Historia : SPIRIT OF SOMPE



SPIRIT OF SOMPE
Tradisi sompe’ bagi masyarakat Bugis sudah menjadi budaya dari generasi ke generasi. Ia terwariskan sebagai sekolah kaderisasi lelaki Bugis. Setiap anak laki-laki yang beranjak remaja, mata pelajaran Character Building-nya adalah merantau meninggalkan kampung halaman dan mengambilnya sebagai pengalaman kesuksesan untuk dibawa pulang pada saatnya nanti. Maka kisah-kisah para passompe’ banyak memenuhi lontara tutur yang terwariskan secara turun temurun.
Sejarah tentang sompe’ sudah ada sejak kisah-kisah awal yang bermula dari kedatangan para To Manurung dengan gambaran manusia yang datang dari langit, atau setidaknya dari asal muasal rahasia, hadir memimpin dunia dengan kelebihan menonjol dari buting langi, sebuah tempat yang tidak dikenal.
Ini menggambarkan bahwa manusia Bugis sejak pertama kali kehadirannya adalah masyarakat yang tumbuh dari spirit penjelajahan, melintasi samudera dan bahkan turun dari tempat yang tidak teridentifikasi oleh daya nalar generasi ketika itu. Sompe’ yang secara filosofis bicara tentang kedatangan dan kepergian adalah irama kehidupan sebagai anugerah langit bagi keberkahan bumi. Dari sejak itulah muncul istilah Passompe’ (perantau yang bepergian dengan kapal layar). Melekat sebagai salah satu sisi kuat dari karakter manusia Bugis.
Di generasi pertama, tutur tentang sejarah sompe’ diwariskan oleh kisah Sawerigading yang merantau dari Luwu ke Tana Cina Pammana (diperkirakan pada abad ke-7, versi lain lebih tua dari itu). Ia menaklukkan Cina dan kemudian memperistri We Cudai Punna Bolae, Puteri La Sattumpugi, penghulu awal orang-orang yang menyebut dirinya To Ugi (pengikut La Sattumpugi). Proses asimilasi dan akulturasi dua negeri yang sebenarnya masih berkerabat ini dianggap peletak peradaban awal. Pada generasi ini, sompe’ banyak dipengaruhi oleh motif-motif penaklukan, petualangan, dan pencarian daerah baru. Dalam lontara, term sompe’ kemudian diteruskan oleh generasi pertama dari Sawerigading yang bernama La Galigo yang banyak merangkai jalinan sejarah permulaan silsilah dan nasab puncak. Dari namanya ini kemudian menjadi judul sakral sebuah epos besar yang kita kenal sebagai I La Galigo. Fase sompe’ini ditandai dengan berkembangnya budaya tutur, sastra dan sistim kecendekiaan manusia Bugis. Misi penaklukan tak lagi menjadi faktor dominan, meskipun pada beberapa dinamika peristiwa, infasi dan penaklukan silih berganti masih tetap berlangsung. Namun paradigmanya bergeser pada upaya akulturasi pertukaran budaya melalui kawin mawin antar trah masing-masing negeri. Sompereng (perantauan) pada generasi ini, membentang panjang berabad-abad lamanya sebagai perilaku budaya pergaulan sampai menjelang kedatangan Islam. Setiap anak lelaki diharuskan merantau meski hanya sampai kampung sebelah. Sompe’ menjadi syarat untuk menjadi kesatria. Semakin jauh ia merantau, semakin tinggi apresiasi dan prestise yang didapatkannya… dst

Andi Elfathir (grouf FB Sempugi 3/7/022)
Disadur dari 
"Roman Sejarah dan Kiprah Petualangan Kesatria Tana Ugi, La Maddukkelleng"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka