Refleksi : PESAN TERSIRAT SANG BIJAK



   

Aja’na muterri. Lebbi mareppeka narekko degagani iye. Engkamokka ekko atimmu. Toli ingngerrang mokka. Puranotu upodang maneng. Purano webbureng onroang, okkonoro sipulung maneng. Aja muassara-sarang. Ebbuko monumen songko cella’e sitengnga ale taroi okko masigi’e naitai ana appomu.

     Arti bahasa indonesianya ; Janganlah menangis. Saya bahkan lebih dekat kalau saya sudah tidak ada. Saya selalu ada di hatimu. Senantiasa ingatlah padaku. Sudah kusampaikan semuanya. Saya juga sudah membuatkanmu tempat berkumpul (perkampungan), untuk kamu menyatukan diri disana. Janganlah pernah bercerai-berai. Buatkanlah monumen Sang Kopiah Merah, agar dapat dilihat anak cucu kalian.

    Maksudnya, kepergian Sang BIjak tidak perlu ditangisi, karena itu hanya membuat derita hati. Karena pada hakekatnya ketiadaan di mata menjadi keabadian di hati. Dan ajaran-ajaran Sang Bijak akan senantiasa terpatri di jiwa, yang menuntun jalan menemui kebenaran. 

   Oleh sebab itu simpanlah namanya dalam hati dan sebutlah disetiap doa yang dipanjatkan. Sebagaimana beliau telah menyampaikan semuanya tentang hakekat kehidupan.

      Kemudian Sang Bijak berikhtiar  membuat  perkampungan, untuk ditempati  bersama-sama, sebagai Bumi Al-Kalam. Karena berharap tidak terjadi perpecahan atau  tercerai-beraikan dalam komunitas yang dibangunnya.

Sehingga untuk pengerat persaudaran dan penghormatan kepadanya secara turun-temurun, penting dibuatkan monumen yang mengilustrasikan sosok Sang Bijak yang mengidentikkan dirinya dengan  songkok  berwarnah merah, dengan proyeksi setengah badan, yang ditempatkan di Masjid Bundar Al-Kalam. (Abstraksi Andi Damis, bersumber dari kiriman Rusdi Mannan)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka