Fragmen : AIR SUSU DIBALAS AIR TUBA



        Untuk menikmati sisa hidupnya yang kini sendiri setelah ditinggal suaminya, seorang ibu memutuskan untuk tinggal di sebuah apartemen di tengah kota.
        Kepada ketiga anaknya yang telah hidup berkeluarga dan punya rumah masing-masing, dia menyampaikan bila keputusannya itu dilakukannya agar dapat mengusir sepi sendiri di rumah dan hanya di temani seorang pembantu.
        Sedangkan di apartemen dia bisa mengisi waktu dengan banyak kegiatan seperti berkunjung ke supermarket, ke restoran,  berjemur di kolam renang, piknik bersama, dan menikmati berbagai fasilitas hiburan apartemen.
        Kemudian tinggallah si ibu itu di apartemen, menjalani hari-harinya dengan kesibukan yang dipilihnya sesuai kehendak hatinya secara suka rela, tanpa satu orangpun mengusik kebebasannya.
Sehingga tibalah suatu waktu untuk merayakan hari ulang tahunnya yang ke-65 tahun. Si ibu itupun telah menyisihkan gaji bulanan yang ditinggalkan suaminya guna menyiapkan dana sebanyak Rp. 10 juta untuk merayakan hari lahirnya secara sederhana dengan mengundang para teman-teman semasa sekolah di SMA sambil reunian.
        Dan seminggu sebelum hari tanggal kelahirannya, pergilah ibu tersebut ke ATM guna menarik dana sepuluh juta rupiah untuk maksud berbelanja ke supermarket membeli kebutuhan perayaan ulang tahunnya.
        Tapi malangnya di tengah perjalanan menuju ke supermaket, tas yang dipegang ibu itu dan telah berisi uang tunai Rp.10 juta tiba-tiba dirampas oleh tukang copet dan dibawah kabur.
        Si ibu tadi berteriak sejadi-jadinya, tapi kerumunan orang tak mampu menolongnya mengembalikan uang yang telah hilang ditangannya.
        Maka dengan perasaan sedih diapun kembali ke apartemennya, dan kebingungan sendiri tanpa ada teman tempat mencurahkan kegalauannya.
        Lalu di tengah kesunyian malam, disaat matanya tak bisa tertidur, ibu itu mengadukan kerisaun hatinya kepada Tuhan. Dan setelah  menarik selembar kertas diapun menulis surat kepada Tuhan, agar dapat menggantikan  uangnya yang telah hilang dijambret orang. Karena dia amat percaya hanya Tuhan yang bisa membantunya.
        Ketika pagi sudah menampak, si ibu itupun turun dari apartemennya dan pergi memasukkan surat kepada Tuhan itu kedalam kotak surat dengan perasaan penuh harap atas kasih sayang Tuhan padanya. Dan walaupun tidak ditulisnya alamat Tuhan, dia tetap yakin akan sampai kepada Tuhan.
--------------
        Tak lama kemudian, datanglah  si tukang pos untuk mengambil isi kotak surat tersebut. Selanjutnya setelah sampai di kantor, diperiksanya setiap surat untuk menyeleksi tujuan pengiriman ke alamat yang dituju masing-masing.
        Tapi betapa terkejutnya si tukang pos ketika dibacanya satu surat yang ditujukan kepada Tuhan, tanpa tertulis alamat yang dituju. Karena penasaran, si tukang pos membuka surat itu dan membaca isinya, yang ternyata surat seorang ibu yang tinggal di apartemen, yang bermohon kepada Tuhan kiranya mengembalikan uangnya yang dijambret orang, karena dia mau merayakan hari ulang tahunnya yang ke-65 bersama teman-teman SMAnya.
        Lama sekali tukang pos mengamati surat itu, yang menurutnya terasa aneh, karena baru kali ini ada seseorang yang menulis surat kepada Tuhan. 
        Namun entah mengapa, si tukang pos tiba-tiba merasa terharu campur kasian pada si  ibu yang malang itu dan bermaksud menolong.
        Alhasil si tukang pos itupun berfikir masih ada waktu tersisa 4 hari untuk membantu ibu itu. Lalu diapun membuat les permintaan sumbangan yang disampaikan kepada setiap rumah yang diantarkan suratnya, sambil membujuk orang yang ditemuinya agar berkenan membantu memenuhi kebutuhan dana ibu yang tinggal sendiri di apartemen tersebut.
        Si tukang pos itupun berkeliling kota mencari dana dari pintu ke pintu. Dan itu dilakukannya dengan ikhlas demi menolong seorang janda yang sebenarnya tidak dikenalnya.
        Karena terdesak waktu, maka pada sisa waktu 1 hari lagi hari ulang tahun ibu itu, dimana uang yang sudah dikumpulkannya baru Rp.9.500.000,., akhirnya si tukang pos itupun mencukupkan dengan uang operasionalnya sendiri yang ada di dompetnya. Walaupun ternyata uangnya di dompet tinggal Rp.400.000.- artinya masih kurang  Rp.100.000. lagi. 
        Tapi karena dibatasi waktu,  si tukang pos merasa sudah perlu mengantarkan uang tersebut kepada ibu di apartemen tersebut, apalagi selisihnya tinggal sedikit, hanya seratus ribu rupiah. Maka dengan gembira dan senang hati si tukang pos membungkus uang tersebut dan menuliskan dibagian depan bungkusan nama dan alamat lengkap ibu itu, sesuai  nama dan alamat pengirim yang ditulis ibu tersebut pada suratnya. Iapun menulis pengirimnya dari Tuhan. Lalu pergilah si tukang pos mengantarkan bingkisan berisi uang itu dan memasukkannya kedalam kotak surat di depan apartemen ibu tersebut.
--------------
        Adapun si ibu tersebut, setelah mengirim surat kepada Tuhan dan memasukkannya pada kotak surat di depan apartemennya,  maka hampir setiap saat, dia pergi memeriksa kotak surat tersebut dengan harapan sudah ada kiriman uang dari Tuhannya. Hingga kemudian dia merasa sangat kaget serta terharu dan bahagia tatkala sore itu, besok sudah hari ulang tahunnya, didapatinya bingkisan kiriman untuk dirinya. 
        Betapa girangnya hati ibu itu membuka bingkisan yang isinya berupa lembaran uang seratus ribu dan lima puluh ribu.
        Dengan luapan gembira ibu itu mencoba menghitung uangnya lembar demi lembar. Dan setelah tiga kali dihitungnya, ternyata uangnya tidak cukup Rp.10 juta. 
        Betapa sedih dan kesalnya hati ibu itu setelah berulangkali uang itu dihitungnya kembali, ternyata jumlahnya tetap hanya Rp.9.900.000,. Diapun memeluk uang itu dan mengecupnya berkali-kali sambil berkeluh-kesah, 
        "Terima kasih banyak Yaa....Tuhanku, Engkau begitu penyayang telah menolong hambaMu yang lemah ini dengan mengembalikan uangku yang dijambret sebanyak Rp.10.000.000,....Tapi si tukang pos itu pasti telah mengambil Rp.100.000,- sehingga hanya Rp.9.900.000,- saja yang sampai kepada saya".
------------
        Keesokan harinya, acara ulang tahun si ibu itupun terselenggara sesuai rencana, dan dihadiri teman-temannya semasa sekolah di SMA. Mereka nampak sangat menikmati acara yang berhias tawa, canda dan cerita nostalgia yang dipenuhi kisah cinta remaja yang begitu indah. Namun tiba-tiba dari balik jendela, ketika mereka tengah asyik selfian, dari atas apatemennya ibu itu tidak sengaja melihat si tukang pos sedang mengambil kiriman di kotak surat, seperti yang dilakukan kemarin-kemarinnya. Ibu itupun mencibir dengan wajah ketus sambil menyampaikan kepada para tamunya, agar berhati-hati dengan si tukang pos itu (sambil menunjuk ke arah tukang pos yang masih ada dibawah di pinggir jalan depan apatemen), "Kemarin dia mencuri uang saya seratus ribu", ungkapnya.
------------------------
        Begitulah kehidupan di dunia ini..... terkadang kita menzalimi orang yang telah menolong kita.....hanya karena melihat kesederhanaannya, dan sering pula kita memuja orang yang sering memusuhi kita......hanya karena melihat kekayaannya. 
        Terkadang hubungan vertikalnya dengan Tuhannya terlihat bagus.....tapi hubungan horizontalnya kepada sesama manusia dipenuhi kedengkian dan prasangka buruk......
        Wallahu a'lam bishawab.
(by andi damis)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Historis : Lapatau Matanna Tikka

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN