PROF.ALI YAFIE DAN KOTA RAPPANG
Kota Rappang saat ini memang tidaklah seindah Tempo Doeloe. Statusnya sebagai ibukota keluruhan, memposisikan keberadaannya hanya setara dengan desa yang luas wilayahnya amat kecil atau sempit. Begitupula bekas-bekas kejayaan yang pernah menandai eksistensinya selaku Ibukota Kewedanan (Kabupaten) Sidenreng Rappang juga telah meredup, baik berupa bangunan maupun jejak nama, seperti terbongkarnya Tugu Kemerdekaan yang ditandatangani Presiden Soekarno Pada Tahun 1954, alun-alun kota yang dulu Bung Karno menyebutnya Lapangan Murni sebagai akronim Merdeka Untuk Rakyat Negeri Indonesia berganti jadi Lokasi Monumen Bambu Runcing Rappang, atau Lapangan Guntur sebagai akronim Gunakan Tenagamu Untuk Rakyat yang melagenda dengan tendangan maut Anwar Ramang dengan mematahkan portal gawang bagian selatan kini berubah nama jadi Lapangan Sepakbola Andi Cammi, atau Kantor Besar Kewedanan (Kantoro Battoae) yang juga dibongkar telah dibangun disana Gedung Masyarakat Rappang sebagai penggantian Gedung Masyarakat lama atau pernah dijadikan bioskop yang tadinya berdiri kokoh di Lokasi Kantor Camat Panca Rijang sekarang. Sedangkan bekas kantor dinas atau instansi pemerintahan memang lama dibongkar setelah kepindahan ibukota di Pakngkajene.
Adapun berbagai predikat yang dulu disandangnya (sebagai kota sejuk, kota bersih, kota pendidikan, gudang ulama dan Serambi Mekah), juga kian merosot dan kini nampak gersang dan kusam. Sehingga nyaris tidak ada yang tersisa dari wajah Kota Rappang yang begitu banyak menyimpan cerita membesarkan hati di masa silam.
Satu-satunya yang tertinggal hanyalah kenangan atau kebanggaan masa lalu, yang boleh jadi generasi milenial sekarang tak merindukannya. Apalagi cerita atau sejarah tentang Rappang tempo doeloe sebagai kota perjuangan terkesan tidak urgen bagi pemerintah daerah, hal itu ditunjukkan dengan minimnya kepedulian terhadap keberadaannya yang memiliki nilai historis. Bahkan cerita itupun tidak ditemukan lagi dalam pembacaan riwayat berdirinya Kabupaten Sidenreng Rappang sekarang ini.
Sehingga kitapun tidak bisa menyalahkan bila generasi Rappang mendatang kurang atau tidak memahami sejarah kampung halamannya. Sebagaimana ketidaktahuan mereka bila Prof.Ali Yafie yang diberitakan meninggal pada Hari Sabtu 25 Pebruari 2023 kemarin, pernah bermukim di Rappang dan berguru pada Seorang Ulama besar bernama Ibrahim Gurunna Andi, bersama dengan beberapa ulama yang namanya cukup populer di tengah masyarakat Sulawesi Selatan diantaranya, ......
Ulama kelahiran Donggala Sulawesi Tengah 1 September 1926 ini adalah putra K.H.Mohammad Yafie dengan isterinya bernama I Maccayya atau putri dari raja di Kerajaan Tanete Barru Sulawesi Selatan. Dimana sejak kecilnya sudah terdidik dan menggemari ilmu agama serta menimbah ilmu di pondok pesantren. Namun didorong tekadnya untuk mempelajari ilmu agama sebanyak-banyaknya membuat Ali Yafie kecil yang sudah yatim (ibunya meninggal pada saat umurnya baru 10 tahun) melakukan pengembaraan berguru pada ulama besar yang terkenal pada waktu itu.
Dan mendengar bila di Rappang berdiam seorang ulama besar yang didatangi banyak orang untuk berguru ilmu agama, menarik hati Ali Yafie untuk berguru kepadanya. Maka dia pun mendatangi Kota Rappang dan menjadi murid K.H.Ibrahim Gurunna Andi.
Selanjutnya pengembaraannya menuntut ilmu telah mengantarkan berkenalan dan berguru kepada beberapa ulama terkenal seperti; Syekh As'ad di Sengkang, Syekh Mahmud Abdul Jawad di Bone, Syekh Ahmad Bone di Ujung Pandang, Syekh Abdurahman Firdaus di Pinrang dan Syekh Muhammad Firdaus di Arab Saudi.
Di usia muda 19 tahun, Ali Yafie telah mengarungi bahtera rumah tangga bersama isterinya St.Aisyah yang masih berumur 16 saat dinikahinya. Namun ayahanda dari Helmi Ali, Saifuddin Ali, Azmi Ali, Badrudtaman Ali ini dapat memelihara kebahagiaan keluarganya dan mengemban amanah dengan penuh rasa tanggung jawab.
Selain mengelola Pondok Pesantren Darul Dakwah Al-Irsyad, Ali Yafie juga berkarier selaku Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Makassar, Rektor Institut Ilmu Al-Qur'an Jakarta, Anggota DPR RI, Hakim Pengadilan Tinggi Agama Makassar dan Kepala Inspektorat Peradilan Agama, Dewan Pengurus Syariat Bank Muamalat Syariat.
Komentar
Posting Komentar