Historia : ANDI SAPADA
Bismillah, Assalamualaikum wr wb, TabE Maraja.
MENGENANG PARA PEJUANG/TOKOH SIDRAP:
Kita Sebagai Orang Sidrap Patut Berbangga Karna Memiliki Tokoh yg amat Berjasa, tersebutlah To Malabiritta H Andi Nurhaeni Sapada (Maestro Tari Tradisional Sulawesi Pertama) Bin Andi Makkasau Datu Suppa Toa, yg jasa² beliau Dapat di lihat pada postingan Sebelumnya; https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=138181982076654&id=100076545597511
Beserta Suami Beliau sekaligus Sepupu satu kalinya yakni To Malabiritta H Andi Sapada Mappangile (Bupati Pertama Sidrap), Yang mana Andi Sapada merupakan sosok teladan dan menginspirasi. Kalau saat ini Presiden Jokowi menggaungkan visi SDM Unggul Indonesia Maju, jauh sebelumnya Andi Sapada telah memikirkan, betapa pentingnya mengembangkan SDM.
Syaharuddin Haddade, salah satu tokoh masyarakat Sidrap mengatakan; "Orangtua kami merasakan kepemimpinan Petta Pada (sapaan Andi Sapada) selama 6 tahun. Beliau sosok yang arif dan bijak. Kebijakan-kebijakannya selalu berpihak kepada rakyat, karena sering turun langsung bercengkrama dengan masyarakatnya".
Andi Sapada (Pada) lahir di Pangkajene Sidenreng pada akhir tahun 1925. Ayahnya bernama La Mappangile (ile) KaraEngta Tinggi MaE, sementara ibunya bernama Andi Marjanu (Jonga) dari Palanro-nepo.¹
H Andi Sapada menyelesaikan sekolah rendah 7 tahun di Parepare dan tamat SMEP Negeri tahun 1960. Beberapa kursus yang diikuti adalah Kursus ASRI (Asrama Republik Indonesia), yaitu kursus pemimpin pedjuang yang diadakan oleh Kementerian Pertahanan RI di Solo selama kurang lebih 4 bulan dan Kursus Polisi Militer di CPM Djogja 1949. Pada Maret 1946 pula beliau ke jawa mengikuti latihan militer, bersama : M.Daeng Malewa, A. Oddang, A. Arsyad B., Andi Sapada Wette, Abdullah, Musa Gani dsb.
Andi Sapada adalah cucu dari La ParEnrEngi KaraEngta Tinggi Mae Arung Malolo Sidenreng (Putera Mahkota Sidenreng) Sekaligus Komando Pasukan-Pasukan melawan belanda (Rumpaqna Sidenreng) (Tahun 1906 beliau La ParEnrEngi di tunjuk oleh dewan Adat Suppa Menaiki Takhta Raja Suppa/ Datu Suppa Toa), tatkala belanda waktu itu ingin memaksakan kehendaknya menjajah Kerajaan Sidenreng dan Rappang pada tanggal 12 juni tahun 1905, Sakin sengitnya Pertempuran hingga sudah memakan waktu berbulan, namun belanda masih belum bisa menembus pertahanan Sidenreng. Selang beberapa lama, Singkatnya dengan tibanya Belanda di Sidenreng, merangsek masuk ke pertahanannya ibu kota kerajaan Sidenreng di Allakuang-Sidrap pada saat itu, Addatuang Sidenreng Arung Rappang pun terpaksa melakukan penyerahan.
Tertawannya Addatuang Sidenreng tidak melemahkan semangat La ParEnrEngi Arung Malolona Sidenreng tersebut semakin gencar melakukan serangan terhadap Belanda, Hingga kemudian pada tanggal 5 Desember 1905, terjadilah pertempuran sengit antara Arung MaloloE dengan pasukan Belanda dibawah pimpinan Kapten Blok di Lancirang. Namun rupanya inilah pertempuran terakhir bagi Panglima tertinggi Sidenreng dan Rappang, ini karena berhasil ditawan pada keesokan harinya, yakni : 6 Desember 1905.
Gubernur C.A. Kroesen memerintahkan penahanan bagi La ParEnrEngi Arung Malolo Sidenreng dan laskarnya. Maka dipilihkanlah suatu area seluas 50 ha dalam wilayah Kerajaan Suppa yang diberi pagar besi sekelilingnya, area penahanan Arung Malolo Sidenreng beserta lasykarnya yang kini menjadi suatu kampung bernama Palla’ BessiE.
Kita kembali lagi pada susur galur Andi Sapada, maka tersebutlah La ParEnrEngi Arung Malolona Sidenreng (Putera Mahkota Sidenreng) menikah dengan sepupu 1 kalinya yakni Muntu bin La Sadapotto Addatuang Sidenreng lalu melahirkan anak yang bernama La Mappangile KaraEngta Tinggi MaE (ile) yang kemudian menikah dengan Andi Marjanu (Jonga) lalu lahirlah Andi Sapada yang kerap di sapa Petta Pada.
Sedikit dari sekian banyaknya sejarah perjuangan beliau ialah antaranya:
Bulan ini Puluhan tahun berlalu tepat April 1950 terjadi Pemberontakan Andi Azis, waktu itu Andi Ijo Karaeng Lalolang menjadi Somba di Gowa. Sebagai dampak dari pemberontakan itu, situasi gawat tiba tiba melanda Makassar. Asrama KLAPPERLAN (mongensidi) di gempur oleh pasukan Andi Azis dan KNILL.
Andi Sapada Mappangile bersama tentaranya berhasil lolos lalu menyingkir ke Pandang Pandang di sini beliau mengumpulkan pasukan ber sama pasukan lain yang tidak di tawan lalu mundur ketepi hutan di daerah Pallangga wailayah Kerajaan Gowa.
Andi Sapada dan Andi Tau ada di Pallangga bersama pasukan tentaranya menunggu perintah rahasia ... " Supaya Pasukan Tetap Bertahan. Bantuan Akan Datang Dari Selatan" Untuk supply kebutuhan makanan bagi prajurit prajurit selama dalam penantian menggunakan mobil Raja Gowa Karaeng Laloang. (Petikan Doc NUANSA PELANGI, Antara Tugas dan Cinta, Andi Siti Nurhani Sapada).
"Pendaratan Ekspedisi TRIPS";,,,
Ekspedisi Pasukan Komando yang pertama dipimpin Mayor Andi Mattalatta berhasil mendarat dengan selamat di Barru pada tanggal 27 Desember 1946. Pasukan ekspedisi pasukan Komando berikutnya dipimpin oleh Kapten Andi Sarifin berhasil mendarat di Wiringtasi/ Soppeng Riaja/Barru. Namun, seminggu setelah pendaratan, pasukan ekspedisi ini terlibat dalam pertempuran di SalossoE dengan pasukan KNIL/Belanda. Pada pertempuran tersebut, pimpinan pasukan Kapten Andi Arifin gugur sebagai kusuma bangsa, sehingga pimpinan pasukan beralih kepada wakil pimpinan, yaitu Letnan ANDI SAPADA.
singkatnya Kemudian pada waktu itu, Mayor M. Saleh Lahade berusaha untuk menemui Mayor Andi Mattalatta yang pada waktu itu berada di Paccekke-Barru. Usaha untuk menjalin hubungan dengan pimpinan-pimpinan pasukan ekspedisi akhirnya terwujud dalam pertemuan antara pimpinan pasukan, Andi Mattalatta, M. Saleh Lahade dan Andi Sapada di desa Baruga. Dalam pertemuan ini disepakati untuk melaksanakan pertemuan dengan pimpinan-pimpinan kelaskaran di Paccekke pada tanggal 18 Januari 1947. Pemilihan Paccekke sebagai tempat pertemuan antara pimpinan-pimpinan ekspedisi pasukan Komando TRIPS dan pimpinan-pimpinan kelaskaran yang ada di Sulawesi Selatan adalah karena letaknya yang dipandang akan cukup sulit dijangkau tentara Belanda. Paccekke terletak di wilayah kecamatan Soppeng Riaja-Barru, dengan jarak sekitar 15 km ke arah Timur pada jalan poros antara Makassar ke Pare-Pare.
Pertemuan itu akhirnya dapat juga terwujud walaupun usaha pimpinan-pimpinan pasukan mendapat rintangan dan tantangan dari tentara Belanda. Pertemuan yang semula direncanakan pada tg 18 Januari 1947 itu baru dapat terselenggarakan pada tanggal 20 Januari 1947 dan berlangsung selama dua hari. Pertemuan ini kemudian lebih dikenal dengan Konferensi Paccekke. Pertemuan atau Konferensi Paccekke dihadiri oleh pimpinan-pimpinan kelaskaran yang mewakili kurang lebih sepuluh kelaskaran. Pada tanggal 21 Januari 1947, Andi mattalatta dan M. Saleh Lahade berhasil membentuk TRI Divisi Hasanuddin, sesuai dengan tugas dan wewenang yang diberikan oleh Panglima Besar Sudirman. Oleh karena itu tokoh yang dipilih dan disetujui untuk menjadi Panglima TRI Divisi Hasanuddin, Andi Abdullah Bau Massepe, telah ditangkap oleh Belanda, maka staf sementara TRI Divisi Hasanuddin berada di bawah pimpinan Mayor Andi Mattalatta dengan M. Saleh Lahade sebagai kepala staf. Staf TRI Divisi Hasanuddin ini dibagi ke dalam empat seksi yang masing-masing secara berurutan dipimpin oleh : Kapten Muhammad Syah, Kapten Maulwi Saelan, KAPTEN ANDI SAPADA dan kapten Andi Oddang.
Adapun Tanda kehormatan yang dimiliki oleh H Andi Sapada, di antaranya Bintang Gerilya RI No. 3687, tanggal 10 November 1958 oleh Presiden Panglima Tertinggi Angkatan Perang; Satja Lencana Perang Kemerdekaan Kesatu, Nomor 125240, tanggal 17 Agustus 1958 dari Menteri Pertahanan; Satya Lencana Peristiwa Aksi Militer Kedua, Nomor 52868, tanggal 17 Agustus 1958 dari Menteri Pertahanan; Satja Lencana Gerakan Operasi Militer II, Nomor 04335, tanggal 29 Januari 1959 dari Menteri Pertahanan; Satja Lencana Gerakan Operasi Militer II, Nomor 01345, tanggal 29 Januari 1959 dari Menteri Pertahanan; SK Pengesahan sebagai Pejuang Kemerdekaan RI, Nomor 002/I/KPTS/MUV/1962, tanggal 2 Juni 1962 dari Menteri Urusan Veteran; SK Pengakuan Pengesahan dan Penganugerahan Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI Golongan A, Nomor 496233 tanggal 30 Oktober 1981, dari Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata; Bintang Legiun Veteran RI, Nomor 0543, tanggal 30 November 1990 dari Ketua Umum PP LVRI, dan Tanda Lulus menyelesaikan pendidikan Sekolah Lanjutan Pemerintahan Umum Tingkat Tinggi Departemen Dalam Negeri, tanggal 1 Agustus 1965 dari Menteri Dalam Negeri.
¹ http://sidrapkab.go.id/site/index.php?/Berita/detail_berita/seminar-andi-sapada-mengenang-perjuangan-bupati-pertama-sidrap
#SejarahSidrap #SidenrengRappang #Pejuang #Sulsel #TokohSulsel #Celebes
Komentar
Posting Komentar