Pendidikan :



GANJAR DAN TEROBOSAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN
(Catatan Hari Pendidikan Nasional)
Oleh: BP Jatmiko
“Sekolah telah menjadi semacam gereja baru dalam masyarakat sekuler.”
Ungkapan Ivan Illich ini tak hendak mengkritik gereja. Yang ditohok adalah sistem sekolahan yang sarat dengan semacam doktrin kaku.
Mantan pendeta di New York ini memang gemar menggempur sistem sekolahan yang dianggapnya hanya seperti mesin. Ia memang memiliki pengalaman di dunia pendidikan karena pernah menjabat sebagai wakil rektor Catholic University di Puerto Rico. 
Lima tahun menjabat, ia merasa ruang universitas terlalu kaku dan pengap. Lantas ia menyempal mendirikan pusat informasi dan dokumentasi, suatu lembaga riset yang memberikan pendidikan bagi para misionaris.
Kebengalan Illich mendirikan ‘universitas’ sempalan yang lebih sesuai dengan gagasannya ini, tentu saja memancing kegusaran dan konflik. Kendati pada akhirnya ‘universitas’ alternatif ala Illich ini ditutup, namun gagasan sekolah non formal tersebut terus mengalir dan tumbuh menjadi semacam genre baru, deschooling society. 
Kredo Deschooling Society intinya menyatakan bahwa semua orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolahan. Dengan kata lain, pendidikan dapat berlangsung di mana saja dan oleh siapa saja.
Bagi Illich, institusi yang bernama sekolah seharusnya memerdekakan pikiran dan jiwa manusia, bukan mengekangnya dengan aturan yang ketat. Dalam sekolah formal semacam itu, tuding Illich, terdapat kurikulum tersembunyi yang mematikan gagasan kreatif siswa. 
Sekolah formal dianggap hanya mengajarkan sikap menerima, zonder keberanian untuk membenturkan gagasan. Pendeknya, siswa hanya dicetak menjadi tape-recorder yang pandai merekam dan menghafal. Ketika diputar ulang, yang terdengar melulu hanya jawaban yang sama untuk berbagai situasi dan waktu yang berbeda.
Illich tidak berdiri sendirian menentang ‘pabrik’ tape-recorder ini. Ada sederet nama berserakan di jalan pembaharuan ini. Sebut saja Paulo Freire, Ronald Gross atau Neil Postman. Mereka tentu tidak sekedar melantunkan kegeraman. Namun berangkat dari sederet angka dan fakta.
Tengok saja Rabindranath Tagore. Ia menganggap sekolah formal sebagai deraan yang membelenggu. Ia pun keluar dari kungkungan itu dalam usia dini. 
Keputusannya untuk meninggalkan sekolah formal ternyata tidak keliru. Ia menjadi pujangga yang belajar dari kehidupan dan berhasil meraih Nobel Kesusastraan.
Pengalaman Thomas Edison juga menjadi tonggak pendukung genre Deschooling Society. Edison hanya sempat mencicipi bangku sekolah selama beberapa bulan saja. 
Ia dianggap nyeleneh dan dipecat dari institusi yang menganggap dirinya sebagai sumber ilmu. Namun, justru ilmu yang digalinya dari luar gedung sekolahan yang menjadikannya sebagai maestro, bukan tape-recorder. 
Untuk tidak sekedar mencetak tape-recorder inilah, Ganjar mengambil jalan tengah, tak sefrontal Ivan Illich maupun Neil Postman. Akses untuk mendapatkan pendidikan berkualitas, dibuka lebar-lebar oleh Ganjar.
Ganjar mengembangkan sekolah virtual yang menjadi idaman mereka yang putus sekolah dan ingin melanjutkan pendidikan lagi. Tidak perduli usia, tua, muda, semua bisa ikut bergabung. 
Sekolah virtual yang diinisiasi Ganjar ini merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan pendidikan yang merata. Sekolah ini menerapkan jam belajar mengajar yang fleksibel, agar tidak mengganggu aktivitas utama para siswa yang kebanyakan sudah bekerja.
Para siswa adalah warga Jawa Tengah yang kini merantau di berbagai kota. Ada yang menjadi asisten rumah tangga di Jakarta, karyawan pabrik di Kalimantan, bahkan ada yang TKI di Malaysia. Namun di tengah kesibukan itu, mereka tetap bisa mengikuti sekolah virtual.
Selain gratis, para siswa juga mendapatkan ijazah SMA resmi, sama dengan sekolah formal lainnya. Bahkan, mereka mendapatkan fasilitas penunjang pendidikan seperti handphone, paket internet dan beasiswa.
Tak hanya sampai disitu, Ganjar juga menggagas SMK berasrama yang gratis sepenuhnya untuk siswa miskin. Sekolah tersebut bertujuan memutus rantai kemiskinan karena siswa yg lulus langsung dicarikan kerja di perusahaan ternama dan sebagian dikirim ke luar negeri. 
Dengan gaji tinggi, alumni SMK ini mampu mengangkat ekonomi keluarganya. Kesempatan mendapatkan pendidikan berkualitas yang merata rupanya memang menjadi cara Ganjar mencabut akar kemiskinan di Jawa Tengah.
Sejak 2020, Ganjar juga membebaskan biaya SPP bagi seluruh siswa SMA/SMK/SLB Negeri di Jateng. Tak hanya sekolah negeri, sekolah swasta pun tidak luput dari perhatian Ganjar. Mereka mendapat bantuan Bosda (Bantuan Operasional Sekolah Daerah). 
Selain memperhatikan kepentingan siswa, Ganjar pun memperhatikan kesejahteraan para pengajar. Ganjar menetapkan honorarium seluruh Guru Tidak Tetap (GTT) di satuan pendidikan SMA, SMK, dan SLB Negeri sesuai UMK daerah ditambah 10 persen. Jika sebelumnya mereka hanya menerima Rp200 ribu, kini ada yang bisa Rp2,3 juta perbulan atau bahkan lebih.
Di bawah Ganjar, Jawa Tengah juga menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menerapkan kurikulum antikorupsi. Sejak 5 April 2019, pendidikan antikorupsi diatur melalui Pergub No 10 Tahun 2019 tentang Implementasi Pendidikan Anti Korupsi di Jawa Tengah.
Program ini juga didukung oleh Bupati/Wali Kota se-Jateng juga telah menandatangani kesepakatan penerapan pendidikan anti korupsi. Dan dalam pelaksanaannya, program ini didampingi oleh KPK.
Dengan statistik seperti itu, tentu kita perlu memberi apresiasi atas langkah yang ditempuh Ganjar untuk melakukan terobosan dalam dunia pendidikan maupun dalam meratakan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan berkualitas bagi semua.
Hal yang terakhir tersebut sesuai dengan deklarasi universal HAM, everyone has a right to education. Dan langkah tersebut adalah cara Ganjar untuk membebaskan dunia pendidikan dari berbagai diskriminasi sosial dan ekonomi.
Selama ini, masalah sosial ekonomi selalu dituding sebagai biang kerok kriminalitas, tanpa ada upaya untuk meratakan kesempatan bagi akses pendidikan berkualitas. Dan Ganjar menjawab semua itu.
Seperti kata sastrawan besar Perancis, Victor Hugo, siapa yang membuka pintu sekolahan berarti menutup pintu kegelapan. 
Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2023.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Historis : Lapatau Matanna Tikka

Goresan pena : LAPANGAN ANDI CAMMI RAPPANG KINI BUTUH PERHATIAN