Refleksi



"Sisomba Butta
 Niroko' Lipa' Sabbe":

AMIRUDDIN LALLO MENULIS PUISI DENGAN SISTEM KODE BUDAYA 

Oleh Mahrus Andis

Kata Pembuka

       Penyair Nasional Sapardi Djoko Damono pernah menyatakan bahwa paling tidak, ada tiga sistem kode di dalam karya sastra, termasuk puisi. Sistem kode itu adalah bahasa (linguistic code), sastra (literary code) dan budaya (culture code). Ketiga sistem kode ini hadir dalam struktur puisi sesuai kebutuhan penyair. Sistem kode linguistik biasa disebut sintaksis (tata kata) atau bahasa level pertama. Sistem kode sastra lazimnya diistilahkan semantik (tata makna) atau bahasa level kedua. Sedangkan kode budaya (tata komunikasi) adalah bahasa level ketiga yang sering dinamakan juga kode filsafat.
      Menemukan sistem kode-kode seperti itu dalam sebuah puisi, diperlukan kompetensi khusus. Hal ini biasanya dimiliki oleh para ilmuan di bidang bahasa dan sastra, pengamat dan kritikus sastra.
      Tulisan ini hanya sebuah apresiasi yang berupaya menyentuh dimensi kultural puisi Amiruddin Lallo.

   Menulis dengan 
   Sistem Kode
   Budaya

        Menemukan satu puisi berbahasa Makassar di laman fesbuk, saya tertarik menikmatinya. Selain judulnya estetis, juga puisi ini terkesan menampung nilai-nilai filosofis yang patut direnungi. Puisi dimaksud ditulis penyair asal Kabupaten Takalar, Amiruddin Lallo. Mari kita nikmati berikut.

SISOMBA BUTTA NIROKO' LIPA' SABBE

Mata allo ni lapa rammang ma'lolo-lolo
ganrang madumba-dumba si pinawang pui'-pui'
pangadakkang mangkurru bone sulapa'
si leok sauk kalotoro'
sukku cinna pepe' malabbirik gaukang panritanu mabokong tojeng.

"mantama maki' mae daeng !
riparallakkeng kamase-masengku,
si tongka-tongka cerakku
ero 'se're nipajjului,
samborikku"matayyang nakku" malengnggang-lenggang baju bodo
si kayao bura'ne songko gurungta
ma'badik biberek muri-muri penjang".

"manai' maki ri balla kayu macaddiku !".

pangngulu songko' bura'ne manyungke gau'
mattabe lompo mabbokong kana
'sisomba butta ni roko lipa sabbe'
sangkanang-kanang kamanakang lussa nakku samaturu'nu
pa'rappona leko' kuntu tojengnu
manyikko' kalabbiranna pa'leo' tau mangkasaraka
ri gaukanna mabborong-borong sarre
rellana tonji Allah Ta' Ala pakalabineang lino anjayya. ***

Takalar, 28 Oktober 2014
            ***
      Puisi ini tergolong bagus. Ia mengangkat tematik "pangadakkang" (baca: peradaban) orang Makassar dengan segala subkulturnya.
      Membaca puisi ini, saya menangkap sistem kode budaya masyarakat Makassar, seperti yang diungkap penyair Sapardi Djoko Damono di awal tulisan. Kode kultural yang pertama saya temukan adalah "leko' lompo", yaitu tradisi mengantar calon mempelai laki-laki, beserta mahar (sunrang atau somba), uang belanja (doe' panaik) dan perangkat budaya lainnya (erang-erang), ke rumah calon istri untuk ijab-kabul. Lukisan semiosis tersebut dapat dibaca pada bait awal puisi Amiruddin di bawah ini:

 "Mata allo ni lapa
  rammang
  ma'lolo-lolo
  ganrang
  madumba-dumba si
  pinawang pui'-pui'
  pangadakkang
  mangkurru bone
  sulapa'
  sileok sauk kalotoro'
  sukku cinna pepe'  
  malabbirik gaukang
  panritanu mabokong
  tojeng..."

      Dahulu, "panaiq lekoq' lompo" sama artinya dengan "Mappateq doiq" di lingkungan keluarga Bugis. Namun karena dinamika zaman, subkultur ini diramu secara praktis menjadi "gauqang" atau "mata gauq" (inti pernikahan).
     "Gauqang" menjadi unsur utama dalam perkawinan adat masyarakat Sulawesi Selatan. Kedatangan mempelai laki-laki ke rumah calon istri adalah tumpuan harga diri bagi kedua keluarga. Di momen "panaiq lekoq' lompo" dalam acara "gauqang", nilai "siriq na pacce" (martabat dan rasa kemanusiaan) masing-masing pihak dipertaruhkan.
      Amiruddin Lallo sering menulis puisi prismatis. Bahkan, ia tidak jarang menulis puisi-puisi kamar dengan diksi yang sangat referensial. 
      Pilihan kata dalam puisi Makassar yang dia tulis, memang benar-benar diksi semantis yang cenderung filosofis. Frasa seperti: "pangadakkang
mangkurru bone sulapa", dapat menimbulkan banyak tafsir. Dari dimensi sintaksis, larik ini dapat diartikan sebagai "tradisi memenuhi ruang segi empat". Namun, secara semantik-filosofis (sesuai kode sastra dan kode budaya), frasa tersebut membuka ruang imaji pembaca untuk memberi makna lain. Semangat "bone sulapa" bisa bermakna filosofis dengan kode budaya "sulapaq appaq" (empat sudut pandang) sebagai moral utama bagi sebuah "gauqang" (baca: pernikahan).
      Filosofi "sulapaq appaq" bagi budaya Makassar dijabarkan dengan ungkapan "lambusuq na kontu tojeng napaui lila, nakedoang batangkale". Makna semiosisnya: satunya kata dengan perbuatan yang dilandasi kejujuran dan kebenaran.
      Amiruddin Lallo cukup kaya dengan bahasa figuratif (figurative language). Kemampuan menghadirkan makna (tafsir) lain terhadap ungkapannya dapat dilihat dari gaya metafora-analogisnya seperti: 
   "sileok sauk kalotoro'
    sukku cinna pepe'
    malabbirik gaukang
    panritanu
    mabokong tojeng."

Majas ini digunakan untuk menyatakan keterpaduan adat dan pemikiran arif para leluhur yang dianalogikan sebagai api membakar sabut kering.
      Sistem kode budaya lainnya, dapat dibaca pada bait berikut puisi Amiruddin di bawah ini:
  "mantama maki' mae
   daeng !
   riparallakkeng
   kamase-masengku,
   si tongka-tongka
   cerakku
   ero 'se're nipajjului,
   samborikku
   matayyang nakku
   malengnggang-
   lenggang baju bodo
   sikayao bura'ne
   songko gurungta
   ma'badik biberek
   muri-muri penjang".

         Sepintas, puisi ini terkesan ingin berkisah tentang mahar (sunrang atau somba) dalam sebuah pernikahan. Hal itu dipicu oleh judul estetis dan filosofis "Sisomba Butta Niroko' Lipa' Sabbe", yang dapat ditafsir sebagai persembahan mahar kepada calon istri berupa tanah dan sarung sutra.
      Bagi orang Makassar, jenis mahar yang diserahkan laki-laki kepada calon istri, lazimnya adalah sebidang tanah sawah atau kebun. Adapun sarung sutra hanyalah berupa "empoang" (pengalas) sebagai simbol pembungkus harga diri. 
      Di level ini penyair memanfaatkan khasanah idiom kulturalnya. Frasa seperti: ganrang ma'dumba-dumba, pui'-pui' pangada'kang, bone sulapa, baju bodo, songko' guru, dan ma'badik adalah kode-kode budaya lokal yang mengusung konsep diri penyairnya.

Simbolisme Pemuliaan Orang Makassar

      Sikap dan perilaku rendah hati orang Makassar dilukiskan penyair sebagai berikut :

   ".. manai' maki ri
    balla
    kayu macaddiku !  
    pangngulu songko'
    bura'ne manyungke 
    gau'
    mattabe lompo
    mabbokong kana
    'sisomba butta
    niroko' lipa sabbe'
    sangkanang-kanang
    kamanakang lussa
    nakku samaturu'nu 
    pa'rappona leko'
    kuntu tojengnu
    manyikko'
    kalabbiranna pa'leo'
    tau mangkasaraka
    ri gaukanna
    mabborong-borong
    sarre rellana tonji
    Allah Ta' Ala
    pakalabineang lino
    anjayya."

        Tradisi memuliakan tamu adalah cermin martabat orang Makassar. Merendahkan hati adalah ekspresi budaya yang mendasari sikap pemuliaan terhadap orang lain. Perilaku tersebut tersimpul di dalam ungkapan yang juga dipasang sebagai judul: "Sisomba Butta Niroko' Lipa' Sabbe".
      Ungkapan bersifat transenden ini menyiratkan pernyataan santun yang bermakna
menyembahkan diri
sepenuh wujud
(baca : disimbolkan 
sifat tanah;
butta) dengan
kemuliaan martabat
diri (disimbolkan
sarung; lipa'
sabbe) kepada siapa
saja yang dinilai patut
mendapatkan
pemuliaan itu.
       Berkumpul dengan saling menghargai di dalam acara pernikahan (abborong-borong ri gaukang) menjadi perekat keluarga bagi sebuah rumah tangga. Dan ini harapan suami-istri, memperoleh keridaan Allah SWT, dunia wal akhirat.

Kata Penutup

       Puisi berjudul "Sisomba Butta Niroko' Lipa' Sabbe" tersebut boleh disebut prismatis. Amiruddin Lallo berhasil mengundang imajinasi pembaca untuk menafsir-nafsir makna simbolisme dan kode budaya di balik diksi puisinya. Ini halal, sepanjang diksi itu tidak gelap, atau terkunci rapat dari relasi logika komunikasi.
       Kesulitan menerjemahkan puisi ini secara lanskap ke dalam bahasa Indonesia baku, pasti terjadi. Amiruddin Lallo menuliskan puisinya dengan dimensi sastra (code literary). Bukan dalam bahasa komunikasi sehari-hari. Itulah sebabnya, di awal tulisan, saya menyatakan bahwa untuk memahami keutuhan makna puisi "Sisomba Butta Niroko' Lipa' Sabbe" tersebut mesti menggunakan pisau bedah. Salah satu pisau bedah yang saya maksud adalah pendekatan berupa kajian intrinsik (ala Rene Wellek) atau dengan teori Strukturalisme Genetik (ala Lucian Goldmann) yang melihat sisi luar pembentuk suatu karya. *

-Mks, 2 Feb. 2023-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN

Historis : Lapatau Matanna Tikka