Refleksi : PEMILU DAN PRASANGKA BAIK
PEMILU
DAN PRASANGKA BAIK
Oleh
Andi Damis Dadda
Nenek
saya di kampung, mengingatkan dua hal, sebagai bekal dalam melakoni pergaulan
hidup sehari-hari, yaitu; kejujuran dan prasangka baik. Nenek saya lalu
berpesan; Jangan sampai engkau meremehkan atau mengabaikan kejujuran itu.
Berlaku jujurlah serta peliharalah tutur katamu, juga bersikap tegaslah dalam
pengambilan keputusan. Sebab kejujuran dan keramahan itu akan memanjangkan
usiamu.
Begitu pula prasangka baik, nenek
saya menyuruh kita senantiasa berlapang dada, mengalah, dan berlaku bijaksana.
Karena prasangka baik menurut nenek saya mengundang reski. Mengantarkan orang
pada sikap yang selalu berusaha mengerti dan memaklumi kondisi orang lain,
sehinga mudah memaafkannya bila mereka suatu saat berbuat kesalahan.
Orang yang berprasangka baik
senantiasa menjaga hubungan baiknya dengan sesamanya manusia, terlebih
hubungannya dengana Tuhannya. Karena mereka yakin, Tuhan Maha Tahu, Maha
Melihat dan Maha Mendengar. Mereka selalu berdiri pada garis kehidupan dengan
pandangan optimis, dan berjalan pada jalan tengah yang menganjurkan kedamaian.
Oleh karena itu, menyongsong
penyelenggaraan pemilihan umum, bulan April mendatang, penting mengedepankan
sifat husnuzan dalam menanggapi segala bentuk pergerakan kampanye yang
diperagakan para peserta pemilu. Karena sudah tentu banyak trik, taktik, manuver,
improvisasi-improvisasi dan kompensasi-kompensasi di dalamnya. Namanya juga
usaha, apalagi pada arena politik yang sarat persaingan, para peserta pemillu dan pilpres, sudah pasti
akan berbuat maksimal dengan berbagai cara, sehingga mampu meraih dukungan
rakyat sebanyak-banyaknya, guna meraih kemenangan.
Berprasangka baik dalam pemilu
dimaksudkan disini sebagai bentuk memberikan apresiasi pada setiap nilai-nilai
lebih dan baik, yang diketemukan dan diketahui dalam penyelenggaraan pesta lima
tahunan negara kita ini, seperti prestasi, reputasi, kompetensi serta rekam
jejak yang dimiliki para calon, apakah itu caleg atau capres. Dan tidak
membiarkan sangkaan, disesatkan oleh provokasi
dan black campaign atau negatif campaign, yang sengaja ditiup-tiupkan
para petualang kebencian. Sehingga keterpengaruhan dalam menentukan pilihan
nantinya, senantiasa disandarkan pada bisikan hati nurani, sebagai manifestasi
dari kejujuran pada diri sendiri, setelah dikelolah secara jernih oleh akal
sehat, berdasarkan penyaksian-penyaksian inderawi secara objektif. Karena
memilih belum tentu berpihak, tetapi menuntun prasangka baik pada pilihan yang
terbaik untuk bangsa dan negara kedepannya.
Sebagaimana layaknya sebuah pesta,
sudah tentu pemilihan umum akan menyuguhkan aneka totonan kampanye yang rentan
terhadap penyakit komentar, antara pro dan kontra. Para penampil di panggung,
akan ternilai tidak saja dari segi kemampuannya meyakinkan penonton dengan gaya
dan retorika yang memukau, namun yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana
mereka sendiri meyakinkan dirinya, bahwa tidak ada kepura-puraan dan kebohongan pada tampilannya. Sehingga
antara penampil dan penonton dapat mengkomunikasikan prasangkaan yang baik
secara timbal balik. Artinya, tidak ada lagi dusta diantara peserta pemilu atau
pilpres dengan rakyat.
Tetapi memang kita harus selalu optimis
akan adanya harapan pada penyelenggaraan pemilu yang lebih baik, yang berkualitas
dan bermartabat. Walaupun kata-kata itu terlalu normatif, tapi masih sangat
indah sebagai impian. Tidak hanya
menjaga keberlangsungan pemilu agar benar-benar jurdil dan luber, tapi juga
penting menjaga menumpuknya janji-janji yang tak bakal dipenuhi, karena pengingkaran
terhadap janji terkadang tidak lagi dipatronisasi oleh dalil agama. Makanya
orang biasanya menggampangkan berjanji dalam arena kampanye pemilu, karena mungkin
menganggap berbohong di arena adu program itu, bukan lagi perbuatan dosa,
melainkan hanya strategi menarik perhatian anggota masyarakat sebagai pemilik
suara sah dalam pemilu. Padahal kebohongan tetaplah kebohongan dimanapun mereka
dilakoni. Sedangkan membohongi rakyat
pada dasarnya melecehkan kedaulatan. Adapun mengabaikan kepentingan rakyat
merupakan tindakan mempermalukan demokrasi.
Selanjutnya, jika dihitung dari sejak pertama kali
diselenggarakannya pemilu di tanah air, maka sudah lebih dari setengah abad rakyat Indonesia mengenal pemilu. Dengan segala suka dukanya. Pengalaman
panjang ini, sudah tentu cukup memberikan pelajaran dan pemahaman yang begitu berharga
bagi masyarakat guna menyikapi penyelenggaraan pemilu tahun 2024, secara cerdas
dan profesional, dalam konteks tetap berprasangka baik pada hari esok yang
lebih baik.
Jagalah terus prasangka baikmu, kata nenek saya, karena boleh jadi dengan prasangka baik itu, membuat mereka berlaku jujur kepadamu. (Penulis, adalah pemerhati budaya dan kemasyarakatan)
Komentar
Posting Komentar