Refleksi : ANDI MAPPANYUKKI PEWARIS TAHTA BONE & GOWA



MAPPANYUKKI DARAH PEWARIS TAHTA BONE & GOWA

Penobatan Raja Bone pada tahun 1931, tepatnya pada hari Kamis tanggal 2 April, kemudian menjadi sejarah penting bagi status politik Bone pada awal abad XX setelah menjadi kerajaan pinjaman. Dikatakan seperti itu karena setelah periode sekitar 26 tahun lamanya, kemudian Bone berpemerintahan sendiri Dewan Hadat Tujuh atau Arung Pitu sejak 2 April 1931 telah ada seorang Arumpone, yang hari itu dengan sungguh-sungguh dan oleh Pemerintah Hindia Belanda telah dinobatkan dan disetujui oleh Hadat Bone Ade’pitue.

Penobatan yang dilakukan dengan megah itu disertai juga dengan pengembalian benda-benda pusaka Arajang dan alat-alat istana kerajaan Bone termasuk Pajung Kebesaran.

Diketahui bahwa semenjak tahun 1905, Bone hidup tanpa Raja. Setelah ekspedisi melawan negara ini pada tahun 1905 Arumpone La Pawawoi melarikan diri ke pegunungan tapi kemudian menjadi tawanan dan diasingkan ke Jawa. Di sanalah dia tinggal di Bandung selama beberapa tahun hingga beliau mangkat pada tahun 1912.

Periode penting dalam sejarah Bone diukir pada tanggal 2 April 1931 yakni lahirnya tindakan terakhir Pemerintah dengan memulihkan kedaulatan Raja Bone atau Aroempone.

Yang paling terkenal di antara berbagai raja dalam sejarah Kerajaan Bone adalah Arung Palakka (1666), sekutu terkenal Speelman melawan Gowa dan juga antara lain di Jawa, Madura, dan Banten.

Kediaman Arung Palakka di Makassar berada di Bontoala, dimana reruntuhan gerbang masih bisa dilihat sampai sekarang. Raja ini juga mangkat maka di bawah dengan gelar anumerta "Matinroe ri Bontoala".

Pangeran yang sekarang ditunjuk adalah La Mappanyuki berasal dari darah Mattola atau pewaris. Mengapa? Karena dia adalah keturunan langsung (cucu) dari Raja Bone ke-27 yaitu La Parenrengi anak dari We Besse Kajuara Pancaitana Raja Bone ke-28 yang memerintah sampai tahun 1860. Putri dari La Parenrengi ini, ibu La Mappanyuki bernama We Tjella, menikah dengan Raja Gowa ke-34 terakhir bernama I Makkulawu Daeng Serang Karaeng Lembang Parang yang gugur dalam ekspedisi Celebes.
###MHD###

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka