Historia : PERJUANGAN ANDI CAMMI MEMBELA PROKLAMASI
Oleh : Andi Damis
Kedatangan sekutu ke Indonesia memang semula mendapatkan sambutan baik
dari rakyat Indonesia, sebagaimana sambutan mereka saat mula kedatangan Tentara
Jepang. Namun begitu diketahui sekutu membonceng tentara Belanda berkedok Nica,
rakyat mulai curiga bahkan akhirnya bermusuhan setelah tentara Nica justru
mempersenjatai kembali bekas anggota KNIL (Koninklijk Nederlands Indies Leger)
yang telah dibebaskan tentara Jepang, untuk menegakkan kembali kekuasaannya.
Episode kekalahan Jepang dari
sekutu dengan munculnya Tentara NICA yang semakin menambah luka derita rakyat
di wilayah Sidenreng Rappang inilah menjadi titik-balik perjuangan Andi Cammi.
Memantapkan jiwa dan menetapkan sikap untuk secara prontal mengangkat senjata
melawan penjajah. Hanya dengan satu tekad yang terbungkus niat suci,
membebaskan rakyat dari segala bentuk penindasan dan perlakuan tidak manusiawi.
Langkah-langkah perlawananpun
diorganisir dengan menghimpun segenap kekuatan yang sudah tergalang. Doktrin perlawanan
demi mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia dikumandangkan ke seantero “Bumi Nene’
Mallomo”. Teriakan “merdeka atau mati” membahana menggetarkan jiwa. Hingga hanya ada satu pilihan, mati berkalang tanah
atau hidup hina terjajah. Lalu genderang perangpun ditabuh bertalu-talu.
Setelah terhimpun beberapa
pemuda, yang berhasil digalang Andi Cammi dan Andi Nohong, maka mereka langsung
melakukan aksi perlawanan dengan cara menghadang atau melempar batu kalau ada mobil
tentara Nica yang lewat pada tempat yang sudah ditentukan sebelumnya, walaupun
hanya bersenjatakan parang, badik dan batu. Tapi aksi perlawanan mereka yang
begitu heroik, cukup merepotkan tentara Nica.
. Andi Nohong
Alhasil aksi perlawanan kelompok
Andi Cammi ini ternyata mendapat perhatian dan simpati bagi kelompok pemuda
lainnya, terutama kelompok pemuda di Kota Rappang yang bergabung dalam
gerakan pemuda merah-putih yang dipelopori Ressang Daeng Pawellang, diantaranya
Ismail Badu, Oesman Balo dan Sofyan Kute. Kelompok pemuda Rappang ini lalu
menghubungi Andi Cammi dan Andi Nohong dan mengajaknya bersatu untuk membentuk
organisasi perjuangan pemuda yang meliputi wilayah Sidenreng Rappang.
Berdasarkan usulan persatuan tersebut, maka pada awal bulan September 1945
berhimpunlah beberapa kelompok pemuda dan bersepakat membentuk kesatuan resmi
yang bernama Pemuda Nasional Indonesia, sebagai tindak lanjut pembentukan
organisasi perjuangan pemuda yang digagas Gubernur Sulawesi Dr. Sam Ratulangi,
yang kemudian berubah menjadi Pandu Nasional Indonesia (PNI) dengan menyepakati
Andi Cammi sebagai pimpinan. Adapun kegiatan pokok dari kesatuan pemuda ini
adalah memberikan latihan-latihan berperang, terutama cara menggunakan senjata
api, dengan memanfaatkan pemuda bekas heiho sebagai pelatih.
Adapun aksi perlawan terbuka pertama yang
dilakoni setelah terbentuknya PNI tersebut adalah tindakan yang amat berani
Oesman Balo bersama Sofyan Kute dan Arsyad B. menaikkan Bendera Merah Putih di
Lapangan Murni Rappang (lokasi Monumen Bambu Runcing, sekarang) atau tepatnya di
jantung Kota Rappang.
H.Oesman Balo lalu menceritakan, “bahwa hari
itu tanggal 9 September 1945, saya meminta
kain milik Petta Nillang (Isteri
Arung Lalebata Andi Panynyiwi atau cucu Addatuang Sidenreng
Lasadapotto) berupa selembar kain berwarnah merah dan selembar
berwarnah putih, lalu saya jahit sendiri seadanya sehingga berbentuk bendera
merah-putih. Kemudian saya kibarkan di Lapangan Murni, yang
mana pada bagian bawah tiang bendera saya tulis besar-besar “Siapa
yang menurunkan bendera ini, jiwanya
terancam”. Setelah itu saya kembali ke rumah Petta Nillang dengan penuh
semangat memberitakan, “Sudah saya naikkan bendera merah-putih puang, tandanya kita sudah
merdeka”. Betapa khawatirnya Petta Nillang mendengar ucapan saya, dengan berucap singkat, “berani sekali kau Oesman, bagaimana kalau Belanda
tahu”. Saya hanya menjawab seadanya saja, “tidak apa-apa puang”.
. Monumen Bambu Runcing di Rappang
Akan tetapi pada pembentukan kesatuan pemuda tersebut bertepatan dengan
kedatangan pasukan sekutu yang membonceng tentara Belanda (Nica) di wilayah
Sidenreng Rappang dan berkedudukan di Ibukota Rappang dengan alasan guna
melakukan pengawasan terhadap tentara Jepang, walaupun pada kenyataannya
kembali melakukan penjajahan, termasuk mengintimidasi pergerakan pemuda yang
baru terbentuk
dibawah pimpinan Andi Cammi.
Oleh karena mendapat pengawasan
intimidatif, maka Andi Cammi memindahkan markas pergerakan di luar Kota Rappang
yaitu Kampung Cenrana atau di tempat Andi Nohong menetap bersama isterinya
bernama P.Hawa, berjarak sekitar 2 km sebelah selatan barat daya Kota Rappang.
Di kampung Cenrana inilah dilanjutkan latihan-latihan serta untuk sementara
menjadi pusat konsolidasi dan komando perjuangan.
Setelah beberapa waktu melakukan
konsolidasi di Cenrana, maka dalam bulan
Oktober 1945 Andi Cammi mengajak beberapa pemuda untuk berangkat ke Parepare
menemui Andi Abdullah Bau Massepe (Datu Suppa) guna
berkoordinasi sekaligus mendapatkan lebih banyak informasi mengenai strategi
perjuangan PNI (Pandu Nasional Indonesia). Terutama untuk mendapatkan
penjelasan sehubungan adanya berita bahwa tentara Belanda/Nica akan kembali
berkuasa di daerah, termasuk di Rappang menggantikan sekutu/Australia.
Dalam perjalanan menuju Parepare, di Kampung Pucu’e, tanpa diduga
tiba-tiba rombongan Andi Cammi dicegat oleh tentara Belanda yang sedang
berpatroli. Karena Andi Cammi dan teman-temannya pada saat itu
menempeli dada masing-masing dengan lambang merah-putih, tak ayal lagi mereka
lalu ditangkap dan diangkut dengan mobil kembali ke Rappang, untuk diserahkan
kepada tentara Australia untuk ditahan.
Berita penangkapan dan penahanan
Andi Cammi dan kawan-kawan ini menggemparkan Kota Rappang dan sekitarnya, para
pemuda tak bisa terima. Mereka lalu menghubungi
Komandan Pasukan Sekutu/Australia dan mendesak supaya Andi Cammi dan
kawan-kawan dibebaskan. Akhirnya karena
desakan para pemuda, sehingga beberapa hari kemudian Andi Cammi dan kawan-kawan
dapat dibebaskan.
Sejak setelah
penahanan itu, Andi Cammi tak lagi tenteram bergerak dalam Kota Rappang. Andi
Cammi kemudian memutuskan untuk bergerak di luar kota atau di kampung-kampung
di luar Kota Rappang, bahkan dengan menghubungi beberapa tokoh seperjuangan
yang mempunyai pengaruh kuat di daerah tetangga, diantaranya Pettana I Rajeng,
Ambo Daming, Ambo Siraje dan lainnya di daerah Sawitto. Menugaskan La Toro
dengan beberapa temannya ke daerah Enrekang untuk mengadakan geraka-gerakan
serta menghubungi orang-orang berpengaruh disana. Menugaskan M.Yunus Masnawy
untuk mengkoordinir
bekas Heiho di daerah Sidenreng Rappang, Enrekang, Makale, dan Rantepao yang
masih melanjutkan perjuangannya, serta menghubungi orang yang berpengaruh di daerah tersebut, seperti
Wa’Cando di Koutu Enrekang salah seorang tokoh pergerakan politik yang memimpin
pengadangan mobil Nica di Koutu.
Setelah melakukan konsolidasi
bawah tanah di luar Kota Rappang serta menggalang kekuatan dengan dukungan dari
beberapa pemuda pejuang di daerah tetangga, maka pada bulan Nopember 1945 Andi
Cammi memutuskan untuk melakukan serangan terbuka terhadap tentara Nica yang
terkonsentrasi dalam Kota Rappang. Untuk maksud itu, dipersiapkanlah beribu
pasukan dari gabungan rakyat dan pemuda pejuang yang sudah dilatih, hanya
dengan bersenjatakan bambu runcing dan beberapa pucuk senjata. Adapun sasaran
penyerbuan di fokuskan pada Tangsi KNIL (Lokasi
SMK 2 Sidrap
sekarang) dan Pos Polisi di Kota Rappang. Namun penyerbuan yang dilakukan tiga malam
berturut-turut ini, belum dapat melumpuhkan pertahanan tentara sekutu. Hanya
menimbulkan bentrokan, karena pihak pasukan sekutu/Australia memang tengah
berjaga-jaga oleh karena adanya laporan mata-mata dari orang pribumi yang
diperalat penjajah.
Akibat serangan yang dipimpin Andi Cammi itu, maka
segera tentara Belanda dan Polisi mengambil tindakan mengumpulkan semua bekas
heiho yang masih tinggal dalam kota dan membekukan kegiatan Pandu Nasional
Indonesia serta melarang penggunaan atribut Merah-Putih. Pasukan sekutu/tentara
Nica juga memerintahkan untuk mewaspadai dan memata-matai keberadaan serta
pergerakan Andi Cammi.
Mendapat tekanan dan menyadari
bila keberadaannya diintai pasukan musuh, membuat Andi Cammi harus merubah
strategi perlawanan dengan cara bergerilya, termasuk penggunaan nama samaran Hamidong. Walaupun demikian upaya
penggalangan semakin diperlebar ke daerah tetangga lainnya, guna menyatukan
kekuatan dalam rangka mengusir para penjajah dari bumi pertiwi.
Selanjutnya hanya
beberapa waktu melakukan konsolidasi dan koordinasi di Sidenreng Rappang, Andi
Cammi kembali lagi ke Suppa guna menemui pasukan ekspedisi TRIPS (Tentara Republik Indonesia Persiapan
Sulawesi) yang mendarat di Suppa dibawah pimpinan M.Tahir Dg. Tompo dan Hasan
Bin Tahir. Hasil
pertemuan tersebut cukup melegakan hati Andi Cammi karena selain menerima
informasi yang akurat mengenai keberadaan Pemerintahan Republik Indonesia di
Jakarta, juga mendapatkan dorongan semangat yang diberikan oleh pasukan TRIPS,
serta yang tak kalah pentingnya adalah Andi Cammi memperoleh bantuan dua orang
anggota pasukan TRIPS yang sudah terlatih untuk memperkuat Kelaskaran
Ganggawa yaitu Mamahit dan Piet.
Oleh karena itu untuk lebih
memantapkan keberadaan Kelaskaran Ganggawa, sebagai organisasi pejuang yang profesional,
maka diadakanlah pertemuan pada tanggal 15 Juni 1946 dengan mengumpulkan
segenap anggota pasukan. Hasil pertemuan menyepakati menyempurnakan nama
organisasi kelaskaran mereka menjadi Barisan Pemberontak Ganggawa, disingkat
BP. Ganggawa yang dipimpin oleh Andi Cammi.
Setelah memantapkan semua lini keorganisasian BP. Ganggawa hingga ke kampung-kampung meliputi segenap daerah ajattappareng dan daerah tetangga lainnya, seperti Wajo, Soppeng, Bone, Pangkep, Mandar, Tator, serta berkoordinasi dengan pimpinan-pimpinan pergerakan se Sulawesi Selatan, maka atas inisiatif anggota kelompok dalam pertemuan rahasia di Bola Tengngae yang dilaksanakan pada tanggal 7 Juli 1946, disepakatilah untuk melakukan serangan penyerbuan secara besar-besaran terhadap markas tentara Nica yang berpusat di Kota Rappang (sekolah SMK 2 Sidrap di Rappang, sekarang).
Untuk maksud penyerbuan massal
tersebut, Andi Cammi lalu menyusun
strategi penyerbuan dengan formasi serangan dibagi dari empat penjuru,
masing-masing; dari Utara (Kelompok Pasukan Ambo Nganro, Pore’e, Punna
Wettoeng, dan kelompok pemuda pejuang dari Enrekang dan Tator), dari Timur
(Kelompok Pasukan Andi Parakkasi, dibantu kelompok pemuda pejuang dari Bulo,
Dua Pitu’e, Wajo, Soppeng dan Bone), dari Selatan (Kelompok Pasukan Andi Nohong, Andi Cengke,
dan kelompok pemuda pejuang yang dipimpin oleh Andi Sulolipu dan Abdul Kadir
Daud, serta kelompok pemuda pejuang dari Barru dan Pangkep), dari Barat
(Kelompok Saiyed Lakeng, Ambo Daming,
Ambo Siradje dan kelompok pemuda pejuang dari Sawitto dan Mandar).
Menurut
cerita H.Oesman Balo, ada ribuan orang yang
diorganisir untuk rencana penyerangan ini. Suatu rencana yang sangat nekad
dengan semangat yang luar biasa. Kami berikrar dengan tinta darah, “siap
bertempur sampai tetesan darah terakhir”. Tidak ada lagi rasa takut. Karena
yang ada dipikiran kami hanya kemerdekaan dan mengusir penjajah. Itu saja.
. Oesman Balo
Adapun kelompok yang dipimpin
langsung Andi Cammi dengan mengikutkan diantaranya Oesman Balo, bergerak secara
mobile berkeliling menghubungi semua kelompok pasukan untuk memberikan arahan
dan mengatur siasat penyerangan, serta menyampaikan waktu dan aba-aba
penyerbuan. Sedangkan senjata andalan hanya bambu runcing, parang panjang,
keris dan badik.
Ketika semuanya dianggap siap, maka penyeranganpun dilakukan tiga malam berturut-turut. Malam pertama dilakukan pada tanggal 10 Juli 1946 dari jam 00.00 dinihari hingga jam 04.00 subuh. Malam kedua dilakukan dari jam 04.00 subuh hingga jam 06.00 pagi hari. Malam ketiga dilakukan dari jam 04.00 subuh hingga jam 07.00 pagi hari. Teriakan serang dan maju begitu membahana memecahkan gelapnya malam. Teriakan bergemuruh dan terdengar mengerikan bercampur bunyi ledakan dari berbagai penjuruh. Pekikan Allahu Akbar menggelegar menghadang maut dengan semangat yang menyala-nyala. Markas Nica terkepung dan tentara Belanda kalang-kabut, kehilangan nyali, lalu merekapun bertahan dalam kepanikan dengan melepaskan tembakan secara membabibuta.
Foto ilustrasi, Penyerbuan markas musuh
Penyerbuan Bambu Runcing secara massal ini, sungguh tindakan perjuangan yang sangat nekad, namun merupakan simbol persatuan sejati dan menjadi perlawanan yang tercatat secara menumental dengan tinta emas hingga saat ini. Karena sudah pasti membutuhkan keberanian yang amat luar biasa, ketika bambu runcing harus menghadapi senjata modern. Tapi semangat untuk tetap merdeka begitu ampuh memporak-porandakan kebiadaban. Lalu sejarahpun menyaksikan kegagahberanian Barisan Pemberontak Ganggawa dibawah pimpinan Andi Cammi. (Andi Damis, dari berbagai sumber utamanya wawancara dengan ; H.Oesman Balo, H.Andy Sapada, H. Arifin Nu’mang, H.Paddong Dg. Bangung, H. Mas’ud Ahmad, Hj.Andi Daleng, Hj. Andi Banca, Andi Camba, dan lainnya yang diwawancarai dalam tahun 1985 – 1990)
Cerita selengkapanya silahkan baca buku sejarah perjuangan di Sidrap (lemited edision)
Monumen Andi Cammi di Carawali

Terima kasih untuk semua yang telah hadir dipostingan ini. Semoga bermanfaat pada banyak orang, terkhusus sidang pembaca yang selama ini penasaran dengan sejarah perjuangan kelasyakaran Ganggawa yang dipimpin oleh Andi Cammi bersama Andi Nohong.
BalasHapusmantap, tinggal tunggu bukunya. sukseski
BalasHapusInsya Allah Pak Rais. Terima kasih banyak telah hadir dipostingan ini. Sehatki selalu bersama keluarga. Salam santun Lgoteras.
HapusSejarah perjuangan Andi Cammi dan kawan kawan sepejuangannya tidak bisa dianggap remeh karena dilakukan dengan niat tulus, ikhlas dan berani untuk membebaskan masyarakat /rakyat di daerah Sidenreng Rappang khususnya selawasi pada umumnya dengan semangat pantang mundur untuk kemerdekaan Indonesia.
BalasHapusHistoria Perjuangan Andi Cammi dan kawan kawan wajib di sebar luaskan kepada generasi sesudahnya hingga generasi saat ini ke masyarakat Sulawasi Selatan khususnya daerah kabupaten Sidenreng Rappang dan sekitar nya (ajatappareng,
Sawtto, wajo, Enrekang dan Soppeng karena mereka tahu melalui Historia ini akan lebih tahu wawasan kebangsaan yang lebih luas khususnya bahwa Indonesia lahir dan merdeka melalui perjuangan berdarah darah dan bahkan jadi korban olehnya itu Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai jasa para pahlawan nya.
Untuk memasyarakatkan ke generasi saat ini, saran saya perlu melibatkan Pemda Kabupaten Sidenreng Rappang untuk memberikan dukungan moril dan politik (political Support) untuk memperbanyak jumlah cetakan buku Historia dan penyebarannya ke masyarakat Sidenreng Rappang pada khususnya daerah sekitarya pada um
Disamping itu perawatan monumen Ganggawa yang ada di desa Carawali hendaknya di lakukan oleh Pemda dan setiap peringatan hari pahlawan dan hari Kemerdekaan Indonesia ada upacara bendera/siarah di lakukan oleh minimal Pemda Kecamatan setempat bersama nasyarakat, guru2 serta murid SD dan lainnya.
Terima kasih banyak telah memberi dukungan atas rencana dan upaya penerbitan buku sejarah perjuangan membela proklamasi kemerdekaan RI di daerah wilayah ajattappareng yang dipimpin Andi Cammi ini. Dan sudah tentu dukungan ini menjadi penyemangat bagi kami yang tengah merampungkan buku ini secara objektif, proporsional, sehingga dapat menjadi rujukan atau referensi sejarah bagi semua kalangan kedepannya. Tabe dan mohon maaf bila terlambat saya membalas komentarta.
HapusAda bukunya di rumah Bos yg di jilid oleh bapak ku H.MAS'UD.AHMAD
BalasHapus