Goresan pena : SIPAKATAU SIPAKALEBBI
Menanggapi berbagai ungkapan "buruk" yang akhir-akhir ini terlontar dari dan sempat meramaikan masmedia sungguh memiriskan hati, mengingat kebebasan berbicara bukanlah berarti seenaknya berkata-kata tanpa memperdulikan etika dan moralitas.
Padahal sudah banyak contoh dari para pendahulu bagaimana berbicara dan "berdiskusi" secara santun dan nampak berbudaya.
Leluhur juga sudah mewariskan tradisi kehidupan sipakatau-sipaklebbi yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan dalam melakoni pergaulan sebagai sesama anggota masyarakat dan hamba Tuhan.
Namun kenapa seiring pergantian waktu dan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan yang ditandai kemajuan teknologi dengan menghadirkan peradaban modern serta tersebut era digitalisasi, justru nilai-nilai keteladanan itu memudar. Bahkan pada banyak kesempatan munculnya arogansi berbicara dengan sikap emosional yang berkecenderungan menyerang pribadi atau institusi dengan ungkapan-ungkapan jelek atau tidak enak ditelinga. Apalagi bila harus live dan ditonton banyak orang, sudah tentu bicara buruk itu akan memberi efek kesan yang negatif bagi pemirsa, disebabkan mereka tidak mempantaskannya terucapkan dari mulut seseorang yang sepatutnya menjadi berlaku arif selaku pengayom masyarakat.
Tapi, arus modernisasi dan demokratisasi telah menyeret tidak sedikit berbicara seenaknya dengan dalil kebebasan dan transparansi, walaupun ujung-ujungnya harus menimbulkan gesekan horizontal karena tidak semua orang bisa diperlakukan semau kita.
Padahal akan nampak indah dan teduh sekiranya dialog itu dilakoni dengan tuturan yang bijak walaupun itu menyoroti perbuatan menyimpan. Karena saling menghargai itu pada dasarnya adalah memanusiakan manusia.
By Andi Damis
Komentar
Posting Komentar