Goresan pena : AKSI MEMBERSIHKAN WAJAH KOTA RAPPANG



     Untuk sebuah wajah memang butuh perawatan. Namun kebersihan tetaplah jadi penentu indahnya penampilan. Setidaknya diksi ini coba diusung para pemerhati Kota Rappang, sehingga menginisiasi pembersihan lokasi Monumen Bambu Runcing Rappang sebagai "pandangan pertama" tampilan kota yang menyimpan banyak kenangan bersejarah tersebut.
        Dan boleh jadi hanya bermula dari candaan postingan di beranda fb, yang mendapat ragam warna tanggapan, tapi gerakan ini tidak hanya menunjukkan kepedulian pada permasalahan sampah yang memang butuh perhatian, melainkan kembali mengisyaratkan jati diri yang mewarisi budaya bersih dan ramah terhadap lingkungan. Terlebih perhatian yang begitu besar pada nilai-nilai kesejarahan yang menjadi wujud pembuktian kejayaan masa silam, yang pada gilirannya sudah tentu diharapkan akan menjadi inspirasi generasi muda dalam menata hari ini dan hari esok menjadi lebih baik. Dalam artian bahwa penting adanya rasa memiliki kota ini dengan senantiasa berbangga atas berbagai peran pengabdian yang telah dilakoni para pendahulu dengan goresan tinta emas salam sejarah perjuangan bangsa dan negara.
        Oleh karena itu aksi Gerakan 45 Sapu Lidi Untuk Monumen Bambu Runcing Rappang pada Hari Sabtu 21 Januari 2023 ini sepatutnya disambut gembira penuh sukacita sebagai wujud partisipasi turut serta memberikan perhatian kepada kampung halaman yang dulunya sebagai ibukota daerah dan pusat perjuangan membela Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Sidrap yang dipimpin Andi Cammi alias Hamidong. Juga menjadi saksi bisu kegagahberanian Oesman Balo menaikkan Bendera Merah Putih untuk pertama kalinya di Kabupaten Sidrap tepatnya tanggal 9 September 1945 pada tempat yang dulunya menjadi alun-alun Kota Rappang ini. Terlebih untuk mengenang momentum kedatangan Presiden Soekarno pada Hari Kamis 5 Pebruari 1953 guna memberikan dukungan dan semangat atas perjuangan rakyat Sidenreng Rappang menghalau penjajahan yang ditandai dengan penandatangan prasasti pengresmian Tugu Kemerdekaan yang dulu berdiri kokoh di lokasi pertempuran bambu runcing tersebut yang oleh Bung Karno menyebutnya Lapangan MURNI sebagai akronim Merdeka Untuk Rakyat Negeri Indonesia.

        Karena kalau kita bisa mengenang sebagiannya, mengapa harus melupakan segalanya. Mengingat sejarah adalah rangkaian peran yang mempertautkan waktu kemarin, hari ini dan esok hari. Dimana kejadian hari ini, menjadi fakta historis kedepannya tentang bagaimana keberadaan serta peran kita saat ini didalamnya. Sehingga sikap ketidakpedulian pada kota yang melagenda dengan sejumlah predikat (Kota Sejuk, Kota Pendidikan, Gudang Ulama dan Serambi Mekah) ini , sudah tentu dipastikan menjadi catatan suram yang akan dibaca para generasi mendatang, sekaligus sebagai penyimpangan semangat perjuangan yang telah diwariskan para pendahulu.
        Maka kita pun memberikan apresiasi Gerakan 45 Sapu Lidi Untuk Monumen Bambu Runcing ini dengan besar harapan semoga menginspirasi munculnya kesadaran secara berjamaah untuk terbinanya aksi bersih-bersih Kota Perjuangan Bambu Runcing di hari-hari mendatang secara rutin dan berkesinambungan.(*)
By Andi Damis
AnakTK pun gembira bermain

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka