Goresan pena : IN MEMORIAM OESMAN BALO



Dirgahayu Kemerdekaan RI KE-77
----------------------------------------------------
IN MEMORIAM OESMAN BALO (Pengibar Bendera Merah Putih Pertama di Sidrap)

   H.Oesman Balo

      Agguruiwi gau’na tau waranie’ enrengnge ampena . Apa’ iya gau’na tau waranie’ seppuloi uwangenna naseuwamua jana, jajini asera decenna. Nasaba iyanaro nariaseng jana seddie’ malomoi naola amateangnge. Naekiya mau tau pellorengnge matemuto, apa de’sa temmatena sininna makkenyawae’. Naiya decenna asera’e iyanaritu; 1. Tettakitte’ni napolei kareba maja kareba madeceng, 2. De’na najampangiwi kareba nangkalingae’, naikiya napasiloangngi sennang ati pikkiri madeceng, 3. Temmetau’i ripariolo, 4. Temmetau’i riparimunri, 5. Tetteyai mita bali. 6. Rialai passappo riwanuwae’, 7. Matinulu’i pajaji passuroang, 8. Riyalai paddebbang tomawatang, 9. Masiritowi, riyasiritowi ripadanna tau.
        Pelajarilah tingkah laku para pemberani. Sebab tingkah laku para pemberani ada sepuluh macam, tetapi hanya ada satu keburukannya, sehingga sembilan kebaikannya. Adapun sebabnya dikatakan ada satu keburukannya, karena gampang menghadapi atau menantang maut. Namun demikian penakutpun tak akan luput dari peristiwa mati, karena sudah ketetapanNYA bahwa setiap yang bernyawa pasti mengalami mati. 
        Adapun kesembilan kebaikan para pemberani; yaitu; 1. Tidak terkejut mendengar kabar buruk maupun kabar baik, 2. Tak mengacuhkan kabar yang didengarnya, tetapi diiringi dengan ketenangan hati disertai pikiran sehat, 3. Tidak takut berada didepan. 4 Tidak takut berada dibelakang, 5. Tidak takut melihat musuh, 6. Dijadikan perisai oleh masyarakat atau negara, 7. Tekun melakukan kebaikan, 8. Menjadi pembela terhadap yang diperlakukan sewenang-wenang, 9. Menyegani orang dan disegani orang lain.
       Petuah leluhur diatas menuntun kita memahami arti sebuah keberanian dalam konteks perjuangan. Bahwa mereka-mereka yang telah gugur di medan perang dalam rangka membela kemerdekaan, tidak hanya punya nyali yang luar biasa, tapi lebih dari itu mereka punya siri’ na pacce’, atau suatu keterpanggilan jiwa memperjuangkan moralitas bangsa dan negara. Karena penjajahan dalam praktek penindasan dan kesewenang-wenangan adalah perbuatan inmoral.
       Boleh jadi seorang Oesman Balo tidak memahami teori dan definisi moralitas, tapi bisa dipastikan jikalau ia telah memperjuangan moralitas tersebut. Dan Oesman Balo yang sejak kecilnya hanya tahunya berkelahi dan berkelahi, namun perjalanan hidup ketertindasan bangsanya telah mengantarkannya menjadi hero to hero.
       “Bulu kudukku kadang berdiri, melihat betapa kejam perlakuan Jepang terhadap seseorang yang telah melakukan kesalahan kecil”, ungkap Oesman Balo mengenang masa penjajahan yang amat menggetirkan.
        Maka demi membebaskan rakyat dari ketertindasan dan segala perbuatan inmoral penjajah, Oesman Balo bersama dengan Andi Cammi mengangkat senjata dan meneriakkan perlawanan hingga tetes dara penghabisan.

.H. Oesman Balo di usia muda

       “Matemua mapatae’ matepi dua tellu massola-solae’. Massola-sola mateto, temmassola-sola mateto, lebbi nisiya mate massola-solae’. Mati jua yang tenang setelah mati dua tiga yang nekad. Tetapi yang nekad mati juga dan yang tenang mati juga, lebih baik mati nekad.” 
        Adapun aksi perlawan terbuka pertama yang dilakoni Oesman Balo adalah tindakannya yang amat berani menaikkan Bendera Merah Putih di Lapangan Murni Rappang (lokasi Monumen Bambu Runcing, sekarang) atau tepatnya di jantung Kota Rappang. Padahal lokasi itu beradapan dengan markas komando sekutu (lokasi SMK 2 Sidrap sekarang).
        H.Oesman Balo lalu menceritakan, “bahwa hari itu tanggal 9 September 1945, saya meminta kain milik Petta Nillang (Isteri Arung Lalebata Andi Panynyiwi atau cucu Addatuang Sidenreng Lasadapotto) berupa selembar kain berwarnah merah dan selembar berwarnah putih, lalu saya jahit sendiri seadanya sehingga berbentuk bendera merah-putih. Kemudian saya kibarkan di Lapangan Murni (lokasi Monumen Bambu Runcing, sekarang), yang mana pada bagian bawah tiang bendera saya tulis besar-besar “Siapa yang menurunkan bendera ini, jiwanya terancam”. Setelah itu saya kembali ke rumah Petta Nillang dengan penuh semangat memberitakan, “Sudah saya naikkan bendera merah-putih puang, tandanya kita sudah merdeka”. Betapa khawatirnya Petta Nillang mendengar ucapan saya, dengan berucap singkat, “berani sekali kau Oesman, bagaimana kalau Belanda tahu”. Saya hanya menjawab seadanya saja, “tidak apa-apa puang”.  

      Monumen Bambu Runcing Rappang

        Hari-haripun berlanjut dan dilewati Oesman Balo dengan perlawan dan pertempuran. Penyerbuan bambu runcing yang heroik dan melagenda itu di Kota Rappang membuat tentara Jepang keteteran. Walaupun Andi Cammi dapat dilumpuhkan pada pertempuran di Carawali, tetapi pertempuran di Polowija yang dipimpin Oesman Balo membuat tentara sekutu kelabakan dan kocar-kacir.
       Gugurnya Andi Cammi pada penyerbuan Carawali yang mengharukan dan memilukan hati itu, semakin membuat jiwa perlawanan Oesman Balo bergelora. Api dendam berkobar. Hanya ada satu pilihan rela mati demi membela Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan penjajah harus diusir dari bumi pertiwi. Wilayah Ajattapareng menjadi saksi bisu dan menjadi ajang perang gerilya, yang dipenuhi asap mesiu bercampur bau mayat bergelimpangan para syuhada yang bersimbah darah.
       Satu persatu pemberani gugur di meda laga, Andi Makkulau, Pettana Irajeng, Ambo Baco Cilaleng atau Pore’e, dan lainnya, Tapi Oesman Balo tetap melawan. Dia berjuang dan menjadi dirinya sendiri dalam perjuangan itu dengan caranya sendiri.
       Pada diri Oesman Balo, hanya ada satu tekad, “aku harus melawan penjajah”, karena baginya penjajahan adalah kekejaman dan penindasan yang tidak berprikemanusiaan.
      Maka melawanlah Oesman Balo dan terus melawan tentara Jepang, melawan Belanda, melawan sekutu, dan melawan segala bentuk pengkhianatan yang ditemukannya di medan perjuangan.
        Tidak ada lagi rasa takut pada dirinya, bahkan rasa takut itu sendiri sudah takut pada Oesman Balo ketika berhadapan dengan berondongan peluru tentara musuh. Apalagi rasa ragu, Oesman Balo sangat berpantang pada keraguan menghadapi setiap masalah.
        “Bahkan aku berpendapat bahwa keragu-raguan adalah bumerang yang dapat menghancurkan segalanya”, ungkap Oesman Balo.
       Susul-menyusul pertempuran dilakoni Oesman Balo sebagai Pimpinan B.P.Ganggawa menggantikan Andi Cammi dan Andi Bohong yang telah gugur. Dari pertempuran di Polowija Pinrang, berlanjut pada pertempuran Bajoe’. Disusul kemudian pertempuran di Salobompong, Watang Sidenreng, Ana’banua, Garesik, sampai di Salokaraje Kabupaten Enrekang dan tempat-tempat lainnya.
      Hingga akhirnya penjajahan hengkang dari tanah air yang ditandai dengan penyerahan kedaulatan, dan alhasil Oesman Balo dapat lolos dari kepungan maut yang setiap saat mengintainya disetiap medan pertempuran. Walaupun pada episode berikutnya belum mengakhiri petualangan Oesman Balo sebagai pejuang pembela proklamasi, karena harus berhadapan dengan pemberontakan DI/TII. 
 

       “Iyami aroane maperrengnge. Yang dinamai laki-laki ialah yang bertahan. Sebagaimana Oesman Balo yang tetap bertahan dengan penuh ketabahan tanpa rasa takut, membela dan tetap setia membela proklamasi.
       Karena Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, bagi Oesman Balo adalah harga mati yang harus dibela dan dipertahankan. Karena proklamasi itu pertanda kebebasan dari penindasan penjajahan, yang tidak bermoral. Tidak berprikemanusiaan. Sejak kecil atau anak-anak, Oesman Balo anti terhadap penindasan, makanya ia selalu tampil membela teman-temannya yang lemah, yang ditindas. 
        Oesman Balo amat menyenangi kebebasan dan ketenangan, olehnya itu dipenghujung hidupnya, dia memilih untuk banyak waktu tinggal di pedalaman. Menikmati alam kemerdekaan yang telah diperjuangkannya. Menikmati cerita orang tentang dirinya dan sepak terjangnya di masa perjuangan.
       “Biarkan saja mereka menafsirkan cerita tentang saya dengan pemahamannya masing-masing”, tuturnya sambil tersenyum.
         Memang begitu banyak “cerita” menyelimuti kehidupan Oesman Balo, sebanyak suka dan duka perjuangan yang dialaminya. Keberadaannya dihiasi antara pro dan kontra. Sosoknya dipuja dan dibenci. Tapi ia begitu dermawan pada semua orang. Sehingga jangan pernah menyatakan menyukai barang yang dikenakannya didepannya, semisal cincin, arloji, kecamata atau topi dan lainnya, karena pasti langsung dilepaskan dan diberikannya. 
          Oesman Balo juga sangat peduli pada generasi muda, apalagi yang berprestasi. Beliau senantiasa optimis menatap masa depan, karena meyakini bahwa kemerdekaan akan mengantarkan pada kehidupan berbangsa menjadi lebih cemerlang.
         Kesenangannya pada lawan jenisnya ditunjukkan dengan menikahi 90 lebih perempuan cantik. Bahkan ada menyebutnya lebih seratus. Tapi semua kisah-kasih asmara yang bagaikan dongeng itu melebur dalam kisah perjuangan kelaskaran ganggawa yang begitu heroik. Walaupun tetap mempesona bila diceritakan lewat alunan kecapi sebagai penghias pesta rakyat saat ini.
        Sebagai Putra Rappang yang dilahirkan pada tahun 1920, dulu Oesman Balo tumbuh dan berkembang mewarisi keberanian dari leluhurnya, sehingga pendidikan madrasah yang diperolehnya telah mengantarkannya semakin meneguhkan prinsip hidupnya “bahwa hidup dan mati itu ditangan Tuhan”. Kesempatan menimbah pendidikan dibangku sekolah agama itu pula membuatnya dapat memahami sedikit dari arti perjuangan dan kemerdekaan. Selanjutnya iapun bergabung dengan Kelaskaran Ganggawa Pimpinan Andi Cammi, yang mana kemudian mengantarkannya pada posisi sentral perjuangan yang melagenda, hingga mendapat pujian dari Presiden Soekarno. 
        “Ia tidak pernah takut dan penuh tanggung jawab. Ia juga laki-laki sejati”, cerita ibu Ica mengenang suaminya. (*)
By Andi Damis 

Komentar

  1. Doa ' buat Bapak. USMAN BALO . . . ALFATIHAH bagi almarhum ... bertepatan pula Dirhahayu kemerdekaan RI KE 77. AYRA.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka