Historia : MENGENANG ANDI MAKKASAU
Izin share PG guru Drs. Muhannis
Selamat pada PSM Makassar dan segenap pendukungnya.
Sisi historis dari tokoh Andi Makkasau yang diabadikan menjadi nama stadion Andi Makkasau Pare-Pare
EUFORIA PESTA JUARA PSM DAN MARWAH STADION ANDI MAKKASAU KORBAN WESTERLING
Oleh: Muhannis
Barangkali kita tidak menyadari bahwa dibalik euforia atas raihan PSM sebagai kampiun sepakbola LIGA I INDONESIA 2022-2023 walau harus menunggu selama 23 tahun untuk kembali mengangkat Tropi tanda kedigdayaan sebuah club' sepakbola profesional di Indonesia. Salah satu tempat yang dijadikan titik kumpul penggemarnya merayakan kemenangan itu adalah stadion Andi Makkasau di Pare-Pare.
Tentu saja, penonton dan penggemar sepakbola,tidak mau pusing dengan nama stadion itu untuk menumpahkan kerinduan akan nikmatnya sebagai aura juara yang sangat langka di tengah persaingan yang begitu ketat,apatah lagi perhelatannya di Stadion BJ.Habibie yg lahir belakangan dengan aroma sisi teknologinya dengan ribuan penggemar termasuk dua grup fans berat dan besar PSM di Sinjai seperti The Macsman dan Redgank. Penonton umumpun tidak menyadari bahwa dibalik nama stadion sebagai titik kumpul pesta kemenangan itu ada nama yang terlupakan yang senantiasa mendesah sekaligus menyemangati jiwa anak milenial agar bangkit dan maju mengisi kemerdekaan yang telah mereka persembahkan buat NKRI tercinta. Dan lebih memprihatinkan lagi bahwa pasti banyak warga Sinjai dan Sidrap yang hadir saat itu tidak menyadari bahwa nama stadion itu punya hubungan kesejarahan dengan kampungnya yakni Sinjai dan Sidrap dan Parepare tentunya.
Tersebutlah bahwa 125 tahun lalu atau pada bulan Maret 1898 lahirlah seorang lelaki mungil nan ghanteng di sebuah kampung kecil bernama Ceppaga yang masuk wilayah kerajaan Tondong, tepatnya diantara Salohe dan Kampala walaupun dia adalah bangsawan Bulobulo tetangga Tondong. Anak tersebut oleh orangtua dan keluarganya diberi nama Andi Makkasau. Dia dibesarkan dengan standar kerajaan Bulobulo leluhurnya dari garis ibu yang bernama Risi Daeng Sibollo serta dari garis ayah dari Sidrap La Parenrengi Daeng Pabeso Karaeng Tinggimae.Dia adalah anak dari Daeng Manenre yang menikah dengan La Ganing Arung Bulobulo terakhir. Ayah dari Risi Daeng Sibollo adalah sepupu satukalinya dari Sidrap bernama La Parenrengi Daeng Pabeso Karaeng Tinggimae bin Ishak Manggabarani bin To Appatunru Karaeng Beroangingi.
Andi Makkasau menghabiskan masa kecilnya di Sinjai dengan penuh kenangan karena dididik dalam tatanan adat bangsawan Sinjai. Setelah masa kecilnya dianggap telah cukup dengan bekal pengalaman sebagai bangsawan dari garis ibu, Andi Makkasau kecil itu diboyong oleh orangtuanya ke Parepare saat berusia 9 tahun untuk bersekolah di HIS milik Belanda.
Sebagai pewaris tahta Kerajaan Suppa, dia melanjutkan pendidikannya ke OSVIA atau sekolah pamong yang lulusannya kelak menjadi pejabat untuk Belanda yang dididik ala Belanda karena akan mengabdi demi kejayaan Belanda, hatinya mulai memberontak. Dia menolak kondisi itu dan mulai memunculkan sikap berlawanan dengan pihak Belanda. Muncullah keresahan Belanda yang berujung pada pemecatannya sebagai siswa pada sekolah elit itu. Dia beruntung karena sebagian besar ilmu sebagai calon kader politikus, keagamaan dan organisatoris telah dia genggam walau belum sempat meraih selembar ijazah di OSVIA.
Lewat pendidikan yang singkat tapi telah ditunjang dengan jiwa nasionalisme kuat, dia berhasil mendirikan Partai Sarikat Islam pada 1927, SUDARA pada 1945 serta membentuk PNI dan sempat mengundang Buya Hamka, HOS Cokroaminoto, Agus Salim ke Parepare untuk memberikan tambahan ilmu kepada calon politikus muda yg sebelumnya telah mengenyam pendidikan Belanda sendiri lewat program politik balas budi atau politik etis telah dia jalani.
Karena semua aktivitas miringnya dimata Belanda itulah, menjadikan dia termasuk salah satu tokoh yang masuk catatan hitam oleh Belanda untuk dilenyapkan. Sebelum dieksekusi oleh Westerling, dia juga pernah ditangkap di Makassar dengan ancaman penjara tapi sempat diselamatkan oleh keluarga istrinya yakni Andi Tjalla yg saat itu tengah menjabat sebagai Arung Mallusetasi Barru yang tentu saja dengan jaminan pembinaan.
Lolos dari hukuman,dia semakin menunjukkan sikap perlawanan kepada Belanda yang bahkan semakin berani seperti menjadi orang pertama yg berani mengibarkan bendera merah-putih di Lapangan Labukkang Pinrang pada 12-9-1945. Lebih mengerikan lagi, karena dia termasuk tokoh penentang NICA lewat Deklarasi Jongaya pada 15-10-1945 yg dilanjutkan dengan Konferensi Parepare 1-12-1945 yg menentang Belanda dan mendukung Sam Ratulangi sebagai Gubernur Sulawesi bukan gubernur dukungan Belanda lagi karena Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya.
Keresahan Belanda dijawab dengan mengundang jagal bengis Westerling ke Sulawesi pada 11-12-1945 yg beraksi sampai 3-3-1947 dengan korban sebanyak 40.000 orang versi pemerintah Sulawesi dan hanya 463 orang versi si algoyo keparat Westerling karena tidak mengakui keganasan anak buahnya yg bertindak diluar perintahnya. Untuk memuluskan jiwa pembunuhnya, Westerling membunuh warga Parepare serta dibeberapa tempat lain yang tak berdosa dengan alasan pemberontak .
Kekejaman di Pare-Pare pada 26-2-1947 sebanyak 25 orang diluar yang ribuan orang di daerah lain di Sulsel. Selanjutnya, memburu tokoh incaran mereka sejak lama dan berhasil menangkap Andi Makkasau bersama Andi Muhammad Tahir Daeng Tompo dan Andi. Mallingkaan Karaeng Riburane. Mereka dieksekusi sadis dengan menenggelamkannya bertiga di laut Suppa. Dengan mengikatnya dengan tali ijuk pada sebuah lesung batu pada 28-1-1947 mereka larung sang tokoh tanpa ampun di lautan Suppa.
Salah satu korban yakni tubuh Andi Makkasau, mayatnya ditemukan di pantai oleh warga Marabombang Pinrang pada 30-1-1947.
Adapun dua orang yang ditenggelamkan di Suppa itu antara lain ialah Andi Muhammad Tahir Daeng Tompo. Beliau itu adalah sosok Ketua Badan Siasat KRIS Muda. Dialah sosok yg pertama menyeberang ke Jogyakarta diantara pejuang Sulsel untuk membentuk TRI atau Tentara Republik Indonesia bersama Bung Dirman atau Panglima Sudirman. Di Jogyakarta, dia diperintahkan oleh Panglima Sudirman untuk menyusup ke Sulawesi membentuk Divisi TRI dan memimpin Ekspedisi TRIPS berbasis Angkatan Laut dengan pangkat Kapten pada 1946 dan mendarat di Suppa tempat dimana kelak akan dibunuh dan ditenggelamkan oleh Belanda yang sebelumnya ditahan dan disiksa di Makassar,Kariango dan Parepare.
Andi Muhammad Tahir Daeng Tompo sangat akrab dengan tokoh Sulsel lain yg saat ini namanya telah diabadikan lewat nama jalan populer di kota Makassar seperti Abdullah Daeng Sirua, Daeng Tata, Ali Malaka dll. Karena kedekatan beliau dengan tokoh raja Bone Andi Mappanyukki, dia membangun markas perjuangannya di Jongaya atau sekitar istana Jongaya milik Andi Mappanyukki, tentunya dengan dukungan dari raja Bone yang kharismatik itu.
Selanjutnya, sebagai orang ketiga yg dieksekusi dengan jalan ditenggelamkan di laut Suppa adalah I Mallingkaan Karaeng Riburane putra dari pasangan I Mahmud Karaeng Beroanging Tumailalang Tallo dengan We Batari Toja Daeng Marannu Karaeng Lakiung. I Mallingkaan Karaeng Riburane menikah dengan bangsawan Wajo bernama Andi Ninnong Petta Ranreng Toa Datu Tempe atau anak dari Andi Mappanyompa Petta Ranreng Toa dengan We Andi Dalatongeng.
Dalam keseharian I Mallingkaan Karaeng Riburane sebagai suami dari Andi Ninnong, tokoh sentral di Wajo pada jamannya, beliau aktif pada sebuah gerakan anti penjajah yakni Laskar Pejuang Penegak Republik Indonesia Wajo yang satu misi dengan organisasi yg sama di Sidrap bernama Ganggawa dan Laskar Lipan Bajeng di Takalar. Kegiatan mereka sangat mengganggu aktifitas penjajah di wilayah Wajo dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Keresahan penjajah itu,selain aktivitas dan darah bangsawannya yang berhubungan erat dengan tokoh bangsawan plus pejuang Sulsel lainnya ditambah dengan kharisma istrinya yang menjadi penguasa tertinggi Wajo yakni Andi Ninnong menjadikan dia menjadi salah satu target yang harus dilenyapkan. Untuk itulah dia ditangkap di istana Tempe dan ditahan di Pare-Pare dengan alasan pemberontak. Disanalah dieksekusi bersama Andi Makkasau dan Andi Muhammad Tahir Daeng Tompo dengan menenggelamkan di laut Suppa.
Sebagai penghormatan kepada ketiga orang korban Westerling ini, nama-nama mereka telah diabadikan pada fasilitas umum. Nama Andi Makkasau dijadikan nama stadion di Pare-Pare dan Pinrang, nama rumahsakit Pare pare, nama puskesmas di Makassar, nama jalan di Pare-Pare, Pinrang,Mamuju, Sidrap dan Makassar bahkan nama markas tentara Kodam 14 Hasanuddin. Nama Andi Muhammad Tahir Daeng Tompo juga telah diabadikan namanya sebagai nama jalan di Makassar dengan nama Jalan Muhammad Tahir. I Mallingkaan Karaeng Riburane juga telah diabadikan namanya sebagai nama jalan disekitar pasar Wajo dan Jalan Riburakne Makassar dekat benteng Ujung Pandang.
Akhirnya,selamat kepada PSM yang menjadi juara Liga I tahun 2022-2023 dan terima kasih kepada panitia yg memilih Stadion Andi Makkasau sebagai salah satu titik kumpul para fansnya dalam merayakan kemenangan berharga ini.
Komentar
Posting Komentar