Refleksi : TENTANG PAMER GAYA HIDUP
Oleh; Dr Ir. Kasman Jaya Saad, M.Si.
Tentang pamer gaya hidup di lini masa (medsos), Nikki Goldstein (2020), menyebut bahwa orang yang berlebihan berbagi momen gaya hidupnya, tengah mengompensasi rasa tak aman dalam hubungan mereka, sehingga mereka mencari pengakuan dari teman-teman maupun pengikut di media sosial dengan membagikan momen yang terlihat bahagia.
Lebih lanjut Seorang ahli Diversity Content, A. Rochaun Meadows-Fernandez mengungkapkan bahwa mereka yang sering mengunggah aktivitasnya secara berlebihan digambarkan sebagai individu yang mencoba menebus kesalahan atau ketidaksempurnaan mereka lewat media sosial. Sebab, apa yang mereka tunjukkan merupakan cara membangun realitas yang diinginkan, namun bukan yang mereka rasakan. Benarkah, entahlah.
Sebaiknya mari kita berbenah, lebih fokus pada diri sendiri. Berhentilah mengintip kenikmatan atau kebahagiaan orang lain, jika itu membuatmu menjadi kufur nikmat. Mari mensyukuri nikmat-Nya dan memaknai petunjuk-Nya dengan baik, dengan cara memainkan kisah dan peran kehidupan kita tersebut dengan baik dan ikhlas, tanpa harus mengeluh dan membanding-bandingkan, apalagi iri dan dengki dengan segala aktivitas yang orang lain unggah di lini masanya.
Karena apa yang terlihat di media sosial tidak selalu seperti apa mereka rasakan, kita tidak tahu ujian seperti apa yang mereka sedang hadapi dalam hidupnya. Adakah hatinya sedang diuji, sehingga tidak juga merasa lapang atas harta yang Tuhan titipkan atau mereka sedang bergelut dengan ujian yang lain yang terus menimpa, tak berkesudahan, sehingga hatinya merasa tidak tenteram. Yakinlah, bahwa masing-masing kita berjuang dengan ujian masing-masing, sebab hidup dan ujian adalah keniscayaan yang tidak pernah saling meninggalkan.
Ingatlah. hanya dengan mengingat tuhan, Allah Swt, hati menjadi tenteram (QS.Ar Ra’d, 28)
(Penulis adalah dosen Universitas Alkhairat Palu - Sulawesi tengah)
Komentar
Posting Komentar