heroik dan penomenal oleh Toalala sebagai bangsawan tinggi dan selaku Arung Enrekang VIII. Sehingga karena kejayaan itulah, oleh La Saliyu Karempelua sebagai Raja Bone III bahkan memberikan julukan Kerajaan Enrekang sebagai “Massenrempulu; Tana Rigalla Tana Riabusungi, yang artinya “negri suci yang dihormati”.

Sebagai buku sejarah, kehadirannya tentu sangat memberi efek manfaat bagi segenap pemerhati sejarah daerah, terutama menambah referensi yang memang terasa masih minim ditengah dinamika cerita masa lalu  yang kadang sangat subjektif dan bervariasi. Selanjutnya keberadaannya  sudah pasti menjadi warisan yang tak ternilai bagi generasi saat ini dalam rangka mendapatkan  informasi yang lebih objektif tentang cerita leluhur orang Enrekang. Khususnya bagi keturunan Toalala, yang bertebar di pelosok negri atau di berbagai tempat dengan aktifitas pekerjaan yang berbeda-beda, nampaknya semangat patriotisme Toalala seyogyanya diwarisi dalam rangka turut serta dalam pembangunan bangsa dan negara tercinta.  

  Dan dari objektifitas dan sajian penuturan cerita yang terdukung data-data yang masih baku, menjadi kelebihan penulisan buku sejarah ini. Walaupun penyusunannya terkesan amat ilmiah, sehingga sedikit mengurangi selera publik yang umumnya menyenangi bacaaan yang ringan, enak, santai, dan bermutu. Termasuk pentingnya kedepan menelusuri dan menyebutkan sosok yang pertama kali memasukkan Agama Islam di Kerajaan Enekang, karena belum terungkap didalamnya.

 Sedangkan untuk pencetakan edisi kedua, disarankan agar dapat menampilkan wajah lay out buku yang lebih memperhatikan tataletak sub judul atau bagian-bagian. Termasuk pentingnya merapikan letak dan pengetikan  daftar pustaka dan lampiran serta spasi tulisan sebaiknya cukup berjarak 1,5, sehingga lembar-lembar buku  terkesan padat atau penuh, sehingga nampak tidak rapi.

Tapi seperti yang diungkap dengan elok Puang Palisuri; “lebih baik berbuat salah dari pada tidak berbuat, kalau ada salah ada yang bisa diperbaiki”, maka kehadiran buku inipun  sudah tentu mengharap saran dan koreksi guna menampilkan lebih utuh kedepannya.(*)

*)Andi Damis, adalah alumni STISIP Muhammadiyah Rappang dan pemerhati budaya leluhurDescription: C:\Users\USER\Documents\sampul buku AP.jpg

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka