Goresan pena : JENNE TELLUKA
Jenne telluka sempajang teppettu secara sederhananya artinya tetap menjaga kesucian dirinya terutama hati serta meluruskan niat semata karena Allah SWT, dan senantiasa memelihara shalat lima waktu sebagai wujud penyembahan kepada Tuhan tanpa satupun tertinggal atau dilalaikan selama hidup di dunia ini. Karena pada kajiannya, diksi leluhur tersebut menunjuk pada "jalan" keselematan di dunia terlebih di akhirat kelak di kemudian hari.
Karena hati yang bersih dari segala sifat tercela, utamanya dari sifat sombong atau keangkuhan terlebih ingkar akan berpotensi selalu mengingat Allah sebagai ibadah utama dan upaya mendekatkan diri pada Sang Pencipta yang mana pada gilirannya akan meluruskan jalan menuju pintu keselamatan. Sehingga yang mulia Nabi SAW memperingatkan dalam hadits shahi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya masih ada kesombongan walaupun sebesar biji sahwi.
Begitupula tentang keberadaan pelaksanaan shalat lima waktu sebagai kewajiban utama telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas Bin Malik, r.a. bahwa yang pertama kali akan dihisab dari seseorang pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik akan baik pulalah seluruh amalannya. Jika shalatnya rusak akan rusak pulalah seluruh amal perbuatannya.
Artinya pada hari perhitungan nantinya, maka yang pertama akan diperiksa atau diperhitungkan adalah keadaan shalat seseorang, yang mana jikalau shalatnya benar maka selamatlah mereka di alam yang kekal itu.
Oleh karena itu pesan moral dari diksi "jenne telluka sempajang teppettu" menunjuk pada ikhtiar agar terpeliharanya ibadah utama itu terlaksanakan secara "mannennungeng" atau terus menerus sepanjang hidup. Karena tidak ada alasan untuk tidak beribadah atau tidak menyembah Tuhan, dan mengingat Allah atau shalat adalah ibadah utama.
Sehingga dalam memahami dan memaknai berbagai diksi dari kajian leluhur, sebijaksananya terarahkan pada kontes ajaran agama yang lebih mengedepankan aspek keselamatan hidup di dunia ini dan pada hari kemudian kelak yang abadi. Adapun perbedaan tafsir yang sering muncul, sering terpola pada bentuk ketidak samaan mengartikan pilihan kata yang terangkai pada diksi atau perbedaan tingkatan kajian. Sehingga tidak perlu mempertajam perdebatan dalam memaknai suatu pesan leluhur, karena tujuan kebenaran hanya satu, dan semua kita menuju kesana.
(By Andi Damis)
Komentar
Posting Komentar