Historia : MENGENANG PETTA NANI
Edisi Mengenang Andi Siti Nurhani Sapada (Petta Nani)
MAESTRO TARI TRADISIONAL SULSEL
#Menjaga Indonesia Presiden Sukarno pun terkesima
Mei 1950, Presiden Soekarno melawat ke Kota Makassar. Kunjungan ini dilakukannya setelah Pemberontakan Andi Azis bersama para prajurit eks-KNIL genap sebulan dipadamkan. Namun, kontak tembak masih berlangsung di daerah pegunungan luar Makassar setelah para eks-KNIL menyingkir ke hutan usai Andi Azis ditangkap pada 15 April 1950.
Namun siapa sangka, lawatan sarat risiko tersebut menjadi pemicu semangat salah satu pionir tari tradisional Sulsel untuk berkarya. Alkisah, Andi Siti Nurhani Daeng Masugi (biasa disapa dengan nama Petta Nani) yang masih berusia 20 tahun, didatangkan untuk menari dalam acara penyambutan sang Presiden di kantor Gubernur Sulawesi waktu itu, Raden Soediro.
Seperti diceritakan dalam buku Dari Sangkar Saoraja Menuju Pentas Dunia (Nuwahidah, Bio Pustaka, 2004), Soekarno sejak jauh-jauh hari meminta dipentaskan tari tradisional. Petta Nani secara cepat meminjam baju daerah Mandar dari salah satu bangsawan dan memilih tari Pattuddu. Usai menari, Soekarno rupanya terkesima. Ia meminta Petta Nani untuk tetap bergiat dalam pengembangan tari daerah Sulsel.
1. Andi Siti Nurhani Daeng Masugi yang kerap di sapa Petta Nani lahir di Parepare, 25 Juni 1929, dari pasangan keluarga bangsawan terpandang.
Andi Siti Nurhani Daeng Masugi lahir di Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1929. Ayahnya yakni Andi Makkasau bin La Parenrengi Daeng Pabeso Karaengta tinggi mae Arung Malolo Sidenreng Datu Suppa Toa, yang bergelar Datu Suppa Toa. Andi Makkasau melepas gelar bangsawannya demi bergabung dengan gerilyawan di masa pendudukan Belanda setelah 1945. Namun, ayahanda Petta Nani bersama I Malinkaan Krg ri Burane Sullewattang Tempe gugur tahun 1947 dalam operasi militer brutal yang dipimpin Raymond Westerling.
Sang ibu, Rachmatiah Daeng Baji, juga ketururunan darah biru (Bangsawan). Beliau adalah putri dari Karaeng Sonda, Raja Bontonompo, sebuah wilayah yang kini menjadi salah satu kecamatan Kabupaten Gowa. Di usia kanak-kanak atau pada tahun 1934, Petta Nani hijrah ke Makassar. Tinggal dengan kakek-nenek dari pihak ibunya, Petta Nani juga mulai mengenyam bangku di sekolah dasar Europeesche Lagere School (ELS).
Tahun 1938, sang kakek yakni H. Sonda Daeng Mattayang Karaeng Bontonompo dipindahtugaskan ke Kejaksaaan Ambon. Petta Nani turut dibawa ke Ambon, dan tetap tinggal di sana ketika Jepang menduduki Indonesia. Kembali ke Makassar setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, Petta Nani melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau MULO (1946-1948, setingkat SMP) kemudian Algemene Middelbare School atau AMS (1948-1950, setingkat SMA).
2. Petta Nani mulai meniti karier di bidang kesenian dengan menjadi penyanyi lagu daerah untuk grup orkes Baji Minasa pada tahun 1948
Dalam buku Calling Back the Spirit: Music, Dance, and Cultural Politics in Lowland South Sulawesi (Richard Anderson Sutton, Oxford University Press, 2002), Petta Nani bercerita bahwa ketertarikannya kepada dunia seni mulai muncul setamat MULO. Ia mulai belajar memainkan piano dan bernyanyi. Musik-musik barat jadi sumber inspirasi dalam awal kariernya sebagai penembang.
Dari tahun 1948 hingga 1950, Petta Nani menjadi penyanyi utama grup orkes Baji Minasa yang dipimpin seniman lokal Bora Daeng Irate. Suaranya menggema di seantero Sulsel lewat siaran radio RRI Makassar membawakan lagu-lagu daerah yang digubah menjadi lebih modern. Di tangan Daeng Irate inilah, "Anging Mammiri" berkenalan dengan biola, klarinet, drum dan bass betot setelah satu abad lebih hanya dimainkan menggunakan kecapi.
Petta Nani sendiri mentas di RRI dengan nama panggung Daeng Sugi. Berbicara dengan sejarawan Richard Anderson Sutton pada 1994 silam, ia mengaku menggunakan nama tersebut untuk melindungi identitas aslinya. Pada waktu itu, ada pandangan bahwa perempuan bangsawan tidak pantas terjun ke dunia hiburan. Namun, tekadnya untuk terjun menekuni dunia seni sudah tak terbendung.
3. Dunia seni tari mulai diseriusi oleh Petta Nani mulai dekade 1950-an dengan dukungan penuh dari sang suami
Tak cuma di bidang tarik suara, Petta Nani ikut terjun dalam dunia tari pada tahun 1947. Guru tari pertamanya adalah Inche Maulana Daeng Tarring, istri salah satu gurunya di MULO. Tarian pertama yang dipelajarinya secara intensif adalah Tari Pattuddu asal Mandar (Sulawesi Barat), tari yang kelak membawanya bertemu dengan presiden pertama Republik Indonesia di tahun 1950.
Atas permintaan Soekarno, Petta Nani bersama tim penari Sulsel (juga jadi pemimpin rombongan) tampil di setiap acara peringatan kemerdekaan Indonesia di Istana Negara Jakarta. Ini dilakukannya dari 1953 hingga 1965. Juga pada dekade 1950-an, ia turut memimpin sebuah sanggar seni tari di Makassar. Namun pada masa itu, Petta Nani dan anak-anak asuhnya kerap menjadi sasaran persekusi kelompok pemberontak Darul Islam lewat ancaman dan pembubaran.
Kendati demikain, 1950 jadi tahun yang istimewa di hidup Petta Nani. Selain mulai mantap menjejak karier di dunia seni tari, ia turut membina rumah tangga. Ia dipersunting oleh Andi Sapada Mappangile yang kerap di sapa Petta Pada, seorang letnan di unit kepolisian militer serta mantan pejuang di masa revolusi, yang kelak menjadi bupati pertama Kabupaten Sidenreng Rappang (1960-1966). Nama Petta Nani pun berubah menjadi Andi Siti Nurhani Sapada, yang bisa disingkat Anida.
Sang suami mendukung penuh aktivitas Petta Nani di bidang seni tari. Ia pula yang memberi sumbangan gagasan bagi inovasi tari gubahan sang istri.
4. Sebagai upaya pelestarian tari tradisional Sulawesi Selatan, Petta Nani mendirikan Institut Kesenian Sulawesi pada tahun 1962
Tahun 1962, Petta Nani mendirikan Institut Kesenian Sulawesi (IKS) di Sidrap sebagai tempat para pemuda-pemudi Sulsel untuk mengenal dan mempelajari lebih dalam seni tari empat kelompok etnis mayoritas di Sulawesi Selatan waktu itu yakni Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Petta Nani dan murid-muridnya di IKS pun kerap diundang dalam acara-acara resmi di tingkat daerah, nasional dan internasional untuk menyuguhkan tari tradisional Sulsel.
Melalui IKS pula, Petta Nani menciptakan dan menggubah tari-tari tradisional yang mulai terkubur sejarah akibat runtuhnya banyak kerajaan lokal. Mereka kerap mengunjungi sebuah daerah, dan bertemu dengan tetua adat setempat demi merekonstruksi gerakan demi menjaga tari tradisional di wilayah tersebut. Tak jarang proses tersebut berlangsung berbulan-bulan.
Kerja kerasnya berbuah manis. Pada masa Presiden Soeharto, ketika pemerintah mengirim tim kesenian ke Australia di tahun 1975, dua tari gubahan Petta Nani yakni tari Bosara dan Pattennung turut ditampilkan. Selain melanjutkan pendidikan di jurusan bahasa Inggris Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP, kini menjadi Universitas Negeri Makassar) pada 1971-1973, Petta Nani juga menjadi anggota DPRD Sulsel dari 1971 sampai 1974.
5. Puluhan tari tradisional kreasi dan gubahannya masih dipestaskan hingga sekarang, salah satunya yakni tari Pakarena
Selain tari, ia turut mengaransemen musik pengiring tari. Ini dimulai saat Petta Nani bersama sang suami pindah ke Sidrap pada 1960, di mana mereka berdua mencetuskan ide penggabungan instrumen kecapi dan suling. Eksperimen berjalan mulus, penonton ternyata suka. Alat musik tradisional yang selanjutnya ditambah sebagai pengiring tari adalah genrang, lea-lea, dengkang dan baccing.
Di luar dunia tari dan musik, Petta Nani turut menulis naskah sandiwara radio dan delapan buku tentang kesenian dan kebudayaan empat etnis di Sulsel. Sumbangsih dalam kebudayaan membuat Petta Nani diberi banyak penghargaan, antara lain Anugerah Satya Lencana Kebudayaan dan Hadiah Seni (2007) dan Satya Lencana Bintang Budaya Parana Dharma dari Pemerintah Indonesia (2009).
Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, beberapa tari daerah Sulsel hasil kreasi atau digubahnya antara lain Pakarena, Pattuddu, Padendang, Bosara, Pabbekkenna Majjina, Pattennung, Dendang-Dendang, Pasuloi, Anging Mamiri, dan Tomassenga. Namun yang paling mahsyur adalah tari Paduppa, tari penyambutan tamu, yang pertama kali ditampilkan secara massal (melibatkan 300 penari) dalam upacara pembukaan Pekan Olahraga Mahasiswa tahun 1968 di Makassar.
Andi Siti Nurhani Sapada tutup usia di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Juli 2010 pada umur 81 tahun. Pernikahannya dengan Andi Sapada Mappangile melahirkan sembilang orang anak, antaranya Addatuang Sidenreng ke 25 (Sekarang) sebagian di antaranya ikut berkecimpung di dunia tari mengikuti jejak sang ibunda.
Komentar
Posting Komentar